The first 200 lines.
Episode 9
Kenapa dia jauh-jauh datang ke sini?
Jangan khawatir!
Aku tidak akan pindah ke sana.
Kau kenapa? Aku bilang aku tidak akan pindah!
Kenapa kau pikir aku tidak akan menyukainya?
Hanya...
Dengarkan baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya satu kali.
Aku rasa aku menyukaimu.
Aku...
Oh Tuhan...
- Aku... - Aku...
Kau duluan.
Aku...
Ini pertama kalinya aku mendengar sesuatu seperti itu.
Apa?
Sampai sekarang?
Separah itu?
Bagus bagimu karena kau begitu populer.
Tentu saja bagus.
Aku punya banyak cewek.
Aku mengerti. Aku rasa aku sudah tahu itu.
Tahu apa?
Aku tahu! Ingat saat pertama kali aku bertemu denganmu?
Di hotel...
Jadi...
Kau bersama dengan seorang gadis...
Di dalam kamar... Di tempat tidur...
Hei! Perlukah hal itu diungkit sekarang?
Kalau begitu apa yang mau kau katakan?
Sudah kubilang sebelumnya!
Kau rasa kau menyukaiku?
Jadi bagaimanapun juga, jika kau datang untuk bekerja di sana, sebaiknya kau bersiap-siap!
- Kau melarangku pindah ke sana? - Aku menyuruhmu pindah ke sana!
- Barusan kau bilang bersiap-siap! - Tepat!
Bersiap untuk apa?
Jadi yang ingin aku katakan...
Aku...
Ha Na!
Kaukah itu?
Ibu!
Siapa itu?
Bukan siapa-siapa!
Apa? Bukan siapa-siapa?
Aku harus pergi!
Apa? Harus pergi?
Baru saja aku bilang aku menyukainya. Aku bilang dia harus bersiap-siap.
Kau harus pergi?
- Siapa dia? - Hah?
Seorang tamu resor.
Mau apa dia jauh-jauh datang kesini?
Aku tahu, kan?
Baiklah! Lakukan saja apa maumu!
Lagipula aku juga tidak rugi.
Kau mau makan apa? Bagaimana jika mie pedas?
Kedengarannya enak!
Tidak ada minyak wijen. Ibu mau aku pergi membelinya?
Ibu sudah membelinya.
Mie-nya tidak ada.
Masih ada sisa dari minggu lalu.
Sepertinya aku sudah menghabiskannya.
Ibu. Aku segera kembali.
Apa dia sudah pergi?
Permisi.
Nona. Di sana...
Anda...
Profesor Suh In Ha?
Kau...
Bukankah paling tidak aku harus dapatkan jawaban?
Apa yang kau lakukan di sini?
Kenapa kau berbohong padaku?
Kenapa kau menyembunyikan fakta bahwa kau tidak punya siapa-siapa?
Maafkan aku.
Kau terlalu banyak mengucapkan kata maaf.
Kita berjanji bahwa kita tidak akan mengatakan maaf satu sama lain.
Maafkan aku.
Tidak, tidak! Aku tidak menyalahkanmu!
Hanya saja itu menghancurkan hatiku!
Karena aku tidak bisa menemukanmu!
Karena aku tidak bisa bersamamu!
Sulit bagimu hidup sendirian.
Sulit bagimu hidup sendirian tanpa seorangpun bersamamu!
Bahkan jika aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,
adalah penghiburan besar bagiku bahwa kau baik-baik saja.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apa?
Hei! Hei!
Kenapa? Siapa dia?
Dia...
Jawab aku.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku sudah lupakan segalanya.
Aku tidak ingat dengan jelas.
Alasan aku berbohong mungkin karena aku merasa bersalah.
Karena kau ingat segalanya, tapi aku tidak ingat apa-apa.
Sama seperti yang baru saja kau katakan.
Sulit bagiku untuk membesarkan anakku sendirian.
Tetapi...
Juga benar bahwa aku bahagia bersamanya.
Hidupku selalu dipenuhi dengan kesibukan.
Aku rasa aku lupakan semua itu karena semua kesibukanku.
Maafkan aku. Aku hanya...
Aku hanya ingin hidup seperti ini.
Kau hanya kenangan bagiku.
Kumohon biarkan aku mengenangnya seperti itu.
Selamat tinggal.
Cinta pertama ibumu?
Orang yang kau cari di Jepang?
Aku tidak menyangka mereka bisa bertemu lagi seperti ini.
Itu sangat romantis.
Yoon Hee.
Aku kesini mencari Kim Yoon Hee.
Suaraku bergetar dan mataku berkaca-kaca.
Ya Tuhan.
Jadi dia juga tidak bisa melupakan ibuku.
Peduli apa?
Kau suka itu?
Dia seseorang yang sangat dirindukan ibuku sepanjang hidupnya.
Aku tidak suka cinta pertama ayahku.
Kalau begitu bagaimana dengan anak-anak mereka?
Sekarang! Bagaimana dengan kita?
Jawabanmu.
Jawabannya!
Oh! Apa aku pindah atau tidak?
Bukan!
Tentang aku menyukaimu.
Sampai ketemu nanti.
Sekarang!
Jawab sekarang.
Sebenarnya aku...
Aku tidak merasakan apa-apa.
Aku hanya bisa bertengkar denganmu. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu.
Aku juga tidak tahu apa-apa tentangmu.
Ok! Baiklah.
Itu juga tidak terlalu berarti bagiku. Lupakan saja.
- Bagaimana tadi? - Ya.
Siapa dia?
Dia hanya tamu.
Kita masih punya mie tersisa.
Profesor Suh In Ha terlihat benar-benar tampan di kehidupan nyata.
Maaf, bu.
Aku sudah tahu.
Aku pernah membaca buku harian ibu.
Maaf.
Tidak apa-apa. Ibu lapar.
Ibu akan memasaknya dengan cepat.
Ibu mau bertemu dia sekarang?
Tidak.
Dia hanya teman lama.
Mungkin jika ada reuni bersama yang lain, ibu bisa bertemu dengannya lagi.
Kenapa? Aku kira ibu merindukannya.
Bahkan orang yang lambat berpikir sepertiku,
bisa segera menyadari bagaimana perasaan ibu saat dia membaca buku harian itu.
Bahwa selama ini ibu sangat merindukannya.
Bahwa bahkan sampai sekarang ibu masih merindukannya.
Sebenarnya,
saat aku masih di Jepang,
aku hendak pergi menemuinya.
Aku ingin dia bertemu dengan ibu.
Tapi akhirnya aku tidak bisa bertemu dengannya.
Ibu.
Aku rasa bertemu dengannya lagi adalah yang terbaik.
Bukankah dia di sini karena dia juga ingin bertemu dengan ibu?
Ha Na.
Ibu tidak menyesal meninggalkan dia.
Itu sebabnya,
Ibu masih berpikir bahwa hubungan kami tidak akan berhasil.
Ibu lelah.
Kita makan nanti saja.
Mereka diklasifikasikan sebagai metafisika.
Ketika Anda memikirkan metafisika,
sesuatu yang tidak realistis akan segera datang ke pikiran Anda.
Namun, aku tidak setuju dengan itu.
Semua keindahan berasal dari eksistensi.
Untuk tidak memiliki apa-apa...
Halo.
Ha Na.
Apa yang kau lakukan?
Aku akan pergi ke Seoul.
Kau sudah dapat kamar?
Kau tidak memberitahu ibu.
Aku bisa pindah nanti.
Aku dapat pekerjaan.
Aku rasa aku bisa tinggal di sana.
Pekerjaan apa?
Aku membuat taman.
Ibu lihat saja!
Aku akan memperlihatkan taman yang aku buat.
Juga... Jika aku tidak di sini,
mungkin ibu bisa berpikir lebih bebas sendirian.
Ha Na! Tunggu dulu!
Apa yang kau lakukan di sini?
Semua ini apa?
Apa ini?
Kau tidak boleh meninggalkan barang-barangmu di depan pintu masuk.
Maaf. Aku akan segera memindahkannya.
Manis, kau mau pindah?
Hai.
Aku sementara akan tinggal di sini mulai sekarang.
Hai, Ha Na!
No comments yet. Be the first to leave one.