The first 138 lines.
Maaf! Aku minta maaf!
Maaf atas semua yang kulakukan hingga kini.
Tolong, maafkan aku!
Aku akan membebaskanmu.
Sumpah demi Odin.
Uang… aku juga akan memberimu uang. Sebanyak yang kau mau.
Tidak cukup.
Itu jauh dari cukup
untuk menebus penghinaan
yang kualami sampai hari ini.
Sekali saja, coba rasakan sendiri jadi budak.
Jika tidak,
kau takkan mengerti dalamnya kemarahanku.
Baiklah!
Aku akan jadi budakmu.
Aku akan melayanimu.
Mulai hari ini, kau tuannya
dan aku budaknya.
Tolong ampuni nyawaku, Tuan.
Begitukah…
Kau akan jadi budakku?
Ya, dengan senang hati!
Baiklah kalau begitu,
entah kuampuni atau kubunuh kau,
aku bisa berbuat semauku.
Itu lama.
Sekarang, waktunya bersatu kembali.
Memikirkan
kita tak harus ke tempat Tn. Sverkel lagi untuk pinjam kudanya…
Ada apa? Kenapa wajahmu muram?
Jadi…
Kau sudah putuskan?
Apa? Putuskan apa?
Begitu kita bebas.
Apa rencanamu?
Itu…
Kalian berdua! Begitu bebas,
maukah kalian tinggal di sini dan kerja sebagai buruh tani?
Pekerja keras seperti kalian berdua selalu disambut.
Itu tawaran bagus dari tuan, tetapi…
Harus apa…
Aku sudah terlalu lama jadi budak.
Siapa sangka akan kesulitan memutuskan saat aku bisa
membuat keputusanku sendiri.
Itu mengejutkan.
Jadi, tinggal di sini sebenarnya
opsi yang layak bagimu?
Memang benar aku tidak rukun dengan buruh tani.
Tetapi jika aku tinggal di sini,
mungkin akan tiba saatnya Arnheid bisa dapatkan
kebebasannya juga.
Mengejutkan sekali.
Kau sesuka itu padanya?
Hentikan! Ini bukan soal itu.
Aku hanya…
Kau terlambat, Kakek!
Apa kau coba membunuhku?
Di mana Kakek? Dia tak bersama kalian?
Apa? Oh…
Tuan Besar belum kembali?
Belum sejak dia pergi ke ladang pagi ini.
Sial!
Sudah waktunya makan malam.
Dia minta kami membelah kayu bakar, tetapi…
Itu aneh.
Jam ini biasanya dia…
Aku juga belum makan siang! Sialan kau, Kakek!
Bagaimana kalau aku mati?
Kau mau ke mana?
Ke ladang! Ikuti aku!
Ladang?
Kakek!
Hei, Kakek!
Ayolah!
Kakek!
Aku akan mati
di ranjang dan bukan di ladang, ya?
Aku, dari semua orang…
Tidak dikunci. Masuk saja.
Permisi.
Nyonya
memerintahkan aku datang ke sini.
Wah!
Kami juga
boleh makan ini, Arnheid?
Ya.
Tuan Besar bilang aku bisa masak agar cukup untuk kalian.
Kuharap kalian suka.
Di sini tidak ada yang berdoa…
Lezat sekali!
Silakan makan, Tuan Besar.
Lezat!
Mulai hari ini, aku akan di sini mengurus kebutuhanmu.
Silakan minta apa saja padaku.
Coba ini juga!
Kau akan menginap di rumah ini?
Ya. Itu yang diperintahkan Nyonya.
Baiklah, silakan.
Jika rasanya tak cocok dengan seleramu,
tolong beri tahu aku.
Itu enak.
Aku tak mau. Aku akan makan nanti.
Sekarang aku tidak lapar.
Begitu, ya.
Jangan pedulikan dia. Suapi saja mulutnya.
Apa?
Kakek terlalu malu untuk bilang, "ah".
Biasakan dirimu, Kakek.
Kau tak punya pilihan selain
bilang "ah" dan biarkan mereka menyuapimu sampai kau pulih.
Kau baru saja tertawa?
Tidak…
Aku sungguh tidak lapar.
Aku akan makan nanti…
Kutendang kalian semua keluar!
Aku akan cuci piringnya.
Tidak, aku saja.
Aku senang.
Tuang Besar terlihat lebih baik dari yang diceritakan.
Dan sepertinya dia
tidak semenakutkan rumornya.
Ya. Meski tampangnya begitu, dia berhati baik.
Meski kadang dia bisa menakutkan.
Aku bisa melihatnya.
Tetapi…
Jujur,
sudah lama sekali sejak terakhir kali
aku bersenang-senang sambil makan.
Aku juga.
Itu
mengingatkan rasanya saat aku bebas.
Setuju. Sungguh…
Hei, Budak!
Ular di sini?
Budak yang kabur?
Ya.
Harusnya, tiga hari lalu dari ladang Kjallakr.
Kjallakr, ya.
No comments yet. Be the first to leave one.