The first 200 lines.
SECRET HEALER
SECRET HEALER
EPISODE 5
Bagaimana hasilnya?
Kami sudah menelusuri lokasinya,
namun putri tidak ditemukan.
Baik.
Silahkan pergi.
Kutukannya takkan mudah hilang
sekalipun Tuan Putri mati.
Tapi kenapa...
Mantramu akan merenggut nyawamu sendiri.
Putra Mahkota.
Ibu.
Putra Mahkota.
Putra Mahkota.
Kau sudah sadar?
Ibu.
Aku...
Lapar.
Ada seseorang?
Bawakan makanan untuk Putra Mahkota, segera!
Kau sudah bangun?
Ibu.
Kau tidak apa?
Syukurlah.
Ibu senang.
Ibu lega.
Kenapa kau...
- Akan kuberi kau pelajaran! - Berhenti.
Sudah kubilang jangan pukul dia di tempat terbuka.
- Baiklah, Dong-rae. - Ya, Tuan.
Aku berpikir kalau Jun dan ibunya
bertingkah agak mencurigakan sejak kemarin.
Jadi, aku pergi memeriksanya,
dan mereka tak ada disana.
Kurasa mereka sedang merencanakan hal bodoh.
Bukankah begitu?
Aku tak tahu apapun.
Aku sungguh tidak tahu.
- Sungguh? - Ya.
Kalau begitu,
apa kau tahu bagaimana
nasib pelayan yang kabur
jika mereka ketahuan dibantu?
Entahlah.
Sungguh?
- Aku tidak tahu apapun. - Benar begitu?
Entahlah.
Bagaimana dengan fakta
ibumu seorang pelayan?
Kau juga tidak tahu?
Aku tahu itu.
- Benar begitu? - Ya.
Jadi maksudmu kau dan Jun senasib?
Dong-rae, cepat katakan padaku.
kau tak mau bernasib sial karena ini, bukan?
Benar begitu?
Astaga.
Apa sikapku terlalu lunak padanya?
Hei, berikan padaku.
Maafkan aku.
Kau bilang apa?
Ampuni aku.
Tenanglah.
Aku ini bukan orang jahat
Aku takkan membunuhmu, jangan cemas.
Sebagai gantinya, bagaimana kalau?
Kupotong satu telingamu.
kau masih punya yang satunya.
Lemaskan telingamu.
- Tidak. - Sang-Man.
Pegang dia.
Cepat pegang dia.
- Jangan. - Pegang dia.
- Kumohon. - Lepas tangannya.
Pegang yang erat.
- Kumohon. - Diam.
Baiklah. Satu,
- Dua. - Tunggu!
Tunggu.
Kenapa?
Mau beritahu?
TIKET PERAHU
Ibu.
Semuanya!
Sudah waktunya pergi!
Sekarang?
Siapkan tiketnya.
Tiketmu.
- Cepat. - Jalan.
Periksa semuanya.
Siapkan tiketnya.
- Ini. - Cepatlah.
Berikutnya.
- Tiketmu! - Ini.
- Periksa semuanya. - Baik.
Nyonya.
Siapa berikutnya.
Ibu.
Sedang apa?
Tu
Tuan.
Kenapa kemari
tanpa izinku?
Apa kau mencoba kabur?
Lagipula, putramu orang yang pintar.
Dia takkan melakukan hal semacam ini.
- Itu... - Jadi kenapa?
Tuan.
Aku tanya apa alasannya.
Ini semua perbuatanku.
Jun tidak bersalah.
Maafkan aku.
Jun tidak tahu apapun.
Inilah jadinya jika kau terlalu baik.
Ini balasanmu atas semua kebaikanku?
Hentikan.
Aku...
Dengar.
Aku...
akan menghabisi kalian.
Kuyakin kau tahu apa hukumanmu.
- Cepat sini. - Tuan.
- Ayo! - Kumohon.
- Jun tidak bersalah. - Kemari.
- Kumohon. - Bangun.
- Kumohon. - Tutup mulutmu.
Diam.
Kau bahkan bukan manusia.
Mengongonglah seperti ini.
Kau faham?
- Kemari. - Dia tidak bersalah.
Lebih jelas!
Ampuni aku.
Kemari.
- Ampuni aku. - Apa?
Bagaimana ini?
Tidak!
- Sial! Menyingkir! - Tuan.
Lepaskan aku!
- Astaga. Kemari. - Tuan.
Kemari!
Tuan.
- Lepaskan aku! - Kumohon.
- Lepaskan! - Tolong aku.
Sial, lepaskan aku.
- Kumohon. - Mati sana!
Tidak!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Ibu.
Kumohon bangunlah.
Ibu.
Ibu.
Jun.
Maafkan ibu.
Maaf
sudah menjadi ibumu.
Jika saja...
kau dilahirkan...
oleh ibu yang lain...
Ibu, jangan bicara begitu.
Aku hanya membutuhkanmu.
Bukan yang lain.
Kau pasti menderita.
Maafkan aku.
Sebagai ibumu,
Aku
sungguh menyesal.
Ibu.
Buka matamu.
Kumohon.
Semua ini salahku.
Ibu.
Ok.
Ada apa?
Astaga.
Ibu, aku harus bagaimana?
Soal apa?
Karena aku,
- Ibunya Jun... - Jangan cemas.
Kau tidak berbuat bersalah.
Kenapa kau takut?
Sudah kewajiban pelayan berkorban demi tuannya.
Tentu kau harus hidup.
Apa kau ingin mengorbankan dirimu?
- Ibu. - Lagipula,
Dia yang ingin melarikan diri.
Padahal sudah kuperingatkan.
Itu salah mereka sendiri.
Jangan cemaskan itu.
Duduk yang tegap.
Dan naikkan kepalamu.
Kau keturunan Heo yang akan menjabat di pemerintahan.
Anggap saja ini mimpi buruk dan lupakan.
Mengerti?
Terima kasih banyak.
No comments yet. Be the first to leave one.