Release info

오!-삼광빌라-Homemade-Love-Story-E87-E88-NEXT-VIU
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2021-02-15
Downloads: 25
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Apa...

Apa yang baru saja kulihat?

Koala, tolong katakan aku membayangkan ini.

- Tidak, ini bukan bayanganmu. - Bukan?

Mereka menunggu

agar bisa mengerjai kita.

Begitukah?

Itulah masalahnya.

- Kamu benar, Jun A. - Sulit dipercaya.

Seolah-olah kamu dan Hae Deun masuk akal.

Hae Deun, kamu hampir membodohi kakak!

Jun A.

Hae Deun.

Ya, kamu benar.

Benar soal apa?

Kakak benar.

Tentang apa?

Kami berpacaran!

Apa?

Ya, aku berpacaran dengan adikmu.

Moong, tunggu!

Hae Deun. Lee Hae Deun. Sungguh?

Astaga. Chae Woon, kamu pasti datang untuk menemui ibumu.

- Ya, halo. - Hai.

Senang melihat kalian bersama.

Terima kasih.

Tolong jangan pergi.

Sial.

Kita harus membahas ini di tempat lain.

Mau ke mana? Restoran daging kaki?

Kamu sudah gila? Ayahku ada di sana, ingat?

Dan Paman Hwak Se.

- Juga daging kaki. - Bagus.

Kamu bercanda?

Sayang, haruskah kita pergi ke tempat kosong?

Koa-yang, di sana sama saja.

Ada tempat yang bisa kita tuju.

- Di mana? - Di mana?

Di mana?

Di mana? Beri tahu mereka di mana!

Astaga, aku merasa seperti karakter dalam film.

Lampu menyala, yang berarti Ibu di rumah.

Dia mungkin ada di dapur.

- Jangan berisik. - Baiklah.

Apa yang mereka lakukan?

Apa...

Cepat!

Astaga, aku benar-benar melamun.

Bagaimana mungkin aku lupa cuciannya?

Kak Sun Jeong.

Hei, Man Jeong. Kamu baru pulang?

Astaga, kakak yakin ini hari yang melelahkan.

Benar. Bagaimana dengan anak-anak?

Belum ada yang pulang.

- Belum ada? - Belum.

- Begitu rupanya. - Dingin, bukan?

Astaga, Kak Sun Jeong.

Kakak pasti lupa mengambil cucian kering sebelum matahari terbenam.

- Ayo. - Astaga.

Kamu selalu cepat dalam melakukan sesuatu.

- Ayo masuk. - Ayolah.

- Kak Sun Jeong, aku lapar. - Benarkah? Ayo cepat masuk.

"Episode 44"

Jadi, sudah berapa lama kalian berkencan?

Aku... Entahlah.

Begini...

Tidak mudah mengatakannya

karena kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama.

Awalnya kami berusaha menyangkalnya,

yang menyebabkan kami saling menggoda selama hampir selama itu.

Tidak begitu untukku. Itu bukan cinta pada pandangan pertama.

Dia pasti malu di depan kalian.

Tentu saja kamu jatuh cinta kepadaku.

Aku tahu kamu menyukaiku saat kita bertemu di kedai roti lapis.

Itu sudah jelas.

Jelas? Kamu sangat sombong.

Memang benar kamu jatuh cinta kepadaku pada pandangan pertama.

Cincin yang kuberikan ini adalah buktinya.

Aku hanya memakainya

karena benangnya menempel di kulitku sekarang.

- Kamu sangat sombong. - Yang benar saja.

Bedebah. Diamlah.

Jadi, apa rencanamu?

Ini kejutan. Aku tidak menduga kamu akan ikut campur seperti itu.

Apa yang akan kulakukan?

Kami akan terus berkencan, itu saja.

Kalian tidak dalam posisi bisa sekadar berkencan.

Jun A, kamu kakak tiriku,

dan Hae Deun adalah adikku.

Ya, aku tahu itu. Aku tahu sepenuhnya.

Aku sudah memikirkannya,

dan dengarkan aku.

Pada pandangan pertama, hubungan kita mungkin tampak rumit,

tapi tidak saat dilihat dari dekat.

Benar sekali. Kami sudah memikirkannya.

Ya, tentu saja. Kami sudah membicarakan ini.

Hae Deun, bagus sekali. Mari bergandengan.

Jadi, Chae Woon, dengarkan aku.

Ibuku, Bu Kim Jung Won, akan mendaftarkanmu

sebagai putri kandungnya.

Setelah itu terjadi, kamu bukan kakak Hae Deun lagi.

Mulai saat itu, kalian bukan lagi keluarga.

Kamu hanya akan menjadi adikku.

Mengerti?

Benar. Itu sebabnya tidak masalah bagi kami untuk berkencan.

- Benar sekali. - Benar.

Seperti katamu, itu diterima dengan sempurna oleh hukum.

Namun, bukan itu yang terjadi di mata orang tua kita.

Jangan terlalu khawatir.

Mereka mungkin akan terkejut untuk sesaat,

tapi saat itulah

kalian berdua akan masuk dan membela kami.

Bagaimana, Jae Hee?

Itu... Baik, kurasa itu masuk akal.

Tidak.

- Tidak. - Seperti katanya.

Kami bisa merestui hubungan kalian.

Tapi bagaimana jika hubungan ini berakhir?

Kamu tetap harus menjadi keluarga,

jadi, bagaimana kamu akan menanganinya?

Benar sekali. Dia ada benarnya.

Aku tidak tahu bahwa Chae Woon

yang memiliki pandangan negatif akan kehidupan.

Hubungan kami diterima oleh hukum,

jadi, kenapa kamu mempersulit keadaan?

- Benar. - Aku mempersulit keadaan?

Ini bukan masalah yang bisa dianggap remeh.

"Jun A"?

Rasanya aneh mendengarnya.

Sebenarnya, aku hendak meluruskan ini, Chae Woon.

Jadi, begini kesepakatannya.

Aku tidak suka caramu memanggil namaku.

Itu memalukan. Sepertinya kamu sangat peduli dengan senioritas.

Jika peduli soal usia,

kamu harus memperlakukanku seperti kakakmu.

Aku tidak suka caramu memanggil namaku sekarang.

Itu...

Aku mengerti. Aku mengerti maksudmu.

Hanya aku tidak terbiasa.

Dia benar.

Kamu harus bersikap seperti kakak jika ingin diperlakukan begitu.

Chae Woon bahkan tidak peduli aku lebih tua darinya.

Dan sekarang kamu ingin dia memperlakukanmu seperti kakaknya?

Lalu kenapa?

Jae Hee, kamu ingin aku melakukan apa?

Kamu ingin diperlakukan seperti kakak? Biar aku saja.

"Kak Jae Hee". Kamu senang sekarang?

Sebenarnya, dia benar soal itu.

Sebelum Kakak menceramahiku tentang hubungan kami,

Kakak harus memperlakukan Jun A sebagai kakak dahulu.

- Benar, bukan? - Tentu.

- Lee Hae Deun. - Aku Jang Jun A.

Lupakan saja. Kalau dipikir-pikir,

bukankah ini membuatku lebih tua karena Jun A lebih tua dari Kakak?

Aku mengencani kakaknya Kakak.

- Benar sekali. - Aku tahu.

Jadi, aku kakak ipar Kakak?

Kedengarannya kalian sudah menikah.

Hae Deun, jangan bilang begitu. Ini tidak benar.

- Ini benar. - Apa maksudmu?

Ini bukan...

Apa yang dia katakan?

Jadi, kalian berdua berkencan sekarang?

Bibi, sudah berapa lama di sana?

- Bibi di sini dari tadi. - Bibi mendengar...

- Bibi mendengar semuanya? - Ya, bibi dengar dengan jelas.

- Masalahnya... - Baiklah.

Jadi, kalian adalah Pasangan Nomor Empat Vila Samgwang.

Bibi, pelankan suara sedikit.

Jadi, kalian adalah Pasangan Nomor Empat Vila Samgwang.

Bedebah!

Maaf, Bibi. Seharusnya aku memberi tahu Bibi lebih awal.

Baiklah. Kapan kamu akan memberi tahu ibumu soal ini?

Kami belum...

Bibi, kami harus meluruskan pikiran kami dahulu.

Hei, tidak ada yang perlu diluruskan.

Kamu harus segera mengaku.

Jika tidak, kamu tidak bisa tidur dan makan dengan baik.

Bibi pernah berada di posisi itu.

Baiklah. Bibi akan memberitahunya soal ini.

Tidak, tunggu.

Lepaskan bibi. Bibi harus memberi tahu ibumu.

- Tidak, Bibi. - Lepaskan bibi.

- Sedang apa kalian di sini? - Astaga.

Astaga, Jae Hee. Ibu tidak tahu kamu di sini.

Sedang apa kalian di kamar kecil ini?

Man Jeong, kamu bilang akan melipat pakaian.

Sedang apa kamu di sini?

Benar, Kak Sun Jeong. Kakak tahu?

Apa?

Bukan apa-apa. Kukira aku mendengar suara Chae Woon dan datang.

Dia bersenang-senang di sini. Ayo, Kak Sun Jeong.

Baiklah. Kalian pergilah ke ruang keluarga.

- Ayo pergi saja. - Ya, Ibu.

- Mari kita mundur selangkah. - Cepatlah datang.

- Aku akan segera ke sana. - Baiklah.

Ayo. Kamu harus ikut denganku.

Kak Chae Woon.

Hae Deun.

Kamu sungguh menyukai Jun A?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left