The first 200 lines.
=Restoran Penyihir=
Sebaiknya bukan film dengan monster.
Aku sedang sering mimpi buruk, aku lebih membencinya.
Bu, berapa harganya?
Hei, Jin.
Kau sudah keluar?
- Belum. - Astaga, syukurlah.
Tiba-tiba ada hal mendesak,...
jadi, bisakah kita menonton film lain kali?
Begitu?
Tidak apa-apa. Urusanmu lebih penting.
Baiklah. Aku akan mentraktirmu makanan enak lain kali.
Aku sungguh minta maaf.
Jangan khawatir.
Baiklah.
Pena itu sangat berarti bagiku.
Sebenarnya, aku...
Baiklah. Aku akan memeriksanya.
Apa yang kulihat.
=Restoran Penyihir=
=Mi yang Menyatukan Orang-Orang= =Episode 5=
Makananmu sudah siap.
Silakan.
Selamat menikmati.
Terima kasih sudah membuka restoran lebih awal untukku.
Jangan khawatir. Kau selalu bisa meminta bantuan.
Ini hadiah untuk Min Ji.
Astaga, terima kasih.
Kau tidak perlu membawa hadiah setiap kali datang.
Aku iri kepadamu.
Kalau begitu, kau juga harus menikah.
Masalahnya, dia begitu putus asa meminta bantuanku.
Aku penasaran ada apa.
Aku senang buka lebih awal.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Terima kasih. - Tentu.
Silakan dimakan.
Baiklah.
- Terima kasih atas makanannya. - Tentu.
Kau merasa tidak nyaman?
Apa? Tidak.
Aku baik-baik saja.
Kau mau duduk di sana?
Baiklah.
- Ini. - Terima kasih.
Benar, aku datang untuk memberimu pena.
Aku hampir lupa.
Terima kasih.
Kau terkejut karena aku tiba-tiba ingin bertemu denganmu?
Tidak, aku memang ingin mengembalikannya.
Aku senang kita bertemu hari ini.
Ini.
Mungkin terlihat agak tidak biasa,...
tetapi aku selalu membawa pena ini seperti jimat keberuntungan.
Begitu rupanya.
Aku yakin itu berharga bagimu karena kau penulis.
Aku tidak pernah menganggapnya tidak biasa.
Lebih dari itu...
Ini hadiah dari ibuku.
Ibuku berjuang keras membesarkan aku sendiri.
Aku bahkan tidak pernah membayangkan menjadi penulis...
dan melakukan hampir segala hal untuk menghasilkan uang.
Lalu, suatu hari, ibuku...
memberiku pena ini sebagai hadiah.
Melakukan impianku.
Santai saja.
Ibu akan mengurusmu.
Jadi, aku menggertakkan gigi dan bekerja sekeras mungkin.
Keadaan akhirnya mulai berjalan lancar dan aku ingin membalasnya.
Namun, Ibu tidak menungguku.
Maaf aku mengatakan hal yang sangat pribadi.
Ibumu...
akan bangga kepadamu.
Karena kau menjadi penulis terkenal.
Sebenarnya,...
aku bukan orang yang berani.
Apa?
Aku ingin bertemu denganmu lagi.
Mungkin seperti alasan,...
tetapi rasanya seperti takdir kau mengambil pena ini.
Jika ditakdirkan bertemu,...
kalian tidak perlu berjanji, karena kalian akan bertemu.
Ini rumahku.
Aku senang hari ini. Terima kasih.
Aku juga senang, terima kasih.
- Aku akan meneleponmu. - Baiklah.
Itu tidak bisa dihindari...
karena sudah ditakdirkan.
Mungkin ada cara agar semua orang bahagia.
Hal seperti itu tidak boleh terjadi.
Halo.
- Bukankah ini hari liburmu? - Aku hanya ingin datang.
Jin tidak datang, bukan?
Hei, Pekerja Paruh Waktu.
Bisa kita bicara?
Minumlah.
- Aku masih pelajar. - Usiamu 20 tahun.
Sebenarnya,...
Jin dan aku seharusnya menonton film hari ini.
Kau ditolak?
Berapa kali pun itu terjadi, kau tidak pernah terbiasa.
Itu butuh latihan.
Berlatihlah terluka dan membiasakan diri.
Aku hanya ingin makan dan menonton film dengannya.
Hanya itu yang kuinginkan.
Jangan berharap terlalu banyak.
Makin kau menginginkannya, makin sulit.
Astaga, dia masih tertidur lelap.
Dasar bodoh.
Bangunlah. Sudah hampir tengah hari.
Astaga. Apa ini?
Usiamu hampir 50 tahun...
dan kau masih tidak bisa melepas kaus kakimu dengan benar?
- Dasar bodoh. - Ada apa lagi sekarang?
Apa yang membuat Ibu kesal kali ini?
Ibu hanya ingin kau menikah. Ibu tidak minta nasi atau makanan.
Ibu hanya ingin kau menjalani hidup yang layak.
- Apa permintaan itu berlebihan? - Suara Ibu masih keras.
- Astaga. - Sial.
Kau mau ke mana saat Ibu masih bicara?
Dia akan membuatku mati.
Ayah.
Apakah Ayah pikir aku tidak akan merasa bahagia jika tidak kuliah?
Ayah hanya...
merasa cemas.
Bagaimana jika kau menderita seperti Ayah?
Ayah hanya ingin kau menjalani kehidupan biasa...
dan berbahagia seperti orang lain.
Kau sudah berhenti berlari?
Maaf. Aku bermaksud memberi tahu.
Aku tidak tahu...
jika kulakukan itu karena menikmati atau hanya itu yang kubisa.
Jika kau sudah memutuskan...
Ayah tidak keberatan.
Tidak ada jawaban benar dalam hidup.
Kau tidak perlu memenuhi harapan Ibu dan Ayah.
Menurut Ayah, pilihanmu yang paling penting.
Mari makan.
Baiklah.
Sebenarnya, aku bukan orang yang berani.
Aku ingin bertemu denganmu lagi.
- Hai, Yoon Mi. - Lalu? Apa yang kau lakukan?
Kami tidak melakukan hal istimewa.
Sekarang kau membuatku penasaran.
Pria bernama Tom Kim itu.
Sepertinya dia tinggal di dunia yang berbeda dengan kita.
Ya. Dia semipesohor.
Namun, kurasa dia mirip dengan kita.
Dia sangat biasa dan sederhana.
Apa maksudmu?
Dia seperti kita atau tidak?
Dia dibesarkan oleh ibu tunggal.
Hidup menjadi sulit saat tumbuh dewasa.
Dia membicarakannya seolah-olah itu bukan apa-apa.
Jung Jin, kau sudah jatuh cinta kepadanya?
Hei, nanti kutelepon lagi. Sampai jumpa.
Halo?
Apakah tidurmu nyenyak? Apa kegiatanmu hari ini?
Hari ini, aku harus bekerja.
Gil Yong, kau mau berhenti sekolah?
Ya.
Aku hanya berlatih dan berlari dan aku tidak bisa mengikuti kelas.
Kurasa aku harus mulai dari dasar.
Tetap berhubungan.
- Kau ada waktu? - Ya.
Jangan terlalu berusaha.
Apa?
Kau bersikap seperti perundung di sekolah karena gelisah.
Aku kasihan kepadamu.
Kau baik-baik saja sekarang...
dan kau bersikap seperti didesak.
Lalu, permen-permen itu. Berhentilah makan itu.
Mereka merusak gigimu.
Lee Gil Yong.
Hei.
Aku sudah dengar. Kau mau kabur?
Aku tidak melarikan diri. Aku menantang diriku sendiri.
Sebelumnya, aku melakukan banyak hal karena harapan orang-orang kepadaku...
dan karena itu keinginan orang tuaku.
Namun, kini aku ingin membuktikan diriku kepadaku.
Aku ingin menjadi orang yang lebih baik.
Aku akan ikut ujian GED dan kuliah.
Dunia tidak hanya punya satu jawaban pasti.
Ada apa?
Aku hanya...
sangat membencimu.
Aku akan menghubungimu.
Gil Yong, apakah ini milikmu?
Buku pelajaran GED?
Ya.
Aku berhenti sekolah.
Apa? Sungguh?
Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Sekarang, aku akan memikirkan ingin menjadi orang dewasa seperti apa.
Benar juga.
Maaf, aku meninggalkanmu dan filmnya.
Kita bisa pergi lain kali.
Kau akan mengeluarkannya, bukan?
- Biar aku saja. - Tidak apa-apa.
No comments yet. Be the first to leave one.