The first 200 lines.
- Pagi. - Pagi.
Aku tebak kau ingin isi bensin?
Ya, itu harapanku.
Maaf, tapi tangki bahan bakar kami kosong.
Masih menunggu truk bensin untuk datang.
Bensinku hampir habis. Apa ada SPBU lain dekat sini?
Tidak hingga 100 mil lagi.
Sial.
Kau bisa menunggu di restoran samping sana.
Saat truk bensinnya datang, aku akan memanggilmu.
Tak apa. Aku akan tunggu di mobil.
Kau akan mati untuk pai rhubarb kami.
- Semoga harimu indah. - Kau juga.
- Jangan bekerja terlalu keras. - Jaga dirimu.
- Aku mencintaimu. - Aku mencintaimu.
...Polisi melaporkan jika dua orang berhasil kabur...
...dengan sekitar $700,000...
...dari Buckeye Western Fidelity Bank of Arizona.
Saksi melihat Pinto hijau...
...dengan bumper belakang rusak yang meninggalkan bank...
...sekitar pukul 06.20 pagi ini.
Halo?
- Pagi. - Pagi.
- Bagaimana kabarmu? - Baik.
- Silakan duduk di mana saja. - Terima kasih.
Mau aku bawakan kau kopi?
Ya, itu akan sangat bagus.
- Krim? - Tidak, terima kasih.
Kau dengar yang terjadi di SPBU?
- Apa? - Tangkinya kosong.
Berkata dia menunggu truk bensin untuk datang?
Aku harap kau tak buru-buru sampai ke suatu tempat.
Sebenarnya, aku buru-buru.
Besok ulang tahun putriku,
Dan aku bisa habiskan hari ini bersama dia.
Aku harap truk bensinnya segera datang.
Aku juga.
Di mana putrimu?
Dia di Carlsbad bersama ibu dan ayah tirinya.
Carlsbad. Aku tidak tahu itu di mana.
Itu di California. Itu sekitar empat jam dari sini.
Indah. Bunga di mana-mana. Pantai.
Kurang lebih kebalikan dari tempat asalku.
Terdengar menawan.
Ya.
Apa isi kotak itu?
Alat potong terkini.
- Kau wiraniaga pisau. - Benar.
Kupikir kenapa tak mencoba melakukan penjualan sembari menunggu.
Aku tak ada rencana membeli pisau.
Tak ada yang begitu.
Begini saja, aku habiskan kopiku,
Laku aku tunjukkan dan peragakan peralatanku.
Dan mungkin aku bisa membuatmu berubah pikiran.
- Ya, oke. - Oke.
- Kau mau melihat menunya? - Tidak, terima kasih.
Pai kami sangat terkenal.
Ya, aku melihat promosinya.
Aku rasa aku belum pernah mencoba ru... Rub...
- Rhubarb. - Ya, terima kasih.
Tidak, ini terlalu dini untuk pai.
Mungkin untuk di bungkus.
Untuk ulang tahun putrimu.
- Oke. - Bagus.
- Dari mana asalmu? - Dari mana-mana.
- Bagaimana denganmu? - Aku asli sini.
- Siapa nama putrimu? - Sarah.
- S-A-R-A? - S-A-R-A-H.
Kau punya koran?
- Tentu. Tapi koran kemarin. - Tidak masalah.
Terima kasih. Itu bagus.
- Aku harap dia suka. - Kau punya anak?
Tidak. Aku dan suamiku tidak diberkati dengan anugerah itu.
- Aku turut menyesal. - Tidak apa.
Jika kau ingin gunakan telepon,
Memberitahu anakmu akan akan terlambat,
Itu di sebelah sana.
- Oke. Terima kasih. - Tentu.
Hei, kawan.
Bensinnya habis.
Aku menunggu truk bensin datang.
Harusnya tak lama lagi.
Kami agak buru-buru, Bung.
Kau tak punya jeriken di sana?
Kami punya banyak jeriken,
Tapi kami tak punya isi didalamnya.
Kau bisa menunggu di restoran samping...
...dan menunggu hingga truk bensinnya datang.
Kami akan isi bensin di SPBU berikutnya. Terima kasih.
Kecuali kau punya cukup bensin untuk menempuh 100 mil.
Sayangnya, kau terjebak di sini hingga truk bensinnya datang.
Kalau begitu aku rasa kami akan tunggu di restoran.
Aku bisa cukup membuka itu.
Jangan.
Kau mau ke mana?
Aku akan masuk ke restoran. Aku akan pesan kopi.
Kita tetap di mobil hingga truknya datang.
- Kau serius? - Aku serius.
Di dalam mobil ini sangat panas.
Takkan ada yang mengenali kita di sini.
- Kau tidak tahu itu. - Aku tahu mereka mungkin punya AC.
Ini mungkin kopi layak terakhir yang kita minum...
...selama beberapa bulan ke depan.
Siapa yang tahu cairan gipsi jenis apa yang mereka punya di Meksiko?
Kopi di sana mungkin dari Meksiko.
Omong kosong.
Kita tetap di dalam mobil.
Kawan, cobalah untuk rileks, oke?
Bajingan.
- Pagi. Bagaimana kabarmu? - Halo.
- Kau menunggu truk bensin? - Ya, Bu.
Silakan duduk di mana saja.
Mau aku bawakan kopi?
Ya. Dua, tolong.
- Krim? - Tidak, kopi hitam biasa.
Bajingan. Di sini lebih panas.
Terima kasih, sayang.
Hei, bisa kami minta tolong agar nyalakan AC-nya?
Maaf, tapi AC-nya rusak.
Kalian mau makan sesuatu?
Tidak. Mungkin nanti. Terima kasih.
- Oke. Cukup beritahu aku. - Ya.
Luar biasa. AC-nya rusak.
Truk bensinnya sebaiknya segera datang.
Dan jika tidak?
Kita bawa mobil berengsek itu.
Dia mungkin juga kehabisan bensin.
Oke, kita bawa mobil wanita itu.
Kau melihat lebih dari satu mobil di luar sana?
Dengar, seperti yang orang tadi bilang,
"Truk bensinnya harusnya sampai sebentar lagi."
81. Ambil uangnya dan kabur
Apa yang kau lihat?
Maaf. Aku tak bermaksud mengagetkanmu.
Kelihatannya kau hanyut dalam lamunanmu.
Sesuatu seperti itu.
Kau mau tunjukkan pisau itu padaku?
Oke.
Itu memang terlihat cantik.
Bagus. Ini adalah pisau Odachi.
Ini dibuat dari baja terkuat di Jepang.
Ini setajam dan sekokoh layaknya pedang asli Jepang lainnya.
Gagangnya diukir tangan dari kayu...
Dari kayu kayu gelap...
- Mahoni? - Gagang mahoni. Terima kasih.
Di titik presentasi ini,
Aku biasanya membawa kaleng aluminium, lalu buah tomat...
- ...untuk tunjukkan ketajamannya. - Tidak masalah.
Aku bisa tahu itu sangat tajam hanya dari melihatnya.
Kau melakukannya dengan baik.
Terima kasih.
Kau tak apa?
Apa orang-orang di bilik...
Apa mereka melihat kita?
Ya.
Apa kau...
Apa kau mendengar tentang perampokan bank pagi ini?
- Di Buckeye? - Ya.
Itu ulahmu?
Jangan lihat. Itu mobilnya.
Bagaimana menurutmu?
Aku rasa mereka terlihat tipe perampok.
Aku juga berpikir begitu.
- Aku akan hubungi suamiku. - Tidak, kita tunggu dulu.
Kita tak mau cepat menarik kesimpulan...
- ...tentang orang. Aku tahu perkataanku... - Kau bilang itu mobilnya.
Ini terlihat mencurigakan. Lanjutkan presentasimu.
Dengan apa?
Jual pisau itu padaku.
Aku tak bisa. Aku tak punya buah tomat.
Kau tak bisa melakukannya tanpa tomat?
Tidak.
Itu seperti di semprot merica. Kau pernah di semprot merica?
Mereka mulai semprotkan itu ke matamu...
Rasanya seperti terbakar di mana-mana. Kau tak bisa menghilangkannya.
Biar kuberitahu yang jangan dilakukan seandainya matamu di semprot merica.
Jangan berikan itu air,
Karena aku membuat kesalahan itu.
Apa yang mereka lakukan di sana?
Entahlah. Melakukan percakapan?
Kantor sherif.
Hei, Virginia, apa Charlie sudah datang?
Sudah. Sebentar.
- Charlie! - Ya, Virginia.
Istrimu menelepon.
Aku segera ke sana.
Tutup teleponnya.
Ya.
Astaga. Dia menutupnya.
Kau butuh waktu lama untuk datang ke sini.
- Apa dia bilang? - Tidak ada.
Beritahu aku jika dia telepon lagi.
- Kau tak mau telepon dia balik? - Tidak.
Dia mungkin menelepon soal AC.
Kapan kau akan mencari telepon baru, Charlie?
- Siapa yang kau hubungi? - Suamiku.
Kau tahu kami siapa?
Hanya dua orang yang menunggu bensin.
Aku rasa kau tahu lebih dari itu.
Kau orang yang merampok bank pagi ini.
No comments yet. Be the first to leave one.