The first 200 lines.
"Episode 25"
Ini makan keluarga pertama dan terakhir
yang pernah kita nikmati bersama.
Aku akan mengurus Jung Hyo.
Dan aku ingin
kamu menceraikanku.
Apa?
Bercerai?
Ya. Kita bercerai.
Aku mungkin masih mengharapkan sesuatu darimu.
Aku ingin ikut campur dalam hidupmu.
Aku menginginkan hal yang sama untuk Min Soo juga.
Itulah satu-satunya hak yang kumiliki.
Karena aku terisolasi secara sosial, aku hanya bisa memikirkan
mengharapkan banyak dari keluargaku dan mencampuri hidup mereka.
Aku benar-benar memahamimu,
tapi sulit memahami kenapa kamu ingin mengurus Jung Hyo.
Ada dua alasan aku melakukannya.
Bagi wanita hamil, bersama ibu lebih baik
daripada bersama suami atau ayahnya.
Sekeras apa pun mereka mencoba, pria tidak akan mengerti kehamilan.
Apa aku salah?
Kedua,
aku tidak bisa melepaskan peranku sebagai seorang ibu.
Kalau boleh jujur,
aku bahkan tidak bisa berpikir untuk menyerah.
Aku sudah hidup seperti ini selama beberapa dekade.
Aku mungkin
takut kehilangan peranku sebagai seorang ibu.
Mungkin itu penyebab
aku tidak bisa melepaskan Sang Jin dan Min Soo.
Itu sedih dan menyedihkan,
tapi aku harus mempertahankan mereka demi uang.
Karena aku tidak pernah meninggalkan rumah selama beberapa dekade.
Tapi aku menyadari
bukan itu yang kuinginkan.
Jung Hyo membuatku menyadarinya.
Aku tidak menginginkan uang.
Aku hanya mempertahankan posisiku sebagai ibu.
Aku juga menyadari peranku sebagai seorang ibu
membuatku menerima hal yang lebih menyedihkan daripada hanya uang.
Kamu ingin dipuji atas perbuatanmu untuk keluargamu.
Bukankah karena itu kamu sangat menyakitiku?
Kapan aku...
Tapi apa yang sudah kamu lakukan untuk keluarga kita?
Itu yang kamu katakan setiap hari
sejak kamu menjadi kapten
dan aku mulai tinggal di rumah.
Saat Min Soo tidak mendapat nilai bagus,
saat aku memberimu lauk yang sama,
saat aku lupa mencuci baju, saat aku tidak membersihkan piring.
Setiap kali kamu mengatakannya, aku berteriak di dalam hati.
Aku merawatmu dan anak kita.
Aku menabung uang untuk biaya kuliah anak kita.
Tanganku selalu basah karena bekerja keras di dapur.
Aku kehilangan orang tuaku yang membesarkanku.
Aku kehilangan pekerjaanku, aku lupa tentang tren.
Aku kehilangan semua yang kumiliki
dengan melepaskan segalanya demi kamu dan anak kita.
Aku menjalani setengah hidupku untuk menjaga keutuhan keluargaku.
Aku sudah hidup sebagai istrimu dan ibunya
untuk mempertahankan keutuhan semuanya.
Keterlaluan jika kamu memintaku melepaskan semuanya.
Sampai sekarang aku begitu, aku akan terus melakukannya.
Aku akan hidup sebagai seorang ibu.
Di situlah aku akan mulai dari awal lagi.
Apa yang kamu lakukan di depan semua orang?
Apa yang kulakukan?
Kamu bicara omong kosong. Bercerai?
Aku sudah memutuskannya.
Sudah waktunya kamu memutuskannya.
Kamu datang ke sini tiba-tiba dan mengumumkan itu.
Kamu menyuruhku mengikuti saja keputusanmu?
Apa kamu meminta izinku saat berselingkuh?
Apa kamu berdiskusi denganku sebelum memiliki anak?
Setidaknya kamu bisa memberitahuku apa yang mengubah pikiranmu.
Aku tidak berubah pikiran.
Aku hanya membuat pilihan yang aku tunda.
Tapi kenapa harus sekarang?
Aku bisa memberimu waktu jika perlu.
Berhenti bertindak terlalu jauh.
Kita memang sudah terlalu jauh.
Hingga aku ingin berhenti sekarang.
Rasanya seperti mobil dengan rem rusak
yang melaju di jalan bebas hambatan.
Benar-benar mengerikan
selama bertahun-tahun.
Sejak kapan kamu seemosional ini?
Kamu orang yang rasional.
Aku tahu kamu mengatakan hal-hal yang tidak serius karena emosimu.
Kalau begitu, biarkan aku bersikap rasional.
Aku lapar. Ayo makan.
Tapi...
Itu terlalu banyak gula. Jangan langsung dihabiskan, ya?
Memang kamu pikir kamu tidak begitu?
Kamu dahulu makan dua sekaligus.
Kamu memohon ibu membelikanmu donat puntir
setiap kali ibu pergi untuk mengumpulkan uang.
Ibu habiskan semua uang yang ibu kumpulkan untuk donat puntir.
Benarkah?
Makanlah yang banyak.
Lagi pula, meski gigimu membusuk, gigi yang baru akan tumbuh.
Makanlah semaumu.
Rasanya baru.
Apa maksudmu?
Mendengarkan cerita masa kecilku.
Ibu masih ingat dengan jelas.
Kamu tumbuh dengan cepat.
Rasanya baru kemarin kamu sebesar Yoo Yeon.
Astaga. Putrimu sudah tumbuh besar.
Siapa ini? Cucu perempuan?
Berhenti mengoceh omong kosong, teruslah berjalan.
Kita hindari membuat hal-hal buruk.
Tapi tetap saja, sudah lama sekali kita tidak bertemu.
Kita harus saling menyapa.
Bukankah begitu, Bibi?
Nenek. Siapa dia?
Manis sekali.
Jangan sentuh dia.
Se Young.
Kamu tidak boleh bersikap begitu kepadaku.
Aku kakakmu. Kakak.
Kakak?
Halo, Bibi.
Halo.
Kamu pasti putrinya Se Young.
Semua orang memperhatikan. Ayo pergi.
Mau ke mana?
Ini reuni keluarga setelah sekian lama.
Hentikan sebelum aku marah.
Apa katamu?
Akulah yang sangat kesal seumur hidupku.
Berani benar kamu mengatakannya!
Ayo pergi.
Ya, ampun. Bagaimana bisa ada orang tidak tahu malu begitu?
Padahal aku berniat menyambut mereka.
Dia pasti merasa bersalah karena begitulah cara dia menjalani hidup.
Ya, ampun.
Ibu. Bawa pulang Yoo Yeon.
Kamu mau apa?
Pergi saja kecuali Ibu ingin Yoo Yeon tahu.
Nenek. Ibu bagaimana?
Ada yang harus dia bicarakan dengan bibimu.
Yoo Yeon mau menyanyikan lagu yang nenek ajarkan kemarin?
Ayo kita menyanyi bersama.
Kamu bisa mendengar suaramu lebih baik jika menutup telingamu.
Tutup telingamu.
"Di kebun di luar desa"
"Akasia mekar penuh"
"Kelopak bunga putih"
Kamu bilang kamu marah.
Katakan kenapa kamu marah.
Kamu sudah gila?
Berhenti mengomel
dan katakan faktanya saja.
Kamu tidak tahu apa artinya fakta.
Maksudku, kamu harus mengatakan yang sebenarnya.
Apa? Kamu meremehkanku?
Meremehkan?
Memangnya kamu layak diremehkan?
Katakan saja kenapa kamu marah kepada ibuku.
Astaga. Semuanya.
Lihat wanita ini.
Bagi ibunya, menghancurkan keluargaku tidaklah cukup.
Sekarang dia meremehkanku dan bersikap gila terhadapku.
Astaga.
Semuanya. Lihat wanita ini.
Lihatlah wanita tidak tahu malu ini
yang membuat gadis muda hamil
karena tidak mampu membayar uang judi.
Bukannya memikirkan kesalahan dirinya sendiri,
wanita jahat ini
terus bersikeras dia seorang wanita simpanan.
Simpanan? Siapa yang jadi simpanan?
Dia tidak pernah menginginkannya.
Dengarkan aku baik-baik.
Itu penculikan dan pemerkosaan.
Di zaman modern,
menghabiskan bertahun-tahun di penjara adalah kriminal.
Beraninya kamu menyalahkan kami.
Kamu sudah gila?
Aku benar-benar gila.
Mana bisa kamu mengharapkan aku waras?
Ibuku yang tidak bersalah
disalahkan sepanjang hidupnya.
Mana mungkin anaknya bisa waras.
Lalu itu salahku?
Tidak ada yang bilang itu salahmu.
Karena itu tutup mulut dan tundukkan kepalamu.
Jangan berani menegakkan kepalamu dan menyalahkan ibuku.
Salahkan saja orang tuamu.
Sekarang kamu benar-benar mencari masalah?
Tentu. Ayo lakukan.
Aku tidak akan melakukannya di sini.
Aku akan membawanya ke pengadilan jika aku mau.
Semua orang di sini tahu apa yang dilalui ibuku.
Mereka semua saksinya.
Mereka tahu siapa ayahku,
tapi tidak ada kompensasi.
Kamu ingin aku menuntutmu?
No comments yet. Be the first to leave one.