The first 200 lines.
Aku akan kembali.
Preman!
Siapa?
Bukan.
Kenapa kamu masuk pemandian wanita?
Ini pemandian pria!
Bukan.
Salah!
Dasar!
Mau gosok tunggu sebentar.
Mana ponselku?
Ponsel.
Mana tasku?
Bukan, mana ponselku?
Kamu seorang gadis,
untuk apa masuk pemandian pria?
Aku mau pulang!
[Episode 1 Aku Mau Pulang]
Katakan sendiri.
Hari libur besar,
kamu ke pemandian pria,
apa yang kamu lakukan?
Jangan marah lagi.
Untuk apa perhitungan dengan seorang gadis kecil?
Bagaimana aku berbisnis?
Wajahku,
wajah, wajah, wajahku,
mau taruh di mana?
Hari ini 25 Desember 1999.
[Stasiun TV Tie Yuan Berita Malam]
Enam hari lagi kita akan menyambut tahun milenial yang melangkahi abad,
memasuki abad ke-21 yang baru.
1 Januari 2000, di hari ini,
akan menjadi puncak kelahiran bayi.
Bayi-bayi milenial pertama akan lahir.
Berikut ini adalah laporan Wartawan Fang
dari berbagai rumah sakit.
Li Qingtong!
Kenapa tidak membangunkanku lagi?
Jam berapa?
Sudah jam berapa?
Kenapa alarm ponselmu tidak bunyi?
Li Jinbu,
kamu lihat ponselku tidak?
Di mana ponselku?
Aku...
Li Jinbu,
aku ada kegiatan sosialisasi nanti malam.
Kamu makan malam sendiri ya.
Berhenti!
Kamu kelas mana?
Aku...
baru membuka pintu mau masuk.
Baik.
Aku lihat CCTV.
Tidak perlu 'kan?
Guru Wang,
hari ini ada perbaikan jalan di rumahku, jadi macet.
Li Jinbu.
Mohon hormati aku!
Lain kali buat alasan baru!
Kali ini sungguh...
renovasi ulang.
Cepat pergi.
[Selamat Datang Atas Kehadiran Para Orang Tua]
Untuk apa kamu berpakaian begini ke sekolah?
Ikut rapat orang tua.
Siapa yang memberitahumu tentang rapat orang tua?
Kenapa?
Kamu kira kamu tidak memberitahuku,
aku tidak tahu?
Guru Wang yang memberitahuku.
Ikut rapat orang tua, perlu berpakaian begini?
Awas.
Ini baju siapa?
Tas bermerek dari mana?
Kuperingatkan,
jangan sembarangan pegang, ini sangat mahal.
Cepat pulang.
Makan malam sendiri.
Kamu mau apa lagi?
Kuperingatkan.
Dilarang sembarangan bicara,
dilarang membual.
Jika tidak bisa melakukannya, pulang sekarang.
Tidak perlu ikut rapat orang tua lagi.
Kamu pergilah sana.
Aku bisa berkata sesuka hatiku.
Saat aku berbicara di Rapat Puluhan Ribu Orang,
kamu entah masih di mana.
Bukan.
Tahun lalu kamu juga tidak ikut rapat orang tua, Li Qingtong!
Li Jinbu, aku sudah memberimu muka.
Siapa yang memanggil nama ibunya saat di luar?
Cepat pulang.
Satu,
dua...
Perkataan orang zaman dulu sangat bagus.
Dekati orang baik akan menjadi baik, dekati orang jahat akan menjadi jahat.
[Selamat Datang Atas Kehadiran Para Orang tua]
Li Jinbu bisa punya pencapaian hari ini,
sama sekali tidak bisa dipisahkan
dengan tingkat kebudayaanku sendiri.
Itu...
Keluarga berpendidikan melahirkan orang berbakat.
Dimulai dari Ayahku,
keluarga kami terus menegakkan
gaya keluarga intelektual.
Berusaha memelihara suasana keluarga
yang mencintai pembelajaran dan pengetahuan demi anak.
Sesuai dengan moto sekolahku,
berita luas, bertekad kuda.
Jadi ini juga adalah...
Bertekad kuda?
Li Jinbu kami...
- Kalimat apa ini? - ...prestasinya...
- Seharusnya bertekad kuat. - ...bisa terus...
- Perluas pengetahuan, bertekad kuat. - ...meningkat...
...alasan utamanya karena
Li Jinbu kami
pintar, suka belajar,
teguh, rajin,
berpenampilan luar biasa.
Bisa dikatakan, dia mewarisi semua
gen hebatku.
Terima kasih.
Bualannya boleh juga.
- Bagus. - Ibu Li, izin tanya.
Kamu sekolah di mana?
Universitas Fu Dan.
Aku juga dari Universitas Fu Dan.
Perluas pengetahuan, bertekad kuat.
Kamu angkatan berapa?
Sungguh kebetulan.
Itu, Guru,
kamu angkatan berapa?
Aku angkatan 01.
Aku angkatan 02.
Kita tidak seangkatan.
Kamu jurusan mana?
Sas... Sastra Mandarin.
Sastra Mandarin?
Kelas kalian ada yang namanya Wang Xiaoyu 'kan?
Seharusnya iya.
Sungguh kebetulan.
Aku dan Guru Wang satu ruangan kantor.
Nanti selesai rapat,
kita para alumni berkumpul bersama.
Tidak apa-apa, Guru Wang.
Berkumpul atau tidak, tidak penting.
Bagaimanapun, waktu berlalu begitu cepat.
Bertemu lagi juga belum tentu saling kenal.
Benar tidak?
Sebenarnya, masuk universitas apa, tidak penting.
Yang terpenting pembelajaran itu sendiri.
Memangnya,
hanya dengan masuk universitas ternama,
kamu baru pantas miliki kehidupan yang indah?
Tentu tidak.
Aku ada urusan, pamit dulu.
Semoga kalian hidup bahagia dan makmur.
Sampai jumpa.
Terima kasih. Sampai jumpa.
Terima kasih, Guru.
Pulang.
Bukankah sudah kubilang,
jangan membual, jangan membual.
Bisakah berpikir sebelum berbohong?
Siapa yang bohong?
Aku mendaftar ke Fu Dan, tapi tidak lulus.
Jadi aku menjadikannya sekolah dalam hatiku.
Apa tidak boleh?
Hatimu yang tentukan di mana sekolahmu?
Kamu pernah kuliah tidak?
Siapa yang tidak pernah kuliah?
Kamu pernah kuliah,
mana sertifikat kelulusan?
Perlihatkan padaku.
Li Jinbu, sudah ya.
Gurumu memeriksa universitasku,
kamu memeriksa sertifikat kelulusanku.
Kenapa? Ramai-ramai memeriksa pemalsuan?
Berhenti!
Jangan pasang muka seperti itu.
Aku habiskan banyak uang
agar kamu bersekolah di tempat yang begitu baik,
bukan agar kamu mengkritik diriku.
Baik.
Uang sekolah mahal,
aku tidak mau sekolah lagi.
Aku tidak ingin menjadi bebanmu.
Terserah kamu!
Li Qingtong,
kamu tidak bayar uang listrik lagi?
Bersulang.
Direktur Xu.
Kuberitahu.
Paket ini,
kamu tidak perlu mempertimbangkan harga lagi.
Ada pantangan apa?
No comments yet. Be the first to leave one.