The first 177 lines.
18 SEPTEMBER 2047
Lebih parah dari yang aku duga.
Sama sekali tidak terlihat seperti kota Jazz yang terkenal.
Di sini masih bagus,
semakin menuju pantai timur,
jangankan desa kecil, bayangan orang saja tidak terlihat.
Tidak ada aura D2.
Aku jadi tenang jika Cosette bilang begitu.
Hari ini bisa bebas belanja.
Padahal aku sudah berharap.
Kamu lebih suka jika ada D2?
Baiklah, aku akan pergi dan cari.
Tentu saja tidak.
Kamu berniat memanggil D2 ke desa ini?
Aku hanya bercanda.
Aku pikir di dalam pikiran Maestro pasti hanya ada musik.
Kamu…yang benar saja?
Kamu mengerti yang aku katakan
hingga sengaja bercanda seperti ini?
Jadi kamu sedang ngobrol denganku?
Sejak kapan kamu belajar bicara seperti ini?
Aku terus belajar setiap hari.
Beda dengan Maestro
yang di otaknya hanya ada musik,
kita sama sekali berbeda.
Kenapa rasanya anak ini makin hari makin menyebalkan!
Aku enggak merasa ada yang aneh kok.
Iya. Yang aku katakan itu kenyataan.
Kalau Maestro emosi,
berarti memang merasa begitu.
Aku hanya khawatir kamu makin hari makin ngawur.
Tidak hanya bodoh, bahkan bicara dengan normal pun jadi tidak bisa.
Sama sekali tidak tertolong lagi.
Jadi Maestro mengakui
kalau selain musik, kamu tidak bisa melakukan hal lain?
Diam!
Hentikan pembicaraan yang tidak berarti ini!
TAKT OP. DESTINY
"EPISODE 06, MENUJU HARI YANG BARU" Kami mau berbelanja.
Kamu enggak perlu ikut, bukan?
Karena Maestro tidak bisa bantu apa-apa.
Iya.
Jangan ganggu dia lagi.
Baik, Kakak.
Kamu tunggu di sini saja,
jangan pergi ke mana-mana.
Aku bukan anak kecil.
Kalian mau ke mana?
Ke New York.
Yang benar?
Hanya kalian berdua?
Yakin tidak apa-apa?
Masih ada satu orang lagi…
Selama ada aku, tidak akan ada masalah.
Aku akan selalu laksanakan tugas dengan baik.
Anak yang baik.
Baiklah, aku bantu siapkan barang yang kalian perlukan.
Tunggu ya.
Terima kasih sekali.
Tidak perlu sungkan,
sudah lama tempat ini tidak kedatangan anak muda seperti kalian.
Di desa ini
semuanya berisi kakek dan nenek tua…
Gawat…
Ada apa?
Ada yang bisa kubantu?
Tunggu…Tunggu sebentar…
Tidak bisa…
Halo?
Bukan…Aku hanya…bantu-bantu.
Anda kenal Nyonya Bron?
Dia langganan kami.
Biasanya aku selalu antarkan barang di jam ini…
Jika tidak, toko sarapannya besok
hanya dapat minum kopi tanpa susu...
Kalian ini…
Kami datang mengantarkan barang.
Ternyata begitu.
Tenang saja, aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa pemilik toko.
Untunglah.
Tiba-tiba terjadi hal seperti itu, aku sedang bingung harus bagaimana.
Dia pasti ingin terlihat baik di hadapan kalian.
Dasar kakek itu, padahal sudah berumur.
Tapi aku dapat mengerti,
desa ini benar-benar sudah lama tidak ada anak muda.
Kalian tunggu sebentar,
aku ingin kasih selai apel buatanku sendiri.
-Manis tidak? -Cosette!
Aku sangat menyukai makanan manis.
Jika tidak keberatan, kalian bawa saja.
Jangan tidak sopan.
Kakak tidak suka selai apel?
Bukan itu maksudnya.
Maaf, aku sudah lama ingin perbaiki…
Tidak masalah, aku sudah biasa melakukan pekerjaan kasar.
Ada apa, Cosette?
Kamu ingin coba?
Iya. Pinjamkan aku palunya.
Cosette…
Tenagamu besar sekali.
Tom! Tom cepat turun!
Di atap sangat berbahaya, Tom!
Cepat turun!
Tom binatang kecil itu?
Harusnya iya.
Tampaknya hari ini kita akan banyak berhubungan dengan penduduk kota ini.
Ke mana mereka?
Anak muda, tidak disangka.
Kenji Asahina?
Aku dapat putarkan jika kamu memesan minuman.
Biasanya mutar lagu Jazz,
namun aku tidak membenci lagu Classic.
Kenji seorang konduktor yang bagus,
tanpa mengangkat lengan pun dia telah sangat berwibawa.
Ada apa?
Tidak, aku hanya tidak menyangka.
Aku pikir semua orang benci dengan 'Asahina',
terutama orang-orang yang menyukai musik.
Tragedi Boston?
Bagi orang-orang yang menyukai musik,
dia telah menimbulkan masalah yang sangat besar,
hingga orang-orang hanya dapat mendengar musik sambil bersembunyi.
Kami sekarang sedang mendengar musik sambil bersembunyi.
Kami selalu lakukan di tempat ini.
Musik dapat menerangi hati manusia.
Apa kamu tahu,
Kenji pernah mengunjungi desa ini?
"Rhapsody in Blue"
benar-benar luar biasa!
Pada waktu itu, sorak sorai dan tepuk tangan
bergema pada aula musik konser, sama sekali tidak dapat berhenti.
Walaupun aula konser itu saat ini telah tiada,
namun memori pada hari itu tidak pernah pudar.
Musik terus membawa pikiran manusia.
Membangun sejarah manusia.
Inilah hidup manusia.
Saat mendengar musik
kita menjadi satu dengan segala hal.
Kenji mempertaruhkan hidupnya untuk menyampaikan ini. Dia seorang seorang konduktor yang hebat!
Dia mulai lagi.
Dia hanya seorang anak kecil, tidak perlu begitu bersemangat.
Itu kebiasaan buruk dia.
Anak muda, kalau dia sudah mulai cerita, bisa-bisa sampai besok.
Benar, kami semua pernah mengalami hal yang sama.
Kalian masih mengatai aku!
Siapa yang tiap malam duduk di sini sampai harus diusir!
Mau bagaimana lagi? Anak muda mau bergabung dengan kami
untuk tinggal di sini sampai tua?
Iya.
Rahasia tempat ini telah dia ketahui.
Tidak disangka anak muda seperti kamu
begitu menyukai musik.
Bahkan mengenali Kenji.
Kamu melihat albumnya dari koleksi orang tuamu?
Kenji Asahina adalah Ayahku.
Bagaimana cara menggambarkannya.
Fluffy, lembut, halus, hangat.
Kucing kecil begitu manis?
Waktu pergi, dia masih menempeli aku.
Kalau begitu, lain kali kita datang lagi saja.
Nenek-nenek pasti akan senang.
Baiklah kalau begitu.
Maria!
Kamu sudah kembali!
Kenapa begitu lama baru pulang, Maria?
Kamu bawa temanmu kemari?
Kamu selalu begitu.
Lain kali beri tahu aku dulu.
Anu, maaf…
Kamu salah orang.
Dia adalah Kakak Anna,
bukan Maria.
Hari ini kita makan ayam kesukaanmu.
Temanmu juga boleh ikut.
Tunggu…
Oh iya, kemarin aku juga buat kue lemon.
Kamu beruntung sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.