The Crowded Room

The Crowded Room

Download Indonesian Subtitle

Season 1

Release info

The Crowded Room S01E03 WEB
A Commentary by equertez
00:42:45 | Retail Apple TV

Tags

web
Published on: 2023-06-09
Downloads: 35
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Aku mendatangi rumah kos tua tempatnya tinggal.

Maaf, jelaskan "mendatangi".

Memasuki.

Apa ada yang mengizinkanmu masuk?

Pintunya tak terkunci. Itu cukup?

Tidak. Itu namanya membobol masuk.

Apa yang kau lakukan, Rya?

Aku menemukan ini di perapian.

Apa kau mengenalinya?

Itu gadis dari Rockefeller Center.

Jika deskripsinya pas, inilah gadis dari Rockefeller Center.

Tunggu.

Menurutmu semua ini adalah korban?

TERINSPIRASI DARI BUKU THE MINDS OF BILLY MILLIGAN

KARYA DANIEL KEYES

Kau yakin tak mau Coke?

Pukul 08.00 saja belum.

Terus?

Kita tak perlu membicarakannya jika kau tak mau.

Kita bisa duduk diam saja.

Selesaikan apa yang telah dimulai.

Dulu ibuku mengatakan itu.

Dia wanita yang bijak.

Berapa lama ini sebelum insiden itu?

Bisa berhenti menyebutnya itu?

Kau lebih suka apa? Penembakan?

Tidak.

Kira-kira seminggu.

Tapi kau tak membicarakannya?

- Belum. - Kenapa?

Karena kurasa ucapannya yang membuatku berpikir begitu sejak awal.

Apa?

Jika kami tak keluar pagi itu,

semua ini tak akan terjadi.

Ada seorang pria yang kusukai. Jerome.

Aku menemuinya di luar, aku sangat menyukainya.

Dia juga menyukaiku. Siapa yang tidak?

Siapa yang tidak?

Setiap kali kami dekat, aku bisanya hanya mengacau.

Tambahan, "dekat" maksudnya bercinta.

Terima kasih setulusnya untuk CliffNotes.

Setiap kali orang mulai terasa penting bagiku, aku jadi dingin.

Bahkan tubuhku pun dingin.

Aku seperti terjebak di kotak logam yang makin mengecil.

Aku merasa terimpit dan sesak napas.

Hanya itu yang kurasakan. Tak ada perasaan lain.

Jika tak keluar, aku mati.

Pokoknya, itu hanya saat aku benar-benar suka,

jadi aku hanya rutin bercinta.

Apa yang terjadi padamu?

Ayolah. Ini cukup jelas.

Ini bukan hal yang sulit dipahami.

Siapa pelakunya?

Teman ayahku.

Dia masuk ke kamarku malam hari.

Masalahnya, dia cukup mahir soal itu.

Dia tak pernah berkata dia mencintaiku.

- Maaf. - Tak apa-apa. Aku paham.

Kau pasti menganggapku lumayan menjijikkan, ya.

Seperti kataku… aku paham.

Ayo cerita lagi, Danny Sullivan.

Saudaraku, saat dia masih kecil.

Aku tak tahu kau punya saudara.

Sudah tidak ada.

Kurasa hari itu Adam tak sanggup menahannya lagi.

Aku turut berduka.

Aku tak terlalu memikirkan itu.

Aku sebaliknya. Dia selalu menguasaiku.

Paham maksudku?

Itu sangat jelas.

Aku bisa merasakan napasnya dari bahuku.

Aku mengendusnya

dan saat itulah kotak logam itu muncul dan aku terimpit bersamanya.

Astaga.

Aku tak dibantu sejauh ini.

Makanya aku selalu lari.

Hanya saja lariku kurang jauh.

Aku rela melakukan apa pun agar dia lenyap.

Danny, bukankah ini waktunya kita membahas hal yang menimpa Adam?

Tidak.

Baiklah, Danny. Jadi, apa rencanamu waktu itu?

Aku ingin memberikan Ari kesempatan kedua…

untuk bahagia.

Aku juga.

Kau juga? Bagaimana?

Kesempatan kedua…

menyelamatkan seseorang.

Ayo, Danny. Tembak dari garis tiga poin.

- Lumayan. Setipis ini. - Danny, kau menelepon?

Apa kabar, Jonny?

- Hei, aku mau ambil air. - Baiklah.

Mike.

Hei.

Ada apa, Danny?

Apa aku bisa bicara dengan si pengedar?

Apa?

Makanya ada aku.

Kau terus memberi modal, aku mengurus pemasok.

- Itu pembagian kerjanya. - Ya. Aku tahu.

Tapi bagaimana jika aku ingin beli sesuatu selain ganja?

Apa? Kokaina? Bisa kucarikan. Apa kita harus berjualan kokaina?

Tidak, Jonny. Aku tak mau jual kokaina.

Begini, aku hanya ingin bicara dengannya.

- Dia tinggal di Brooklyn sekarang. - Aku tahu.

Jonny, aku butuh ini. Aku hanya ingin bicara dengannya.

Hei, sedang apa? Mau mengobrol atau main basket?

- Sebentar. - Kau sumber uangnya.

- Jumpa di kereta pukul 15.00. - Terima kasih.

- Hei. Jangan beri tahu Mike. - Kita datangi.

Pegang bolanya. Ayo. Tembak. Oke.

Sudah lama dia tak melihatmu, jadi biar aku yang bicara.

Kau bilang aku mau datang, 'kan?

Ternyata kalian. Rindu aku, ya?

Ayo.

- Apa kabar, Kawan? - Diam.

Apa mau kalian?

Kita berbisnis Jumat. Hari ini bukan Jumat.

Duduklah.

Maaf.

- Mau merokok? - Tidak.

Ada sedikit halusinogen.

Tidak usah.

Jadi, kalian mau apa?

Kau bahas hal baru. Kokaina?

Margin labanya lebih bagus, tapi aku butuh deposit awal lebih besar

jika mau aku dapat barangnya.

- Bisa kau carikan aku pistol? - Apa?

- Apa ini? - Danny, kau serius?

Kenapa mengira aku bisa beri pistol?

- Aku bisa membayarmu. - Masa?

Ya, aku bisa bayar.

Benarkah?

Kalian mau menjebakku, ya?

- Tidak akan. - Tentu…

Diam. Aku sedang berpikir.

Serius mau pistol?

Aku punya, tapi harganya mahal.

Bayarannya lebih dari uang, Bangsat.

- Jangan. - Diam.

Si aneh beraksi.

Aku punya 350 dolar.

Uang saja tak cukup.

Aku tak bisa.

Tak bisa?

Aku melihat mulutmu sekarang

dan aku merasa lebih tahu.

Ini salah. Maaf aku membuang waktumu.

Wow.

Tak perlu minta maaf. Duduklah.

Duduk.

Tak bisakah kau jual saja padaku?

Biar kuluruskan. Kau datang ke rumahku.

Kau meminta senjata api,

- lalu kurang ajar kepadaku? - Aku tak bermaksud begitu.

Kau begitu, Danny. Kau kurang ajar kepadaku.

Kau mau pistolnya atau tidak?

- Aku akan pakai tangan. - Jangan.

Jadinya yang mana? Waktuku tak banyak.

Aku akan pakai tangan.

Kau mau pakai tangan?

Kau malah pilih-pilih sekarang.

Oke. Pakai tangan.

Anakku tak suka keanehan di rumah.

Ayo.

Ini ngawur, Danny. Kau tak suka laki-laki.

Ini tak akan menjadikanku gay, Jonny. Aku sangat butuh pistol ini.

- Kenapa? - Percayalah.

"Percayalah"? Maksudmu? Kau yang harus percaya padaku.

Aku kenal Angelo. Jangan dekat-dekat dia seperti itu.

Kenapa bisik-bisik? Hentikan. Kita di jalanan.

Kita pulang saja.

- Danny. - Kau cemburu, ya?

Persetan kau. Terserah kau mau apa. Aku cabut.

Mau ikut tidak?

Ya. Tunggu.

Kemari. Di sini lebih tertutup.

LOKASI KONSTRUKSI

DILARANG MASUK!

Kau sangat ingin ini, ya?

Mana uangnya?

Ya. Ini.

Kau sangat ingin pistol ini, ya? Kau butuh?

Ya, aku butuh. Ya.

Baiklah. Ayo. Kau tahu aku ingin apa.

Tidak. Berlutut.

Aku mau kau mengisapnya.

Katamu bisa…

Bangsat, jangan mengulangi perkataanku.

Aku bilang aku mau kau mengisapnya.

Paham?

Nah, buka mulut cantikmu itu. Buka. Buka mulut cantikmu.

Ya. Sekarang, berlutut seperti yang kusuruh.

Berlutut!

Ya, benar begitu.

Ya.

Kau tahu harus apa.

- Aku tak tahu cara… - Terserah, Aneh.

Kumohon.

Dengar.

Jika kau teriak, akan kutembak kepalamu.

More Indonesian subtitles for The Crowded Room

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left