The first 200 lines.
Subtitle by iQIYI PecintaSosis
Duean.
Siapa yang mengetuk pintu?
Ayah mungkin lupa bawa kunci, Bu.
Cari siapa?
Aku anak buah Jamrut.
Aku mau beri tahu kalau Rut jatuh dari perancah.
Dia ada di IGD.
Duean, apa Ayah sudah pulang?
Suster, di mana pasien bernama Jamrut yang jatuh dari perancah?
Bagaimana keadaannya?
Dokter berusaha keras menyelamatkannya.
Dia masih di ruang operasi.
Kondisinya masih dalam bahaya.
Di mana ruang operasinya?
Jalan lurus lewat sini.
Ayo.
Ayo kita ke ruang operasi.
Sayang, ayo makan!
Ya. Biar kupanggil anak-anak.
Dao, Duean.
Ayo kita makan.
Ibu sudah selesai memasak. Ayo.
Dokter.
Bagaimana keadaan suamiku?
Dia tak bernapas selama satu menit.
Tapi sekarang dia sudah aman.
Soal lukanya, kakinya patah.
Aku sudah balutkan gips.
Tulang serviksnya bergeser sedikit.
Sekarang kita harus menunggunya siuman dulu.
Dia akan diawasi untuk sementara waktu.
Boleh aku masuk untuk melihat Ayahku?
Belum boleh.
Ini esnya.
- Permisi. - Ya?
- Minta satu kola lagi. - Baik.
Satu kola? Baik.
Ngoh, ini ayam meja empat.
Ambilkan satu botol kola untuk meja tiga.
Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.
Kami baru buka beberapa hari.
Semuanya belum selesai sempurna.
- Kalian yang masak sendiri semua ini? - Ya.
Ini enak, sungguh!
Kalau enak, datanglah lebih sering.
- Aku pasti akan jadi pelanggan di sini. - Silakan.
- Panggil saja jika butuh sesuatu. - Ya, terima kasih.
- Ayah. Jangan lupa meja itu. - Ya.
Hai!
Hai, kalian datang!
Bagaimana bisnisnya? Sejak pindah ke sini,
- sepertinya bisnis berjalan lancar. - Lumayan.
Proses masak ayam bakarnya tak bisa mengimbangi semua pelanggan.
Terima kasih banyak sudah datang dari jauh.
Silakan duduk. Aku akan segera ke sana.
- Apa kau punya... - Minuman alkohol, 'kan?
Bagus, ayo kita minum bersama!
Ngoh, jamu teman-teman Ayah.
Baik, Ayah.
Ayo duduk.
Bagian dalamnya sangat besar.
Ada banyak pelanggan.
- Halo. - Hai.
Ini putri sulung Pong.
- Halo. - Ini yang bungsu.
Apa Ibumu bilang dia akan datang hari ini?
Ya, Ayah.
Ayah lihat kau duduk di sini sudah hampir tiga jam.
Ayah rasa Ibumu tak akan datang hari ini.
Ayah kenal Ibumu.
- Pam. - Astaga.
Joe, ada apa? Kenapa kau terengah-engah?
Jangan bilang kau sudah lari pagi.
- Aku berlari ke sini untuk menemuimu. - Ada apa?
Kau belum dengar kabar Duean?
Kenapa dia?
Semalam kami mengobrol.
Ayahnya jatuh dari perancah semalam.
Dia sekarang di rumah sakit.
Apa kau bercanda?
Ibu!
Ibu!
- Kau sudah bawa semuanya? - Ya, Bu.
Ayo, masuk ke mobil.
Pu.
Kenapa kau menangis?
Kupikir Ibu tak akan datang menjemputku.
Bagaimana kau bisa berpikir begitu?
Ayahmu yang bilang begitu?
Ayahmu suka menyalahkan orang lain.
Dia tak pernah berpikir jika itu salahnya.
Dia selalu seperti itu.
Dia tak pernah berubah.
Duean, kau pulanglah dulu.
Lihatlah keadaan Dao.
Ibu tak enak minta Bibi Ead menjaganya begitu lama.
Ibu akan menemani Ayah di sini.
Ya, Bu.
Aku bisa menjaga Dao.
Jadi Duean bisa menemanimu.
Tak perlu.
Kalian sebaiknya pulang.
Ada dokter di sini. Ayah akan baik-baik saja.
Ayo pergi.
Sampai nanti.
Aku akan menjemput adikku dulu.
Aku akan menemanimu hari ini.
Jangan khawatir. kau harus mencari uang.
Kau yakin baik-baik saja?
Ya, aku baik-baik saja.
Duean!
- Aku mau pulang. - Baiklah.
Apa kau tak mau tinggal bersamaku, Dao?
Aku punya makanan enak.
Bagaimana keadaan ayahmu, Duean?
Dia sudah keluar dari ruang operasi.
Tapi dokter bilang mau mengawasinya dulu.
Jika terjadi sesuatu pada ayahmu sekarang, hidup kalian yang kacau.
Ayo biarkan adikmu istirahat.
- Ayo berpamitan. - Sampai jumpa.
Apa kau lapar?
Ayo kita cari makan.
Pu.
Apa yang mau kau kunjungi saat tiba di Bangkok?
Aku mau mengunjungi banyak tempat.
Aku mau pergi ke Siam
dan Pratunam.
Kita bisa pergi ke sana.
Tapi kau harus mendaftar sekolah dulu.
Baiklah.
Setelah itu, ajak aku berkeliling.
Tentu saja, Sayang.
Ke mana Ibu dan Ayah pergi? Kenapa mereka belum pulang?
Ayah sakit.
Dokter menyuruhnya tinggal di rumah sakit.
Jadi, Ibu harus menjaga Ayah.
Ayah sakit? Ada apa dengannya?
Ayah mau kita tinggal di rumah besar,
jadi dia giat bekerja.
Aku tak mau rumah besar lagi, jadi Ayah tak perlu bekerja keras.
Tapi Ayah baik-baik saja sekarang.
Saat menemui Ayah, kau harus tersenyum lebar, ya?
Kau bisa melakukannya?
Coba kulihat senyummu.
Seperti itu.
Ayo makan. Ini supnya.
Siapa itu, Pom?
Aku tak tahu.
Pu.
Apa kau ingat? Dulu kau datang ke sini saat masih kecil.
Ayo.
Masuklah.
Sapalah Paman Wasan.
Halo, Paman.
Halo, apa kabarmu?
Lama tak bertemu. Kau sudah besar. Paman hampir tak mengenalimu.
Dulu kita bertemu saat kau masih kecil.
Lookmoo, Pom.
Sapalah Kakak Pu.
Pu datang ke sini untuk tinggal bersama kita.
Bersikaplah yang baik dengannya. Mengerti?
Ibumu sudah menyiapkan kamarmu.
Anggap saja di rumah sendiri.
Terima kasih.
Paman senang sekali kau akan tinggal dengan kami.
Jika tidak, Ibumu akan selalu mengkhawatirkanmu.
Ayo bawa kopermu ke atas. Istirahatlah.
- Ayo. Biar Ibu antar. - Ya.
Bagaimana dengan kalian berdua?
Pinjamkan mainanmu.
Silakan masuk.
Bongkarlah kopermu.
Beri tahu Ibu jika butuh sesuatu.
Baik.
Kamar ini sangat besar.
Paman Wasan memberimu kamar yang besar.
Dia sangat sayang dan peduli padamu.
Kau harus menyayangi Paman Wasan.
Anggaplah sebagai ayah yang lain.
Bisa kau melakukannya?
Baiklah, Bu.
Tapi boleh aku tak memanggilnya "Ayah"?
Terserah kau.
- Panggil dia sesuai yang kau mau. - Baik.
Baiklah, rapikan barang-barangmu.
Sampai nanti.
- Pu, bantu Ibu menyajikan makanan. - Tentu.
Astaga!
Pu, kenapa kau tak hati-hati?
Pom, bawa adikmu ke luar.
Hati-hati menginjak beling. Ayo.
Apa yang kau lihat?
Cepat bersihkan.
Ya, Bu.
Ayo tanya dia juga. Pelajarannya menyenangkan?
- Apa yang mereka ajarkan? - Menyenangkan.
- Gerakan apa yang mereka ajarkan? - Gerakan lumba-lumba.
- Lumba-lumba. - Gerakan lumba-lumba.
Bagaimana denganmu, Lookmoo? Apa gerakan yang diajarkan gurumu?
No comments yet. Be the first to leave one.