The first 200 lines.
Para ibu ini sangat menyukai Ji Hyo.
- Dia favorit mereka. - Benar, bukan?
Mereka tergila-gila padanya.
Aku malu.
- Tapi itu bagus, bukan? - Ya. Senang bisa merasakan
bagaimana rasanya disukai oleh para orang tua.
- Itu sangat menyenangkan. - Dia sangat riang.
- Sangat riang. - Ya.
Kurasa dia tidak pernah seceriwis ini di acara ini.
"Kamu yang paling ceriwis hari ini!"
Semoga Soo Hong akan bertemu wanita seperti dia.
Seseorang yang riang dan pintar.
- Dia juga akan jadi ibu yang baik. - Kurasa Ji Hyo lugas
dan itu yang kusukai darinya.
- Dia sangat apa adanya. - Kita bisa melihatnya.
- Kamu tidak bersikap lemah. - Dia tidak berlagak seperti putri.
Dia tidak angkuh.
- Dia sangat jujur. - Aku benci gadis yang sombong.
Saat kamu pulang, pikirkanlah baik-baik.
Apa dia harus berpikir baik-baik dan memilih salah satu putra kalian?
Buatlah pilihan yang bijaksana.
Hari ini, In Sook...
"Aku kenapa?"
Aku selama ini mengamati dia
dan dia sangat putus asa.
- Dia sangat menginginkan Ji Hyo. - Dia sangat menginginkannya.
- Dia terlihat sangat sedih. - Jang Hoon.
Penilaian kami terhadap dia sama.
Memang.
Menurutku sifatnya sama
dengan dua menantu perempuanku.
- Benar. - Ya.
- Dia benar. - Karena itulah...
Dia sangat sama dengan menantu perempuanku yang termuda.
Aku paham arah pembicaraan ini.
Aku juga.
Dia mirip menantu perempuanku yang tertua.
Ya.
Astaga.
- Ini lucu sekali. - Hari ini Hye Seon pasti berpikir,
karena Ji Hyo paling akrab dengan Jong Kook dibanding putra yang lain,
Ji Hyo mungkin paling condong untuk memacari Jong Kook.
Tapi semua ibu-ibu di sini sangat bersemangat mengejar Ji Hyo
dan aku bisa lihat dia sangat bingung.
Semua tampak sangat serius.
Benarkah?
"Jangan Terlalu Hemat, Kawanku"
"Sang Min dan Jae Hoon berkeliling Sapporo"
Mereka berdua sangat kompak.
Mereka sahabat sejati.
- Ya. - Ya.
Jae Hoon paling benci bepergian seperti itu.
Dia sangat benci itu.
Ayo kita beristirahat.
Kurasa kamu akan sangat menyukai penginapan kita.
Kamu akan suka.
Itu ryokan yang berusia 100 tahun.
100 tahun?
Itu...
Bukankah itu terlalu tua?
Itu punya sejarah.
Ryokan?
Itu seperti hotel tradisional.
Kita bisa bersantai. Itu baru namanya liburan.
"Sang Min dan Jae Hoon tiba di ryokan berusia 100 tahun"
Kamar 222. sebelah sini, Jae Hoon.
Apa?
Ini hebat.
"Melewati koridor ryokan yang berusia 100 tahun"
Ini pemandian air panas pria.
- Apa masih buka? - Itu pemandian air panas.
Liburan ke sumber mata air panas memang yang terbaik.
"Mereka melewati pemandian air panas dan pergi ke ujung koridor"
"Tempat kamar Sang Min dan Jae Hoon berada"
"Inikah kamar kita?"
Masuklah.
Jae Hoon.
"Mereka terdengar kagum"
Kamarnya bagus.
"Seperti apakah ryokan yang berusia 100 tahun itu?"
Kamu harus di sebelah sini. Aku akan di sebelah sana.
Apa lantainya hangat?
Ya. Ini kamar tatami Jepang.
- Apa? - Ini kamar tradisional Jepang.
"Kamarnya cukup kecil"
- Kamarnya kecil sekali. - Tunggu.
"Jae Hoon melihat sekeliling"
Tapi aku ingin tidur sendirian.
"Dia mengeluh"
Selimutnya lembut sekali.
Kenapa kasurnya dekat sekali?
Ayo kita beri jarak.
Kamu tidur di sebelah sini.
Saat aku pergi ke Fukuoka bersama Joon Young,
kami tidur di hotel kapsul.
Ya.
Kondisinya sangat ekstrem. Tapi...
"Akan kuceritakan kondisinya"
Dia tertawa.
"Tertawa"
"Ini mengejutkan"
"Selamat malam, Joon Young"
"Memukul"
"Tarif hotel kapsul ini adalah..."
Kami dapat harga murah. Hanya 28 dolar.
Apa kamu tahu berapa tarif kamar ini?
Berapa?
37 dolar per orang.
"Tarif ryokan berusia 100 tahun"
- Tarifnya 37 dolar per orang? - Ya.
Itu murah.
37 dolar per orang.
"Aku boros demi kamu"
- Per orang? - Penginapan ini sudah 100 tahun.
Tarifnya hanya 37 dolar per orang.
Itu tarif termurah.
Baiklah.
- Punggungku sakit. Hari melelahkan. - Tempat begini sulit ditemukan.
Melihat ukuran kamar ini, biasanya tarifnya lebih dari 100 dolar.
"Dia tidak tertarik"
Astaga. Setelah aku menemukan hotel ini,
aku merasa senang.
Kamu tidak pelit belakangan ini.
Jae Hoon, semua yang ada di hidup ini akan sirna.
Aku serius.
Fokus di era kita sekarang ini
adalah tentang efektivitas biaya.
- Efektivitas biaya? - Dia sangat bertanggung jawab.
Jae Hoon, kamu harus terbiasa dengan ini sekarang.
- Kamu sangat... - Aku sudah terbiasa.
Kamu terlalu sering ingin menikmati hal-hal yang mewah.
Kamu terlalu memanjakan dirimu dengan kemewahan kelas atas.
Baiklah. Sikap yang bagus.
- Aku suka suasananya. - Benar, bukan?
Rasanya kita seperti ada di motel setelah kehilangan semua harta.
Rasanya kita seperti ada di motel setelah kehilangan semua harta.
Baiklah, kalau begitu.
Berapa yang kita belanjakan untuk makanan?
- Minuman kita sekitar... - 40 dolar?
35 dolar. Harganya sekitar 35 dolar.
- 35 dolar. - Baiklah.
Berapa biaya penginapan ini?
- Penginapan. - 37 dolar. Agak melebihi 35 dolar.
Lalu berapa totalnya?
- 70 dolar. - 70 dolar.
Untuk makanan...
"Dia membawa ramyeon dari rumah"
Kita hanya menghabiskan sekitar 100 dolar termasuk makan malam kita.
- Dia sangat hemat. Sungguh. - Dia memang berbeda.
- Dia sangat hemat. Sungguh. - Dia memang berbeda.
Yang paling utama, ada pemandian air panas di sini.
Ini ryokan berusia 100 tahun dengan pemandian air panas.
Astaga, wanita yang menikahimu
tidak akan bisa hidup nyaman sampai ajalnya tiba.
Dia tidak akan bisa hidup nyaman sampai ajalnya tiba.
"Sang Min dan Jae Hoon menunjukkan persahabatan baik seperti biasa"
- Jae Hoon. - Ada apa?
Astaga.
Jika bersama keluargaku,
aku tidak akan berhemat.
"Apa katamu?"
Lalu kenapa kamu pelit padaku?
Kita sedang liburan.
Astaga. Kamulah yang mengajakku ke sini.
Apa yang kita lakukan di sini?
- Dengar. - Apa aku kemari untuk bekerja?
- Kamu dan aku... - Apa aku ditipu?
Kita tidak perlu bermewah-mewah.
Apa salahnya tidur di sini?
- Semua yang kita butuhkan tersedia. - Hei.
Semuanya tersedia. Itu yang terpenting.
Setidaknya kita tidak perlu berhemat untuk makanan.
- Jae Hoon. - Aku akan menendangmu.
Astaga. Dia melewati banyak kesulitan.
"Dia sangat menderita"
Restoran di sini populer.
- Aku paham... - Aku lebih populer dari tempat itu.
- Maksudku... - Astaga.
Setidaknya, dia ada benarnya.
Jae Hoon itu teman yang lucu.
Aku tidak percaya kamu memberiku makan nasi kepal di Sapporo.
Maaf tadi aku tidak memeriksa makanannya lebih dahulu.
"Mengeluh"
Mimpi buruk Sapporo.
"Mimpi buruk Sapporo"
Bagaimana jika aku memimpikan ini di rumah? Itu akan menghantuiku.
"Keroncongan"
Apa kamu punya makanan?
Karena makan malam tadi sedikit, perutku terasa kosong.
Bukankah dia makan ramyeon untuk makan malam?
Ya. Pantas saja dia lapar.
Astaga.
Bukankah kamu lapar?
Aku kurang gizi.
- Jalannya licin. Hati-hati. - Saat ini aku kurang gizi.
- Sungguh. - Kamu ingin makan apa sekarang?
- Aku tahu kamu ingin apa. - Apa?
Kamu ingin aku mengumpatmu.
"Kata-kata umpatan"
Yang paling membuat sakit hati.
No comments yet. Be the first to leave one.