The first 200 lines.
Dix Steele!
Bagaimana kabarmu?
Kau tak ingat aku?
Maafkan aku. Aku tak bisa bilang aku ingat.
Kau tulis film yang aku tulis.
Di Columbia.
Aku berusaha untuk tak pernah lihat film yang aku tulis.
Kau, berhentilah mengecewakan istriku.
Oh.
Kau tak seharusnya melakukannya, sayang.
Tak peduli berapa banyak uang yang babi itu miliki.
- Kau menepilah ke pinggir jalan. - Ada apa dengan di sini?
- Malam, Mr. Steele. - Hai, Dave. Kau ada tempat?
- Ya. Aku taruh di depan. - Oke.
Boleh aku minta tanda tanganmu, mister?
- Aku siapa? - Aku tak tahu.
Tak perlu susah-susah. Dia bukan siapa-siapa.
Dia benar.
Dix! Kami hampir meninggalkanmu.
- Oh, hai, Mel. - Kau ke mana saja?
Ayo. Traktir kami minum.
Dia seseorang. Lloyd Barnes. Sutradara besar.
Dapat seluruh uangnya sebelum pajak penghasilan.
Kami sudah hubungimu selama tiga hari terakhir.
Kalian tahu aku. Kalau aku tak jawab dering telepon ketiga kalinya, aku tak di rumah.
- Halo, Dix. Lloyd. - Hai, Max.
Sayang, mana aku minta buku yang kutinggal di sini buat Mr. Steele untuk mengambilnya.
Aku hampir selesai dengan buku ini.
Yang harus kau katakan itu "Aku menyukainya" lalu kau terus dapat bayaranmu besok.
Berarti aku menyukainya.
Oh, kupikir ini akan jadi film keren, Mr. Steele, bagaimana aku menyebutnya epik.
Lalu apa yang kau sebut epik?
Kau tahu, film sangat panjang dan punya banyak kejadian yang terjadi.
- Boleh kami minta korek buat suvenir? - Tentu saja.
Ini.
Oh, Mr. Steele, boleh aku pinjam bukunya sampai kau keluar?
Aku tinggal beberapa halaman lagi.
Aku tahu bagian akhirnya. Aku selalu baca yang pertama.
Tentu. Pelan-pelan saja.
- Selamat malam, Mr. Steele. - Selamat malam.
Ingat, dia penggemarmu.
Kau bilang itu lagi, aku bersumpah, aku akan cari agen lain.
- Bagaimana kabarmu, Charlie? - Mari ke pojok sebelah.
Ada apa dengan di sini? Dia tak menular.
Bagaimana kabarmu, Pangeran terhormat?
Baik sekali, pemain tragedi.
- Greg. - Ya, Mr. Steele?
Gin dan tonik. Kalian mau apa?
- Stinger. - Segelas susu.
- Dan brandy buat Mr. Waterman. - Baiklah.
Kau mau hormati kami dengan makan malam di sini, atau kau hanya lihat-lihat?
- Bagaimana semuanya, Paul? - Sama seperti bisnis hiburan.
Tak ada bisnis.
Permisi.
- Siapa yang buat epik ini? - Bert Brody.
Dan Lloyd ini yang akan menyutradarainya.
Dix, kau harus mulai kerja. Kau tak terlibat sudah begitu lama.
Siapa yang kau ajak bercanda? Aku butuh uang sedang kau butuh 10%.
Karena aku kau tak perlu mulai kerja.
Aku punya apartemenku, mobilku, dan maagku.
Bensin dan ritual minum susu yang tak keluarkan uang banyak.
Aku tak mau kerjakan sesuatu yang tak aku suka.
Dix, kawanku, berapa kali aku harus bilang padamu...
Aku tahu. "Itu hanya film berikutnya."
Kau dalam posisi untuk jadi rewel?
Kau tak tulis dengan hasil baik sejak sebelum perang.
- Dan film terakhirmu... - Jadi itu tak disukai.
Semua orang alami kegagalan selain dirimu.
Kau tak mengalaminya karena kau buat dan buat ulang film sama selama 20 tahun terakhir.
Kau tahu kau siapa? Kau seorang penjual murahan.
Benar. Juga dirimu.
Satu-satunya perbedaan di antara kita itu kalau aku tak membantahnya.
Suatu hari aku akan mengejutkanmu lalu menulis sesuatu yang bagus.
- Althea Bruce yang akan melakukannya. - "Althea Bruce."
Yang harus kau lakukan itu mengikuti buku. Itu yang Brody bilang.
Ingatkan aku untuk belikanmu dasi baru.
- Hai, anak-anak. - Halo, Junior.
Sungguh film bagus yang kubuat. Baru dikembalikan dari peninjauan.
Pasadena sudah gila akan hal itu.
- Halo, Junior! - Tak ada yang tak menyetujuinya.
Ada apa denganmu? Kau tak mau salaman dengan seorang aktor?
Aktor? Kau sebut ini aktor?
Dia sudah tak sanggup mengingat dialog selama 10 tahun terakhir.
"Ini," seperti kau sebut dia, membuat bapak mertuamu mendapatkan beberapa juta.
Ayah menjadikan bintang dari seorang pemabuk.
Ini bahaya.
Film idola the Roaring '20s.
Perhatikan dirinya, lagi memandang gelas kristalnya.
Kau telah menghambat pekerjaan menantu laki 50 tahun.
Sudah cukup!
Ada apa denganmu?
Tenang!
Dix berulah lagi.
- Aku akan pergi dari sini. - Bawa Charlie pulang bersamamu.
Ayo. Ayo, Charlie.
Mungkin sebaiknya aku tetap di sini.
Tidak.
- Kau akan baca buku itu malam ini? - Ya, ya, ya.
Aku akan mampir untuk bangunkanmu besok pagi, kira-kira pukul 10:00.
Jadikan itu sekitar pukul 11:00.
Aku menduga dia sudah berniat menghampirinya.
Tapi lain kali bisa kalian melakukannya di tempat parkir?
- Bagaimana kalau ham dan telur? - Aku akan memilih telurnya sendiri.
Bisa kau tinggal duduk di sini lalu menenangkan diri?
Dixon Steele.
- Halo, Fran. Bagaimana kabarmu? - Di antara film-film.
Ini aneh.
Semalam aku tak bisa tidur...kau tahu insomniaku.
- Jadi apa yang harus kulakukan? - Menelepon banyak orang.
Tidak, hanya kau. Selama berjam-jam.
- Kau di mana? - Rumah.
- Ada apa? Kau tak suka bicara lagi? - Tidak dengan orang-orang yang punya nomorku.
Kenapa kau tak mampir? Aku punya satu peti penuh air tonik.
Tidak, aku harus baca buku.
Ingat bagaimana aku dulu biasa bacakan untukmu?
Sejak saat itu aku belajar untuk baca sendiri.
Itu saja.
Kau memandang rendah semua wanita, atau hanya yang kau kenal?
Aku dulu sangat baik padamu.
Tidak, tidak padaku. Tapi kau dulu sangat baik.
Aku akan hubungimu.
Terima kasih karena izinkanku membacanya.
Namamu siapa?
Mildred. Mildred Atkinson.
- Kau tinggal di mana? - Di Inglewood. Sama bibiku.
- Kau punya mobil? - Tidak, aku biasa naik bus Beverly Hills.
- Aku antar kau pulang. - Terima kasih banyak.
- Tapi malam ini aku ada kencan. - Batalkan.
Aku tak bisa. Lagian, ini kebijakanku untuk tak pernah keluar sama pelanggan.
Aku tak bermaksud aku hendak mengajakmu keluar.
- Aku hendak mengajakmu pulang. - Tapi aku sudah bilang, aku ada kencan.
Ke rumahku.
Mr. Steele.
Kau bisa banyak membantuku. Aku harus baca buku ini malam ini, sedang aku sudah lelah.
Kupikir barangkali kau bisa ceritakan itu padaku.
Itukah keinginan yang kau inginkan?
Astaga, kau membuatku merasa sangat penting.
Baru terpikirkan.
Waktu aku harus pergi menemui "Alathea" Bruce sama bibi Cora,
aku bisa bilang aku sudah ceritakan kisahnya pada penulis skenario.
Biar kuhubungi Henry, itu pacarku. Mungkin aku masih bisa menemuinya di rumah.
Tak ada pengorbanan terlalu besar demi sebuah kesempatan untuk keabadian?
- Ya, tuan. - Mmm.
Woh, sungguh rumah yang megah.
Agak seperti rumah di Spanyol, huh?
Permisi.
Tetanggamu?
Bukan, aku belum pernah lihat dia sebelumnya.
Aku sebentar lagi menghampirimu.
Duduk. Buat dirimu serasa di rumah.
Pasti menyenangkan jadi seorang penulis.
Menggairahkan.
Ambil sendiri minumannya. Ada es di ember.
Aku tidak minum.
Sebelum aku mulai kerja di Paul's,
aku biasa memikirkan aktor itu buat dialog mereka sendiri.
Waktu mereka harus jadi bintang besar, mereka biasanya begitu.
Ada apa? Berubah pikiran?
Mr. Steele, aku datang kemari karena kau minta aku ceritakan kisah tentang "Alathea" Bruce.
Althea.
Bila itu hanya sebuah alasan untuk memikatku...
Kau mau pergi sekarang?
Tidak, tidak, kecuali kalau...
Aku lepas sepatuku dan kenakan jubahku...
itu karena aku mau merasa nyaman waktu aku bekerja.
Kalau begitu, aku mau minum soda rasa jahe dengan lilitan lemon.
Itu dikenal sebagai leher kuda.
Bagaimana kau mau aku ceritakan kisahnya?
Sama seperti kau mau ceritakan ke bibimu Cora.
Ini tentang wanita ini, "Alathea" Bruce.
Dia sangat kaya, tahu.
Dia memiliki rumah besar ini di Long Island, tepat di dekat laut.
Dia punya kapal layar, mobil, perhiasan, dan lain-lainnya.
- Dan dia janda. - Mmm.
Beruntungnya Althea.
Dia punya banyak pria dalam hidupnya.
Dan mereka semua ajak dia ke the Stork, the 21 Club, dan the El Morocco.
Tapi mereka tak menyampaikan ke "Alathea."
Althea.
Kemudian suatu hari dia lihat keluar
lalu dia lihat penjaga pantai baru berada di luar jendelanya.
Dan itu dideskripsikan baik sekali, bagaimana dia melihatnya.
Dia terlihat seperti perunggu "Apolo."
Aku sangat berharap itu akan dibuat dengan Technicolor.
Ya, aku pastikan usulkan itu ke produser.
Aku akan!
Kemudian "Alathea" menyuruh pembantu Inggrisnya
untuk meminta Channing... itu si penjaga pantai...
untuk sarapan dengannya.
Tapi sebagai gantinya mereka minum whiskey sours.
Itu keadaan yang sangat beresiko.
Oh! Aku sudah bilang padamu tentang suaminya?
Kau bilang padaku dia sudah meninggal.
Bukan, bukan, maksudku tentang bagaimana dia meninggal.
Kau tahu, dia terjatuh dari kapal layar waktu dia dan "Alathea" pergi berlayar,
kemudian ada investigasi dilangsungkan.
- Dia membunuhnya? - Itu sedikit diungkapkan di buku.
Dia jatuh cinta dengan Channing,
yang sebenarnya bukan penjaga pantai, melainkan mahasiswa di Universitas Columbia
sedang belajar untuk jadi "sarjana ahli torologi."
No comments yet. Be the first to leave one.