The first 200 lines.
HEAVENLY EVER AFTER
Apa benar
dosa apa pun
dapat diampuni jika aku berdoa?
Itu...
Ya. Jika kau berdoa dengan tulus,
kau akan diberi kesempatan untuk diampuni.
Pendeta.
Sepertinya aku
melakukan kejahatan.
Bu Lee, tanaman kupindahkan ke luar
dan sudah disiram.
Ini salad timun kesukaan Pak Ko.
Kalian sudah berbaikan?
Aku juga suka. Ini untukku.
Rupanya begitu.
Pak Ko, ayo makan. Ada salad timun juga.
Aku tak makan.
Kalau begitu, kau tinggal bersama ibumu saja.
- Aku tidak bisa. - Hati-hati.
Cepat ambil nasi. Kita makan.
Baik.
Omong-omong,
- ibu mertuamu... - Jangan bahas dia.
Aku bisa tersedak saat makan apa saja.
Baik.
Ini bukan masalah ibunya.
Lihat tingkah lakunya. Dia seperti anak kecil.
Apa kau ingat bagaimana dia tidak mau makan setiap kali kesal?
Karena dia sakit saat itu,
aku membujuknya untuk makan setidaknya sesendok.
Aku muak sekarang.
Terserah dia saja.
Sisakan sebagian untuk Som-i.
Katanya dia tak lapar.
Som-i.
Som-i!
Ada apa denganku?
Astaga.
Halo.
Apa kau ingat anjing putih yang ada di sini?
Namanya Mandu. Dia sudah reinkarnasi. Bagus, 'kan?
Biasanya baru terasa setelah tidak ada.
Kau sedih karena dia pergi, 'kan?
Tidak. Lagi pula kami baru kenal.
Kau mudah terikat dengan siapa pun meski baru kenal.
Bukan begitu...
Jangan mengelak. Kau begitu padaku.
Aku...
Lupakan.
Untuk apa menang debat denganmu?
Kau tahu pasti akan kalah.
Aku tidak kompetitif seperti seseorang yang kukenal.
Begitukah?
Siapa pun yang jalan di depan genius
Siapa pun yang jalan di belakang bodoh
Apa? Kau kekanak-kanakan sekali.
Aku genius.
Ada satu kata yang selalu muncul di dalam Alkitab.
Kata itu adalah "cinta".
Saudari Hae-sook.
Kau tidak boleh malas mengungkapkan cinta.
Bisa dimulai dari orang terdekat seperti keluarga atau suami...
Tidak bisa aku sendiri. Harus dua arah.
Apa ada yang membuatmu kesal?
Tidak, lanjutkan.
Baik.
Secara khusus, Efesus Pasal 5 mengatakan,
"Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus,
demikian jugalah istri kepada suami
- dalam..." - Astaga.
- Kalian bertengkar? - Tidak.
Jika kau tak menyukainya, aku bisa ganti ke topik berikutnya.
Tidak perlu. Jangan hiraukan aku.
Kau membuatku tidak bisa fokus.
Baiklah. Aku tidak akan bicara mulai sekarang.
Silakan dilanjutkan.
Sungguh? Bisa kulanjutkan?
Ya, silakan.
- "Demikian jugalah istri..." - Apa ada ayat yang menyuruh
suami untuk mendengarkan istrinya
dan tidak membuat istrinya mengatakan
hal yang sama dua kali?
Kenapa bertengkar?
Kami tidak bertengkar.
Aku tidak akan tanya lagi. Sungguh?
Kau benar-benar senang menguji jemaat gereja.
Pria dewasa seharusnya
mengalah dengan lapang dada jika istri
menjulurkan tangan untuk berdamai.
Bukannya malah merajuk.
- Mungkin dia benar-benar marah. - Kau pikir aku tidak marah?
Menyebalkan. Lagi pula kami tidak akan mungkin berpisah juga.
Kenapa malah dipersulit?
Ada ayat di Alkitab mengatakan,
"Jika pipi kananmu ditampar..."
"Tampar pipi kirinya."
Astaga. Tidak begitu.
"Berikanlah juga pipi kirimu."
Itu artinya
balas dendam tidak akan menyelesaikan apa pun.
Termasuk pertengkaran suami istri.
Kau belum menikah. Bagaimana kau bisa tahu?
Kalau begitu, kenapa mengungkit masalah ini?
Lalu, kenapa kau menanyakannya?
Aku? Aku yang tanya?
Astaga.
Pembicaraan ini membuatku haus.
Kau seharusnya mendengarkan sambil membawakanku minum.
Astaga.
Astaga.
Kulkas ini masih kosong.
Sikhye.
Kau meninggalkan sisa yang kita makan waktu itu?
Apa?
Kenapa? Apa basi?
Bukan basi, tapi menjadi alkohol.
Ini fermentasi beras.
Jika dibiarkan lebih lama, jadi makgeoli.
Apa kau punya botol kosong?
Botol kosong?
Ya.
Ini.
- Apa ini cukup? - Sempurna.
Suamiku suka makgeoli. Jadi, aku mau membawakannya.
Katanya bertengkar?
Kau benar.
Aku lupa dan nyaris membawakannya.
Bagaimana jika kau membawanya pulang
dan coba berdamai?
Untuk apa?
Aku sudah coba yang terbaik.
Kita minum saja.
Kita?
Kau menawarkan miras kepada pendeta?
Kau masih kecil. Jangan diminum.
Apa? Aku sudah besar.
Kau masih kecil.
Semua pria itu bocah.
Pantas saja bertengkar.
TELEPON UMUM
Som-i.
Tadi aku kembali ke sana dan menunggu sebentar.
Tidak ada dia.
Jika tahu begini, aku seharusnya
tanya nama dia hari itu.
Maafkan aku.
Kau pasti sangat kaget karenaku.
Apa orang itu
yang membuatmu emosi sebelumnya?
Tidak ada yang kau ingat lagi?
Ya.
Maka itu aku makin frustrasi.
Apa menurutmu jahat?
Tidak ada yang tahu. Tidak bisa hanya lihat
dari penampilan saja.
Tidak. Maksudnya aku.
Apa aku orang jahat di kehidupan sebelumnya?
Kau harus mencari ingatanmu untuk mengetahuinya.
Meski sulit dan menyakitkan.
Jika ada yang bisa kubantu...
akan kulakukan.
Seharusnya kukatakan lebih awal.
Terima kasih
sudah menyelamatkanku dari Neraka.
Lalu...
jika suatu hari aku tiba-tiba hilang,
kau tidak perlu mencariku.
Apa?
Aku mungkin akan memilih untuk ke Neraka setelah ingatanku kembali.
Jika itu terjadi, tidak perlu menyelamatkanku lagi.
Kumohon.
Baik.
Benar, dia ingin hidup bersamaku lagi di Surga.
Aku harus mengalah.
Setidaknya aku bisa meluapkan kekesalanku pada Young-ae atau pendeta.
Dia tak punya siapa pun untuk bicara...
Ada. Ternyata ada.
Dia hanya tidak bicara denganku.
Kau benar.
Kalian pulang bersama.
Kami berpapasan di taman.
Kau pasti lapar. Apa kau sudah makan?
- Sudah. - Dengan ibumu?
Maksudku tidak ada salahnya kau menghabiskan waktu bersama ibumu.
Aku tahu bukan itu maksudmu.
Kau masih marah?
Sampai kapan kau akan bersikap begini?
Baiklah. Aku akan menyiapkan makanan dan mengundang ibumu...
Tidak perlu.
Ada apa denganmu?
Kau tidak perlu membaiki Ibu
dan tidak perlu ke rumahnya juga, jadi kumohon...
Berhenti bicarakan ini.
Kenapa? Ibu menyuruhmu bilang begitu?
Bukankah ini yang kau inginkan?
Baiklah. Terima kasih.
Aku hanya bilang sekali bahwa ibumu
membuatku tidak nyaman
dan sekarang tak perlu bertemu lagi. Aku bersyukur sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.