The first 200 lines.
Sudah berapa lama kau tidur dengan Chess?
Kau menghabiskan banyak uang
karena memanjakannya?
Tidak.
Aku menggunakannya untuk membantu keluargaku.
Membantu keluargamu?
Kurasa tidak.
Dia memakai semua barang mahal itu.
Kau yang membelikan itu semua, 'kan?
Benar.
Aku membelikannya semua barang itu.
Kau sepertinya hanya fokus pada uang.
Apa kau mau tahu kenapa aku melakukannya?
Kenapa? Katakan saja.
Karena dia mendengarkanku.
Walau dia hanya pura-pura peduli,
itu sepadan dengan uang yang kubayarkan padanya.
Tapi setidaknya,
dia membuatku merasa
akhirnya ada orang yang mendengarkanku.
Apa hubungan kita seburuk itu?
Kau selalu memperlakukanku seolah aku bukan bagian dari keluargamu.
Kau seperti tak mau bicara denganku.
Aku mencintaimu dan keluargamu.
Aku selalu membelamu.
Tapi apa hasilnya?
Aku masih orang luar di matamu.
Bukan seperti itu sama sekali, Chol.
Kau selalu membuatku bekerja dengan jabatan rendah,
walaupun itu perusahaanmu.
Apa aku wanita bodoh yang menjalani kehidupan yang tak masuk akal?
Kau tahu?
Aku sangat takut kau akan mengetahuinya.
Tapi sekarang,
aku merasa sangat lega.
Rasanya menyenangkan sekali.
Jika seburuk itu kita bersama, kita harus cerai.
Baik, jika itu yang kau inginkan.
Tapi aku tak akan pergi dengan tangan kosong.
Uang yang kau investasikan di perusahaan
dari keluargaku.
Aku harus mendapatkan saham atau sesuatu.
Aku sudah mengembalikan semua uang itu
pada keluargamu berabad-abad yang lalu.
Lalu, ada uang sakumu.
Berapa banyak yang kau dapat?
Itu tak cukup bagimu?
Kaulah yang tak setia.
Kau tak akan mendapatkan apa pun
jika aku membawamu ke pengadilan.
Tuntut aku jika kau mau.
Silakan.
TAMASYA
Chess?
Kau belum tidur?
Belum.
Apa ada masalah?
Pupha tahu.
Sepertinya aku harus mengundurkan diri.
Tidak perlu.
Dia orang yang tenang. Dia tak akan melakukan apa pun.
Selain itu, dia mungkin tak mau siapa pun mengetahui hal ini.
Tapi jika kau merasa tak nyaman,
mungkin kau harus mencari pekerjaan lain untuk berjaga-jaga.
Aku punya beberapa koneksi. Aku akan membantumu.
Jangan terlalu memikirkannya.
Aku janji tak akan menyusahkanmu.
Cholly.
Bagaimana denganmu?
Kau baik-baik saja?
Ada yang bisa kulakukan untuk membantu?
Aku baik-baik saja.
Sebenarnya itu tak seburuk yang kau pikirkan.
Dia menyebutkan perceraian,
tapi aku tak tahu apa selanjutnya. Kami belum membahasnya.
Mungkin akan lebih baik jika kami cerai,
jadi aku akhirnya bisa melakukan hal yang kuinginkan.
Peng?
Aku harus pergi.
Kau mau menemui Chess?
-Ya. -Masuklah ke dalam.
Aku baru saja selesai bicara dengannya.
Jangan terlalu banyak berpikir jika kau punya perasaan pada Chess.
Aku membayarnya dengan uang.
Peng.
Katakan saja yang ada di pikiranmu.
Bisa kau ikut denganku untuk minum?
Lebih baik tidak.
Kau tahu
aku sangat lelah sekarang?
Aku juga harus bekerja besok.
Tapi aku benar-benar perlu bicara denganmu.
Bisakah kau ikut denganku?
Boleh kutanyakan sesuatu padamu?
Jika aku mau hubungan kita lebih dekat,
apa itu mungkin?
Peng, bukankah sudah kubilang?
Aku tak tertarik pada komitmen.
Kenapa?
Hubungan itu
penuh omong kosong.
Omong kosong?
Apa yang bukan omong kosong bagimu?
Uang?
Aku bisa membayarmu jika kau mau.
Kau baik-baik saja?
Aku mau bir.
Bisakah kau minum bersamaku?
Cream.
Kau sudah mengemas kopermu?
Tidak, tapi bisa kulakukan dengan cepat.
Kau harus bergegas. Kau lamban.
Aku selalu takut tertinggal pesawat setiap kali bersamamu.
Hei, itu hanya sekali ke Tokyo. Kenapa kau mengeluh?
Bukankah maksudmu Taiwan?
Apa yang kau lakukan? Kupikir kau tak suka media sosial.
Aku menguntit putrinya Anan.
-Kenapa? -Menurutku, ada yang aneh.
Aku juga merasa begitu.
Kulihat mereka bertengkar malam ini.
Benarkah?
Menurutku, Atra jelas menyukai Nu.
Kurasa tidak.
Lalu, si bungsu
seperti menyerahkan dirinya pada Nu.
Dia tak peduli Nu mengencani kakaknya.
Kenapa kau peduli?
Bukankah menyenangkan jika mereka bertengkar?
Astaga, jangan bilang kau...
Sial.
Bagaimana kau bisa begitu jahat?
Benarkah?
Sulit dipercaya.
Aku mau minum. Aku tak bisa tidur.
Ke mana? Mau kucarikan sesuatu?
Tidak, aku muak berada di sini. Aku mau pergi ke mezanin.
Bisakah kau mengumpulkan geng?
-Tentu. -Kirim pesan.
Kau yang harus kirim pesan.
Kau saja.
-Kenapa? -Aku hanya tak mau.
Kita pergi atau tidak?
Baiklah, akan kulakukan.
Bagaimana bisa?
Semuanya mungkin berubah
setelah bersama cukup lama.
Tapi kau langsung bilang masih mencintainya.
Kau orang yang baik.
Jika aku mau punya pacar suatu hari nanti,
aku mau dia sepertimu.
-Hei. -Apa yang kau inginkan?
Cream.
Kau melupakan sesuatu?
Tidak, lihat ini.
-Apa? -Ada yang mau kutunjukkan padamu.
Xena dan Pupha?
-Ya. -Astaga.
Apa salahku?
Kau tak melakukan kesalahan apa pun.
Tapi kita tak bisa melakukan ini.
Tidak bisa.
Mengerti?
Ayah?
Xena, kemarilah.
-Ayo! -Sky?
Sky?
Sky!
Ada apa?
Kau masih marah padaku?
Mesa, bisakah kau menunggu di kamar kita?
Kita akan bicara lagi nanti.
Sky, aku...
Apa yang kau lakukan?
Bukan itu yang kau pikirkan.
Jadi, apa yang kulihat?
Kau mau tidur dengannya.
Kau tak mengerti?
Kau seorang ayah.
Anan.
Teganya kau melakukan ini padaku.
Itu putriku.
Sialan.
Itu putriku!
Semua ini salahmu.
Kau harus mengambil tanggung jawab.
Aku sudah bilang kau adalah bagian dari keluargaku.
Teganya kau melakukan itu pada keluargaku.
Putriku masih remaja.
Lihat wajahku!
Ingat itu.
Kau tak mau beri tahu ayahnya lebih dulu?
Tidak bisa.
Karena Natee adalah ayahnya.
Kau yakin?
Sejak kapan?
Mungkin berbulan-bulan yang lalu.
Maaf.
Aku tak menginginkan semuanya menjadi seperti ini juga.
Jangan salahkan dirimu sendiri.
Aku bisa menangani ini.
No comments yet. Be the first to leave one.