The first 200 lines.
"Home for Summer"
"Episode 15"
Ada orang di dalam.
Celaka. Astaga.
Tunggu.
Aku sudah selesai.
Kenapa ini juga tidak bisa tersiram?
Ini membuatku gila.
Geum Ju, ada apa? Apa yang terjadi?
Kamar mandinya!
Ada apa dengan kamar mandinya?
- Itu ulah Ayah? - Apa maksudmu?
- Geum Dong, itu ulahmu, bukan? - Apa?
Apa yang kamu ributkan pagi-pagi begini?
Seseorang meninggalkan banyak tinja di kloset.
- Apa? - Apa?
- Masuk dan periksalah. - Aku?
Kamu masuklah, Geum Dong.
Aku?
Ayolah.
Separah itukah?
Bahkan ada di dudukan klosetnya.
Astaga. Siapa yang melakukan ini?
Kamu punya bukti itu ulahku?
Tekanan airnya rendah di lantai dua.
- Jadi, aku buang hajat di bawah. - Lantas?
Tidak mungkin itu salah satu keluargaku.
Tidak ada orang lain selain Anda.
Itu bukan ulahku.
Mungkin itu ulah pencuri.
Pencuri?
Entah apa yang terjadi, jadi, jangan salahkan aku.
Setidaknya, Anda harus menyiram itu.
Bukannya aku tidak mau menyiramnya!
Baiklah, itu ulahku. Lantas apa?
Aku sudah tidak tahan, jadi, mau bagaimana lagi?
Klosetku mampat
dan Geum Dong memakai kamar mandi di bawah.
Bagaimana aku tahu tekanan air di lantai atas rendah?
Setidaknya, Anda harus membersihkannya!
Aku sudah berusaha keras.
Aku berjuang lebih dari satu jam dengan alat penyedot.
Itu sebabnya dudukan klosetnya...
Lupakan soal itu. Sudah cukup.
Kamu belum bisa memperbaiki klosetmu yang mampat?
Ya, tolong bantu aku.
Bukankah seharusnya pemilik rumah yang melakukan itu?
Kamu urus itu.
- Aku? - Kamu sudah berjanji kemarin.
- Kamu urus itu. - Aku lagi?
Lebih baik dikerjakan orang yang pernah melakukannya.
Ayah...
- Ayolah. - Baiklah.
Aku akan mengurusnya.
Omong-omong, apa menu sarapan kita?
Selamat pagi?
- Kamu tidur nyenyak, Yeo Reum? - Ya.
- Kamu tidak bermimpi buruk? - Tidak.
Syukurlah.
Ibu sedang membuat gimbap?
Apa?
Aku bersyukur kamu memanggilku "Ibu".
- Kamu suka gimbap, Nak? - Ya.
Gimbap adalah makanan terlezat di dunia.
Gimbap buatan ibumu pasti yang terbaik.
Bagaimana kalau kita membeli buku setelah makan gimbap?
- Kamu tidur nyenyak? - Ya.
Selamat pagi, Pak Han.
Selamat pagi.
Yeo Reum,
kamu tidak akan memanggilnya "Ayah"?
- Ay... - Tidak apa-apa.
Kamu tidak perlu memaksanya.
Itulah yang kamu katakan kemarin.
Katamu, kita sebaiknya memberinya waktu.
Ya, tapi...
Aku akan ke pusat kebugaran.
Tidak sarapan?
Dokter Yoon meminta rekomendasi pusat kebugaran kepadaku.
Kami akan makan siang setelah berolahraga.
- Itu masih lama sekali. - Kenapa?
Aku hendak pergi ke toko buku setelah sarapan.
Maaf, tapi aku sudah berjanji kepadanya.
Apa boleh buat.
Aku sendiri yang akan mengantar Yeo Reum.
- Apa tidak masalah? - Bagaimana jika itu masalah?
- Tapi kubawa mobilnya. - Baiklah.
Bersenang-senanglah di toko buku bersama ibumu.
Baik.
Kamu mau pergi?
- Ya, ke toko buku. - Baiklah.
Untuk apa?
Bukuku sudah dirilis. Aku ingin melihat apakah orang menyukainya.
Kamu menerbitkan buku? Buku apa?
- Buku memasak. - Buku memasak?
Pesan 100 buku, agar ayah bisa membagikannya kepada semua orang.
- Baiklah. - Astaga.
Tidak perlu dibanggakan. Itu memalukan.
Hentikan. Dia bisa dengar.
Aku sudah cukup dewasa untuk tidak sakit hati, Ayah.
- Sampai nanti. - Baiklah.
Kita dipermalukan dengan segala cara.
Memalukan jika kamu menganggapnya memalukan.
Apa?
Kamu tidak tahu betapa kerennya menjadi chef?
Meski keren,
tanyalah pada orang-orang, lebih baik dokter atau chef.
Aku memilih chef.
Ada apa? Kalian akan pergi haiking?
- Ya. - Sampai nanti.
Su Cheol, semak-semak di pekarangan berantakan.
Bukankah ini waktunya kamu memangkasnya?
Ya. Aku akan memangkasnya.
Maafkan aku, Yong Soon. Aku harus memangkas perdu hari ini.
Kamu bisa melakukannya besok. Pergilah haiking sekarang.
Tidak apa-apa. Aku akan melakukannya hari ini.
Yong Soon, kita haiking pekan depan saja.
Tidak apa-apa. Kalau begitu, aku akan memangkasnya bersamamu.
Bagaimana jika tanganmu terluka? Astaga.
Aku akan berhati-hati.
Bagaimana kalau kamu membersihkan dapur, Yong Soon?
Lantainya sangat lengket. Sandalku terpeleset terus.
Begitukah? Baiklah.
Kalau begitu, kamu membersihkan dapur, Yong Soon,
sementara aku memangkas perdu.
Bagaimana kalau kita memangkas perdu
dan membersihkan dapur bersama?
Gyeong Ae, kami boleh melakukan itu, bukan?
Terserah kalian.
Sebesar itukah rasa cinta mereka?
Astaga.
Aku bertemu dengannya di pasar swalayan.
Dia sedang berbelanja bersama istri dan anaknya.
Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
- Seon Gyeong. - Ya, Sang Mi.
- Kamu sedang berolahraga? - Ya.
Kamu terengah-engah.
Santai saja.
Aku berusaha mengikuti Dokter Han
tanpa menyadari betapa lelahnya aku.
Ini Sang Mi.
- Kamu bersama Dokter Han? - Ya.
- Kamu sudah makan siang? - Belum.
Aku akan makan bersama Dokter Han. Kamu ingin bergabung dengan kami?
Baiklah.
Sampai nanti.
Sang Mi akan bergabung dengan kita.
Kalau begitu, kalian makan saja tanpa aku.
Apa? Kenapa?
Sebenarnya, istriku mengajakku pergi ke toko buku bersama Yeo Reum.
Kamu tidak suka aku mengajaknya?
Ya.
Kamu seharusnya memberitahuku lebih awal.
- Kamu sebaiknya segera pergi. - Baiklah.
Dokter Yoon pasti menganggapmu suami yang takut istri.
Apa? Kamu bilang apa?
Kubilang Dokter Yoon pasti menganggapmu suami yang takut istri.
Aku tidak peduli.
Bagaimanapun juga, terima kasih, Sayang.
Yeo Reum, buku apa yang ingin kamu beli?
Katakan, "Aku akan melihat-lihat dahulu."
Aku akan melihat-lihat dahulu.
Kenapa kamu sendirian? Di mana Dokter Han?
Dia pergi ke toko buku bersama istri dan anaknya.
Begitu, ya.
- Dia tahu aku akan datang? - Ya.
Itu sebabnya dia pergi.
Apa maksudmu itu sebabnya dia pergi?
Dia tidak bisa memberitahuku karena dia tidak enak membatalkan janji,
tapi dia pergi setelah mendengar kamu mau datang.
Dia sangat perhatian.
Mungkinkah dia berlagak perhatian?
Untuk apa?
Mungkin saja
dia ingin menunjukkan dirinya pria penyayang
dari keluarga bahagia.
Untuk apa dia berusaha menjadi pria penyayang?
Benar sekali.
Aku juga tidak tahu kenapa dia berusaha sangat keras.
- Ayo pesan makanan. - Baiklah.
- Kira-kira berapa usianya? - Apa?
Maksudku putra Dokter Han yang bernama Yeo Reum itu.
Kurasa usianya sekitar enam tahun. Kenapa?
Tidak apa-apa.
Aku tidak ingat siapa yang memberitahuku,
tapi kudengar Dokter Han mencoba bayi tabung, tapi gagal.
Aku pasti salah dengar, bukan?
Tentu saja. Maksudku, Yeo Reum tidak mungkin jatuh dari langit.
Benar?
Perlu kutanyakan kepadanya?
- Kamu mau? - Tunggu. Tidak.
Tidak sopan jika aku menanyakannya.
Benar atau tidak, tetap tidak sopan.
Kita pesan makanan saja.
Entah aku harus membelikannya apa karena ini sangat baru bagiku.
Aku juga. Ada banyak buku untuk anak-anak.
Mungkin seharusnya kutanya temanku yang punya anak sebelum kemari.
Kita bisa memilih yang mana saja.
Yeo Reum, pilihlah buku yang ingin kamu baca.
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.