The first 200 lines.
Aku sudah gila, aku sungguh sudah gila
Aku sangat membencimu Karena kau meninggalkanku
Cinta ini begitu mudah berakhir
Meskipun aku tahu kau tak akan kembali
Aku sudah gila, aku sungguh sudah gila
Aku sungguh gila saat itu Karena tak bisa menangkapmu
Kau telah meninggalkanku
Yang tersisa hanyalah momen singkat kita
Hei!
Sial.
Kau benar-benar membuatku gila.
Setidaknya mahir salah satu. Kenapa nyanyian dan tarianmu sama-sama buruk?
Hei, Joo-hee! Tahan!
Lihat wajahnya menua setelah lulus kedokteran.
Aku hanya menyayangkan aku tak bisa ikut Miss Universe.
"TENTANG CINTA" CHOI BAEK-HO
Astaga. Lagu ini lagi?
Kenapa di hari yang indah ini…
Hei, bukankah laguku yang paling tepat dinyanyikan di hari kelulusan?
- Di… - Di hari ketika hujan lebat
Hei!
- Aku duduk di kedai kopi kuno - Kenapa kau ini? Sial.
- Dengan segelas wiski doraji - Sial.
- Mendengarkan suara saksofon yang dalam - Mendengarkan suara saksofon yang dalam
- Sekarang… - Sekarang, di usia ini
Mungkin sebuah patah hati tak ada manisnya
Entah kenapa hatiku
- Terasa hampa - Terasa hampa
- Dan menghilang - Dan menghilang
TENTANG CINTA
EPISODE 11
Bolehkah aku bercerita
soal hari ketika aku diadopsi?
Tentu. Ibu juga penasaran.
Adopsiku dibatalkan dua kali.
Astaga. Apa mereka tak menyukaimu?
Aku takut dan cemas
akan segala hal.
Saat itu,
kakak dan orang tua angkatku datang ke panti asuhan
untuk melakukan kegiatan sukarela.
Aku tidak tahu alasannya,
tapi mereka tampak harmonis.
Begitu?
Di hari mereka datang,
perasaanku sudah berdebar sejak pagi
dan setiap melihat mereka pergi,
aku menangis.
Aku juga ingin pergi bersama mereka.
Setelah itu, di hari yang dingin,
kakakku mengajakku ikut bersamanya sambil memberikan sarung tangan hangatnya.
Ayo ke rumahku.
Ayo tinggal denganku.
Hari itu
adalah hari paling bahagia
dalam hidupku.
Bu Lee Gyeong-suk.
- Apa? - Bu Lee Gyeong-suk.
Bu Lee Gyeong-suk, apa dalihmu mengirimkan penagih utang ke klinikku?
Kenapa?
Kau pikir itu tidak adil?
Kau tidak pernah ada dalam masa laluku.
Di usiamu ini,
kau pasti tahu bahwa hidup itu tidak sepele.
Semua orang punya kisah.
Setelah bertambahnya usia, aku malah makin paham.
Meski hidup ini tak bisa dianggap sepele
dan punya kisah yang mendalam,
tetapi membuang anak…
bukanlah hal benar.
Lantas?
Jangan lagi
sembarangan menghubungiku dan orang-orang di sekitarku.
Setidaknya aku yang melahirkanmu.
Jangan kirim lagi penagih utang ke klinikku.
Aku belajar dan mendirikan klinik itu berkat uang orang tuaku.
Rupanya begini sifatmu.
Apa kau memang sekasar ini?
Setelah menjalani hidup yang kau persembahkan,
ini bukanlah apa-apa.
"Kasih sayang ibu"?
Simpan saja hal itu sendiri dalam hidupmu.
Meski aku tak tahu itu benar-benar ada atau tidak.
Bagiku,
orang tuaku adalah ayah dan ibuku yang sekarang.
Orang-orang berkata,
"Entah orang tuamu baik atau buruk,
kau tetap harus berterima kasih kepada mereka yang melahirkanmu."
Kau tidak boleh bersikap begini.
Aku hanya berterima kasih
kepada orang yang selama ini merawatku, meski tidak melahirkanku.
Kita tidak akan bertemu lagi,
jadi, kuharap kau mengingat dengan baik apa yang kusampaikan hari ini.
Semoga kau selalu sehat.
Ini sudah berlalu
seperti angin.
- Ya? - Kau sudah menemuinya?
Ya.
Seharusnya aku menemanimu.
Aku memikirkanmu seharian.
Kau baik-baik saja?
Lumayan baik.
Hari ini kau sibuk, 'kan?
Sedikit.
Akhir-akhir ini, aku tidak bisa ke klinik setiap hari.
Aku merasa bersalah padamu.
Jika seperti rencana awal,
maka seharusnya kau sedang berada di Amerika sekarang.
Kita bisa sering bertemu seperti ini.
Itu jauh lebih baik.
Suasananya sepi.
Benar.
Taman yang diguyur hujan juga menyenangkan.
Mau mendengarkan musik?
Musik apa yang kau sukai?
Aku tak begitu tahu soal musik.
Lalu, musik apa yang Mi-jo sukai?
Aku tahu kau menyukai Rachmaninoff.
Aku juga suka "Tentang Cinta".
Lagu lawas itu?
Ya. Ayahku sangat menyukainya.
Karena sering mendengarkannya, aku menjadi menyukainya.
Mau dengar lagu itu?
Tidak. Kita dengarkan lagu di daftar putarmu.
Lagu yang kudengar akhir-akhir ini…
Mau dengar ini?
Lagunya bagus.
Terdengar lebih bagus karena didengar saat hari hujan.
BALAI PERINGATAN HAESOL
BALAI PERINGATAN HAESOL
SURAT KONTRAK KOLUMBARIUM JEONG CHAN-YOUNG
Perlu ibu buatkan sesuatu? Kau lapar, 'kan?
Tidak. Aku ingin minum saja.
Ibu sudah melihat surat kontraknya?
Selagi masih ada waktu, kupikir lebih baik mempersiapkannya satu per satu.
Lebih baik bagaimana?
Bukan soal lebih baik,
tapi mungkin Ibu dan Ayah nantinya takkan sempat…
Kau takut tidak ada tempat untukmu,
sehingga kau ke sana di saat yang berharga ini?
Aku tidak ingin
membiarkan kalian mengurusi hal-hal semacam itu.
Kau tidak mencoba untuk bertahan hidup lebih lama,
tapi justru mengunjungi tempat peristirahatan terakhir itu?
Apa itu yang harus kau lakukan sekarang?
Maafkan aku.
- Lebih baik kau berobat saja. - Ibu.
- Berobatlah. - Ibu!
Jika memulai pengobatan,
aku bahkan tak bisa bertengkar dengan Ibu begini.
Aku hanya bisa berbaring di kamar pasien.
Kau pergi dengan siapa?
Ke sana?
Dengan teman-teman.
Aku datang.
- Hei. - Dari mana?
Aku baru bertemu temanku.
Katanya putra Jeong-pal akan menikah.
- Begitu. - Itu bagus.
Padahal dia sangat mencemaskan putranya.
Wanitanya sedang hamil.
Begitu.
Kau sudah makan siang?
Ya, aku makan siang dengan Ibu.
Pernikahan karena hamil?
- Sudah lima bulan. - Astaga.
SURAT KONTRAK KOLUMBARIUM
Bacalah baik-baik.
Ibuku mungkin akan menanyai kalian.
Ibumu pasti menangis.
Mungkin Ibu menangis di luar
karena hanya matanya yang merah.
Seharusnya jangan biarkan ini sampai ketahuan.
Kau sungguh ingin melakukan ini sekarang?
Kalian sama saja dengan ibuku.
Mana mungkin aku ingin?
Aku juga ingin menyelesaikan masalah dengan caraku sendiri.
Jadi, kenapa harus melakukan itu?
Melakukan hal baik saja sudah cukup menyedihkan.
Jangan mengomel lagi. Aku lelah.
Apa masalahmu sudah kau bereskan?
Masalah apa lagi?
Aku sudah menemuinya.
Aku memintanya untuk tidak menghubungiku dan orang-orang di sekitarku lagi.
Lantas, dia bilang apa?
Aku juga tidak tahu.
Aku langsung pergi setelah mengucap beberapa kalimat tajam padanya.
Bagus. Itu bagus.
Mungkin saja aku dihukum.
Omong kosong.
Jika kau dihukum hanya karena itu, maka neraka akan meledak.
Apa salah menolak sesuatu yang salah?
Kau begitu objektif menanggapi masalah orang lain,
tapi kenapa begitu subjektif soal masalahmu?
Kau pikir ibumu akan senang dengan membawa surat itu?
Kami saja begini, bagaimana dengan ibumu?
Astaga. Dia mulai lagi.
Sudah.
CHA MI-HYEON
Ya?
No comments yet. Be the first to leave one.