The first 200 lines.
Baiklah, aku pernah bergantung padamu.
Aku memang menyukaimu,
tapi kita tidak bisa memiliki orang yang kita sukai begitu saja.
Tapi aku tidak apa-apa.
Aku bisa memahami
keadaanmu.
Pikirmu aku tidak punya harga diri?
Asalkan kamu tidak apa-apa, asalkan kamu bisa menerimanya,
aku hanya perlu berterima kasih?
Aku mungkin lebih miskin,
tapi aku berhak menolak.
Serta berhentilah menjadikan mimpi burukmu sebagai alasan.
Jika kamu tidak bisa mengatasi itu,
bagaimana kamu bisa memikul bebanku?
- Go Ya. - Kamu sangat beruntung.
Orang yang mengalami masa sulit
bahkan tidak bisa bermimpi buruk sekalipun mereka ingin.
Hidup mereka amat kacau
sampai tidak ada waktu untuk hal seperti itu.
Jadi, tolong
sadarlah.
Go Ya.
Aku hanya orang yang berbeda.
Jadi, kumohon
lupakanlah aku.
Aku mengerti perasaanmu.
Aku tidak sadar selama ini telah menyulitkanmu.
Aku minta maaf.
Aku hanya memedulikan
diriku sendiri.
Baiklah.
Aku akan melupakanmu.
Pria yang baru saja keluar tadi bersama siapa?
Pria yang baru saja keluar tadi bersama siapa?
Ada apa?
- Liftnya rusak? - Benarkah?
- Ada orang di dalam? - Kurasa begitu.
Begitu dia masuk, liftnya langsung mati.
Awalnya dia menggedor pintunya,
tapi kemudian tidak ada suara.
Ada yang terjebak di dalam lift?
Pak, tolong buka pintunya.
Kita harus menunggu teknisi datang.
Aku sudah menghubunginya, dia segera datang.
Ada kamera CCTV di sini? Aku ingin melihat keadaannya.
Aku sudah memeriksanya,
tapi listrik padam, jadi, kameranya juga mati.
Listrik padam?
Tolong nyalakan lampu.
Dia mengidap niktofobia.
Pak Min, ini aku. Aku di sini.
Aku ada di balik pintu ini. Kamu bisa mendengarku?
Tolong jawab jika kamu mendengarku.
Katakan sesuatu!
Kamu bilang sudah tidak bermimpi buruk.
Kenapa kamu ketakutan di dalam?
Pak Min, jawab aku.
Pak Min!
Pak Min.
Bagaimana ini?
Aku berbohong kepadamu.
Aku tidak bersungguh-sungguh saat memintamu melupakanku.
Aku sangat menyukaimu.
Jadi, tolong
tetap bersamaku, ya?
Kamu harus bernapas.
Kamu bilang ingin berbagi beban denganku.
Tolong lakukan itu. Aku juga akan melakukannya.
Tolong jawab aku.
Kamu mencariku?
Kamu mencariku?
Aku hendak pergi.
Aku hendak melupakanmu.
Tapi aku harus mengatakan ini.
Kamu bukan sekadar orang yang berbeda bagiku.
Kamu spesial.
Maukah kamu memberiku satu kesempatan lagi?
Mau tanya apa?
Apa ini?
Apa itu?
Aku menemukannya di kamar San Deul.
Ini kartu tarot.
Apa? Kartu tarot?
Bibi bisa meramal nasib menggunakan kartu tarot.
Jadi, ini seperti permainan kartu Korea.
Kamu menggunakannya untuk meramal nasib.
Benar.
Baiklah. Cukup.
Astaga, Bu!
Ya. Ini ibumu.
Sedang apa Ibu di sini?
Kenapa menatapku seperti itu?
Bu, ada apa?
Apa yang kamu sembunyikan dengan aroma parfummu?
Aku tidak menyembunyikan apa pun.
Bajuku bau makanan karena menghadiri acara tim.
Tunggu. Aroma apa ini?
Aroma apa?
Ibu pernah menciumnya.
Aromanya mirip dupa.
Baunya menyengat dan tajam.
Tunggu, apa kamu
merokok lagi?
Tidak. Aku sudah lama berhenti merokok.
Berikan tasmu.
Apa yang Ibu lakukan di tengah jalan?
Ibu sudah melarangmu merokok.
Bukankah ibu sudah bilang merokok itu berbahaya?
Astaga.
Apa ini?
Bukankah ini sama saja?
Kenapa kamu membawa ini? Katanya ini untuk meramal.
Itu...
Itu hanya hobi.
Hobi?
Sewaktu kecil, aku suka bermain kartu Korea.
Sama seperti saat Ibu meramal menggunakan kartu itu,
aku juga meramal dengan kartu ini sebagai hobi.
Diamlah!
Bu.
Banyak hal lain yang bisa kamu jadikan hobi.
Kenapa harus melakukan ini sebagai hobi?
Jangan pernah melakukan ini. Mengerti?
- Bu. - Kenapa kamu tidak menjawab?
Kamu tidak mau berjanji kepada ibu?
Baiklah. Aku berjanji.
Aku tidak pernah mengingkari janji, bukan?
Baiklah. Ingatlah betapa berartinya kamu bagi ibu.
Kamu adalah hidup ibu.
Jika tahu itu, kamu tidak akan membohongi ibu.
Biar kubereskan.
Tidak apa-apa.
Ibu tidak mau
kamu tertarik dengan hal-hal seperti ini.
Kamu tahu alasannya, bukan?
Aku tahu.
Nenek adalah seorang dukun.
Benar. Ibu dan kakak ibu
selalu menjadi bahan ejekan.
Jadi, jauhi hal-hal seperti ini.
Selain itu,
jangan merokok.
Ayahmu meninggal karena kanker paru-paru
bahkan sebelum kamu lahir. Kamu tahu itu, bukan?
Aku tahu.
Biar aku saja. Tas itu berat.
Tidak apa-apa.
Kamu sudah memakai tas ini sejak menjadi guru.
Tas ini membuat ibu lebih bahagia dan bangga
dibandingkan tas penuh uang.
Aku merasa sangat bersalah kepada Ibu.
Aku berbohong kepadamu.
Aku tidak bersungguh-sungguh
saat memintamu melupakanku.
Aku sangat menyukaimu.
Jadi, tetaplah bersamaku, ya?
Kamu harus bernapas.
Tapi aku harus mengatakan ini kepadamu.
Kamu bukan sekadar orang yang berbeda bagiku.
Kamu spesial.
Maukah kamu memberiku satu kesempatan lagi?
Memangnya boleh mengunggah video seperti ini ke internet?
Tidak. Mau tuntut mereka?
Tidak perlu.
Aku setuju.
Sejujurnya, jika kamu mengizinkan,
aku akan menyimpan video ini selamanya.
- Apa? - Bagian favoritku yang ini.
"Aku sangat menyukaimu."
Aku hampir menangis.
Sangat menyentuh.
Biar kuberi tahu bagian favoritku.
"Kamu bukan sekadar orang yang berbeda. Kamu spesial."
Setelah tahu perasaan masing-masing, jangan berubah pikiran.
Pria harus menjaga sikapnya,
tapi kini video kita beredar di internet.
Kamu yang harus bertanggung jawab.
- Itu konyol. - Berjanjilah kepadaku.
Baik.
Setelah semua kejadian ini, aku yang akan bertanggung jawab.
Kamu bersungguh-sungguh?
Kamu tidak akan menyuruhku menjauh lagi, bukan?
Tidak akan.
Aku tidak akan menyembunyikan perasaanku lagi.
Aku ingin bersamamu.
Aku lega.
Genggam tanganku.
Jangan pernah
melepaskan genggaman tangan kita.
Apa pun yang terjadi.
Jangan melihat ke belakang.
Kenapa kalian berdua?
Ya?
Yang satu tampak begitu senang,
yang satu lagi tampak tertekan.
Eun Seok, kenapa telingamu?
Digigit.
- Digigit? - Digigit apa?
Begini... Maksudku...
Digigit anjing.
No comments yet. Be the first to leave one.