The first 200 lines.
Shen Yue sebagai Dong Shan-cai
Dylan Wang sebagai Dao Ming-si
Darren Chen sebagai Hua Ze-lei
Liang Jing-kang sebagai Feng Mei-zuo
Wu Xi-ze sebagai Xi-men Yan
Lihat, untuk pertahankan keseluruhan kesan sejarah rumah ini,
...kusarankan, jangan bongkar seluruhnya.
Pertahankan sebagian, kemudian tambahkan beberapa unsur baru. Menurutmu?
Aku kurang paham soal ini. Kalian saja yang ambil keputusan.
Kalau begitu secepatnya.
Tuan Ye kalau ke luar negeri bisa bertahun-tahun.
Entah kapan pulangnya.
Ke luar negeri? Ke mana?
Tanyalah pada Tuan Ye.
Jangan khawatir. Masalah desain ruangan akan kubantu selesaikan.
Aku akan bertanggung jawab hingga tuntas.
Kamu akan pergi berapa lama? Tak kembali lagi ke Shanghai?
Mengapa?
Aku menerima undangan Tuan Brown seorang seismolog dari Cambridge...
...membentuk tim membangun rumah anti gempa untuk korban gempa di seluruh dunia.
Kapan berangkat?/ Akhir-akhir ini.
Aku paham.
Kamu marah?
Aku tak layak untuk marah.
Rencanamu yang besar dan mulia ini harus dijalankan dengan tanpa ragu.
Lagipula tak ada rumah atau apapun yang bisa menahanmu di sini.
Kamu bebas ke mana saja.
Tapi aku beda denganmu.
Ini pekerjaanku, juga merupakan cita-citaku.
Dan selama ini aku selalu berbuat begitu.
Lalu apa lagi yang perlu dibahas di antara kita.
Permulaan kita berdua adalah suatu kesalahan.
Apa kamu sama sekali tak menaruh perasaan terhadapku?/ Ya.
Lalu mengapa kamu menyimpan kelapa itu di rumah?
Kamu sudah melihatnya?
Aku sudah melihatnya.
Saat bertemu lagi denganmu, aku tak ingin lagi pergi tur seorang diri.
Aku ingin bersamamu mengelilingi dunia. Tinggal di tenda yang berbeda-beda.
Menyanyi, menari, minum sambil mengobrol.
Ini kehidupan yang kuimpikan.
Mengapa memilihku?/ Jodoh.
Jodoh? Kamu ingin aku percaya pada jodoh.
Aku percaya jodohlah yang mempertemukan kita.
Aku tak pernah sebahagia ini melewatkan hari yang demikian indah.
Tapi itu bukan selamanya.
Kamu bisa tentukan ya atau bukan.
Apa kamu bersedia bersamaku, Cai-na?
Aku...
Tak usah buru-buru menjawab karena jawaban ini sangat penting bagiku.
Pikirkan dengan baik barulah menjawab.
Paman Lu, kenapa?
Saat robot sedang sapu kamar, entah kenapa tersangkut.
Aku mau mengeluarkannya.
Kelapa. Entah kapan jatuh ke bawah.
Dulu mengapa aku mau membawamu pulang?
Aku percaya jodohlah yang mempertemukan kita.
Aku tak pernah sebahagia ini melewatkan hari yang demikian indah.
Tapi itu bukan selamanya./ Kamu bisa tentukan ya atau bukan.
Apakah kamu juga sedang rindu padaku?
Aku seorang membuat mimpi dua orang
Saat rindu padamu, senyuman mengiring nafas yang membuat sakit
Kakak Cai-na sayang, aku rindu padamu. Kamu sedang apa?
Mei-zuo, satu jam lagi kita bertemu di bar seperti biasanya.
Ada hal penting yang ingin kubicarakan.
Apa yang harus kuperbuat?
Mengapa aku harus pergi?
Cai-na, sudah malam. Kenapa masih di sini?
Kamu mencariku?
Katamu segalanya ditentukan olehku. Kamu akan dengar semua ucapanku.
Tapi aku merasa jawaban ini ada pada dirimu.
Inilah jawaban dariku.
Apa yang terjadi, Cai-na?/ Harusnya aku yang bertanya padamu.
Kamu rela bertualang, rela meninggalkan cinta di mana-mana, jangan bawa-bawa aku.
Mengapa kamu bilang demikian?/ Aku sudah melihatnya.
Ding Qi? Dengarkan aku, Cai-na./ Tak usah jelaskan. Aku tak ingin dengar.
Dengarkan aku./ Ini bukan urusanku.
Aku kemari untuk memberitahumu. Kuharap kamu pergi dari sini.
Entah itu 3 atau 5 tahun. Seumur hidup ini aku tak ingin lagi melihatmu.
Bagaimana dengan birnya? Berwarna hijau dan cukup baru dan langka.
Ini ciptaan terbaruku. Bantu cicipi rasanya.
Sudah datang?
Jelas hari ini aku yang duluan buat janji denganmu. Kenapa lebih awal 10 menit?
Nona Cai-na, karena aku ingin gadis yang memujaku tahu bahwa aku sedang menunggunya.
Mei-zuo, kamu sungguh seorang lelaki yang baik.
Tapi bukankah wanita suka pada lelaki yang kurang ajar?
Tapi akhirnya aku meninggalkan lelaki kurang ajar itu.
Kamu sedang ada masalah?/ Tidak. Tak ada masalah.
Aku memiliki pacar muda yang manis dan perhatian. Orang lain pasti iri padaku.
Pelayan, aku ingin minum bir.
Ambilkan Red Bomb alkohol ganda./ Baik.
Hari ini kamu minum sebanyak ini. Sengaja mau mabuk?
Hari ini daya minumku meningkat.
Red Bomb-mu./ Jangan bersikap bodoh...
Cai-na, kamu baik-baik saja?
Aku merasa beruntung aku tak jatuh cinta pada lelaki kurang ajar.
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Aku akan jadi seperti yang kamu minta
Tak peduli di mana kamu berada, aku akan selalu mengiringi langkahmu
Bicaralah sesuatu. Aku akan meninggalkanmu.
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Katakanlah sesuatu
Minum./ Sudahlah.
Hati-hati.
Nona, kenapa mabuk seperti ini? Cepat papah dia naik./ Ya.
Paman Lu./ Cepat naik.
Sudah sampai di rumahku./ Berbaringlah untuk istirahat sejenak.
Tapi aku masih mau minum. Aku tak mabuk.
Baik, kamu tak mabuk./ Cepat berikan aku bir.
Berbaringlah untuk istirahat sejenak./ Ambilkan bir.
Paman Lu./ Mari...
Mari... Kamu masih bisa minum. Minumlah air hangat.
Apa ini bir?/ Ya.
Bohong.
Apa ini!
Menyebalkan.
Aku tak ingin melihatnya, Paman Lu.
Buang. Buang kelapa busuk itu.
Tapi nona, ini...
Buang. Singkirkan dia dari jarak pandangku.
Baik... Aku buang.
Aku pasti membuangnya.
Kamu baik-baik saja?
Cepat…
Kelapa.
Singkirkan.
Mengapa kelapanya harus dibuang?/ Aku tak ingin melihat kelapa.
Mengapa?/ Di atasnya terdapat wajah Ye Ming-quan yang tersenyum.
Aku tak ingin lagi melihat orang yang menyebalkan itu.
Kamu jangan bersikap bodoh...
Sudah sadar?
Mei-zuo, selamat pagi.
Nona, mari, minumlah jus jeruk untuk menghilangkan rasa mabuk.
Mei-zuo, apakah semalam kamu tak pulang?
Nona lupa? Semalam kamu mabuk kepayang, Mei-zuo yang mengantarmu pulang.
Dia yang menjagamu sepanjang malam.
Maaf, Mei-zuo. Semalam aku pasti sangat memalukan.
Biasa saja. Aku malah pernah melihat yang lebih parah.
Nona, semalam kamu muntah dan ribut-ribut sepanjang malam.
Tak henti-hentinya bicara saat mabuk.
Ribut mau membuang kelapa itu.
Selain itu, katamu kamu tak mabuk, masih sanggup minum.
Apa? Katakan sekali lagi.
Katamu kamu tak mabuk. Masih sanggup minum.
Kalimat terakhir itu./ Terakhir?
Katamu mau buang kelapanya./ Buang ke mana?
Tong sampah di luar.
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Aku tak ingin melihat kelapa.
Mengapa?
Di atasnya terdapat senyuman wajah Ye Ming-quan.
Aku tak ingin lagi melihat orang yang menyebalkan itu.
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Sedangkan aku akan menelan kesombonganku
Kamulah yang aku cintai
Aku mengucapkan selamat tinggal
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Maaf, aku tak bisa meraihmu
Tak peduli di mana kamu berada, aku akan selalu mengiringi langkahmu
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Katakanlah sesuatu, aku hendak melepaskanmu
Wangi sekali./ Ya./ Lezat.
Para pemirsa Now, apa kabar?
Now menyiarkan langsung. Langsung disiarkan Now.
Aku adalah nona Fang pembawa acara kuliner kali ini.
Selamat pemirsa ikut aku datang ke sebuah jalan Kampung Ikan cemilan.
Ibu Dong yang merupakan raja Cumi sedang tren di akun Weibo.
Cuminya menarik para pengunjung sehingga ini menjadi tempat wisata yang tren.
Lihat, wanita yang memakai topi cantik ini adalah pencipta Cumi keluarga Dong.
Ibu, selesai.
Mari. Pesanan kalian. Hati-hati panas.
Ingin pesan berapa tusuk?/ Dua.
Baik.
Ini. Ingin berapa tusuk?/ Dua.
Dua. Pas ada dua.
Ini pesanannya./ Mari makan.
Maaf lama menunggu.
Ibu, yang meja itu dan ini.
Hati-hati panas.
Ini pesanannya. Silakan.
Ibu, sudah.
Ingin pesan berapa tusuk?/ Dua./ Baik.
Halo, Dao Ming-si, sekarang ada waktu?
Kamu sedang mendengarkan atau tidak?
Shan-cai berada di sebuah kampung nelayan dekat Shanghai.
Sudah ketemu?
Kukira dia ditangkap jadi pekerja kuli.
Dia memang sedang kerja keras. Terlihat lelah.
Kamu tahu apa yang sedang dilakukannya?
Dia sedang memanggang cumi. Keringat bercucuran.
Terkena asap sampai tak bisa bicara dengan jelas.
Masih harus menciptakan rasa baru.
Sungguh hebat dia. Inovasi tiada batas.
Kenapa kamu masih termangu? Cepat jemput dia pulang.
Aku tak mau. Kamu saja.
Tapi apa kaitannya denganku?
Aku lebih-lebih tak ada kaitannya.
Dia temanmu. Kamu saja yang pergi./ Kita berdua pergi bersama.
Jangan bodoh. Dia yang meninggalkan aku. Apa alasanku jemput dia?
Kalau ingin pergi jemput, pergilah. Tak usah minta persetujuanku.
Barusan lagu itu sangat indah, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.