Release info

도도솔솔라라솔-Do-Do-Sol-Sol-La-La-Sol-E21-E22-NEXT-NF
도도솔솔라라솔-Do-Do-Sol-Sol-La-La-Sol-E21-E22-WEB-DL-NF
A Commentary by ANANG2196

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Published on: 2020-11-11
Downloads: 27
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

EPISODE 11

Pemandangan macam apa ini?

Dia punya pria lain?

SEUNG-GI

Halo?

Ini aku.

Aku merindukanmu, Ra-ra.

Aku ingin bertemu.

Kau bawa tiket kemarin, 'kan?

Kita bertemu di dermaga kapal.

Ra-ra, kau dengar aku?

Ya, kita bertemu di sana.

Nona Gu Ra-ra?

Benar.

Singkat saja.

Jun baru saja…

mengajak bertemu di mana?

Ra-ra!

- Kau menungguku? - Benar, aku lama menunggumu.

- Ayo, pulang. - Tunggu sebentar!

Ibu, 30 menit saja. Bukan. Sepuluh menit.

Aku ingin bicara dengan Ra-ra.

Bagaimana kau bisa di sini?

Masukkan ke mobil.

Pada akhirnya, aku harus meninggalkanmu

tanpa sempat menjelaskan apa pun.

EPISODE 11 PERTEMUAN KEMBALI

SEBULAN KEMUDIAN

Dia datang lagi.

Memangnya gaya itu cocok?

- Berapa kali dia datang? - Tiap hari.

- Begitu. - Astaga.

- Bukan main. - Lihat dirimu, Min-su.

Sepertinya kau rutin absensi kemari.

- Astaga. - Sakit!

Rambutku bisa pitak saat dikeriting.

Dua pekan lalu baru dikeriting panas,

pekan lalu diwarnai dan keriting digital,

lalu dua hari sekali mengeringkan rambut.

Kurasa tanpa mencabutnya pun rambutmu akan rusak.

Astaga, apa ini?

Rambutmu bisa rontok satu-satu karena rusak.

Karena itulah aku memintamu memberikan nutrisi yang bagus untuk rambutku.

Astaga, apa yang kalian lakukan?

Ini pertengkaran atau cinta?

- Pasti pendekatan. - Pasti.

Berisik!

Berhenti mengoceh dan pulanglah sekarang.

Aku suka kalimatmu.

Omong-omong, apa Min-su berencana tinggal di Eunpo?

Sudah kubilang kampung halamanku di sini.

- Apa? - Sungguh?

Aku baru pertama kali dengar.

Aku punya banyak kenalan

dan berencana berbisnis di sini.

Begitu rupanya. Apakah bisnismu itu bisnis cinta?

Dasar kalian ini!

Tersangka pembuangan mayat pria

yang ditemukan di Taman Pantai Eunpo pada Juli lalu, akhirnya tertangkap.

- Semuanya diam. - Saat polisi menyelidiki An Jung-ho,

tersangka kasus penguntit,

ditemukan jejak darah di kamar mandinya.

Hasil tes DNA…

- Astaga. - Ya ampun.

Jadi, pembunuh mayat yang ditemukan di Taman Pantai Eunpo

adalah pelaku yang menguntit Ra-ra?

Tunggu. Bukankah waktu itu dikabarkan mati tenggelam?

Kau benar.

Ingatanmu bagus sekali.

Kenapa Seung-gi tak mirip begini?

Kau memujiku untuk membanggakan IQ putrimu lagi, 'kan?

- IQ-nya 145. - Astaga.

Kalian mulai meributkan anak-anak lagi.

Bukankah orang yang tak punya anak akan merasa sedih?

Mungkinkah dia mati tenggelam di laut?

Dia menenggelamkannya di bak mandi dan membuangnya ke laut.

Aku dengar dari Detektif Kang.

Mau kuberi tahu cerita lengkapnya?

- Ya! - Ceritakan.

Ceritakanlah.

Sebenarnya, pria yang mati itu seorang pencuri.

Dia sering mencopet di sekitar terminal.

Jambret, copet, semacam itu?

- Benar. - Kau benar.

Tapi malangnya, orang itu mencuri jam tangan milik An Jung-ho.

- Astaga. - Lalu?

Merasa barangnya disentuh,

- An Jung-ho sangat marah. - Ya.

Tanpa rasa kasihan, di kamar mandi rumahnya…

- Ada apa? Kenapa? - Dia menenggelamkan wajah orang itu.

Setelah itu…

- Astaga! - Mengerikan!

Dia pria yang kejam.

Aku yang jebolan pasukan khusus juga kena.

Apa? Jebolan pasukan khusus?

Ya, begitulah.

Dia kenapa? Berbangga diri?

- Hentikan. - Apa?

Kau bisa benar-benar kena tendangan lutut Suk-gyeong.

Astaga, kalian rasakan ini!

Pasukan khusus dan tendangan lutut sangat cocok.

Lalu Ra-ra?

Apa kabar Ra-ra?

- Benar. - Dia baik-baik saja?

Dia di sana lagi.

Dia menatap laut atau langit?

Dia menatap Santa Lucia.

Kapal? Kenapa?

Dia berjanji akan naik kapal dengan Jun,

- tapi malah mengajak ibunya Jun. - Apa?

Dia pasti terkejut dengan identitas Jun.

Jun dipaksa pulang karena dia. Dia pasti gelisah karena itu.

Kau benar.

Ra-ra bersikap aneh belakangan ini.

Aku terus merasa lapar.

- Mau makan mandu berapa? - Aku dua.

- Aku sepuluh. - Sepuluh?

Bagaimana kalau perutmu meledak?

Tidak apa.

Tak apa kalau perutmu meledak?

Aku mau makan banyak. Sepuluh mandu .

Pertama, dia banyak makan.

Lalu…

Dia juga mulai menari.

Dumdi Dumdi

Dumdi Dum

Dumdi Dumdi

Dia bahkan main hwatu dengan ibuku.

Biyak, pungyak , dan choyak bernilai 20.

Hongdan dan cheongdan bernilai 30. Berapa kali aku bilang?

Bagaimana kau tak bisa menghitung?

Sekali lagi.

Dia memang aneh, 'kan?

Dia memang aneh.

Tapi kali ini agak berbeda.

Dia seperti mencoba hal baru.

Dia hanya tak ingin melamun.

Apa?

Dia begitu karena perasaannya kacau.

Omong-omong, Jun tak menghubungimu?

Tidak. Setelah hari itu, dia bagai ditelan bumi.

Dasar jahat.

Apa dia sudah melupakan semua hal di sini?

- Makanlah. - Tidak mau.

Kau ingin mati? Kau bisa kekurangan gizi.

- Aku tak peduli. - Apa maksudmu?

Kau harus merawat tubuhmu agar bisa belajar.

Ada ujian persamaan di musim semi, jika tepat waktu, hingga musim gugur

jadwalmu akan padat. Pengajarmu sudah bilang, 'kan?

Berikan ponselku.

Kau benar-benar…

Omong-omong, apa alasan Jun membohongi kita?

Benar.

Ternyata dia kelas 3 SMA seperti Seung-gi.

- Kau benar. - Ya.

Fakta dia pewaris Rumah Sakit Sunwoo juga lebih mengejutkan.

- Ya. - Astaga.

Kalian buta rupanya.

- Beraninya! - Apa katamu?

Kau meremehkan kami?

Pandai dan bahkan dari keluarga kaya.

Kenapa dia kabur dari rumah?

Aku tak tahu jelasnya,

tapi ibunya itu tipe orang yang suka memaksa.

Tiap hari, dia akan menggangguku dengan terus menelepon.

Tipe orang yang membuatmu merasa tercekik karena seruangan dengannya.

Seperti itu.

Kita ceritakan semua tentang Ra-ra tanpa tahu tentang itu.

Astaga, mulutku.

Kita tak tahu dia ibunya Jun.

Kalau dipikir-pikir, Jun juga sangat berani.

Padahal masih anak SMA, tapi tidak disangka jatuh cinta

kepada wanita bangkrut

yang pernah gagal menikah.

Cinta tak memandang hal semacam itu.

Mereka juga tidak tahu kalau akan jadi seperti itu.

- Kau benar. - Benar.

- Aku pulang. - Aku datang main.

Main ke sini, Nak?

- Ibu? - Dasar anak ini.

Ujian masuk universitas sebentar lagi dan kau malah main?

- Pulang sana. - Ibu tak peduli

kau mau belajar atau main, tapi berhentilah menatap ponsel.

- Cabut saja kabel Wi-Fi -mu. - Ya.

- Tidak boleh begitu. - Bibi.

- Apa? - Kau tahu kami butuh oksigen juga, 'kan?

Lalu kenapa?

Bagi kami, Wi-Fi seperti oksigen.

Bicaramu tak masuk akal.

- Seung-gi! - Astaga, kemarilah!

- Tidak mau! - Berhenti kau!

Astaga, kalian ini!

Ini.

Bukan karena dirimu, tapi karena kami tak percaya Jun.

Aku kembalikan setelah pelajaran.

Aku mengerti.

Aku percaya kau akan berusaha keras untuk ujian masuk Jun.

Lalu, apakah…

kau kenal dengan Bang Jeong-nam?

Aku sangat kenal Jeong-nam.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left