The first 200 lines.
Kita harus mulai dari mana?
Aku kesulitan berhenti berpikiran kotor.
Siapa yang datang selarut ini?
Entahlah. Siapa itu?
Itu Hyeonjae! / - Hyeonjae?
Hyeonjae! Lihat!
Bagaimana ini? / - Hyeonjae?
Apa yang akan kita lakukan? / - Bagaimana ini?
Apa yang akan kita lakukan? / - Kenapa dia...
Dia tidak membantu. / - Kamarku!
Benar, kamarmu. / - Tidak, bukan di sana.
Ke sana. / - Kamar tidur utama.
Tunggu, sepatumu!
Sepatuku!
Sepatumu! / - Sepatuku.
Sial.
Kau baik-baik saja?
Aku harus bergegas masuk.
Tasku.
Sandalmu.
Apa itu tadi? Kenapa lama sekali?
Aku sedang melakukan sesuatu.
Kau berolahraga? Kenapa terengah-engah?
Kenapa kau kemari?
Kau tidak mau aku di sini? Aku mulai merasa kesal.
Aku dalam perjalanan pulang
dan membawakanmu piza.
Lee Hyeonjae! / - Lee Hyeonjae.
Apa? Ada orang di sini?
Ada dua gelas.
Apa? Ini masih hangat. / - Tunggu.
Ada orang di sini? / - Tidak.
Aku hendak meminum semuanya.
Aku suka minum teh belakangan ini.
Astaga, dua gelas?
Kalau begitu, aku juga mau.
Begitukah?
Aku belum siap melakukan itu.
Aku merasa ini mungkin kesempatan terakhirku
untuk hidup bersama Ibu.
Dia minum obat dan tidur.
Dia baru saja diperiksa dan semua baik-baik saja.
Mungkinkah dia punya penyakit
yang kau lewatkan selama pemeriksaan?
Angkanya menunjukkan
tidak ada masalah serius.
Dan dia tidak makan apa pun
yang bisa membuat perutnya sakit.
Ini hanya kram perut.
Apa dia sangat stres belakangan ini?
Kami bicara di telepon setiap hari,
tapi tidak ada yang aneh.
Kita harus lihat perkembangannya untuk sementara.
Jika gejalanya berulang atau terus muncul,
kita harus melakukan pemeriksaan tambahan.
Sayang.
Hei. / - Bagaimana keadaan Ibu?
Dia minum obat dan tidur.
Kau baik-baik saja?
Aku merasa lebih baik sekarang.
Boleh aku menemui Ibu sekarang?
Tunggulah di dalam.
Aku menyuruhmu masuk.
Berikan kepadaku. Aku akan mencuci ini.
Aku mau kopi.
Kita bisa pergi ke kafe di bawah.
Aku harus berada di sini saat Ibu bangun.
Ini hanya kram perut karena stres.
Dia akan baik-baik saja.
Mudah bagimu mengatakannya karena dia bukan ibumu.
Itu disebabkan oleh stres.
Kenapa dia stres di sini?
Aku tidak yakin soal itu.
Tapi semua orang menderita stres.
Tunggu.
Hei, Ibu. / - Kenapa kau tidak menelepon
setelah pergi begitu saja?
Apa yang terjadi?
Ibu mertuaku sedang tidak sehat.
Itu bukan hal baru.
Itu sebabnya dia tinggal di sana.
Dia meneleponmu padahal itu bukan masalah besar?
Bukan begitu.
Ibu. / - Aku harus pergi, akan kutelepon lagi.
Ibu.
Anak nakal itu.
Kau masih di sini?
Bagaimana bisa aku pergi?
Ibu tahu betapa takutnya aku?
Astaga, maafkan aku.
Ibu minum obat tepat waktu?
Apa Ibu membuangnya seperti sebelumnya?
Aku meminumnya.
Ibu bukan anak kecil.
Aku tidak bisa selalu memeriksanya.
Ibu bisa melakukannya sendiri.
Bisa kau hentikan itu? Jinheon ada di sini.
Ibu, maaf aku jarang mengunjungimu.
Tidak perlu.
Kau harus membawanya pulang sekarang.
Dia mengalami hari yang melelahkan.
Hei, kau sudah makan?
Aku tidak akan memberi tahu Ibu.
Astaga.
Jinheon, kurasa dia belum makan.
Bisa kau ajak dia keluar dan belikan makanan?
Ibu baik-baik saja? / - Astaga.
Tentu. Aku baik-baik saja sekarang.
Astaga, kenapa dia tidak pergi?
Ini membuatku gila.
Ini bagus.
Teh apa ini? / - Kau tidak pulang?
Kenapa kau mencoba mengusirku?
Kalau begitu, tinggallah di sini.
Aku akan pulang. Astaga.
Benar juga.
Kau akan menelepon?
Ya, kakakku.
Aku ingin dia mencuci pakaian di rumah.
Aku mendengar deringnya dari sana.
Apa maksudmu? / - Tunggu.
Hei, kau harus pulang. Keluar.
Apa? / - Pergilah.
Cepat keluar.
Pulanglah.
Sampai jumpa.
Aku yakin dia benar-benar kesulitan.
Aku akan menjagamu dengan lebih baik, Haejun.
Cerialah. Jangan terlalu sedih.
Dia sudah pergi.
Dia sudah pergi? Kau yakin?
Kau tidak boleh naik ke ranjang membawa sepatu.
Bukannya aku ingin melakukan ini.
Astaga, Lee Hyeonjae.
Sungguh, aku tidak tahan lagi.
Aku juga.
Dia tertidur saat menonton TV.
Beri aku 100 dolar.
Itu belum pasti.
Aku akan tanya Bu Sim.
Apa ini karena kau tidak mau memberiku 100 dolar?
Aku sudah memastikannya sendiri.
Taruhannya 100 dolar. Aku pun harus memastikannya.
Berisik sekali.
Maaf. Kembalilah tidur.
Kita harus pindah ke rumah dengan tiga kamar
dalam tiga tahun ke depan.
Dan rumah dengan empat kamar dalam sepuluh tahun.
Apa kita bisa pindah ke area murah di luar Seoul?
Tidak, kita tidak bisa melakukan itu.
Begitu meninggalkan Seoul, kita tak akan kembali.
Kau akan menulis jurnalmu sebelum tidur?
Tidak ada yang ingin kutulis malam ini.
Aku pulang.
Sujae sudah pulang.
Sujae.
Lee Sujae.
Apa?
Kami akan mengadakan pertemuan keluarga besok.
Ada apa?
Hyeonjae yang mengadakannya.
Kurasa dia punya pengumuman.
Pengumuman apa?
Kita lihat saja nanti.
Dia bilang kau harus hadir apa pun yang terjadi.
Dia tidak mengatakan apa pun kepadamu?
Tidak.
Hyeonjae dan Yunjae juga berkencan.
Kurasa mereka sudah ada kemajuan.
Kau tahu mereka sudah cukup dewasa.
Menurutmu dia ingin menikah?
Tidak mudah
berjanji untuk menikah.
Yuna dan aku adalah kasus khusus.
Hyeonjae mewujudkannya,
begitu dia sudah memutuskan.
Dan Yunjae selalu mendapatkan keinginannya.
Kau tahu seperti apa kakak-kakakmu.
Ibu, aku perlu bicara.
Tunggu.
Ibu harus bicara denganku dahulu.
Astaga.
Selalu terjadi sesuatu saat kupikir aku berhasil.
Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
Orang yang bisa kuandalkan hanyalah Ibu.
Apa kau hanya akan menjadi ibu Sujae?
Kenapa aku hanya menjadi ibu Sujae?
Perilaku terburuk orang tua adalah memihak.
Selama ini kita berhasil tidak melewati batas.
Apa aku mengeluh?
Kau sudah melewati batas dengan pernikahan Sujae.
Kau terang-terangan hanya mendukungnya.
Kau pikir Hyeonjae dan Yunjae tidak menyadarinya?
Mereka cepat tanggap dalam hal seperti itu.
Aku tidak berlebihan mendukung Sujae.
Aku memberimu peringatan.
Kenapa kita memulai proyek pernikahan ini?
Itu karena kita ingin putra kita
dan seluruh keluarga kita lebih bahagia.
Kau guru yang hebat.
No comments yet. Be the first to leave one.