Release info

결혼작사-이혼작곡-Love-ft-Marriage-S02-E07-NEXT-NF
결혼작사-이혼작곡-Love-ft-Marriage-S02-E07-WEB-DL-NF
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Published on: 2021-07-03
Downloads: 19
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

- Mengenai teman-temanmu berkuda. - Ya?

- Apa yang kalian bicarakan? - Masalah hidup.

Pria sekarang lebih cerewet daripada wanita.

Para pria di tempat kerjaku juga begitu.

Wanita suka merendahkan suami saat berkumpul?

Kadang merendahkan, kadang membanggakan.

- Bagaimana denganmu? - Aku tentu…

tak bilang apa-apa.

- Rupanya aku tak memenuhi ekspektasimu. - Tak begitu.

Tak baik terlalu membanggakan diri.

Orang-orang tak begitu menyukainya.

Padahal aku sering membanggakanmu.

Apa yang kau banggakan?

Semuanya. Mulai dari membuatkan sarapan.

- Sudah seharusnya begitu. - Tidak.

Mereka kebanyakan tak sarapan. Mereka sangat iri padaku.

Rekan kerja dan teman-temanku.

Kenapa mereka semua tak tahu bahwa kesehatan suami penting?

Mereka tercengang saat tahu pakaian dalamku disimpan di kulkas.

Kau pantas diperlakukan dengan baik.

Kau pun begitu.

Aku ingin memperlakukanmu seperti ratu, tapi aku terlalu sibuk bekerja.

Yang kau lakukan sekarang sudah cukup. Aku tahu kau melakukan yang terbaik.

Kita saling memedulikan satu sama lain, ya?

Jika kita mengecek kecocokan saat sebelum menikah,

hasilnya pasti menyatakan bahwa kita ditakdirkan bersama.

- Ya. - Kau mau cek sekarang?

Harus ada orang yang bisa mengecek dengan benar.

Apa kau membohongiku selama ini?

KLUB BERKUDA BUNDANG

Aku mengandalkanmu. Kau cantik sekali.

Tunggu sebentar.

Ya, Pak. Aku sedang di tempat berkuda.

Sekarang? Baiklah.

Aku harus berapat. Sutradara Yoo Min-jae ingin bertemu.

Cepat pergi. Hubungi aku jika sudah selesai.

Ya.

Pak, titip kudaku. Aku ada urusan mendadak.

- Baik. - Terima kasih.

Bada, ayahmu sangat penyayang.

Ibu sangat merindukan ayahmu,

tapi ibu harus menahannya.

Bukankah begitu?

APA YANG HARUS KULAKUKAN PADANYA?

Nenek, Ibu tak bisa dihubungi.

Kenapa kau menelepon ibumu?

Aku ingin tahu kapan Ibu pulang.

ANAK ANJINGKU

Mungkin akan pulang bersama ayahmu.

Haruskah aku menelepon Ayah?

Ayahmu pasti masih menunggang kuda.

Kuda bisa terkejut mendengar suara ponsel.

Sepertinya benar kata orang bahwa penakut bermata besar.

Nenek juga penakut?

Ya.

KAU BISA BERBOHONG TANPA MENYESAL, DASAR JALANG

Ada apa?

Aku mau mengajak kencan.

Tak mau? Kau tak senang melihatku?

Kenapa begitu?

Minumlah sesuatu di ruang tunggu. Aku ganti baju dulu.

Ada restoran ayam yang enak di dekat sini.

Aku tak mau makan ayam hari ini,

tapi aku tak keberatan jika kau mau.

Benar juga. Butuh waktu lama untuk memasak ayam.

Minumlah teh. Kau berkeringat tadi.

Tak perlu. Aku minum air putih saja.

Dokter Cho tak datang ke sini?

Tidak.

Sebenarnya, aku datang karena mendengar sesuatu yang konyol

- dari Si-eun. - Apa katanya?

Profesor Park pernah ke sini,

- dan melihatmu. - Lalu?

Katanya kau menunggang kuda bersama wanita muda.

Di antara anggota klub yang kukenal, tak ada wanita muda…

Saat kali pertama berkuda di Yongin,

aku bertemu gadis remaja.

Belum lama ini, kami bertemu lagi di sini.

Pasti dia.

- Berapa umurnya? - Dia sudah dewasa sekarang.

Aku tak mengenalinya, tapi dia mengenaliku.

Seharusnya dia menyapa jika melihatku. Atau tak perlu bilang apa-apa.

Dia malah membuat seakan-akan aku bersalah.

Karena dia pernah selingkuh, apa semua hubungan jadi mencurigakan?

Sama seperti standar dirinya.

Sekarang, aku tak bisa berkuda dengan tenang.

Kau bahkan menghampiriku.

Aku bingung.

Setelah mendengar itu, aku ingin langsung memeriksanya.

Aku mengerti.

Omong-omong, kau tak bisa memercayaiku?

Aku percaya, tapi aku kaget dan tak bisa berpikir

untuk sesaat.

Aku memang mengenal beberapa anggota wanita,

tapi hanya sekadar menyapa saat bertemu mereka.

Maaf. Aku kehilangan akal sehatku tadi.

Biar kupanggilkan sopir untuk bawa mobilmu.

Tak perlu. Kita pulang dengan mobil masing-masing saja.

Kau flu?

Karena berkeringat tadi.

Aku mau mampir ke sauna dulu untuk menghangatkan diri,

sekalian beli makanan hangat.

Baik.

Halo.

Halo.

- Apa kau istrinya Pak Shin? - Ya.

- Apa kau Dokter Cho? - Ya.

- Aku dengar banyak hal mengenaimu. - Aku juga.

Pak Shin sering membanggakanmu.

- Sampai jumpa lagi. - Ya.

Halo, Pak Lee.

Ya.

Begitu rupanya.

Baik.

Baiklah.

Aku mengerti.

Kau tak perlu mengkhawatirkannya.

Aku kehilangan akal sehatku untuk sesaat.

Aku tak seharusnya mencurigai suamiku.

Dia iri melihat orang lain bahagia saat keluarganya hancur.

Dia seharusnya tak mencampakkan istri yang sangat setia seperti sepatu usang.

Manusia sungguh tak dapat diduga.

Terima kasih makan malamnya.

Hari ini menyenangkan.

Sampai jumpa.

Ya.

Berakhir begitu saja?

Aku tak punya alasan untuk mentraktirnya lagi.

Apa dia sengaja tarik-ulur?

Jika tak tertarik, kenapa memberikan anggur

dan membayarkan tagihan kami?

- Di mana selendang di ruang kerja? - Kenapa?

- Kau simpan di mana? - Sudah kubuang.

Tak kubuang, tapi kumasukan ke sampah daur ulang.

- Kapan? - Mana aku ingat?

Kenapa tak tanya dulu?

Bukankah harganya murah? Pasti akan terus dipakai jika tak dibuang.

- Memangnya kenapa? - Itu tampak norak.

Pengacara harus terlihat berkelas.

Kenapa kau begitu terobsesi dengan selendang itu?

Aku membelinya untuk dipakai.

- Bukan karena pemberian wanita itu? - Bukan.

- Kau tak mungkin mengakuinya. - Jangan mengada-ada.

Mau suka atau tidak, itu milikku.

Apa kau senang jika aku membuang semua riasan milikmu

karena aku tak menyukainya? Setidaknya tanya dulu.

Apa kau pikir bisa mengelabuiku?

Sungguh bukan pemberian wanita itu?

Bisakah kau bersumpah atas nama orang tuamu?

Aku berusaha setengah mati untuk menahan diri.

Jangan buat aku marah.

Aku akan ambil mobil sebelum pukul 22.00.

Baik. Terima kasih.

Bagaimana respons sutradara?

Terlihat biasa saja.

Entahlah. Aku tak yakin bisa terpilih.

Semua orang dapat tiga kesempatan dalam hidup.

Kurasa inilah waktunya.

Kau akan dapat banyak tawaran.

Bukankah kue dimakan saat merayakan sesuatu?

Kau menyukai kue.

Simpanlah di kulkas dan makan saat kau tak nafsu makan.

Bisakah kau pergi besok?

Setidaknya hari ini saja. Kita tak pernah melalui malam bersama.

Membuka mata bersama,

dan minum secangkir kopi

untuk kali terakhir.

Kita tak tahu apa yang akan terjadi.

Jangan menganggap ini yang terakhir.

Jangan memberikanku harapan palsu.

Pergilah.

Tak ada bedanya pergi sekarang atau sejam lagi.

Apa kau pernah terpikirkan

untuk meninggalkan semuanya dan memilihku sekali saja?

Aku sering memikirkannya.

Namun, tak bisa?

Aku tak menyangka

kau akan menyingkirkanku semudah ini.

Jangan bilang begitu.

Jangan bicara seolah aku mencampakkanmu.

- Kau tahu aku tak begitu. - Entahlah.

Aku tak tahu.

Sejujurnya, aku pun tak yakin

bisa bertahan tanpa melihatmu.

Makanya kubilang, tak tahu apa yang akan terjadi.

Mungkin aku akan kembali lagi kepadamu besok setelah semua ini.

Aku mau kita tetap berusaha dan mencoba.

Ini bukan untukku.

Kariermu baru saja berjalan lancar. Hal baik selalu diikuti hal buruk.

Bagaimana jika hubungan kita terungkap?

Impianmu bisa hancur dalam sekejap.

Aku takut itu terjadi.

Aku takut merugikan hidupmu.

Jika aku tak keberatan?

Aku menyukai pekerjaanku

dan ingin terus lebih baik.

Namun…

pekerjaan dan kesuksesan tak bisa menjadi tujuan hidup.

Tak tahu bagaimana denganmu, tapi aku begitu.

Aku lebih memilih cinta.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left