The first 200 lines.
"Syuting drama ini disaksikan oleh wali sang aktris cilik"
Yul.
"Episode 5"
Seo Yul.
Kurasa Yul menyaksikan pembunuhan itu.
Jika pembunuh itu menemukannya...
Seo Yul.
Seo Yul!
Nak.
Di mana kamu?
Kemarilah.
Datanglah kepadaku.
Nak, di mana kamu?
Nak.
Hei.
Kamu di dalam sini?
Kamu di sini?
Di sini?
Rupanya kamu di sini.
Kamu mencari ini?
Kembalikan.
Berikan kepadaku.
Tadi aku lewat sini
dan melihatmu keluar dari sini.
Apa kamu Yul?
Ya.
"Real Estat Geumsung"
Kamu melihat sesuatu.
Melihat apa?
Kamu memberikan sandal wanita yang sudah mati itu.
Orang berpikir kamu melihat sesuatu hari itu.
Benarkah kamu melihat sesuatu?
Mungkin wajah pembunuh itu?
Tidak.
Aku hanya menemukan sandalnya.
Aku bahkan tidak tahu pemiliknya.
Jika melihat sesuatu, kamu harus jujur.
Jika pembunuhnya tidak tertangkap, kamu juga bisa terancam.
Jika kamu takut memberitahuku,
sebaiknya kita bicara dengan ayahmu?
Astaga.
Aku melihat apa ada yang menarik.
Ada banyak hal menyenangkan.
Kenapa itu menyenangkan?
Apa? Dasar...
Kembalikan. Itu milik ibuku!
Jika tidak kuberikan ini kepadamu, tidak memberi tahu ayahmu,
atau memberikannya kepada polisi,
itulah yang kumaksud menyenangkan.
Lalu, apa yang akan kamu lakukan?
Beraninya kamu bicara seperti itu kepada orang dewasa.
Memang apa yang akan kamu lakukan?
Sial. Kamu yang melempar itu, Bu?
Bukan "Bu" saja, tapi Bu Pimpinan!
Kurang ajar.
Sial. Kembali!
- Kemari! - Ikuti aku.
Kemarilah.
Kemarilah. Dia bilang apa kepadamu?
Jangan katakan apa pun!
Hentikan.
Hentikan!
Tunggu. Bukankah itu mobilku?
Ini ulahnya!
Bukan. Wanita ini...
Hei!
Jangan beranjak!
Kamu...
Sial.
Siapa pun, tolong!
Ke arah sana, bukan?
- Astaga. - Astaga.
Bukankah sudah kubilang?
Bagaimana bisa penjahat seperti dia masih tinggal di lingkungan kita?
Dia bahkan coba menyakiti seorang gadis kecil!
- Bagaimana aku bisa merasa aman? - Aku tidak pernah...
- Dia mendorongnya dengan tangannya. - Dia pantas mendapatkannya.
Andai aku tidak ada di sini...
Seo Yul.
Ayolah. Ada penjahat berkeliaran di lingkungan kita.
Jangan biarkan dia keluar sendirian di malam hari!
Lihat dia!
Kamu menyakiti anakku?
Kamu baik-baik saja?
Tidak. Aku tidak menyakitinya.
Apa dia gila?
Ada apa dengan pria itu?
Situasinya bisa berakhir sangat buruk.
Kamu baik-baik saja?
Di mana sepatumu? Kamu terluka?
Apa yang terjadi?
Yul. Katakan perbuatan pria itu kepadamu.
Entah apa yang terjadi.
Saat aku keluar, dia berlari ke arahku.
Lalu pria itu memarahinya.
Kamu baik-baik saja?
Astaga.
- Mereka seharusnya menangkapnya. - Kamu baik-baik saja.
- Apa yang terjadi? - Dia baik-baik saja.
Aku harus menanyakan sesuatu kepadanya.
Terima kasih sudah bantu mencarinya.
Aku akan bicara dengan putriku.
Baiklah. Pergilah.
Ini sebabnya
kita tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk ke sini.
Bagaimana bisa ada penjahat di lingkungan kita?
- Benar, bukan? - Benar.
"Swalayan MS"
Jadi, kamu membebaskan Lima Dolar?
"Polisi"
Sejujurnya, aku mencurigai sesuatu.
Detektif Choi lebih sering berlatih daripada aku.
Tingkat kinerjanya juga tinggi.
Aku percaya dia akan bekerja dengan baik.
Jadi, kupikir aku salah.
Kukira kali ini bukan dia.
Kami membebaskannya terlalu mudah.
"Polisi"
Jika dilihat, dia pasti pelakunya.
Minumlah.
- Tidak. - Apa? Ada apa?
Kamu tidak suka kacang merah? Mau yang isi sayuran?
Tidak. Kurasa bukan dia pelakunya.
Benar, bukan?
Ibu juga sempat berpikir begitu.
Kalian menemukan kejanggalan?
Dengar. Jika memang menyaksikannya,
Yul pasti mengatakan sesuatu saat dia ditangkap
atau dirawat di rumah sakit, bukan?
Maka, dia tidak mungkin bisa lolos.
Jika takut, dia tidak bisa mengatakan apa pun.
Bagaimana jika dia mengancamnya karena menyaksikan perbuatannya?
Yul bertelanjang kaki.
- Apa? - Bertelanjang kaki?
Ya. Seolah dia harus segera melarikan diri.
Jika Lima Dolar menyekapnya dan Yul melarikan diri darinya,
dia tidak mungkin membiarkan orang lain melihat mereka bersama.
Benar, bukan?
Dia bertelanjang kaki?
Kita harus menyelidikinya.
"Polisi"
Ada apa?
Astaga. Apa yang kamu lakukan? Hei!
Kamu kemari karena perkataan wanita tua itu?
Aku hanya lewat dan dia sangat tidak sopan.
Jadi, aku hanya memberinya pelajaran.
Tidak! Jangan buka itu! Yang benar saja.
Kenapa? Ayolah. Hentikan! Sial.
Jadi, polisi di lingkungan ini tidak memedulikan
hak atau privasiku?
Baiklah. Geledah rumahku. Lakukan sesukamu!
Apa?
Apa yang kamu inginkan dariku?
Kamu apakan sepatunya?
Kenapa kamu mencari sepatunya di sini?
Kamu pikir aku mencuri sepatunya?
Tidak. Itukah yang dia katakan?
Dia bilang aku mencuri sepatunya?
Ayolah.
Kenapa kamu masuk ke rumahku tanpa surat perintah penggeledahan?
"Polisi"
Kamu tahu? Aku mengikuti ujian CPNS
agar punya pekerjaan tetap sebagai polisi.
Lantas?
Apa yang kamu inginkan dariku?
Aku tidak peduli soal melindungi rakyat atau menegakkan keadilan.
Aku mengerti.
Berkat kamu, aku berhasil kabur saat itu.
Tolong aku.
Kumohon.
Tolong aku.
Kumohon.
Kumohon.
Benar. Aku ingin kamu kabur.
Bukan membiarkanku mati?
"Kabur dan matilah di tempat lain."
"Maka, di sini aman."
"Selama di sini aman, aku baik-baik saja."
Itulah yang kupikirkan.
Itu sebabnya saat Dae Sung membawamu kepadaku,
aku berharap bukan kamu pelakunya.
Agar kedua gadis itu mati bukan karena aku.
Aku tidak membunuh mereka! Ayolah.
Sebaiknya begitu.
Mungkin kinerjaku kurang cakap, tapi aku akan mengawasimu.
Tapi jika kamu pelakunya,
aku akan bertanggung jawab
karena membiarkanmu pergi hari itu.
Bertanggung jawab? Bagaimana kamu akan melakukannya?
Maksudku, kamu tidak perlu melakukan itu. Aku...
Kubilang bukan aku pelakunya.
Kalau begitu, jangan membuat masalah lagi.
Hiduplah seolah kamu tidak ada.
Sial.
Baik, Pak.
Baiklah. Sampai jumpa besok.
Aku yakin ada lebih dari sepatu.
Aku tidak tahu apa itu.
Bagaimana dengan waktunya?
- Apa? - Pikirkanlah.
No comments yet. Be the first to leave one.