Normal Adolescent Behavior

Normal Adolescent Behavior

Download Indonesian Subtitle

Release info

Normal Adolescent Behavior 2007 480p WEB-HD x264 400MB-Pahe in
A Commentary by Sukroco
Pas lagi garuk-garuk kepala, ada suara retak, diusel-usel bolong, akhirnya dirogoh pake jari, kok kopong? Otakku pindah, aku menunduk, ternyata menggantung dibawah batang meriam.

Tags

web
x264
480p
480
HD
Published on: 2020-01-28
Downloads: 58
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Kami berenam ketemu pas SD...

kami barengan terus dari situ.

Ngeseks,

malam Sabtuan,

tiap hari begitu terus.

Pokoknya bukan ide gue, jangan dengerin mereka.

Kotak ini, selalu ada tiap kami kumpul...

banyak foto-foto, tiap saat kami gila-gilaan.

Aturan kotak ini sederhana.

Masukin sesuatu,

ambil seseuatu,

kasih tahu alasannya...

makanya kotak ini gak pernah kosong.

Aturan kami berenam sangat sederhana...

kumpul terus, seperti keluarga.

Cintai semuanya, jangan pernah menyesal.

normal remaja kelakuan

Wendy!

Wendeh!

Hai!

Hai.

- Tas beli di mana, Target? - Bukan.

Jangan iseng.

Hei, wa-nita!

Beneran gaes? Gak ngeliat?

Ya!

Sesiangan nanti bisa.

Seriusan lu?

- Apa? - Coba liat sini.

- Bakar aja ini topi. - Iya.

Bentar, jangan, jangan.

Ini dari plastik.

Dibakar dikit aja, simbol aja.

Ayo, coba.

Bakar dikit aja, gak masalah.

- Pegang koreknya. - Bakarlah!

- Apa boleh buat. - Bonto Von Dutch, bakar.

Ayo coy.

Astaga, baunya gak enak.

Akhirnya!

Maaf, gak sengaja.

- Apaan? - Gue demen kalung lu.

Jablay.

Oke, acaranya sudah selesai.

- Kemana lagi? - Ann lepasin.

Lu balik?

- Gue nunggu adik dulu. - Eh, salah.

Dah, da-dah.

Topinya gue bawa.

Dah.

Jadi gimana? Gue telpon nanti?

Nanti telpon gue.

Cipok, iya!

Apaan lagi?

Dari kapan lesbian lebih keren daripada nyepongin Rockstar?

- Pernah nyepongin Rockstar? - Lu aja belum.

Terus?

Lu mau nyepongin Rockstar?

Merusak persahabatan kita?

- Itu baru cewek gue! - Ya!

- Sampai jumpa. - Bentar.

Ini masih ngiket.

Dah!

Sampai ketemu lagi.

Bukan mau bakar sekolahan, 'kan?

Lu ngikutin gue?

Gue lagi males sama tongkrongan...

- Tongkrongan? - Iya.

Gue anak baru, belum hafal tempat ini.

Gak banyak yang harus dihafal.

Beneran, lu bukan mau bakar gedung ini?

Bisa dimatiin lampunya?

Oke, sesuai yang gue baca...

dan mau gue coba.

Ternyata!

Elektron bisa bereaksi...

Keren bangat, makanya dinamain...

"eksitasi","agresif," "alpa."

Ada beberapa yang "impure."

Keren bangat itu.

Kenapa gak dicoba pas kelas?

Sebentar banget.

Rahasia lu aman sama gue.

Lu mau cerita ke siapa?

Emak gue kimiawati, gak bisa ngeremehin lu.

Wendy!

Ayo!

Adik gue Nathan.

Biar cepat pulangnya, tolong.

Mau bareng?

- Hai, gue Sean. - Hai.

- Ini ruangan kelas. - Baca The Watchmen?

Gue punya semuanya kalau mau mampir aja.

- Iya, gue baca! - Ini perpus.

- Kalau gak datang aja besok. - Ini ruang rapat.

Tempat musyawarah, saling menghargai tidak seperti di kamar mandi.

Menghargai, itu kata yang sering muncul.

Jadi besok bacanya?

- Besok... - Nathan!

Wendy.

Ini rumah gue.

Itu rumah gue.

Tau.

Lu tau?

Tau dari mana?

Gue sering liat lu.

Tapi gak tau lu siapa.

Gue mau langsung masuk.

Mainlah, ngobrol sama emak gue tentang elektron "impure".

Gue dah paham. Sampai jumpa.

Bagus.

- Kenapa ngundang dia hari Sabtu? - Kenapa enggak?

Hari Sabtu.

Dia datang.

- Hei. - Hai!

Hei.

Hei.

Gue bawa ini.

Gue pikir, lu mau baca ini.

Iya, keren ini, makasih.

Iya?

- Sini. - Jadi...

Makasih sudah ngundang.

- Kita ini tetangga. - Iya.

Eh, buset.

Emak gue cuma bisa bikin Pop Tarts.

Sebenarnya gue yang bikin.

Gue yang bikin semuanya.

Bikin ini buat gue?

Iya betul, lagian juga jarang cowok yang mampir.

Bukan, maksud gue orang.

- Gue jarang kedatangan orang. - Bukan, bukan.

- Bukan... - Iya, iya.

Gak apa-apa, gue gak maksud...

Gue suka masak.

- Begitulah, gue suka masak. - Oke.

Enggak direncanain, pasti bakal aneh.

Gak gue makan itu.

Gue taruh lagi.

Kagak, serius, ini bukan jebakan.

- Gue gak mikir jebakan. - Bagus, cobain dah.

- Ini gampang bikinnya. - Gue mending...

Lu cobain aja!

Iya.

- Gue bersihin. - Lu mau bersihin?

- Gue mau cuci tangan. - Iya, iya.

Gue bersihin biar lu seneng.

Gue tinggal...

Lu sering liat Sean di sekolah?

Jarang, dia transparan, tembus pandang.

Dia dari Chicago.

Dia pindah udah senior?

- Kayaknya. - Banyak yang pindah.

Kelas tiga, banyak yang pindahan.

Kelas kita orangnya itu-itu aja.

Terserah!

Dia itu membosankan, cupu bin kaku!

Kaya ada merpati berakin kepalanya.

Dia sebenarnya baik.

Dia sebenarnya baik?

Baik?

Dia baik?

Dia baik sama Nathan.

Adiklu itu fakir kebaikan, kaya anak anjing atau gelandangan.

Billie.

Apa?

Apa?

Dia itu baik.

Bagi gue Sean biasa aja.

- Kalau kita cewek normal... - Enggak!

Kita bakal nyari yang begitu, perjaka ting-ting.

Langsung hajar.

Untung, kita gak normal.

- Iya. - Oke, sepakat.

Hei.

Gue gak suka sama yang ada di kepala lu.

Seksi tahu.

Soda, bagaimana, mau?

Gue mau.

Pantatlu cakep pake jeans itu.

- Terima kasih! - Sama-sama.

Anjrit.

Astaga.

- Hei! - Hei.

Harusnya gue yang buang itu, gampang kok.

Oke.

- Butuh bantuan? - Tentu, iya.

Oke.

Ayo.

Baik banget, lu mau nemenin Nathan.

Iya, tentu.

Nathan itu aneh, tapi bisa aja keren.

Anehnya kadang-kadang.

Sudah terbukti secara empiris, itu fasenya.

Iya.

Sini, gue bantuin.

Akhirnya.

- Tangannya gak apa-apa? - Iya, cuma rada lengket.

Bukan tanganlu.

- Kirain. - Maksud gue, sampahnya.

Normal Adolescent Behavior subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left