The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Jae Wook, ini sungguh kamu?
Kamu sungguh putra ibu, Kang Jae Wook?
Ibu punya putra lain?
Ini aku, Jae Wook.
Bukan Han Ji Sup, tapi Jae Wook yang asli.
Jae Wook.
Kamu benar-benar putra ibu.
Kamu benar-benar putra ibu, Kang Jae Wook.
Bagaimana aku bisa memahami ini?
Bagaimana bisa hal sekonyol ini terjadi?
Ini semua demi kamu.
Ibu melakukannya demi kamu.
Orang asing berpura-pura menjadi aku demi aku?
Ibu sudah gila?
Kamu koma setelah kecelakaan
dan In Wook mengambil alih pengelolaan perusahaan.
Ibu harus menghentikan itu sampai kamu siuman.
Jadi? Apa yang akan Ibu lakukan sekarang?
Putra Ibu, Kang Jae Wook, masih hidup dan sehat.
Ibu akan meninggalkan Han Ji Sup di sana?
Ibu akan mengembalikan semuanya.
Itu rencana ibu saat ingatanmu sudah kembali.
Ibu ingin memberikan
Grup Gangin kepadamu saat kamu kembali.
Itu sebabnya
ibu memanfaatkan Ji Sup. Hanya sampai saat itu.
Sudah waktunya sandiwara ini dihentikan.
Singkirkan Han Ji Sup sekarang
dan kembalikan Hae Rim ke tempatnya semula.
Beri ibu waktu.
Kita akan kehilangan segalanya jika orang-orang tahu.
Ibu akan mengembalikan segalanya tanpa sepengetahuan siapa pun,
jadi,
hiduplah sebagai Han Ji Sup bersama mereka untuk sementara.
Ibu ingin aku berakting sebagai Han Ji Sup dalam sandiwara Ibu?
Tidak mau!
Selain itu,
dia mirip denganku. Apa Ibu
- melahirkan bayi kembar? - Jae Wook!
Ibu yang melahirkanmu.
Siapa yang lebih tahu bahwa kamu tidak punya saudara kembar?
Jangan biarkan imajinasimu melantur. Sadarlah!
Ji Sup bukan musuh yang lemah!
Kamu bisa kehilangan Grup Gangin jika tidak berhati-hati!
Ibu tahu aku tidak sabaran.
Aku tidak bisa berlama-lama menjadi orang lain.
Ibu yang memulai sandiwara ini, jadi, akhiri secepatnya
sebelum aku gila dan lari dari panggung ini.
Baik. Ibu mengenalmu.
Jadi, berusaha dan bertahanlah.
Jika tidak, kita semua akan hancur.
Setelah sandiwara ini berakhir,
apa yang akan terjadi kepada Han Ji Sup?
Ji Sup
tahu terlalu banyak.
Benar.
Kamu benar-benar paham.
Seperti katamu,
ibu memulai sandiwara ini, jadi, ibu yang akan mengakhirinya.
Kamu
serahkan saja semua kepada ibu
dan tidak usah merasa bersalah.
Ini hanya sandiwara singkat.
Ji Sup.
Ji Sup.
Kamu di dalam?
Ji Sup, kamu di dalam?
Kenapa kamu ke sini lagi?
Kudengar suamiku di sini, tapi aku tidak bisa menemukannya.
Itu sebabnya aku kemari mencarinya.
Ini kebiasaan keluargamu?
Kalian terus menerobos masuk rumah orang.
Maafkan aku. Aku takut suamiku berulah,
jadi, aku terburu-buru.
Meskipun begitu, kamu sebodoh ini?
Untuk apa suamimu
masuk ke kamar putraku?
Anda benar. Maafkan aku.
Aku membuat kesalahan besar.
Tunggu.
Minumlah teh di kamarku.
Ajak ibu mertuamu pulang dan pergilah sekarang.
- Apa? - Keluargamu terus datang
dan membuat masalah karena dia di sini.
Bahkan putrimu
masuk ke kamar putraku dan tidur di kasurnya.
Maafkan aku.
Tapi aku tidak bisa mengatur ibu mertuaku.
Apa maksudmu? Kamu tidak bisa mengaturnya?
Andaikan bisa, kami pasti tidak perlu mengurus utang besar
dari lintah darat itu
dan suamiku tidak akan hilang.
Jadi? Kamu tidak bisa membawanya pergi?
Ya, tidak bisa.
Tapi aku akan berusaha membujuknya.
Aku tidak memintamu membujuknya. Selesaikan dengan keluargamu
sebelum aku terlibat dan keadaan menjadi kacau.
Apa? Dia ingin mengusirku?
Ibu sudah menemukan Ji Sup?
Dia bilang dari lantai dua.
Dari lantai dua?
Dia baru saja pergi. Susul dia.
Ingatan Jae Wook kembali lebih cepat dari dugaan kita.
Kita harus menjalankan skenario terakhir.
Dia pergi ke mana?
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan...
Seharusnya ini cukup. Tolong pergi dari rumah ini.
Kamu tidak bergurau, bukan?
Mana mungkin aku meninggalkan Pak Kang?
Manusia berhati nurani tidak mungkin melakukan itu.
Kamu sungguh mencemaskannya?
Kamu terdengar seperti istrinya,
bukan perawatnya.
Kamu benar.
Aku menjaganya bukan sebagai perawat,
tapi sebagai istri yang setia.
Dengar ucapanmu itu. Dasar wanita tua mata duitan.
Apa? Wanita tua mata duitan?
Apa kebenaran menyakitkan?
Dasar kamu...
Baiklah. Aku tidak begitu ingin bekerja
sampai rela disebut wanita tua mata duitan.
Uangnya kamu ambil. Kamu memang mata duitan.
Kamu bukan wanita mata duitan.
Kamu wanita licik.
Menjijikkan.
Dasar wanita jahanam.
Aku tidak mati.
Kenapa memberi hormat seperti itu?
Karena hatiku sudah mati.
Aku tidak bisa melayani Anda lagi.
Hidupku tidak akan ada artinya.
Apa maksudmu?
Jelaskan dengan singkat. Anggap aku bocah.
Menantu Anda ingin aku pergi.
Dia bilang aku "wanita tua mata duitan"
yang memanfaatkan Anda.
Apa? Wanita tua mata duitan?
Aku bahkan tidak bisa menggali. Tapi aku si Penggali Uang?
Kesalahanku hanya berusaha keras melayani Anda dengan baik.
Ini amat tidak adil.
Aku ingin tetap bersama Anda
dan merawat Anda sampai Anda pulih.
Tapi kurasa ini sudah berakhir.
Tidak, kamu tidak boleh pergi ke mana pun.
Aku tidak akan membiarkannya.
Sun Ae!
Sun Ae!
Wi Sun Ae!
Ya, Ayah?
Kamu. Jangan lagi perlakukan dia seenaknya!
Jika seperti itu lagi, kamu...
Kamu akan diusir dari rumah ini!
Pak Kang.
Aku sudah mendengar Ayah mengatakan itu
selama lebih dari 30 tahun.
Jadi, aku sudah tidak lagi terpengaruh.
Astaga. Uangku.
- Uangku. - Bu Koo.
Uangku banyak.
Kamu membutuhkan uang?
Apa?
Ji Sup belum pulang?
Kamu baru pulang?
Ji Sup. Apa ini?
Ibu, Ayah membelikan kita hadiah.
Dia seperti Sinterklas.
Dari mana Kakak mendapatkan uangnya?
Dia juga membelikan kakak hadiah.
Kakak tidak yakin bisa menerimanya.
Tampaknya ini mahal.
Ada apa?
Kamu memenangkan lotre atau sesuatu?
Aku punya uang.
Ini bukan uang haram, jadi, jangan khawatir.
Mana mungkin kami tidak khawatir?
Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli ini semua?
Ji Sup, kita harus bicara.
Ada apa denganmu?
Kenapa kamu bersikap aneh?
Aku amat gelisah dan cemas.
Apa salahku?
Kenapa kamu pergi ke rumah Kang Jae Wook hari ini?
Kenapa? Aku pergi ke tempat yang tidak boleh kudatangi?
Ji Sup.
Tidak usah mencemaskanku lagi
dan jangan gelisah.
Kamu dan keluarga ini makin tidak tahu batasan.
Lihat? Aku pun kini bicara santai.
- Dari mana kamu mendapatkan uang? - Pokoknya aku punya uang.
- Bagaimana? Dari mana? - Kenapa?
Pikirmu aku mencuri?
Tidak bisa begini.
Tadinya aku tidak masalah jika ingatanmu tidak langsung kembali,
tapi tidak lagi.
Aku harus mengembalikan ingatanmu agar suamiku kembali.
Ingatanku itu urusanku,
jadi, bisakah kamu tidak ikut campur?
No comments yet. Be the first to leave one.