The first 200 lines.
Lee Young-jae,
Saat seseorang peduli dengan orang lain,
berarti dia mencintainya, kan?
Kau selalu peduli dengan Kang Hye-won,
dan aku akan terus peduli padamu.
Apa?
Aku...
...jatuh cinta padamu.
Kau lucu sekali.
- Lucu sekali? - Ya, lucu sekali.
Memang lucu.
Lucu, kan?
Lain kali kalau bercanda lebih lucu lagi.
Katamu, sinopsisnya ditolak.
Lalu apa gunanya kau begadang terus?
Kenapa dipaksakan sekali?
Harusnya kau istirahat yang cukup.
Biar otakmu lebih encer.
Kalau aku begitu, mungkin sudah selesai 10 cerita.
Aku belum yakin Min-hyuk mengangkatmu jadi penulis. Tak masuk akal.
Aku pasti gila.
Kubilang aku sudah gila!
Bersihkan semuanya baru pergi.
Tak mau?
Kenapa aku bisa menyukai orang seperti dia? Aku pasti gila.
Aku memang sudah gila.
Kenapa aku bilang begitu padanya?
Aku sudah gila!
- Aku pergi dulu. - Sampai nanti.
Aku juga mencintaimu.
Sangat mencintaimu.
Sayang,
aku mencintaimu!
Kau sudah datang.
Ada interview hari ini?
Ada...
Untuk majalah, koran.
Bagaimana hasil filmnya?
Belum tahu.
Kan baru dirilis kemarin.
Ji-eun tak bilang apa-apa?
Bilang apa?
Oh, tak ada.
Kau tak kemana-mana nanti, kan?
Ya, kenapa?
Ayo kita makan malam.
Oke.
Setelah sempat bermain di film melodrama,
apa kau berniat untuk main film action?
Belum kupikirkan.
Film ini juga cukup bagus.
Kau yakin dengan film ini?
Kami sudah kerja keras, jadi aku yakin sekali.
Pertanyaan terakhir untuk pakaianmu,
Apa Kang Hye-won designermu? - Bagaimana?
Kalian kelihatan dekat sekali.
Apa kau menemui Kang Hye-won di bar?
Sering?
Hanya beberapa kali.
Dan saat premier film kemarin, kalian juga pergi bersama.
Gosip mudah terjadi, jadi hati-hatilah.
Lalu apa?
Kau kan sudah menikah.
Kau harusnya mengerti itu.
Jangan sampai ada yang tersakiti.
Hye-won tak apa-apa, kan?
Aku sudah atur wawancara dirumahmu.
Jangan sampai Ji-eun salah paham.
Hye-won, ini aku...
Aku tak bisa malam nanti.
Maaf.
Lain kali saja.
Ini pakaian Young-jae untuk premiere nanti.
Apa Young-jae sibuk sekali?
Ya, dia masih banyak urusan sekarang.
Urusan.
Sebagai temannya Han Ji-eun,
kuminta kau berhati-hati sekarang.
Kenapa mendadak?
Cuma ambil gambar, beberapa pertanyaan.
Kau sudah pernah, kan.
Tapi aku tak mau lagi melakukannya.
Tak ada banyak orang, wawancaranya disini.
Tak mau?
Kalau aku tak mau? Bagaimana karirmu juga siapa yang akan membayarku?
Kau bicara soal gaji.
Kau khawatir soal itu?
Wawancaranya dimana?
Katanya diruang tamu, tapi bersihkan juga lantai 2.
Sebanyak itu?
- Kuminta kau jangan tegang. - Aku tahu.
Apa aku harus ke salon?
Untuk apa? Wajahmu tetap akan begitu juga, kan?
Aku begitu untuk siapa? Untukmu juga, kan?
Aku harus pakai masker mentimun malam ini.
"Hye-won"
Hee-jin? Ada apa?
Jangan mau diwawancara.
- Hee-jin, kenapa? - Tenang saja.
Karena kau belum tahu kalau suamimu itu selingkuh.
Selingkuh? Siapa yang bilang?
Siapapun, menurut gosip wanitanya itu designer.
Kenapa bisa Lee Young-jae berbuat begini padamu?
- Benarkah? - Diam saja.
Kau harus hati-hati mulai sekarang.
Hei, Lee Young-jae tak mungkin begitu.
Dan aku tak tahu soal designernya itu,
jadi jangan sembarangan bicara.
Apa katanya?
Dia tak mau menurutiku.
- Aku tak mau diwawancara. - Kenapa?
- Karena aku tak mau. - Kau bercanda?
Kenapa kau mendadak begitu?
Harusnya kau bilang dari kemarin.
Kau harus tetap diwawancara.
Begitukah? Aku tetap tak mau.
Tapi kenapa? Katakan padaku.
- Karena aku sedang sibuk sekarang. - Kau sibuk?
Aku menulis sinopsis, belum lagi harus mencuci, memasak.
Semua pekerjaan rumah.
Mana mungkin aku sempat diwawancara, kan?
Memang begitu.
Kau bawa ke laundry saja cuciannya.
Siapa yang kesana? Apa kau mau?
Kita sudah tahu satu sama lain.
Bersihkan saja itu.
Sampai berkilau, oke?
Pakai tanganmu.
Oh, aduh.
Maaf ya.
Lupakan soal wawancaranya.
Kau bersihkan saja rumah ini.
- Aku juga tak mau. - Baguslah.
- Aku serius. - Tak usah diwawancara!
Kalau tidak awas kau.
Mendekat lagi...
- Manis sekali - Tentu saja.
Mendekat lagi.
Rumahnya bagus sekali.
Terima kasih. Ayahku yang men-design rumah ini.
Setelah menikah kalian tinggal disini?
Ya, begitulah.
Bahkan taman yang diluar itu, semuanya Ibuku yang menatanya.
Bunganya, kursi taman, semuanya sudah seperti bagian dari diriku.
Juga nama rumah ini.
Full House.
Rumah yang penuh kasih sayang, itulah artinya.
Ayahku yang menamakannya.
Oh begitu.
Apa Lee Young-jae sering membantumu dirumah?
Aku mau saja tapi aku sibuk sekali.
Tidak, dia rajin sekali. Bahkan dia yang membersihkan semua lantai ini.
Kau juga cuci piring hari ini, kan.
Karena itulah kau sibuk.
Apa kau kenal Kang Hye-won?
Ya, aku kenal dia. Dia teman kecilnya Young-jae.
Apa mereka dekat?
Tentu saja, mereka sudah berteman sejak usia 9 tahun.
Mereka saling menasehati satu sama lain.
Bahkan saat kami berkelahi, ia menceritakannya pada Hye-won.
Menyenangkan punya teman baik.
Bagaimana ini? Fotoku pasti jelek.
Sudah kubilang harusnya aku ke salon dulu.
- Kau kenapa? - Kenapa apanya?
Soal Hye-won?
Dia memang temanmu, kan?
Apa?
Menemui dia pun tak masalah.
Semua orang seakan meminta maaf dariku.
Maaf apa?
Suami selingkuh, itu tak masalah bagimu?
Selingkuh?
Semua orang sudah tahu kalau kita sudah menikah.
Bertemu teman itu selingkuh? Kalau begitu kau dengan Dong-wook juga selingkuh.
Mana bisa disamakan?
Apa bedanya?
Lain kali kau begini lagi, aku akan...
Kau mau apa?
Aku takkan memasak untukmu lagi.
Tak ada gunanya bicara denganmu.
Kenapa begitu?
Kau tak suka aku disini?
Bukan begitu,
kalau kau tak disini ada yang kurang.
Kurang apanya?
Rumah ini kelihatan sepi dan gelap.
Saat kau tak ada...
Maksudku kalau kau tak ada, siapa yang menghidupkan lampunya!
Kau takut gelap, ya?
Apa?
Tak ada gunanya bicara denganmu.
Dasar penakut.
Hye-won.
Dimana kau?
Bisa kesini sebentar?
Oh benarkah?
Kalau besok bagaimana?
Besok juga tak bisa.
Aku sedang sibuk wawancara dengan pers.
Mungkin aku ambil pakaian dikantor saja.
No comments yet. Be the first to leave one.