Specials

Release info

ᄎᄒ911 이상한 변호사 우영우 Extraordinary Attorney Woo E04 2200707 NEXT
A Commentary by _ch_911_
RT 01:07:40 | Sub by Netflix

Tags

other
Published on: 2022-07-07
Downloads: 9
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Astaga.

Ada perlu apa kalian ke Ganghwa?

Halo.

Kita perlu bicara.

Masuk.

Kulanjutkan nanti saja? Karena semua saudaranya datang.

Ya, Jin-hyeok. Nanti kuhubungi lagi.

Sudah lama sejak mereka bertiga berkumpul.

HADIAH KONTRAK

Apa ini?

Kompensasi pembebasan lahan.

Itu harus dibagi rata.

Apa kau berpikir karena lahan padi atas namamu,

kompensasi juga menjadi milikmu?

Tentu tidak. Jika begitu, mana mungkin aku menghubungi kalian lebih dahulu?

Itu sawah warisan ayah. Tentu saja,

aku harus membaginya adil dengan kalian.

Ya. Kalau begitu, begini saja.

Anak sulung 25 persen, anak kedua 15 persen,

anak bungsu 10 persen.

Bagaimana menurutmu?

Wajar anak sulung dapat bagian lebih banyak.

Dia yang menggelar ritual memorial orang tua.

Ini bukan karena aku serakah.

Ada hukum yang disebut hukum waris.

Menurut hukum waris ini,

anak sulung dapat lebih banyak daripada anak kedua,

anak kedua lebih banyak daripada anak bungsu.

Apa itu kata hukum?

Mengapa? Tidak percaya?

Tidak.

Aku mengatakan ini setelah semua diperiksa oleh pengacara profesional.

HADIAH KONTRAK

Bisakah aku memikirkannya lagi sebelum memutuskan?

Memikirkannya lagi?

Apa yang perlu dipikirkan?

Apa kau mau mencari pengacara di desa dan berkonsultasi,

atau bertanya kepada Jin-hyeok, kepala desa tadi?

Kau mungkin tak tahu apa-apa karena hanya bertani sepanjang hidupmu.

Namun, Dong-il punya bisnis besar di Seoul.

Aku juga memiliki karier panjang.

Setelah menyelidiki dengan saksama

dan pertimbangan cermat, kami membahasnya denganmu.

Cepat kau cap saja.

Inilah yang diinginkan mendiang orang tua kita.

Ambil cap.

Bawa kemari.

- Di mana? - Di sini.

DONG DONG-SAM

DONG DONG-IL, DONG DONG-I

KASUS 4 PERSELISIHAN TIGA BERSAUDARA

Pengacara Woo tidak masuk lagi hari ini?

Kelihatannya begitu.

SURAT PENGUNDURAN DIRI

WOO YOUNG-WOO

Ini makananmu.

Sebentar.

- Selamat makan. - Terima kasih.

Terima kasih.

Young-woo, temanmu datang.

Woo ke Young ke Woo

Dong ke Geu ke Ra-mi

Kau belum makan, 'kan? Kubuatkan gimbap untukmu.

Aku mau gimbap tonkatsu .

- Ya. Gimbap biasa saja. - Ya.

Ini masih pagi. Mengapa ke sini, bukannya tidur?

Aku kesal pada ayahku.

Dia ditipu para pamanku untuk meneken memorandum aneh!

Keluargaku sudah hancur!

Memorandum?

Ya. Memorandum itu berisikan ayahku akan membagi kompensasi tanah dengan mereka.

Ayahmu mendapatkan kompensasi tanah?

Sawah yang ada di Ganghwa-do, 'kan?

Ya. Itu milik kakekku. Sawah seluas 5.000 pyeong .

Setelah kakekku meninggal, tanah itu atas nama ayahku.

Karena kini menjadi kawasan pembangunan, pemerintah memberikan kompensasi.

Berapa harganya?

Sepuluh miliar won.

Sungguh?

Luar biasa!

"Luar biasa."

Padahal kami dahulu tinggal di sana tiga tahun lebih.

Seharusnya aku membeli tanah saat itu. Sayang sekali.

"Sayang sekali."

Namun, ayahku yang bodoh itu

berjanji membagi uangnya dengan kedua saudaranya.

Yang tersisa hanya utang.

Paman Dong-il dapat 50 persen,

Paman Dong-i dapat 30 persen, dan ayahku 20 persen.

Mengapa nama pamanmu hanya ada satu suku kata? Il dan I?

Tidak. Dong-il, Dong-i, Dong-sam.

Lengkapnya Dong Dong-il, Dong Dong-i, Dong Dong-sam.

Ayahku Dong Dong-sam.

Meski kakekku yang menamai mereka,

tetapi mengapa namanya biasa saja?

Dia menamai anak-anaknya biasa, tetapi tahukah siapa namanya?

- Apa? - Won-bin.

Dong Won-bin.

Namanya saja yang tampan.

Astaga, hanya namanya.

Namun, mengapa hanya tersisa utang?

Bahkan jika ayahmu menerima 20 persen, dari kompensasi sepuluh miliar,

dia akan dapat dua miliar.

Namun, Pak Dong Dong-sam ini setuju membayar semua pajak kompensasi.

Tanpa tahu berapa jumlahnya.

Dia baru tahu dua hari lalu dan kini terkapar kaget.

Berapa pajaknya?

Benar.

Sudah kutulis.

Pajak transfer dan pajak penghasilan.

Jika dijumlah menjadi 2,26 miliar won.

Aku sungguh tidak percaya.

Kompensasinya sepuluh miliar won,

pamanku dapat lima dan tiga miliar.

Namun, ayahku hanya mendapat utang 260 juta won.

Aku serius mempertimbangkan melaporkan kejadian ini ke How is That Possible.

Lalu mengapa ayahmu memberi cap di memorandum yang tak menguntungkannya?

Ayahku menganggap para pamanku hebat.

Ayahku selalu membual dirinya hanya petani yang tak berpendidikan,

sementara kakaknya berkuliah di Seoul.

Jarak usia mereka pun jauh.

Paman Dong-il lebih tua 12 tahun daripada ayahku.

Jadi, ayahku tidak bisa membangkang atau menolak permintaan mereka.

Kedua pamanku meremehkan kami, menganggap kami orang tak berotak,

dan berpikir tidak ada kenalan pengacara.

Jadi, aku bilang, aku kenal pengacara.

Siapa?

- Kau. - Benar.

Aku bukan pengacara lagi.

Apa? Mengapa?

Benar. Ayah juga ingin tahu alasannya.

Mengapa kau berhenti?

Sebagai gantinya, kukenalkan pada temanku.

Kau bawa memorandumnya?

Tidak, ada pada ayahku.

Ya.

Ayo pergi!

Kita tutup toko dan ambil memorandum bersama!

- Apa? - Bangunlah.

- Ayo bersiap. - Baik!

- Mari ke Ganghwa-do bersama! - Ayo.

Apa?

Sudah lama aku tidak ke Ganghwa-do.

Kami pindah ke Seoul setelah Young-woo berkuliah. Jadi, sudah tujuh tahun.

Kau juga pindah ke Seoul saat itu, 'kan?

Ya, setelah lulus SMA.

Bagaimana? Ingin mampir ke kota?

Mau mengunjungi SMA lama kalian?

Mengapa?

Hanya untuk bernostalgia.

Apa tak penasaran kabar almamater kalian?

- Tidak. - Tidak penasaran.

- Sungguh? - Alang-alangnya cantik.

Ya.

Ayahku memutuskan pindah ke Ganghwa-do karena dahulu, aku dirundung di sekolah.

Dia berharap segalanya akan lebih baik di sekolah kecil di perdesaan.

Anak-anak perdesaan lembut dan baik hati.

Kau akan baik-baik saja. Di sini berbeda daripada Seoul.

Ya.

Langsung menuju ke ruang guru.

Wali kelasmu sudah menunggumu, ya?

- Ya. - Masuklah.

Tidak ada yang berbeda di perdesaan.

Di sekolah, mereka memanggilku "pecundang."

Ada kejahilan populer yang dilakukan kepadaku.

Namanya permainan "Maaf".

Maaf.

Maaf.

Mengapa kau begitu?

Selamat makan.

Terima kasih.

Maaf.

Aku harus mencari tempat aman.

Saat istirahat, aku kabur ke ruang guru.

Astaga.

Mengapa terus datang ke sini?

Apa nyaman begitu?

Tidak apa-apa.

Saat makan siang, aku kabur ke pos satpam.

Terima kasih.

Namun, tak peduli sesering apa aku kabur,

aku tidak bisa menghentikan yang terjadi di kelas selama pelajaran.

Sebaliknya…

kekuasaan pejabat provinsi dan bagian administrasi

diperkuat.

Ini menunjukkan selama periode akhir di era Dinasti Joseon,

keputusan yang berpusat pada pejabat provinsi

diperkuat sebagai hasilnya.

Hafalkan karena biasanya muncul pada tes.

Ada pertanyaan?

Ya, aku punya pertanyaan.

Apa itu?

Bu, di mana kau melakukan

bedah kelopak mata?

Sepertinya di bagian sudut juga.

Apa di tempat yang sama?

Tampaknya operasinya berhasil, banyak siswa yang penasaran.

- Berapa biayanya, Bu? - Cantik.

- Terlihat bagus. - Cantik.

- Di mana itu? - Beri tahu kami.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left