The first 200 lines.
Penjara Stanford Bohan, Kota Liberty.
Ekor! Mau taruhan?
Ponselmu.
Pasanglah binatang pilihanmu.
Makin banyak pasang, makin banyak menang.
Pasang dua kali lipat? Itu baru semangat.
- Ayo pasang taruhannya. - Tunggu, tunggu.
Sekarang ini harganya 300. 50 saja untukmu.
Gao Ye, lupakan saja.
- Empat puluh - Pasang dulu taruhanmu.
Aku sudah usahakan, bantu aku.
Dua puluh. Ayo pasang taruhannya.
Ikan. / Ikan, udang dan kepiting menang!
Ayo, ayo pasang.
- Ayam jantan. - Menang.
- Udang. - Menang.
Hei, itu punyaku.
- Bangsat kau... - Bangsat, apaan?
Kau rupanya.
Ini, Phoenix. Halo Dragon.
Gao Ye, sepertinya hari ini nasib baik ada di sisimu.
Aku sumpah akan membayarmu kembali dengan kemenanganku.
Akan ku bantu, pilih satu.
Bagaimana? / Tunggu. Biarkan aku berpikir.
- Ayam jantan. - Kau dengar itu?
Tuan Gao disini, ingin ayam jantan kecil.
Hei, perlahan-lahan.
Tiga ikan. Kau kalah.
Hentikan dia.
Bang.
Jangan bunuh aku!
Kalau kami membunuhmu, siapa yang bayar boss kami?
- Besok. - Besok?
- Aku akan bayar besok. - Atau hari ini.
Tangan 10.000, kepala 40.000. Kami dengar kau punya seorang putri.
Berikan gadis ini pada kami, hutangmu lunas.
- Aku tak punya putri. - Tidak punya?
Kalo gitu kami akan ambil kepala atau kaki mu. / Jangan.
Begini saja. Aku...
Aku punya satu yuan.
Kepala atau ekor? Kau pilihlah.
Kepala, kami potong kepala. Ekor, potong kaki.
Jangan. / Iya apa tidak? / Iya.
Anggap saja ini dendanya.
Satu, dua, tiga...
Empat, lima...
Enam, tujuh.
8 ribu dolar, tak kurang satu sen pun.
- Gao Ye, mana uang sewaku? - Besok ku bayar.
Besok, besok, selalu saja kau bilang begitu.
Kau cari siapa? / Cemilan cepat atau sepanjang malam?
- Kau ke tempat yang salah. - Ini kamar 502, tidak salah.
- Aku tidak tertarik, pergi sana. - Kau terluka.
Tapi di bawah sana tidak, jadi tidaklah masalah.
Luka ini sakit sekali. "Anu" ku pun tak mampu bangun.
Kau pikir aku jelek, iya kan?
Baiklah, kau masih harus membayar ku.
Bayar sekarang.
Buka pintunya. Hai semua orang..
Orang ini "anu" nya tidak bisa bangun.
Memanggil pelacur, tapi "anu"nya tidak bisa bangun.
Dengar nona, hariku sedang sial.
Namaku Momo / sebenarnya apa maumu? Aku tak punya uang.
Jika kau tidak membayarku, aku akan dipukuli.
Sudahlah, karena aku sudah kemari...
Aku mungkin akan nongkrong selama 10 menit.
Lebih baik begini dari pada aku kembali. / 10 menit?
Tidak, aku punya reputasi.
Buat 40 menit saja.
Kau minum pil tidur?
Jangan sentuh barangku.
Ew, ada yang bau.
Benar, ada yang bau.
Kau kencing di celana?
Yakin kau tak mau aku mandikan?
Tidak, aku tak punya uang.
Seorang gadis di profesi pekerjaanmu pasti dapat uang banyak, huh?
- Tergantung gadisnya. - Masuk akal.
Kau sepertinya cukup putus asa.
Aku rasa bisnismu tidak begitu bagus.
Jadi....waktunya sudah habis.
Makasih.
- Kau bisa tinggal untuk sementara. - Apa?
Apa yang ku maksud....
Ada banyak pencuri di sekitar sini.
Membawa uang sebanyak itu tidaklah aman.
Aku ini pelacur, sudah pernah tidur dengan pencuri.
Kenapa tidak menyimpannya di Bank?
Bank bahkan lebih tidak dipercaya dari pada pelacur.
Bagus itu, tapi masalahnya...
Uang bisa menyusut. Lebih cerdas kalau diinvestasi
Biar aku traktir makan malam.
Aku tahu tempat bakmi enak di dekat sini.
Memang sulit mendapatkan kembali uang tunai dengan baik.
Di banyak tempat, tapi bukan di sini. / Kenapa?
Untuk apa setiap orang datang kemari?
- Tamasya - Pikirkan lagi.
- Berjudi. - Benar.
Itu cara terbaik untuk cepat mendapatkan uang banyak.
Tapi kebanyakan orang kalah.
Aku tidak termasuk.
Aku berjudi sejak usiaku 12 tahun.
Aku mengenal kasino luar dan dalam.
Dengan kelihaian dan statistik ku...
Aku bisa jamin, kau akan menang sepuluh kali lipat.
Kau percaya padaku?
Di kasino, kau berjudi melawan siapa?
- Orang lain. - Salah.
Kau berjudi melawan tempat judinya.
Katakanlah kau adalah kasino.
Orang ini pasang satu juta.
Orang ini pasang 10 ribu. Siapa yang kau biarkan menang?
Tentu saja yang 10 ribu. / Benar sekali, kasino ingin untung besar, bayar kecil.
Sewaktu kau memahami itu, kau tak mungkin kalah.
Percayalah, aku bisa merubah 2000 menjadi 4000.
Pinjami aku 2000, kalau aku kalah, aku hutang 2000 padamu.
Jika menang, kita bagi separoh-separoh. Bagaimana?
Haruskah kita mencobanya?
Begini saja, saat aku dapat 6000...
Kau ambil 4000, aku akan ambil 2000.
Cara begitu, tak ada resikonya bagimu.
- Boss, tolong bon nya. - Baiklah.
Kau mau habiskan itu?
- Semuanya jadi 5 dolar. - Kau yang bayar.
- Tapi kau bilang ini kau yang traktir. - Anggap saja ini uang muka.
Sewaktu aku menang, bagianmu akan jadi 4500, oke?
Dasar kau tak tahu malu.
- Apaan itu? - Itu mesin rolet.
Roda warna.
Pasang merah atau hitam dibayar 100 persen.
Kalau kita pasang hijau atau angka dan menang...
Uangnya cukup besar.
Berikan aku uangnya.
Menangkan uang bakmie ku dulu.
Ini, tiuplah. Tiup.
- Untuk nasib bodoh. - Siapa yang kau panggil bodoh?
Kau menang! Berhasil!
Lihatlah, kalau kita pasang 2000, bisa menang jadi 4000.
Seperti ku bilang, ini hanya pinjaman.
- Aku akan menutupi setiap kekalahan. - Panggilan terakhir untuk pasang.
Ayolah.
- Panggilan terakhir untuk pasang. - Kali ini...
Pasang 100.
- Jangan ada lagi yang pasang. - Tunggu, tunggu, tiup.
Untuk nasib bodoh.
10 Hitam.
Kau menang.
Belikan dua minuman untuk rayakan.
Dari kemenangan kita, aku yang traktir.
Jangan ada lagi yang pasang.
- 20 Dolar. - Semahal itu?
Kau mau apa tidak?
- Nomor berapa? - Nomor 18.
Jangan ada lagi yang pasang.
- Apa kau menang? - Ayo bersulang.
- Ayo pergi, makan bakmi. - Makan lagi?
Kita udahan?
Kita menang tidak? Dimana uangnya?
Berjudi bukan tentang apa menang atau kalah. Ini tentang sikap.
Jangan omong kosong padaku.
Aku mau uangku. Apa kau habiskan uangku?
Tentu saja tidak. Mereka memberiku kartu.
Aku sedang mencari ATM. Ku rasa di sebelah sana.
Benar, di sebelah sana.
Hei...
Berikan uangnya padaku.
Geledah saja aku. Ambil saja jika kau temukan.
Jangan disana. Jangan meraba-raba.
- Dimana uangnya? - Aku kalah.
Kau apa?
Butuh waktu berbulan-bulan untuk dapatkan uang itu.
- Akan ku bunuh kau, kembalikan. - Aku punya ide.
Pinjamkan aku lagi, aku akan menangkan kembali.
Kenapa aku harus pinjamkan lagi padamu?
Bunuh saja aku, kalau kau mau. Tetap saja aku bangkrut.
Kalau sudah tak ada lagi, aku pergi sekarang.
Jangan mengikutiku.
Baiklah.
- Ku tunggu kau di rumah. - Berikan kunciku.
- Kembalikan uangku. - Berikan kunciku.
- Kembalikan. - Pak Polisi.
Pak polisi, tolong. Orang ini menipu ku.
Hei, kau bersedia meminjamkannya.
Ada apa ini?
Pak Polisi, dia tidak hanya mencuri uangku...
- Dia juga mencuri hatiku. - Kami putus.
Dia bilang akan menceraikan istrinya.
Pak Polisi, tahukah kau? Ketika temanku memperkenalkan kami..
Ia bilang pria ini orang baik.
Pria yang baik. Tapi selama 5 tahun ini...
Aku yang bayar semuanya. Adilkah itu? Iya kan?
- Maafkan aku. - Lepaskan tanganmu.
Aku tak mau ikut campur hal ini, bawa kekasihmu ke tempat lain. / Baik, pak.
- Aku mau uangku. - Apa yang kau pikirkan?
- Kau memang gila. - Kembalikan.
Tanpa pinjaman, aku tak bisa menangkan kembali.
Aku sudah pinjamkan semua yang ku punya padamu.
Kalo gitu bagaimana kalau sedikit taruhan?
Kalau aku kalah, aku berhenti judi.
Jika kau kalah, bantu aku pinjamkan uang. / Tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.