The first 200 lines.
Menurut kalian bagaimana kesepakatan dengan para badut itu?
Entah, tapi kurasa kita takkan dapat pasokan.
Hei, Rod. Kau mau ke mana?
Berkemas. Kita sudah selesai di sini.
Omong kosong. Kau tahu tentang ini.
Kelly. Ada yang bisa kubantu?
- Kau menutup tempatku. - Bukan aku, Atlanta yang melakukannya.
Kau bilang akan membantuku.
Dan kau bilang akan mendapatkan minyak di sini.
Frank Towns, bukan?
Hai. Aku Kelly Johnson.
- Hai, Kelly. - Aku pimpinan di sini.
- Oh. - Jadi berapa lama waktuku?
Sampai sumurnya disumbat dan para krumu naik ke pesawat.
Ini omong kosong!
Kau tak bisa begitu saja muncul dan menutup tempat ini.
Benarkah? Lihat saja.
Ya, aku sudah dengar reputasimu. "Tukang Tutup" Towns.
Kau mengacau...
Kau bayar harganya.
Tak ada yang mengacau di sini.
Benarkah? Ada yang bilang kau telah melakukannya.
kau hutang 10 dolar. Rambutnya merah.
Kau benar-benar menikmati pekerjaanmu, Towns?
Namamu Kelly, bukan?
Kelly, ada beberapa hal yang aku nikmati...
Tapi kehilangan bijiku saat melakukan pekerjaan bukan salah satunya.
Sekarang, berkemaslah, kumpulkan para krumu lalu naiklah ke pesawat.
Dan saat kita sampai di Beijing, urusan kita selesai.
Semoga harimu menyenangkan.
- Terima kasih banyak. - AJ.
- Ya. - Ayo kita keluarkan sampah ini.
- Bagus. - Kerja bagus.
Pengeboran minyak ini--
mereka hanya menyebabkan banyak penyesalan.
Butuh bantuan, Kawan?
- Ya. - Tidak, terima kasih.
Ayo kita singkirkan benda ini.
Tim yang bagus.
- Davis, apa yang kau lakukan? - Aku selalu melakukan ini tiap naik pesawat.
- Itu membawa keberuntungan. - Ayo jalan.
Jika kau terus bicara begitu, kau akan membawa kesialan.
- Tidak akan, ini untuk keberuntungan. - Sudahlah.
- Tenanglah nona-nona. - Kau mau mendorongku ke kursi juga?
- Kau pasti Rodney. - Mm-hmm.
Aku tahu orang yang bekerja denganmu di Kuwait.
Apa tempatnya ditutup juga?
Apa masalahmu? Kamilah yang kehilangan pekerjaan.
Kamilah yang menerbangkan rongsokan ini dan memungut sampah-sampah.
Baiklah, cukup, Kawan-kawan.
Kalian akan terbang dengan aman.
Untung dia pergi.
Ya, kupikir kau akan lebih nyaman di belakang sana...
bersama teman-temanmu.
Tentu.
Jam bagus, Liddle.
Ya. Jangan sampai merusaknya. Aku menginginkannya kembali.
- Kita siap? - Kelihatannya kurang satu lagi.
Tidak mungkin. Semuanya sudah di sini.
Akan kubiarkan dia tahu.
Kurasa aku butuh tumpangan ke Beijing.
Tidak dalam penerbangan ini, Goober.
Ada yang tahu siapa orang ini?
Ceritanya panjang.
Naiklah.
Kau bosnya, Frank.
Baik, semua siap, Tn. Presiden.
Kurasa hanya soal waktu saja kita akan melakukannya.
Bagaimana menurutmu, Kawan?
Yah, kenapa harus mengganti hal yang bagus? Ayo, Kawan.
Biarkan aku mengambil buletinku. Sabuk pengaman.
Aku selalu menyukai sesuatu yang terikat di pinggangku.
Cek
Jendela, pintu dan palka.
Tertutup dan aman takkan ada yang mengganggu kita.
Injeksi air.
Itu yang dia bilang.
Cek.
Dan terakhir, penutup sapi.
Sampai sapinya tiba di rumah.
Kita siap berangkat. Ingin mencium benda keberuntunganmu?
- Akan kulakukan sekarang. - Kiri aman.
- Kanan aman. - Baik. Kita berangkat.
Istriku hamil saat kutinggalkan.
Aku belum pernah menemui anakku itu.
Itu bagus. Artinya kau sangat ingin pulang ke rumah.
Kau tak tahu itu.
- Ingin lihat keluargaku, bro? - Ya.
Lihat ini. Dialah kehidupanku.
- Saat pulang nanti. Aku akan buka restoran. - Benarkah?
Ya. Namanya "Sweet dan Salsa Sammi dan Sandra"
Kau suka nama itu?
Kurasa aku kenal dia. Dia terlihat familiar.
- Apa maksudmu? Kau tak kenal dia. - Ya, aku kenal.
Oh, sekarang aku ingat dia.
Badai yang besar, Frank.
Apa yang akan kau lakukan?
- Kita akan terus. - Frank?
Jika kita kembali, kita harus isi bahan bakar lagi.
Itu terlalu lama.
Kita naik ke 14. Aku belum pernah dengar ada yang setinggi itu.
Kekuatan penuh. Awasi kenaikannya. Sekitar 700 kaki per menit.
Kau bosnya, Frank.
Astaga.
Apa itu?
- Itu antenanya, Frank. - Oh, bagus.
- Aku akan ke belakang menenangkan mereka. - Baik.
Halo lagi, nona-nona.
Ada yang ingin kukatakan...
Kami mengalami beberapa turbulensi pagi ini...
Jadi kuminta kalian tetap duduk tenang
dan usahakan jangan membuat kekacauan di pesawat ini.
- Suara apa ini? - Semuanya baik-baik saja.
Angin baru saja merusak antenanya, tapi kami tetap meneruskan penerbangannya.
- Antena radionya? - Bukan, antena TV satelitnya.
- Jenius. - Kita putar balik saja.
Terima kasih banyak.
Permisi. Kau berencana menerobos badainya?
Mau menutup pintunya dan kembali ke tempat dudukmu?
- Beban pesawat ini terlalu berat. - Kau mau mengatasinya?
- Tampaknya semakin tinggi. - Kita akan mengelilinginya.
Set rute 1-8-0 Selatan.
Sekitar 200 mil harus dilakukan.
Baik, 1-8-0.
Kita takkan berhasil. Pesawat ini kelebihan berat.
Belum pernah seburuk ini.
Baiklah. Kita memutarinya.
Baik.
Ya, Tuhan.
Ayo!
Kita dalam masalah, A.J.
Lihat petanya. Temukan tempat terdekat untuk mendarat.
Lhugar yang paling dekat, tapi jaraknya 300 mil di selatan basin.
Mungkin kita bisa mengatasinya.
Radio Lhugar radio, ini Amacore Transport, 8-7-3-Bravo. Ganti.
Lokasi kami kira-kira 40 derajat, 9 menit lintang utara...
84 derajat, 42 menit bujur timur.
- Ini dia. - Kau menurunkan rodanya?
Untuk berjaga-jaga saja.
Ada balasan dari stasiun?
A.J., siapkan para penumpang.
- Dengar, kita dapat masalah serius. - Astaga.
Kita akan melakukan pendaratan darurat.
- Oh, sial. - Pastikan sabuk pengaman terpasang.
Dan kalau kalian percaya pada Tuhan, berdoalah sekarang.
Ya, Tuhan!
A.J.!
Ayolah, Sayang.
Oh, sial!
Ya Tuhan!
Semuanya baik-baik saja?
A.J.?
A.J.!
- Aku tak apa-apa. - Kau baik-baik saja?
Apa kau terluka?
Dr. Gerber ada di pesawat ini.
Di mana dia?
Dia di sini.
Astaga! Api!
Hei! Kau mau ke mana?
- Aku tak mau di sini, aku sulit bernafas! - Hei!
Badai itu bertiup ratusan mil perjam di luar sana!
Itu akan mengupas kulitmu. Sekarang duduklah!
Apa kau sempat mengirim tanda bahaya sebelum jatuh?
Tak ada respon. Radionya rusak.
Akan ada yang mencari kita, bukan?
Segera setelah badainya reda.
Mereka tahu di mana mencari kita?
Kami tak punya semacam radar pencari jejak.
- Oh, fantastik - Dan ini gurun yang besar, bukan?
Kami tadinya berencana mengisi bahan bakar di Langhu...
jadi mereka akan kehilangan kita beberapa jam.
Jadi sekarang semuanya tetap duduk.
Hematlah oksigenmu.
Hei, Kapten? Jangan pikir kami tidak tahu yang kau lakukan.
Tak banyak pilot yang bisa melakukan itu.
Jadi... Terima kasih.
Ya. Terima kasih, Kapten.
Ya!
Rasanya seperti berada di jam pasir.
Aku hanya seorang koki, tapi aku tahu ponsel tak bisa dipakai di sini.
Tak ada salahnya mencoba kan?
Kau tak pernah tahu.
Kurasa orang perusahaan tak mengetahui itu.
Apa yang kau tertawakan? Ini kesalahanmu!
- Kenapa? - Ritualnya membawa kesialan.
Kau tak bisa seenaknya bicara begitu saat naik pesawat!
- Kaulah yang membawa kesialan. - Oh, diamlah.
Apa yang kukatakan padamu?
Kumpulan kekosongan.
Ada yang bisa mengatakan sesuatu?
Kapten?
Kurasa aku bukan orang yang tepat.
Mereka berharap aku mengatakan apa. Aku bahkan tidak mengenal mereka.
Mungkin kau bisa mengatakan kau turut berduka cita.
Kau mau seperti mereka berdua juga? Teruskan saja.
Jadi bagaimana ceritanya?
- Siapa? Dia? - Ya.
Dia mengalami kecelakaan pesawat.
Kecelakaan di padang gurun Mongol?
No comments yet. Be the first to leave one.