The first 200 lines.
Apa ini tidak kelihatan?
Aku ingin.../ Kita...
Kau duluan saja.
Ya.
Begini, bisakah kita sekarang...
Tak jadi. Kau duluan saja.
Aku ingin...
...kontrak kita...
...aku ingin mengakhirinya sekarang.
*)uri=kita
Kontrak kita...
...kau rupanya ingin mengakhirinya.
Ya.
Hari ini, berkat kau, aku bisa senang-senang.
Aku juga. Aku banyak tertawa berkat kau.
Saking banyaknya tertawa, aku mungkin bisa-bisa pingsan saat pulang.
Aku juga mungkin begitu.
Benarkah?
Oh, ya./ Pergilah.
Kau duluan saja.
Kalau begitu, aku pamit.
Bukannya itu Ho Rang?
Hati-hati./ Ya.
Aku baru ini lihat pria itu./ Pulanglah.
Dia akuntan perusahaanku.
Apa? Serius?
Ya.
Kontrak kita...
...jadi kau rupanya ingin mengakhirinya.
Ya.
Sepertinya kontrakku dengan perusahaan produksi...
...akan segera dilaksanakan.
Maka pada saat itu, aku pasti bisa mencari tempat tinggal sendiri.
Jika aku dapat tempat tinggal...
Jika kau dapat tempat tinggal...,
...maka kau tidak perlu bayar uang sewa padaku.
Ya.
Maka kontrak kita juga...
...tidak perlu dijalankan.
Begitulah pemikiranku.
Kita menikah 'kan karena uang sewa.
Benar juga.
Berarti baguslah.
Kau bisa menulis lagi...,
...dan kau bisa dapat penghasilan sendiri.
Sungguh kabar baik.
Kalau begitu...
...kau istirahatlah sekarang.
Lain kali saja, kita bicarakan ini lebih lengkapnya.
Begini, Se Hee-ssi.
Kau tak jadi mengatakan apa yang ingin kausampaikan tadi.
Lagipula yang mau kukatakan juga tak penting.
Aku tadi mau bilang...
...aku saja yang urus penyortiran barang tak dipakai.
Karena pikirku, kau pasti akan sibuk dengan kerjaan menulismu.
Sangat penting seorang istri...
...mengurus hal seperti ini.
Aku pamit dulu.
Ayah.
Ada yang ingin kukatakan.
Apa?
Maaf...,
...tapi ini...,
...aku tak bisa menerimanya.
Ada yang harus kukatakan sejujurnya pada Ayah.
Alasan aku menikah dengan Se Hee...
...karena rumahnya.
Sejak awal, aku tidak menikahinya karena aku mencintainya.
Kebutuhan kami sama...,
...dan prinsip kami sama.
Itulah alasan kami menikah.
Aku mohon maaf.
Terus? Apa masalahnya?
Apa?/ Kenapa kau minta maaf?
Pernikahan memang seperti itu.
Memang apa ada orang yang menikah cuma karena cinta?
Tentu saja, juga karena ada satu dua hal kondisi.
Sudah jelas sekali itu./ Ayah.
Kenapa Ayah menerimaku?
Padahal ini pernikahan mendadak.
Karena ada waktu untuk menikah.
Kau datang pada saat yang tepat untuk menjadi istrinya.
Kau sopan, baik, dan berpendidikan.
Tidak ada alasan buatku menentang pernikahan.
Dan karena kau pernah bilang kau mencintainya...,
...pikirku itu hal baik.
Hal baikkah itu?
Dalam pernikahan ada cinta?
Kau aneh hari ini. Kenapa itu pakai ditanya segala?
Waktu Ayah bertanya padaku...
...alasan aku menikah dengan Se Hee...,
...aku menjawab aku mencintainya.
Jawaban itu menggangguku akhir-akhir ini...
...karena aku berbohong menjawabnya.
Kenapa begini tiba-tiba?
Se Hee-ssi...
Karena akhirnya aku jatuh cinta padanya...
Berarti, syukurlah.
Memang selalu seperti itu di hidup ini.
Itulah cinta antara pasangan suami istri.
Mau dunia ini berubah jadi apa...,
...laki-lakilah yang harus beli rumah.
Karena membesarkan anak itu susah. Jadi terimalah ini.
Ayo pulang.
Suamimu pasti akan menolak pemberianku itu.
Jadi simpan saja buat kau.
Dan kau harus membujuknya.
Dingin cuacanya. Hati-hati di jalan.
Ya, Ji Ho-ssi.
Se Hee-ssi.
Ya.
Aku ada pertanyaan.
Bukan sebagai pemilik dan penyewa rumah...,
...atau sebagai pria dan wanita...,
...tapi sebagai orang yang kurang berpengalaman dalam hidup...,
...jadi aku penasaran.
Ya.
Katakanlah.
Pernikahan itu...
...sebenarnya apa?
Arti pernikahan itu apa...
...apa kau tahu itu, Se Hee-ssi?
Aigoo. Sayang./ Apa?
Pernikahan?
Kau sudah gila?
Apa, kau menghamili orang?
Apa?/ Aigoo, sayang. Bicarakan baik-baik.
Aku bisa bertanggung jawab.
Karena aku mencintainya...,
...jadi aku akan bertanggung jawab.
Apa? Cinta?
Ya. Apa cinta bisa kasih makan kau?
Terus hutang keluarganya bagaimana?
Pikirmu pernikahan itu main-main?
Kalau ada rumor menyebar di kampusmu, bagaimana?
Dialah yang paling terbebani sekarang.
Teganya Ayah sekarang malah memikirkan soal harga diri dan reputasi Ayah?
Apa Ayah tak merasa malu sebagai seorang pendidik?
Keluar. Keluar sekarang juga.
Keluar dari rumah ini, dan jangan pernah kembali! Keluar!
Keluar sekarang juga!
Ji Ho-ssi.
Pernikahan...
Jadi maksudku...
Pernikahan sesungguhnya.
Suaranya...
...gemetar.
Pernikahan yang sungguh-sungguh berdasarkan cinta...
Matanya...
...berlinang.
...pasti membahagiakan, 'kan?
Ji Ho-ssi...
...pasti sedang menangis...
...karena aku.
[Episode 15: Karena ini Istirahat Pertamaku]
Kau tidur nyenyak?
Aku sedang di rumah orang tuaku.
Tolong beritahu aku jika ada lagi yang kaubutuhkan untuk menyudahi kontrak kita.
Perutku sakit.
Bo Mi-nim, kenapa kau disini?
Kenapa lagi?
Kau tak ingat?
Yang semalam?
Apa maksudmu semalam?
Apa ini? Pakaian dalam?
Kenapa aku cuma pakai pakaian dalam?
Kenapa kau bertingkah malu-malu?
Semalam saja, kau langsung buka baju.
Kau memang sepertinya tidak ingat...
...yang semalam.
Aku mual.
Apa disini ada makanan buat penghilang mabuk?
Kenapa kau pegang bantal ini?
Siapa kau sampai pegang bantalku dan tidur pakai ini?
Kau tahu bantal ini?
Kau tak bisa sembarangan pegang bantal ini tanpa izinku.
Kurang ajar.
Kau kemari hampir pingsan di klub, jadi aku mengantarmu pulang.
Tapi apa ini sekarang, kau memperlakukanku seperti ini?
Kau sendiri yang buka celanamu waktu tidur.
Bo Mi-nim.
Aku minta maaf. Aku salah.
Aku orang yang sangat payah sekarang.
Aku marah pada diriku sendiri, tapi aku melampiaskannya ke kau.
Aku minta maaf. Sungguh.
Kita tak jadi makan?
Ho Rang-ssi, kau tak apa kita makan ini?
Ya. Aku butuh sup penghilang mabuk.
Kau benar-benar wanita impianku.
Apa?
Asisten Shin.
Oh. Bo Mi-ssi.
Kau mau makan?/ Ya.
Duduk sini saja.
Sayang sekali.
Padahal berkat kau, banyak orang jadi langganan disini.
Aku juga.
Terima kasih telah memberiku kesempatan besar.
Ini tak banyak.
Anggap saja sebagai uang pesangon atau hadiah selamat.
No comments yet. Be the first to leave one.