The first 200 lines.
- Halo. - Hei, Go Ya.
- Bagaimana kantor barumu? - Di sana sibuk sekali.
Aku meneleponmu untuk memberikan ini.
Ini gajimu bulan lalu.
Terima kasih.
Aku akan sering berkunjung.
- Ya sering-seringlah berkunjung. - Tentu saja.
- Sampai bertemu lagi. - Sampai jumpa. Terima kasih.
Astaga, dia sedang menelepon siapa?
Itu dia. Ji Seok.
Ada apa?
Pencopet?
Pak Min!
Hei!
- Berhenti! - Pak Min.
Kamu baik-baik saja.
Kukira dia mengambil uangmu.
Uangnya
ada di sini.
- Dia hebat. - Ayo.
Kenapa kamu sangat ceroboh?
Bagaimana jika dia punya pisau? Seharusnya kamu tidak mengejarnya.
Berikan kepadaku. Biar aku saja.
Tidak usah. Tanganmu terluka saat jatuh tadi.
Biar aku yang melakukannya. Aku sangat andal memanggang.
Aku tidak tahu itu kastanye panggang.
Kukira itu uang.
Aku tahu kamu bekerja keras untuk mendapatkan uang itu.
Aku tidak mau kamu kehilangannya.
Kenapa kamu menatapku? Kamu membuatku gugup.
Aku tidak menatapmu.
Ini.
- Apa yang kamu lakukan? - Kamu tidak bisa memakai sumpit.
Makanlah.
Letakkan di sini.
Kamu berpura-pura tidak bisa memakai sumpit
agar aku menyuapimu?
Apa yang kamu bicarakan?
Ji Seok, ini bibimu.
Bibi menunggumu di kantor.
Ada apa?
Bibiku menungguku di kantor.
Kalau begitu pergilah.
Tapi aku ingin mengantarmu pulang.
Tidak apa-apa. Aku bisa naik bus dari sini.
Terima kasih untuk semuanya.
Aku sudah lama ingin mentraktirmu makan malam,
dan akhirnya terlaksana hari ini.
Terima kasih banyak
untuk pekerjaan dan gugatannya.
Sebentar.
Kamu mau mendoakan agar aku hidup dengan baik
dan mengucapkan salam perpisahan seperti kali terakhir?
- Apa? - Aku ingin terus menemuimu.
Tentu saja. Aku ingin bilang bahwa aku akan terus membalasmu
mulai sekarang.
Sampai jumpa lagi.
Dia selalu membuatku terkejut.
- Kapan Bibi datang? - Baru saja.
Kenapa tidak menelepon sebelumnya?
Aku tidak selalu ada di kantor.
Tadi bibi lewat sini dan ingin menemuimu.
Kamu dari mana saja?
Aku habis makan malam. Duduklah.
Dalam perjalanan kemari, bibi melihatmu bersama wanita.
Apa itu kamu?
- Bibi melihatku? - Siapa wanita itu?
Aku pernah menceritakan soal klien
yang dituntut oleh ayahnya dan istri barunya
untuk menafkahi, bukan?
Itu dia.
Begitu.
Tapi kenapa kamu bersamanya sekarang?
Dia ingin mentraktirku karena memenangkan gugatan itu.
Begitu, ya. Omong-omong, apa dia tertarik kepadamu?
Tidak.
Dia sangat tidak tertarik kepadaku sampai hatiku terluka.
Menurutmu apa pengacara boleh
menemui klien secara personal
atau menyukai kliennya?
Apa yang Bibi bicarakan?
Itu konyol.
Aku membuat aturan
untuk memperlakukan klien hanya sebagai klien.
Tidak lebih, tidak kurang.
Kamu yakin?
Tentu saja. Klien bagiku,
sama seperti pasien bagi dokter.
Tugasku adalah menyelesaikan masalah mereka.
Tidak peduli kehidupan macam apa yang mereka jalani
atau apa yang membuat mereka senang dan sedih.
Dengan begitu, aku bisa lebih objektif dan adil.
Mustahil bagiku untuk menyukai klienku.
Itu tidak akan pernah terjadi.
Syukurlah.
- Syukurlah? - Apa?
Ya, saat pengacara terlalu dekat dengan klien,
mereka tampak kurang profesional.
Rumor juga bisa merusak reputasimu.
Benar. Mana mungkin Ji Seok tertarik kepada wanita seperti dia?
Tapi rasanya ada yang tidak beres.
Pak Min.
Begini, Pak Min.
Kebetulan aku mendengar pembicaraan Anda
dengan bibi Anda.
Anda dan Nona Choi sering bertemu secara personal.
- Benar. - Tepat sekali.
Meskipun Anda sering menemuinya secara personal,
kenapa Anda bilang tidak pernah menemui klien secara personal?
Aku tidak pernah menganggap Nona Choi sebagai klienku.
Apa? Jika bukan klien...
Tidak mungkin.
Anda tertarik kepadanya?
Tidak boleh?
Aku akan pulang.
- Sampai jumpa besok. - Sampai jumpa.
Kami minta selada lagi.
Baik. Segera.
Maaf.
Astaga, lenganku sakit.
Bisakah tunggu sebentar?
Sebentar. Biar kupastikan apa sudah matang.
Sudah matang.
Silakan, makanlah.
- Astaga, dia membuatku gila. - Ayolah.
Astaga.
- Ada apa? Kamu dari mana? - Apa?
Ya...
- Kamu lihat tanganku gemetar? - Astaga.
Aku harus memotong daging seharian di restoran.
Tanganku mati rasa.
Apa?
Restoran?
Berapa bayaran yang kamu dapat dengan bekerja di sana?
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Lihat ini.
Apa ini?
Pemberitahuan biaya gas,
listrik. Apa ini?
Itu pemberitahuan bahwa kita belum membayarnya.
Mereka akan memutusnya jika kita tidak membayarnya akhir bulan ini.
Bukan itu saja.
Bagaimana dengan tunggakan kartu kredit kita?
Jaket yang kita beli
di swalayan saja harganya lebih dari 5.000 dolar.
Kita juga harus mengirim uang kepada Go Ya.
Jika tidak, akan jadi masalah besar. Apa lagi yang bisa kulakukan?
Ke mana orang-orang yang dahulu kamu bantu?
Kenapa kamu tidak meminta bantuan mereka?
Itu sebabnya aku menelepon Pak Yoon.
Dahulu dia hanya pedagang kaki lima,
tapi aku berinvestasi kepadanya.
Kini dia punya gedung 10 lantai di daerah elite
di Gangnam.
Dia sangat senang melihat penyelamatnya lagi.
Dia membiarkanku bekerja di restoran
di gedung miliknya.
Pikirmu itu akan cukup?
Jangan khawatir.
Aku tidak akan membiarkanmu kelaparan.
Bukan itu yang kukhawatirkan.
Aku tidak bisa hidup di tempat seperti ini.
Aku tidak mau menghabiskan hidupku di tempat kumuh ini.
Itu tidak akan terjadi.
Bagaimanapun, kita akan pindah dari sini.
Kamu tahu alasanku memutuskan bekerja di restoran?
Aku akan merayu Pak Yoon
dan mendapatkan cabang restorannya.
Beri aku sedikit waktu.
Mungkin aku kalah dalam gugatan itu,
tapi bukan berarti aku juga kehilangan hidupku.
Sulit dipercaya.
Apa? Dia tidak mau mengencaniku?
- Apa yang Kakak bicarakan? - Go Woon.
Kakak ditolak pria.
Ini tidak biasa, bukan?
Aku tidak tahu siapa pria itu,
tapi pasti seleranya bagus.
Baiklah. Kamu menantangku, ya?
Baiklah. Aku akan membuatmu tertarik kepadaku.
Lalu nanti aku akan mencampakkanmu.
Pria polos mana lagi yang ingin kamu sakit sekarang?
Dia sama sekali tidak polos.
Dia tukang jual mahal.
Jika tidak mau berkencan denganku,
kenapa dia memberikan ini?
"Aku mengambilnya di jalan."
Dia hanya berpura-pura tidak mau.
Dia sangat aneh.
Saat pulang, kakak mengambil boneka yang dilempar seseorang
agar bisa kakak buang ke tempat sampah,
tapi dia ingin mengambilnya.
Lalu kenapa?
Kakak sudah berusaha menjelaskan bahwa itu bukan untuknya,
tapi dia malah bilang, "Aku tahu. Terima kasih."
Dia hampir membuat kakak gila.
Seakan-akan kakak menghadiahi dia boneka.
Kakak tidak pernah membeli boneka atau menghadiahkannya
sampai hari ini.
Benar, menghadiahkan boneka memang agak memalukan.
No comments yet. Be the first to leave one.