The first 200 lines.
...umat-Mu dengan hukum,
- TAHUN 2000-AN - dan orang tertindas dengan adil.
Kalian mengerti maksudnya? Atau hanya dihafal?
Kami mencobanya.
Ayat tiga, negeri akan makmur dan sejahtera...
- Kamu sedang apa? - Jangan ganggu!
Apa ini?
Yang baru kalian dengar, tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama. Jumlah...
Lihat!
Apa-apan kalian ini?
Hey!
- Jangan! - Lihat!
Apa ini?
- Dan yang keempat... - Coba aku lihat!
Jangan!
Apa ini?
Punya siapa ini?
Mampus kamu!
Karya keji milik siapa ini?
Ini Felix. Tokoh dalam cerita ini.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kita mundur dulu beberapa saat.
Mereka bilang, Sigmund Freud adalah pria cabul yang pertama.
Dan Felix Bakat sedang dalam 'Phallic Stage'.
Rasa sensitif sekarang berkumpul di alat kelaminnya,
dan masturbasi pada lawan jenis, menjadi suatu kesenangan tersendiri.
Si pemuda jadi perhatian pada perbedaan anatomi lawan jenis,
yang kemudian berubah jadi konflik antara ketertarikan seksual,
ketidaksukaan,
persaingan,
kecemburuan,
dan rasa takut.
Banyak yang harus dipikirkan, bukan?
Intinya, keinginan seksual Felix sedang dalam puncak dalam hidupnya.
Tenang! Jangan terlalu cepat menilainya.
Keingintahuan seksual adalah sesuatu yang alami.
Siapa orangnya yang belum pernah terangsang seks?
Masih ingat saat belum ada banyak bahan untuk bermasturbasi?
Inilah legenda murahan dari si Pemuda Cabul!
Maaf!
Aku minta maaf!
- Ganti salurannya! - Lihat! Itu payudara?
Bukan, itu kue! Ganti salurannya supaya gambarnya bagus.
Terus ganti lagi, mungkin gambarnya berubah.
- Seperti itu? - Kita nonton film seri saja.
Nanti lagipula akan ada adegan ciuman.
Kita nonton bagian yang 'panas' saja.
Apa gerangan itu "Jaks Abang"?
Inilah yang kedua pemuda cabul lakukan, saat mereka menunggu
sesuatu yang sensual, dalam apapun yang mereka lihat.
- Tunggu bagian 'panas'nya. - Oke, oke.
- Sudah muncul. - Asik!
Seperti yang kalian lihat, para pemuda tak punya standar khusus.
YESUS, AKU MEMPERCAYAIMU
Itu Yesus!
Ya Tuhan, maafkan kami.
Aku tak bermaksud nonton acara 'panas'.
Aku juga yakin kalian kenal suara ini.
Sambil menunggu tersambung,
kalian berdoa keras agar tak ada yang menggunakan telepon.
Belum lagi virus dari iklan yang mendadak muncul.
Tapi jika wanita yang muncul sesuai dengan keinginan
sensualitasmu, tak ada yang sebanding dengan kenyataan.
- Ayo, kita masuk. - Tarik aku! Tarik aku!
Tunggu dulu. Apa kita yakin mau masuk ke sana?
Kamu bisa, Garfield!
- Kamu duluan! - Kenapa aku?
- Felix, kamu saja! - Aku tidak mau!
- Baik, aku akan masuk! - Masuk, cepat!
Aku tidak mau!
Pertanyaannya, bisakah mereka melihat yang nyata?
Tuhan, kami sangat menyesal...
Ke sini!
Sudah dapat?
Kasirnya memelototi aku.
- Mana barangnya? - Kamu sudah tak tahan? Tenang?
Acaranya masih berlangsung! Maaf, Tuhan!
Sekarang selesai!
- Mana? - Lihat ini.
Viva Hot Babes.
Viva Hot Babes.
- Maui Taylor! - Itu Scorpio Nights.
Dan ini yang terbaik!
- Hentai! - Hentai,
bagi yang belum tahu,
itu adalah film porno Jepang berbentuk animasi.
Film kartun?
Sob, percayalah, ini bukan film kartun biasa.
- Putar saja. - Ayo, putar.
Kamu akan menyukainya.
Felix tak pernah tahu dunia seperti itu memang ada.
Dia seperti terkurung di bawah batu pada masa remajanya.
Dan karena itulah, Felix menemukan bakatnya dalam menggambar.
Tapi kamulah yang menilai penggunaan bakatnya,
untuk digunakan dengan baik dalam akal sehat,
atau untuk seni yang mengundang birahi.
Siapa yang menggambar ini? Katakan!
Felix Bakat Cabahug!
Dasar pemuda cabul! Kamu gunakan tangan itu untuk berdoa?
Sudah! Diam!
Kamu butuh kehadiran Yesus dalam hatimu.
Pemuda Cabul! Mereka seharusnya memanggilmu begitu.
Ya ampun! Oh, Tuhan! Ini gara-gara adanya Friendster!
Kenapa kalian tadi melakukan seperti itu?
Ya, aku tak tahu ada yang melemparnya ke Bu Suster.
Katakan, kenapa kamu sampai menggambar dia?
Aku muak melihat wajahnya yang bodoh.
Daripada melihatnya, jadi aku menggambar saja.
Bagus, kamu menggambar tubuh Suster Candelario jadi seksi.
Kenapa kalian jahat padaku?
Aku jadi stress.
Dia menyuruhku menulis Alkitab dengan tulisan tangan.
Untuk 'membersihkan pikiranku'.
Kamu memang cabul.
Tunggu.
Kalian sudah selesai merangkai PCB untuk tugas dari Pak Labayen?
Sial, aku bahkan belum memulainya.
Kapan harus dikumpulkan?
Besok, Teman!
- Untuk besok? - Ya!
Merepotkan saja! Kalian tahu yang jadi masalah di sekolah ini? Hal kecil dibuat jadi besar.
- Benar. - Pelajaran agama?
- Tentu saja Teknik! - Ya!
Apa kita akan mencipta ulang Benteng Yerusalem?
Tentu, mereka harus menunjukkan kalau Sekolah Tinggi St. Theresita adalah sekolah Katolik.
Dan apa kalian tahu kalau uang sekolah terus naik?
- Ya! - Itu karena
mereka berencana membuat arena skating di tempat olah raga.
- Kamu terus hanya bilang 'ya'. - Ya. Ya!
- Hanya bisa bilang itu? - Ya!
Dasar!
- Sob! - Apa?
Ada apa?
Lihat itu.
Hey! Mereka dari sekolah perawat St. Nikita?
Ya, itu Ponty!
Lihat.
Lihat payudaranya yang besar!
Sempurna!
Itu... itulah seni!
Jadi itu sebabnya dia dijuluki Nikita Ponty?
- Karena bentuk payudaranya? - Apa itu penting?
Payudaranya tidak begitu besar.
Ya, jika dibandingkan tokoh hentai yang kamu gambar.
Apa kamu tak melihat proporsi tubuhnya?
- Sudah aku duga! - Sob!
- Itu temanmu? - Siapa?
Aku tak punya teman selain kalian berdua.
Hey, hey!
Mereka ke sini! Mereka temanmu?
- Apa maksudmu? - Mereka menuju ke sini.
- Apa? - Kalian mau apa?
Maaf! Kami minta maaf. Maafkan!
Nikita itu pacarmu? Maaf, tapi payudaranya besar sekali.
- Diamlah! - Kenapa aku bilang payudara?
Kamu beruntung bisa meremasnya kapan saja.
Dasar bodoh!
- Jadi kamu yang dijuluki Pemuda Cabul? - Apa maksudmu 'cabul'?
Memang kenapa?
Panggil apa saja semau kalian, aku barusan bercanda.
Hanya bercanda!
Baik. Duduklah.
Kalian bicara terus dari tadi. Aku mau bicara denganmu.
Kamu yang menggambar Suster Candelario versi hentai?
Bagaimana mereka tahu secepat itu?
Benar tidak?
Ya, memang dia.
- Gambar satu untukku. - Menggambar kamu?
Bukan aku, brengsek! Gadis incaranku!
- Wow, cantik juga! - Tutup mulut kalian!
Maaf.
Gambar saja!
Mau digambar atau hanya dipelototi?
Bagaimana?
Bagus.
Aku mau pulang pada ibuku.
Cepat, cepat!
Hey. Lihat wajahnya! Terus gambar!
'Yamete!' Katakan, 'Yamete!'!
'Yamete!'
- Katakan, 'Yamete!'! - 'Yamete'!
Itu sebabnya aku kurus. Kalian hanya bicara makanan. Dasar!
Sudah! Nanti mau main Counter Strike di Kafe Global?
Counter Strike? Boleh juga.
Lebih baik main Battle Realms atau Ragnarok Online saja. Sesekali main yang berbeda.
- Bukankah harus punya DSL untuk main itu? - Tak usah. Mau lebih cepat?
- Tentu! - Mainnya malam hari!
Meski tanpa DSL? Ya, asal tak ada yang gunakan telepon.
Dan takkan ada yang menelepon karena sudah malam.
Benar!
- Tapi... - Felix!
Kamu boleh pikir tokoh kita hanya seorang tukang onani, tapi dia sebenarnya dia ada yang suka.
- Hai, GG! - Hai, Cathy.
Akan aku ceritakan secara cepat.
Siapa sebenarnya Cathy dan kenapa Felix enggan menjadi kekasihnya?
Penjelasan singkat!
Maria Catolico, alias Cathy.
Jurusan Desain Interior.
Bacaan favorit, Alkitab dan novel Sweet Valley High.
Suatu kali dia berdoa dalam gereja, minta pada Tuhan untuk diberi jodoh.
No comments yet. Be the first to leave one.