The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"Episode 57"
Kamu pasti terkejut.
Siapa yang menyangka akan ada keajaiban seperti ini?
Adikku menemukannya kemarin di kantor polisi.
Maafkan aku. Aku terlalu kaget
untuk mengabarimu.
Begitu, ya.
Ji Sup. Dia banyak membantuku saat aku dalam kesulitan.
Dia juga banyak membantu bisnis ibuku.
Ini Kang In Wook.
Kang In Wook?
Senang bertemu denganmu. Aku Kang In Wook.
Aku Han...
Han Ji Sup.
Benar, Han Ji Sup.
Aku Han Ji Sup.
Dia tidak bisa mengingat apa pun.
Bahkan aku dan Hae Sol pun tidak.
Di luar dingin. Mari mengobrol di dalam.
Silakan masuk.
Tidak, terima kasih. Aku harus pergi.
Masuklah ke rumah kami, Paman.
Tidak, paman harus pergi.
Hae Sol, ambil ini.
Sebaiknya kalian masuk. Hae Sol pasti kedinginan.
Kalau begitu, sampai jumpa.
Ayo, Hae Sol.
Sampai jumpa, Paman.
Ya.
Sampai jumpa lagi.
Aku ingin memberitahumu langsung,
tapi kamu datang lebih dahulu.
Maafkan aku.
Tidak masalah. Tidak usah memikirkanku.
Sebaiknya kamu masuk.
Cepat, Suh Ra.
Ya, aku segera ke sana.
Aku akan segera menghubungimu.
Berhenti bersungut-sungut.
Beraninya kamu merajuk di depan pelanggan.
Bagaimana mungkin aku menjadi pelayan?
Aku bahkan belajar ke luar negeri.
Kamu belajar ke luar negeri dengan mencuri uang kuliah adikmu.
Kamu lupa?
Ibu, jangan seperti itu. Bukalah toko untukku.
Berhenti mengatakan hal konyol
dan belajarlah tentang bisnis dengan bekerja keras.
Ada toko yang sudah kuincar.
Produknya amat populer di kalangan wanita.
Tokonya sukses...
Menantuku datang.
Hai, Ibu.
- Hai, Kak Dae Ra. - Hei.
Restoran Ibu besar.
Dipenuhi pelanggan juga.
Kita baru saja memperluas ruangannya.
- Ikut ibu sebentar. - Baik.
Permisi, boleh minta perhatiannya?
Maaf mengganggu saat Anda sedang makan,
tapi ada sesuatu yang ingin kusampaikan,
jadi, mohon dimengerti.
Beberapa hari lalu,
aku merasakan keajaiban yang luar biasa.
Keajaiban?
Beberapa bulan lalu, menantuku hilang.
Semua orang bilang dia tenggelam, jadi, kami mengadakan pemakaman.
Tapi ternyata...
Dia kembali kepada kami dalam keadaan hidup.
Pria ini
adalah menantuku yang kembali hidup
karena keajaiban.
- Astaga. - Ya ampun.
- Luar biasa. - Benar-benar keajaiban.
Itu sebabnya
aku ingin mentraktir kalian semua makan jjamppong hari ini
untuk merayakan kembalinya menantuku.
Silakan dinikmati
dan berbahagialah untuk kami. Aku akan amat menghargainya.
Silakan dinikmati. Terima kasih.
- Selamat. - Terima kasih.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Selamat menikmati. - Selamat menikmati.
- Selamat menikmati. - Ada apa dengannya?
Itu uang dalam jumlah besar.
- Anda menikmati makanannya? - Ya, terima kasih.
- Makanan Anda sudah siap. - Selamat siang.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Kamu tidak lelah? - Aku baik-baik saja.
Kecil sekali.
Cobalah ini.
Bukankah ini enak?
Enak sekali.
Ini enak sekali. Coba ini.
Bukankah enak?
Apa maksudmu?
Ayah tidak seperti ayahmu?
Wajahnya mirip Ayah, tapi ada yang aneh.
Apa? Apa yang aneh?
Tangan Ayah tidak hangat.
Biasanya tangan Ayah hangat setiap kugenggam,
tapi kini rasanya tangan Ayah berbeda.
Aroma tubuhnya juga tidak seperti Ayah.
Hanya itu?
Dia juga tampak berbeda saat tersenyum.
Mungkin karena
dia sudah lama berpisah dengan keluarganya.
Ayah tidak bisa mengingatmu, Ibu,
kakek, atau pun Nenek. Itu sebabnya
kamu berpikir dia tampak asing.
Begitukah?
Tentu saja. Setelah hidup bersamamu dan Ibu lagi,
ingatannya akan kembali,
tangannya akan hangat seperti sebelumnya,
dan aroma tubuhnya akan sama.
Baiklah.
Seseorang pasti menjatuhkan dompetnya.
Astaga, dompetku.
Kenapa kamu memegang dompetku?
- Apa? - Apa-apaan ini?
Kamu mengambil dompetku dari dalam tasku?
Apa maksudmu?
Tadi dompetku ada di dalam tasku,
tapi hilang saat kuperiksa.
Aku bertanya apakah kamu mencuri dompetku.
Tidak, aku mengambilnya dari lantai.
Jangan berbohong kepadaku.
Kenapa dompetku, yang tadinya di dalam tas,
bisa ada di lantai?
Jika dipikirkan,
sedari tadi kamu mengikutiku.
Kamu mengikutiku
dan mencuri dompetku.
Dengar. Jangan memperlakukanku seperti pencuri.
Dasar kamu...
Sayang, kamu menemukan dompetmu?
Ada pada wanita ini!
Dia mengikutiku sedari tadi.
Aku yakin dia mencurinya.
Bu.
Kamu sudah memeriksa apakah ada yang hilang?
Lihat.
Tadinya aku punya 300 dolar!
Kamu mengambil semuanya dan meninggalkan beberapa dolar. Dasar!
Apa?
Aku mencuri uangmu?
Mereka bilang ada pencuri di swalayan ini.
- Kamu sering melakukan ini? - Dengar.
Kembalikan uangku. Kembalikan 300 dolar-ku, Pencuri!
- Ada apa denganmu? - Kembalikan kepadaku!
Lepaskan dia!
Dasar kamu...
Siapa kamu sampai mendorong istriku?
Ji Sup, jangan. Kamu bisa terluka.
Apa-apaan ini? Kalian bekerja sama?
Kalian pasangan pencuri?
- Dasar... - Tidak! Sayang!
Astaga.
Ya, kami senang menangkap kalian.
Aku akan mengirim kalian ke penjara atas pencurian dan penyerangan.
Tunggu saja!
Ji Sup.
Permisi. Periksa setiap kamera CCTV di toko ini.
Ya, lakukan itu.
Periksa semuanya.
Suh Ra. Hubungi polisi sekarang.
Baik.
Tunggu. Sebenarnya...
- Jangan. - Aku tahu.
Astaga, mereka licik sekali.
Mereka tahu di sana tidak ada CCTV
dan sengaja menjatuhkan dompetnya.
Aku pasti sudah dijebak andaikan kita tidak menghubungi polisi.
Bagaimana kamu tahu
mereka penipu?
Orang seperti itu mudah ditebak.
Tapi kamu makin tegas setelah kembali.
Mana mungkin aku diam saja saat mereka menyerangmu, Bu?
Kamu mulai lagi.
Bukan "Bu", tapi "Suh Ra".
Maafkan aku.
Aku masih seperti orang asing?
Semua akan membaik saat aku sudah terbiasa.
Berikan kepadaku. Biar kubawakan.
Tidak usah. Aku bisa.
Pria sudah seharusnya membawakan barang seperti ini. Berikan.
Tidak, kamu pasti lelah.
- Tidak apa-apa. - Tidak apa-apa.
Berikan kepadaku.
Suh Ra.
Kamu sudah gila?
Dia bukan Han Ji Sup. Dia Kang Jae Wook.
Dia sungguh berubah.
Hari ini, dia pergi ke swalayan bersama istrinya
dan memukuli penipu.
Sebelumnya dia tidak begitu.
Hatinya amat lembut, jadi, dia selalu menjadi korban.
Mungkin karena dia hampir tewas?
Dia pasti cepat beradaptasi.
No comments yet. Be the first to leave one.