The first 200 lines.
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF
Tak ikut?
Aku pandai mencari tempat.
Karena sering menonton di bioskop ini.
Kau datang untuk menonton film denganku, bukan?
Mereka mengabaikanku?
Tenanglah, Bapak Anggota Majelis. Ada banyak orang di sini.
Ayo. Kau datang untuk menonton film denganku, bukan?
Ada masalah apa sampai harus menyogok penerjemah?
Rupanya kau sedang syuting sinetron yang tak kuketahui.
Sebelum menjadi sungguh sinetron,
aku harus mencari tahu lebih lanjut.
Cari tahu apa?
Cara menyiram dia dengan air?
Ayo.
Aku tak mau banyak berkomentar
karena dia ayahmu, dan bukan keluargaku.
Namun, kenapa aku harus selalu melihatmu begini?
Aku tak pernah bersimpati, jadi, tak tahu cara melakukannya.
Namun, kumohon urus dirimu dahulu sebelum mengurusi orang lain.
Tunggu. Apa itu tadi? Perjodohan alami dengan Seo Dan-ah?
Katanya mau menonton film dan minum miras denganku?
Jika berniat menemui Dan-ah,
aku tak akan bersama denganmu.
Astaga. Kau pandai sekali berbicara.
Kau mengerti maksudnya perjodohan alami?
Situasi makin runyam.
EPISODE 8
Astaga.
Kenapa Pak Jeong di sini?
Mana Nona Seo?
Dia pasti ada di rumah.
Kursi itu milik orang lain.
Pemilik kursi ini memberiku tiket.
Kenapa Nona Seo di rumah?
Karena Bu Seo memberiku tiket.
Menyebalkan. Padahal aku sengaja berdandan.
Mau?
Tidak, terima kasih.
Kenapa kau tak memberiku nomor ponsel Nona Seo?
Katanya dia sudah menyuruhmu.
Karena firasatku tak enak.
Mengenai apa? Aku?
Aku?
Astaga. Film…
Film akan dimulai.
Kurasa aku memahami perasaan aman dalam bioskop yang kau katakan dahulu.
Diamlah. Film sudah dimulai.
Maaf.
Kau memang agak berisik.
Seon-gyeom!
Halo. Tunggu sebentar.
Kau bercanda denganku? Katamu bersebelahan dengannya?
Namun, kenapa bersebelahan dengan Pak Jeong?
Kurasa dia tak datang.
Kau menangis karena itu?
Tidak. Filmnya mengharukan.
Aku mudah menangis dan emosional.
Kalian berdua saling kenal? Terlihat akrab sekali.
Kalian juga terlihat saling mengenal.
Hari itu kau selamat sampai rumah? Aku bangun, kau tak ada.
Pastinya selamat karena kau di sini.
Jadi, hari itu kau menginap di…
Kenapa tak beri tahu aku?
Kupikir kau sudah lupa karena kejadian itu sudah lama berlalu.
Kenapa kau menilai seenaknya?
Aku tak mengetahuinya,
dan berpikir aneh-aneh.
Kalau begitu, aku pamit.
- Kita pun tak akan minum miras. - Pergilah.
Sayang sekali tak minum usai menonton film.
Ayo minum. Kita sudah janji akan minum bersama hari ini.
Benar. Sayang jika pulang. Bagaimana jika kita minum bersama?
Bertiga?
Bukankah kalian berkencan?
Pergilah jika kau tahu.
Bukankah urusanmu mendesak? Pergilah saja.
Kau saja yang pergi.
Aku tak bisa pergi.
- Apa aku saja? - Jangan.
Sudahlah. Mari kita minum bersama, ya?
Baiklah.
Alih-alih berfokus pada pemeran utama,
aku lebih berfokus pada pelanggan bar
yang mencari kesenangan dalam peluang dan alkohol.
"Bagaimana perasaannya?
Apa minumannya?
Kenapa dia duduk murung di pojok?"
Itulah yang aku pikirkan.
Saat pemeran utama pria disorot, dan Choi Tae-ri bersiul…
Saat itu, aku mulai menangis.
Tunggu. Kurasa aku akan menangis lagi.
Mereka memperlihatkan akhir cerita dan menyimpan klimaks untuk nantinya.
Begitu, ya.
Adegan itu luar biasa. Siulannya terasa menyedihkan.
Benar. Sangat menyedihkan.
Apakah kau pikir kita merasakan itu
karena kita dibiasakan berpikir begitu,
atau memang begitu adanya?
Aku takjub, suara siulan terasa berbeda setiap aku menontonnya.
Emosinya berubah bergantung pada kondisiku.
Aku sering menonton ulang film saat sedang melukis.
Biasanya film hitam putih.
Kau pasti suka film klasik.
Filmnya sederhana, jadi, aku bisa lebih fokus.
Kau begitu agar tak kehilangan fokus saat sedang melukis?
Kau bisa mengetahui hal baru saat menontonnya lagi.
Film yang ditonton saat kecil terasa berbeda jika ditonton lagi.
- Ya. - Benar sekali.
- Rupanya kau tahu. - Luar biasa.
Rupanya kau tahu dengan baik.
Omong-omong, aku pernah menonton film ini.
Kami juga menontonnya tadi.
Bukan itu. Aku pernah menonton film ini sebelumnya. Dua kali.
Aku juga pernah beberapa kali menonton film ini.
Begitu, ya?
- Astaga. - Mulai lagi.
Di mana kau menontonnya?
Di festival film.
Apa? Kau ada di sana?
Ya.
- Aku ambil sebotol soju . - Baik.
Tunggu sebentar.
- Kau sedang apa? - Kau tak tahu apa ini?
- Apa? - Itu!
- Ini gerakan waktu itu, bukan? - Apa?
Gerakan ini. Benar, bukan?
Bukan.
Mi-joo. Aku baru hadiri kelas film yang disebut "Tiga Adegan dan Lima Detik".
Filmnya agak berbeda daripada yang kupelajari di kelas.
Kelas itu terdengar tak asing.
Kau berkuliah di Universitas Myeongin?
Itu kelasnya Profesor Hwang?
Ya. Aku mendengarkan kelas profesor itu,
tapi aku tak berkuliah di Myeongin.
Dia masih mengajari kelas itu? Astaga. Sungguh memuakkan.
Omong-omong…
untuk apa aku melakukan perjodohan alami dengan Seo Dan-ah?
Kenapa kau melakukannya dengan Bu Seo?
Kenapa kau marah?
Aku ingin dijodohkan dengan Nona Seo.
Kau punya nomor ponsel dia?
Ya.
Kau harus memberitahuku.
Dia tak bisa beri tahu nomor ponselnya tanpa izin.
Aku sudah mendapatkan izinnya.
Kau bisa meneleponnya jika tak percaya.
Kenapa dia harus menelepon dan verifikasi?
Aku harus bagaimana?
Kenapa tanya aku?
Astaga.
Tunggu. Aku punya buktinya.
Kita mau ke mana?
- "Ke mana"? - Bukankah bawa mobil untuk jalan-jalan?
Denganmu? Sadarlah.
Kenapa menyuruhku sadar? Kau melukai perasaanku.
- Apa? - Bisakah sekalian mengantarku?
- Kau tahu aku mau ke mana? - Ke mana?
Pastinya tak searah.
- Kau tahu aku mau ke mana? - Tak peduli.
Pak Jeong tak beri tahu nomormu.
Bagaimana jika dia tak beri tahu?
Cobalah segala cara.
Kau bilang…
coba segala cara, bukan?
Ini, untuk bukti.
MEREKAM
Sudah kuberi tahu, dia bisa mendapatkan nomorku. Puas?
Benar, bukan?
Ini suaranya, bukan?
Sikapmu mengerikan. Kenapa tak kau tanya langsung?
Dia tak beri tahu.
Dia pasti tak hafal.
Dia tak pernah menghafal nomornya.
Wanita aneh.
Beri tahu aku juga nomor kalian.
Kita tinggal berdekatan. Mungkin dia tidak.
Karena itulah, beri tahu aku. Kita tak mungkin bisa berpapasan.
Maka buat janji untuk bertemu.
- Kau tahu perasaanku, bukan? - Tidak.
Ayo cepat. Aku juga harus menyimpan nomor kalian.
Akan kukirim nomorku ke kalian.
Ini.
RAPUNZEL
Apa ini? Tak ada foto.
Bagaimana aku tahu ini dia?
Itu nomornya.
Untuk apa aku beri tahu nomor palsu?
Rupanya ada orang seperti ini.
Apa? Foto Seon-gyeom juga tak ada?
Mi-joo juga tak ada?
Apa ini tren?
Aku tak tahu ini tren atau bukan.
Aku tak pernah memasang foto sejak awal.
Kau juga?
Aku tak ingin sama dengan orang lain.
Belum lama aku menghapus fotoku.
Ini dibuat untuk memamerkan diri. Kenapa dibiarkan kosong?
Sengaja. Dahulu, aku memasang foto tempat wisata,
No comments yet. Be the first to leave one.