転生したら第七王子だったので、気ままに魔術を極めます
The first 172 lines.
Cahaya Redup...
(Bereinkarnasi Malah Menjadi Pangeran Ketujuh,
jadi Aku Bisa Menyempurnakan Kemampuan Sihirku Sepuasnya, Musim Kedua)
Ini tidak biasa, apa dia melindungi diri?
Setelah semua ini kamu masih punya nyali?
Kalau begitu mungkin bisa mengubahnya jadi orang baik dengan paksa.
Tapi simbol antinya itu terlalu merepotkan.
Dengan melindungi diri dari pemurnian, dia akan menolak simbol Sihir Suci.
Sihir Suci bersifat halus, jadi aku tak bisa menyembunyikannya dengan Sihir Pemberian.
Dia bisa menghasilkan maksimal tiga simbol dalam satu waktu, kan, ya...
Maaf kami lama, Tuan Lloyd!
Sampai kapan ini akan terjadi?
Pasti kamu berpikir mau menangkapnya hidup-hidup, kan?
Jangan beri dia ampun!
Kalian...
Kenapa tiba-tiba?
Kamu santai sekali, ya.
Kamu lihat, kan? Nada lagu yang kubuat berantakan ini.
Bahkan saat aku menceritakan masa laluku padamu pun,
para Chimera sedang berupaya menghentikan lagu ini.
Tidak apa-apa, nih? Kamu tidak mau menolong mereka?
Aku tahu, kok.
Kamu pikir aku tidak memahaminya?
Kamu tidak perlu menahannya lebih dari ini.
Berteriak dan mengaumlah.
Itu tak akan mengganggu penampilan kami.
Suaramu itu indah, lo.
Karena kami akan menyelaraskannya, Shiro!
Guitane, bisa-bisanya ini semua terdengar bising bagimu!
Kalau memang terdengar begitu, berarti yang tak paham itu dia!
Benar juga, ada teknik sihir yang ingin kucoba.
Aku hanya seorang pangeran.
Jangan mengatakan hal konyol.
Akan kubuat sekarang juga, Guitane.
Anak ini...
Simbol dari elemen tanah, air, dan angin.
Apa lagi namanya kalau bukan Tuhan!
Mantra Tiga Rangkai...
Aku hanya bisa membuat maksimal tiga simbol.
Karenanya...
kalau dia membuat simbol dari elemen tanah, air, dan angin...
Pemurnian tidak akan bisa dihindari.
Makanya menggunakan seluruh simbol sangatlah berbahaya.
Itu akan jadi kekalahan terburuk bagiku.
Daripada berubah menjadi orang baik atau tertangkap hidup-hidup...
lebih baik aku mati.
Tanah, air, angin, Excalibur!
Mantra Tiga Rangkai...
Taring Baja Es!
Cukup, kamu sudah menghentikan Guitane dengan baik!
Ini berbahaya, Tuan Lloyd! Demi apa pun...
ini terlalu berbahaya!
Apakah kamu sudah gila, Pangeran Ketujuh?
Teknik Sihir selevel ini bisa menghancurkan dunia dan seisinya!
Hujannya tiba-tiba berubah jadi badai salju!
Mama, lihat! Langitnya mengerikan!
Apakah ini kemarahan Tuhan?
Bisa-bisanya sampai jadi begini...
Hei, hei, di saat seperti ini kamu hanya memanggilku Pangeran Ketujuh?
Panggil aku Tuhan, dong!
Memangnya ada Tuhan sepertimu?
Tuhan itu...
Apakah sebenarnya aku masih berharap...
pada Tuhan?
Shiro!
Maaf kami terlambat!
Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan? Bukankah kamu memihak Guitane?
Kamu sendiri kenapa ada di sini?
Sebenarnya Tuan Guitane sedang bertarung dengan siapa?
Kalau sampai seperti ini, tentu saja dengan Tuhan.
Tuhan jadi kerepotan gara-gara ulah satu anggota kelompok kita.
Jadi kalaupun dunia hancur, kita tak berhak mengeluh.
Benar juga, sayang sekali.
Liriknya amburadul!
Dia menyanyikan isi pikirannya.
Ya, tapi aku jadi semangat!
Jadi apa pun bisa diampuni kalau murni?
Sebenarnya itu absurditas atau kebenaran?
Hei, Tuhan. Kalau begitu lihatlah aku...
Aku sudah melanggar tabu, berubah jadi monster,
larut dalam penyesalan, mengkhianati teman,
dan melibatkan Anastasia yang tak berdosa.
Sama seperti setan kelaparan itu...
aku sampai di titik ini dengan niat yang murni!
Bagaimana? Bagaimana menurut-Mu?
Hei, Tuhan, kenapa...
Engkau tidak juga menghukumku?
Sampai kapan Engkau akan mengalihkan pandangan dariku?
Berhentilah bermain-main.
Kalau begitu bagaimana dengan ini? Engkau akan membiarkannya?
Saat ini dia dengan polosnya mencoba menghancurkan dunia, tahu!
Tak lain dan tak bukan ini adalah kejahatan yang tak disadari, kan?
Seharusnya...
hal seperti ini tak akan bisa diampuni.
Tak bernilai untuk dilindungi.
Tak ada satu pun yang berharga...
Papa!
Mama, Papa sudah pulang.
Wah, hari ini kamu tidak tersesat, ya?
Mama, bolehkah aku menyanyi bersama Papa?
Baiklah ayo kita nyanyi bertiga!
Ah...
Wahai Tuhan...
Ini permainan curang.
Tidak bisa...
habis Papa buta nada.
Apakah kalian menderita?
Atau kesepian?
Aku selalu menolak keras kemurnian selama ini,
dan ternyata dulu aku melupakan bahwa hari-hariku dipenuhi kebahagiaan yang murni seperti ini.
Papa aneh.
Padahal buta nada pun tidak apa-apa.
Sudahlah, Papa lagi capek, tuh.
Ya!
Serangan kejutan!
Bahkan repot-repot menyerangku langsung dari depan begitu...
Kamu sungguhan bertarung denganku sampai akhir, ya...
Pangeran Ketujuh!
Cahaya Maha Suci!
Walau terkena Cahaya Maha Suci-ku...
dia tak berubah sedikit pun.
Cahaya Maha Suci!
Hangat...
Salju ini menyembuhkan luka-lukaku.
Bencana alam berubah jadi kebalikannya...
Memangnya ada level pemurnian seperti ini?
Lagi-lagi hujan turun.
Habis aku ini pria hujan, sih.
Apakah ini berarti langit sedang menangis?
Aku justru...
merasa sedang diludahi.
Bagaimanapun, langit pasti tak akan suka padaku, kan?
Maaf, maaf...
aku selalu menutup mataku, menyalahkan Tuhan,
bergantung pada Tuan Guitane.
Andai saja aku tak ada, andai saja aku bisa menghentikannya...
Bukankah justru akulah yang wanita hujan?
Sial, karena inilah aku benci pemurnian.
Karena aku jadi bisa dengar suara hati yang sesungguhnya.
Maaf, ya...
karena aku tak menyadarinya lebih awal.
Akhirnya selesai juga, ya...
Lloyd.
Mama, maaf aku suka menyisakan makanan.
Aku juga minta maaf karena sudah mencorat-coret tembok!
Mama juga minta maaf sudah merusak kendi milik Papa.
Hah? Tapi, ya, sudahlah.
Aku masih tak tahu...
apakah pemurnian bisa mempan padamu?
Lagi pula, aku tak yakin itu adalah sifat aslimu.
Seharusnya dengan kekuatanmu, kamu bisa memanfaatkan para Pendeta Agung.
Kenapa kamu tak melakukannya?
Karena aku berpikir kalau saja...
di perayaan itu Tuhan tidak turun,
mereka pasti akan menghentikan rencanaku.
Mereka adalah utusan keadilan yang sudah kupilih dengan serius.
Tak peduli aku menang atau kalah...
pertempuran ini akan menorehkan makna pada hidup mereka.
Kalau tidak melakukannya dengan serius,
aku tak akan mampu menegakkan keadilan untuk diriku sendiri.
Selain itu...
karena aku tak akan bisa lari begitu mengingkarinya.
- Betapa uletnya... - Tapi ternyata...
orang yang menghentikanku bukanlah Tuhan atau pun Pendeta Agung.
Tapi hanya Pangeran Ketujuh dan Biarawati.
Tapi...
Tuhan pasti bersemayam di dalam suaranya itu, ya.
Omong-omong, Guitane...
Kamu tahu kenapa Escher mau jadi Biarawati?
Itu karena aku suka menyanyi.
Ah, tidak, te-te-te-te-tentu saja aku juga menghormati Tuhan.
Tapi, bagaimanapun aku tak punya kemampuan selain menyanyi.
No comments yet. Be the first to leave one.