The first 200 lines.
"Episode 79"
Kakak.
Kakak menghukum Mi Hye seharian?
Astaga.
Astaga.
Bagaimana dia bisa menahan...
Katanya dia percaya diri.
Apa?
Seperti prajurit kemerdekaan yang sangat bertekad merdeka,
dia menahan siksaan seharian.
Tampaknya Mi Hye amat menyukai Pak Kim.
Apa katamu?
Kamu membela siapa sekarang?
Kenapa kamu membelanya padahal kakakmu ini
sedang kesulitan karena putri nakalnya?
Kak, jangan seperti itu
dan makanlah semangka ini.
Kakak menghabiskan semua tenaga untuk menghadapi Mi Hye.
Kakak belum makan seharian.
Ini.
Kamu kira kakak ingin makan itu sekarang?
Putri kakak sudah gila. Bagaimana bisa makan sekarang?
Tapi Jae Bum memotongnya agar Kakak bisa memakannya.
Apa?
Jae Bum datang?
Tapi kenapa dia tidak menyapa?
Astaga. Kakak paham kenapa.
Maksudnya, lihat dia.
Kenapa aku?
Benar juga.
Kamu tidak bilang apa-apa ke Jae Bum, bukan?
Apa?
Kenapa kamu tampak terkejut?
Apa kamu bilang sesuatu?
Aku tadinya tidak mau bilang,
tapi semangkanya pecah.
Semangka pecah tiba-tiba mengingatkanku
akan hubungan Jae Bum dan Mi Hye yang sudah hancur
dan aku terceplos.
Astaga, bukankah kakak menyuruhmu untuk selalu menjaga mulutmu?
- Paman! - Astaga.
Jadi, Jae Bum ke mana?
Apa?
Bagaimana bisa aku hidup seperti ini?
Astaga.
Bulan bersinar dengan amat terang.
Tunggu.
Bukankah itu Tae Ju?
Ya...
Tae Ju, kapan kamu datang?
Sedang apa kamu di sini?
Ada apa?
Apa yang terjadi?
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Bagaimana
kabar Mi Ri?
Sejak kita bertemu saat itu,
dia mengabaikan teleponku.
Dia seharusnya tidak mengabaikan teleponmu.
Dia berbuat tidak benar.
Pasti itu alasan dia tidak menelepon ibu.
Ibu kira kalian hidup bahagia.
Apa kamu
membenci ibu?
Tidak.
Aku tidak membenci Ibu.
Aku juga kemari bukan untuk mengeluh.
Hanya...
Aku tidak punya tujuan.
Mau bagaimana lagi?
Aku tidak bisa bilang apa-apa.
Ibu.
Aku sudah berkali-kali berusaha menghentikan berandal bodoh itu.
Dia bilang seperti berusaha menutupi langit dengan tangannya.
Kami tahu pada akhirnya ini akan terjadi,
tapi dia memaksa mengambil jalan ini.
Jika kamu mau mengusirnya,
cobalah untuk tidak semakin menghancurkan hatinya lagi.
Ibu.
Itu yang terbaik untuk kamu dan dia.
Mungkin ini terdengar tidak tahu malu dan mengejutkan,
tapi kami
sudah bersiap untuk ini bahkan sebelum pernikahannya.
Ibu berusaha menghentikannya.
Ibu menjambak rambutnya agar dia berubah pikiran
Kakaknya bahkan sempat berniat memutuskan hubungan dengannya.
Begitulah situasi kami.
Kami terkejut dan menggila juga.
Tapi kami bisa apa?
Lagi pula, tidak ada orang tua yang bisa memukuli anak mereka.
Anak ibu melompat sendiri ke lubang neraka
dan aku tidak punya pilihan selain melihatnya saja.
Kamu tidak akan pernah paham bagaimana rasanya.
Tapi
aku tidak bisa
menghentikan dia sampai akhir sebagai tetua dan orang tuanya.
Ibu tidak mampu
memberitahumu yang sebenarnya.
Maaf soal itu.
Kamu pasti pusing setengah mati.
Tapi
mengetahui semua itu,
dia memilih menikahimu.
Tolong pahami perasaannya.
Seperti yang pernah ibu bilang,
dia amat menyayangimu.
Karena amat menyayangimu, dia melompat ke neraka itu
meski sudah kami tentang.
Serta
apa kamu tahu?
Kamu menyayangi anakmu
bukan hanya karena melahirkan mereka,
tapi juga karena membesarkan mereka.
Dengan kata lain,
rasa sayang karena membesarkan mungkin yang paling besar.
In Suk
mungkin sudah melahirkan Mi Ri,
tapi dia hidup sebagai putriku seumur hidupnya.
Dan aku membesarkannya bak anak sendiri sehingga ibu makin sayang.
Dia putriku yang berharga.
Kamu...
Kamu
akan memahami ibu
saat punya anak nanti.
Satu hal lagi.
Kamu
putranya In Suk.
Apa hebatnya melahirkan?
Melahirkan bukan yang penting
di antara orang tua dan anak.
Yang lebih penting adalah tinggal bersama
sebagai orang tua dan anak.
Seumur hidupmu,
siapa yang akan kamu sayangi?
Siapa yang membuatmu patah hati seumur hidupmu?
Itulah anakmu.
Ibu
tidak mau membelanya,
tapi In Suk membesarkanmu selama bertahun-tahun.
Dia bukan pembohong.
Kamu sepusing ini
karena In Suk
membesarkanmu dengan cinta, bukan?
Dia tidak membesarkan anaknya sendiri
dan ibu tidak tahu apa yang dia pikirkan,
tapi dia telah membesarkanmu
seperti membesarkan
putrinya sendiri.
Dia mungkin sudah terhibur
dan menebus dirinya seiring waktu.
Jadi,
jangan terlalu membencinya.
Ibu.
Lalu
suruh Mi Ri untuk segera kemari.
Aku tidak berpikiran seperti itu.
Ibu menikahkannya
dengan pikiran seperti itu dari awal.
"Nikahi dia jika kamu amat menyukainya."
"Tapi jika hidup dengannya menjadi terlalu berat,
jika ada yang tahu soal rahasia itu,
kembalilah ke ibumu."
"Kamu harus datang ke ibu."
"Ibu akan selalu menunggumu."
Ibu, aku...
Begitulah pasutri berbeda dari orang tua dan anak.
Tinggalkan Mi Ri.
Ibu akan menerimanya kembali.
Jika ini tersingkap,
bagaimana kamu akan menghadapi orang tuamu?
Jadi, kirim dia.
Bagaimanapun,
ibu minta maaf.
Dol Dam, kamu senang bisa pulang
setelah lama di pusat penitipan, ya?
Ya, Dol Dam.
Hei, begini cukup?
Itu lebih dari cukup.
Bukankah tampak tidak tulus atau tidak cukup signifikan?
Woo Jin, apa kamu akan menemui calon mertuamu?
Kamu hanya akan memberitahunya kamu tidak menyentuh putrinya.
Hei! Jangan bilang begitu.
Kamu hanya menunjukkan niat baikmu.
Benar?
Perlu kubawakan ceri?
Woo Jin, jika ada yang melihat orang sepertimu membawa ceri,
kamu akan tampak lebih kurus dan lebih menyebalkan.
Semangka sudah cukup sederhana dan gagah.
Baik. Aku pergi dahulu.
Tunggu kami. Kami mau berjalan-jalan.
Ayo.
Pak Bang.
Hei, Bedebah!
Pak Bang, kamu salah paham.
- Kamu salah. - Akan kubunuh kamu hari ini.
Bangun.
Berdiri, Bedebah!
Pak Bang, tolong tenang!
Kamu salah paham!
Aku bilang kepada Bu Park kamu orang baik.
No comments yet. Be the first to leave one.