The first 178 lines.
[Drama ini murni karya fiksi dan tidak berhubungan dengan]
[orang, organisasi, lokasi, atau kejadian nyata]
Kalian datang.
[Kudengar Baek Ho-rang bergabung dengan klubmu. Bagaimana dia?]
Aku memindahkan semuanya.
Aku menukar spidol dengan yang baru kemarin.
Mau kubawakan sekarang?
Tidak perlu. Biarkan saja.
Kenapa kau tidak membawanya?
Aku menggantinya kemarin.
Yang benar saja.
- Tunggu, Eun-taek. - Biar kami saja.
Kami bisa melakukan itu.
Berikan pada kami, Eun-taek.
- Halo. - Hai.
- Itu kesalahan kami. - Biar kami saja.
- Biar kami saja. - Ada yang mengacau?
Mereka berdua.
- Kami bisa melakukannya. - Astaga.
- Biar kami saja. - Eun-taek, ini revisi naskahnya.
Baiklah.
Biarkan kami melakukannya.
Kenapa kau tidak tahu?
Aku sangat terkejut saat makan siang kemarin.
["Kau menerima hadiah keduaku setelah topi gajah?"]
["Kuharap aku bisa melihat ekspresi wajahmu. Sayang sekali."]
["Aku juga tidak memberi tahu kurirnya tentang siapa aku."]
Aku memutar lagu berikutnya untukmu.
[Cuacanya pasti cerah. Ada banyak permintaan untuk lagu ini.]
Ho-rang.
Itu...
Kau mendengarkan, bukan?
Aku tidak takut meski kau melakukan ini.
Datanglah kepadaku dan katakan di depanku
alih-alih melantur dari balik kibor.
Ini salah satu leluconmu? Begitukah?
Jawab aku! Berandal!
- Astaga, Pak. - Mengagumkan.
Teruslah bekerja lebih keras
untuk sekolah kita, SMA Seoyeon.
Mengerti?
Mengerti?
Kau tahu sebesar apa masalah yang kau timbulkan?
Kau tahu itu? Dasar berandal.
Beraninya kau menganggap ini lelucon.
Kau tidak pernah menyebabkan masalah.
Apa yang terjadi? Kekacauan ini cukup besar.
Karena ini sudah terjadi,
kurangi segmennya dan delegasikan lebih banyak kepada orang lain.
Kau mendengarkan?
Apa?
Maaf.
Pikirkanlah.
Jadi, kau memilih cerita payah ini?
Minta maaf dahulu.
Kau menyebabkan masalah bagi semua orang.
Baiklah. Maafkan aku.
Sekarang, jawab aku.
Semua cerita sampah yang kau baca.
Kau yang memilihnya?
Bagaimana kalau kita pergi sekarang?
Sampai nanti, So-hyun.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Ya. Aku yang memilihnya.
Selera yang payah.
So-hyun, jika ini yang akan kau lakukan...
Rupanya kau sungguh menyembunyikan sesuatu.
- Apa? - Apa itu?
Apa yang membuatmu sangat ketakutan?
Mau kuberi tahu?
Selama bertahun-tahun, kau...
So-hyun.
Apa ini?
Apa?
Kau meremehkan kegiatan kami di sini?
Ya. Sepertinya begitu.
Kau tidak tahu tentang perangaiku?
Kau tahu.
Kau merekrutku karena ingin klubmu mendapat perhatian. Kenapa?
Kini aku tidak berguna bagi klubmu?
Kalau begitu, lupakan saja.
Kau meremehkan urusan semua orang.
Kau pikir hanya urusanmu yang penting, bukan?
Aku tidak tahu setenar apa dirimu
untuk asal mengamuk di sini. Tapi tahukah kau?
- Tidak akan ada yang menemanimu. - Apa?
Kau pikir orang memperhatikanmu karena siapa dirimu, bukan?
Jangan menipu diri sendiri.
Orang hanya butuh seseorang untuk memusatkan perhatian mereka.
Kebetulan saja mereka memperhatikanmu.
Kau pikir orang akan terus menemanimu
saat kau tidak lagi menarik?
Sadarlah.
Jika terus begini,
kau akan sendirian selamanya.
Itulah yang ingin kukatakan kepadamu.
Kau pasti merasa sebagai murid teladan
jika bersikap tangguh dan penting.
Tidak akan ada yang menemanimu.
Membusuklah seumur hidupmu di tempat mengerikan ini.
Tidak akan ada yang memperhatikanmu.
Pergilah.
Kau tidak lagi dibutuhkan di sini.
Baek Ho-rang luar biasa.
Bagaimana dia bisa berbuat onar di awal semester?
- Siapa? - Ho-rang.
Hati-hati.
Ada air.
- Woo-jae. - Ya?
Mau pergi ke Sungai Han setelah tes? Ada sesuatu yang ingin kucoba.
Aku ingin rakit tenda di Sungai Han dan makan ramyeon.
- Sungai Han? - Ya.
Sebenarnya,
haruskah kita belajar di sana saja?
Bagaimana? Kita bisa bawa matras.
Mungkin dingin jika kita terlalu lama di sana.
Jika dingin, kita bisa membawa jaket hangat.
Baiklah.
- Kalau begitu, aku akan mencari tahu. - Baiklah.
Ayo beli permen kenyal dalam perjalanan pulang.
Aku mengunduh drama Amerika Netflix
agar kita bisa menonton tanpa internet.
Mari bergegas dan menontonnya.
Maaf. Aku akan bermain sepak bola dengan teman-teman.
Apa maksudmu? Saat bertelepon kemarin,
kau bilang mau menonton drama denganku siang ini.
Ini rencana pekan lalu.
Seharusnya kau memberitahuku di telepon kemarin.
Baiklah. Telepon aku nanti.
- Tunggu. - Kang Jae-yi!
Ayo pergi bersama.
- Jae Yi, kau bisa melakukan ini? - Ada apa?
- Apa itu? - Ini sedang tren.
- Tren macam apa itu? - Kenapa kau tidak tahu?
Ayo.
- Halo. - Halo.
[Kesalahpahaman dan Konflik yang Muncul Akibat Kurang Komunikasi]
Ini Kelas 1 dan 2, bukan?
- Ya. - Ya.
Tadi kau hebat.
Tutup mulutmu. Suasana hatiku buruk.
Kau masuk Tim Penyiaran karena itu?
Untuk mengejar orang yang mengeksposmu?
Skalamu sangat bagus.
Tunggu.
Jika kau menyebabkan masalah, bukankah So-hyun akan menderita?
- Kim Yu-shin. - Ya, itu aku.
- Ayo fokus, Yu-shin. - Baiklah.
- Kim Ju-hyun. - Kau tidak boleh mengganggu
Tim Penyiaran untuk keserakahanmu sendiri.
- Kim Yu-shin. - Ya?
Mulutmu pernah ditampar?
Jangan pernah lagi membahas Tim Penyiaran di depanku.
Aku berhenti.
Apa?
- Choi Yun-seok. - Benarkah? Luar biasa.
Terima kasih, Kawan. Ini hadiah untukku dari langit.
Tapi kenapa kau bergabung jika hendak berhenti?
Kau tidak pernah tertarik pada hal seperti itu.
Ada sesuatu yang ingin kucari,
tapi tidak perlu lagi.
Apa? Apa itu?
Aku tidak bisa melakukannya.
Sial!
Kenapa kau selalu naik bus padahal uangmu banyak?
Bagaimana bisa aku bersekolah setiap hari naik taksi?
Kenapa tidak? Kau selalu membeli lilin mahal.
Ho-rang, lihatlah ini. Kau tahu YouTuber, Melonie, bukan?
Gadis yang dituduh merundung.
["YouTuber Populer, Melonie, Mengakui Perisakan, 'Aku Tidak Punya Alasan'"]
Dia benar-benar sampah.
Aku harus berhenti berlangganan.
Ho-rang, aku pamit. Sampai jumpa besok.
Baiklah.
Kau ingin memberikannya kepadaku atau apa?
[dan bilang akan memberitahuku hal yang kau benci.]
[Aku juga benar-benar belum pernah melihat ID itu.]
[Lee Jung-won: Kim Sol-ji, Aku kesulitan dengan ujian yang akan datang]
No comments yet. Be the first to leave one.