Vivre sa vie: film en douze tableaux
The first 200 lines.
Diterjemahkan oleh: Irwan19 & AngelTouch
PEMENANG SPECIAL JURY PRIZE
DAN ITALIAN CRITICS PRIZE
FESTIVAL FILM VENICE
DIDEDIKASIKAN UNTUK FILM KELAS B
VIVRE SA VIE FILM EN DOUZE TABLEAUX
"Pinjamkan dirimu untuk orang lain, tapi berikan dirimu untuk diri sendiri."
Montaigne
KAFE - NANA INGIN BERPISAH - PAUL - MESIN PINBALL
Kau benar-benar menyukai pria itu?
Entahlah.
Aku tak tahu apa yang kupikirkan.
Dia lebih kaya dibanding aku?
Apa pedulimu?
Apa pedulimu?
Ada apa?
Tidak, aku hanya ingin mengucapkannya dengan cara tertentu.
Aku tak tahu cara terbaik untuk mengucapkannya.
Atau aku pernah tahu, tapi sudah tak tahu lagi.
Saat aku seharusnya tahu. Kau pernah mengalaminya?
Pernahkah kau membicarakan hal lain selain dirimu?
Kau kejam.
Aku tak kejam, Nana. Aku sedih.
Aku tidak sedih, Paul. Aku kejam.
Jangan bicara omong kosong. Ini bukan panggung sandiwara.
Kau tak pernah menuruti permintaanku, tapi kau selalu menginginkan aku menuruti permintaanmu.
Apapun itu, aku sudah muak. Aku ingin mati.
- Benarkah? - Ya, benar.
Omong kosong lagi.
Mencintaimu itu melelahkan. Aku harus selalu memohon.
Aku ini hidup.
Kau bilang aku ini kejam, tapi kaulah yang kejam.
Kenapa bilang begitu? Itu tak benar. Maksudmu Minggu malam itu?
Kau tahu kapan tepatnya.
Aku memintamu mengenalkan aku dengan orang itu.
Kau sengaja melakukannya.
Ya.
Kau menyedihkan.
Jika kita mengulanginya dari awal, aku hanya akan mengkhianatimu lagi.
Jangan bilang begitu.
Jangan bilang begitu.
Itu benar.
Kupikir alangkah baiknya kita bicara, tapi aku rasa tak penting lagi.
Mungkin kita bisa bersama lagi.
Tapi semakin banyak kita bicara, kata-katanya semakin tak berarti.
Jika aku berhasil tampil, itu bukan karena bantuanmu.
Akting bukanlah segalanya.
Bukan segalanya bagimu! Kenapa kau bilang begitu?
Jika ini yang kuinginkan, kenapa kau meributkannya?
Suatu hari nanti seseorang mungkin akan mengetahui bakatku.
Ya, jangan menyerah.
Aku belum menyerah dalam bermusik.
Tidak seperti kursus bahasa Inggris-mu. Kau tak benar-benar menyukainya.
Aku tak menyerah.
Sebenarnya, orang itu akan memotretku.
Mungkin aku bisa main film.
Tak mungkin terjadi.
Kau kejam, Paul.
Kau kejam, Paul.
Benar-benar kejam. Selalu begitu.
Kau bilang mencintaiku, tapi tak menganggapku istimewa.
Aku tak mencintaimu lagi, tapi aku masih menganggapmu istimewa.
Kenapa kau mengatakan hal semacam itu? Kupikir kita ini sama.
Kau tak setuju aku mencari pekerjaan?
Itu tak cocok denganmu.
Kau meninggalkanku karena aku miskin.
Mungkin saja.
Kau membawa foto yang kau sebutkan di telepon?
Aku lupa. Fotonya akan siap pada akhir minggu ini.
Dia baik-baik saja? Cukup makan?
Telinganya sakit, tapi kata dokter tak apa-apa.
Apa pekerjaanmu di Pathe-Marconi?
Aku menjual rekaman.
Bisa pinjam 2,000 francs?
Tak bisa.
Orangtuamu pasti senang aku pergi.
Tidak, mereka menyukaimu.
Pastinya.
Apa maksud tatapanmu itu?
Apa maksud tatapanmu itu?
Tidak ada.
Jangan mulai bertengkar lagi.
Bagaimana kalau bermain saja?
Tentu.
Punya uang koin? Aku hanya punya satu.
Ya, ada.
Kau dulu.
Aku ingat karangan yang ditulis murid ayahku.
Bagaimana dengan mereka?
Saat makan malam dia membacakan beberapa karangan yang bagus.
Mereka masih anak-anak. Mereka disuruh menggambarkan binatang kesukaannya.
Seorang gadis delapan tahun memilih seekor burung.
Seperti apa karangannya?
"Seekor burung adalah binatang yang punya bagian dalam dan bagian luar.
"Bagian luarnya diambil maka tersisa bagian dalamnya."
"Ambil bagian dalamnya dan kau bisa melihat jiwanya."
TOKO KASET - DUA RIBU FRANCS - NANA MENJALANI HIDUPNYA
Tidak ada, kami kehabisan.
Bagaimana dengan Judy Garland?
Kami tak punya.
Ada rekaman gitar dari Romeo...
Siapa namanya? Rafael Romero.
Aku tanya dulu.
Rafael Romero di gitar.
Di rak belakang.
Rita masih sakit?
Ya. Kurasa dia akan kembali hari Kamis.
Menyebalkan. Dia berhutang 2,000 francs padaku.
- Bisa pinjam 2,000? - Yang benar saja? Aku bokek.
- Kenapa? Ada masalah? - Tidak.
Ini.
Aku ambil yang ini juga.
Ke sini, pak.
Kelihatannya bagus.
Ceritanya membosankan, tapi ditulis dengan baik.
"Dia menatap langit biru kehijau-hijauan yang bertabur bintang...
...kemudian berbalik ke arahku."
"Kau menjalani hidupmu dengan sungguh-sunggguh, jadi sudah sewajarnya...
Aku memotongnya.
"Kau terlalu mementingkan logika."
"Untuk sesaat aku merasakan kemenangan yang pahit."
"Lupa akan patah hatiku, lupa akan sulitnya menata hidup kembali."
"Tak perlu lagi memasang wajah tegar untuk menutupi kekalahan."
"Ya, cara yang elegan untuk memecah kebuntuan ini."
PENJAGA PINTU - PAUL -
THE PASSION OF JOAN OF ARC - SEORANG JURNALIS
Tolong berikan kuncinya.
Baik.
Arthur! Tangkap dia!
Ayo, berikan kuncinya.
Ini, sayang.
Hai.
Mau ke mana?
Mau lihat foto-fotonya?
Sama sekali tak mirip denganku. Dia lebih mirip denganmu.
Mau makan malam?
- Mau ke mana? - Boulevard Saint-Michel.
- Ayo makan malam. - Aku tak lapar.
Aku ingin menonton film. Sampai jumpa.
JOAN OF ARC
Kami datang untuk menyiapkan kematianmu!
Sekarang?
Bagaimana caranya aku akan mati?
Di tiang pancang!
Bagaimana bisa kau masih percaya dirimu ini utusan Tuhan?
Tuhan tahu jalan kita, tapi kita hanya bisa memahaminya saat mendekati akhir perjalanan!
Ya, aku ini anak-Nya!
Dan kemenangan besar itu?
Itu kemartiranku!
Dan penyelamatanmu?
Kematian!
Kematian.
Sudah kubilang ini saatnya berpisah.
Aku mentraktirmu nonton.
Sayang sekali.
Selamat malam. Apa kabar?
Selamat malam. Apa kabar?
- Kita ada janji bertemu malam ini? - Ya.
- Aku ragu kau akan datang. - Kenapa? Apa aku terlambat?
Terlambat sedikit. Tapi bukan itu masalahnya.
Biasanya aku tepat waktu.
11:00 malam itu larut sekali.
Kukira kau lupa.
Pesan apa?
- Masih ada croissant ? - Maaf, habis.
Kalau begitu kopi saja.
Di luar itu temanmu?
Bukan, itu saudaraku.
Saudaramu ada banyak?
Lima laki-laki dan tiga perempuan.
Kaget? Itu benar.
Ada kabar apa sejak kemarin?
Tak banyak.
Mobil merah di luar itu punyamu?
Apa itu? Jaguar?
Bukan, Alfa Romeo. Kau tertarik pada mobil?
Tidak, aku tak tahu apa-apa tentang mobil.
Kapan kita akan melakukan pemotretan?
Kau yang menentukan waktunya. Sudah kubilang aku siap.
Tapi aku hanya bisa hari Minggu.
Minggu aku pergi ke London.
Kalau begitu, aku tak tahu.
Bagaimana kalau sekarang? Kau lelah?
Jika kubilang tidak, kau tak akan berpikiran buruk?
Sama sekali tidak.
Menurutmu aku bisa main film?
Kurasa begitu.
Lihat, aku membawakanmu album foto.
Aku ingin memotretnya seperti ini.
Ini untuk apa?
Dikirimkan ke orang-orang film...
...dan beberapa hari kemudian mungkin mereka akan menghubungimu.
Aku agak malu untuk menanggalkan pakaian.
Sedikit saja. Apa masalahnya?
Bisa pinjam 2,000 francs?
Aku mau, tapi aku tak punya.
Aku lelah.
Bagaimana dengan fotoku?
Kalau begitu, kau mau ikut denganku?
POLISI - NANA DIINTEROGASI
No comments yet. Be the first to leave one.