The first 200 lines.
Ada yang bisa aku bantu, tuan?
Tidak. Tidak, tidak.
Ya, tuan?
Hanya lihat-lihat.
Kamerad, kenapa kita harus saling membohongi? Bagus sekali.
Jujur saja. Kita punya hotel seperti ini di Rusia?
Tidak.
Kalian bisa bayangkan ranjang seperti apa yang ada di hotel seperti ini?
Mereka bilang padaku ketika kalian bel sekali, pelayan laki datang.
Ketika kalian bel dua kali, kalian dapat satu pelayan.
Kalian tahu apa yang terjadi sewaktu kalian bel tiga kali?
Pelayan wanita datang. Pelayan wanita Prancis.
Kamerad, jika kita bel sembilan kali... Ayo masuk ke dalam.
Sebentar. Sebentar saja.
Aku bukan berniat menentang rencana ini, tapi aku tetap bilang...
ayo kita balik ke hotel Terminus.
Moscow sudah sediakan kita kamar di sana. Kita ini pejabat yang tengah bertugas...
kita tak punya hak mengubah perintah atasan kita.
Mana keberanianmu, kamerad Buljanoff?
Kau Buljanoff yang bertempur di balik barikade itu?
Sekarang kau takut pesan kamar yang ada kamar mandinya?
- Aku tak mau pergi ke Siberia. - Aku tak mau pergi ke hotel Terminus.
Aku tak mau ke...
- Tidak, tidak. - Dengarkan aku.
Dengar, Buljanoff, andai Lenin masih hidup, dia akan bilang:
"Buljanoff, kamerad, cuman sekali dalam hidupmu kau ada di Paris.
Jangan bodoh. Pergilah ke sana kemudian bel tiga kali. "
Dia tak mungkin bilang seperti itu.
Yang dia bilang adalah: "Buljanoff kau tak bisa paksakan diri menginap di hotel yang murah.
Apa kewibawaan Bolshevik tak ada artinya buatmu?
Kau ingin menginap di hotel...
di mana kau bisa tekan tombol air panas, air dingin yang keluar...
saat kau tekan tombol air dingin, sama sekali tak ada yang keluar?"
Benar-benar kau ini, Buljanoff.
Aku tetap bilang tempat kita bersama orang-orang biasa.
Tapi aku ini siapa berani menentang Lenin? Ayo masuk ke dalam.
- Kau manajernya? - Ya, tuan.
Perkenankan aku perkenalkan kamerad Iranoff...
- anggota dewan perdagangan Rusia. - Tuan.
- Dia kamerad Kopalski. - Tuan.
- Aku kamerad Buljanoff. - Tuan.
Bisa aku tanya berapa tarif kamarmu?
Jadi, tuan, aku takut tarif kami tarif yang mahal.
Kenapa kau harus takut?
Aku bisa sediakan tempat untuk anda.
- Ini kopornya? - Oh ya.
Tapi kau punya brankas yang cukup besar untuk menyimpan kopor ini?
Aku takut kami tak punya brankas yang sebesar itu di ruang besi...
- tapi ada satu kamar suite dengan brankas pribadi. - Itu bagus.
- Tapi, tuan-tuan, aku takut... - Dia selalu takut.
Aku hanya ingin jelaskan.
Ada kamar yang bisa memenuhi kebutuhan kenyamanan anda...
tapi aku ragu apa kamar itu sesuai dengan kemampuan anda.
- Itu kamar royal suite. - Kamar royal suite?
Sebentar.
Kamerad, aku peringatkan kalian, jika kita bepergian dari Moskow lalu kita tinggal di kamar royal suite...
kita bisa dapat masalah yang serius.
Kita tinggal bilang kita terpaksa karena memperhitungkan brankasnya.
Itu alasan yang bagus. Tak ada brankas lain yang cukup besar.
- Benar. - Bagus.
Tapi tentu saja, kita bisa bagi beberapa bagian...
dan menaruhnya ke dalam 3-4 brankas di ruang besi...
dan pesan kamar yang kecil.
- Itu rencananya, kan? - Ya, Itu rencananya.
Tapi siapa bilang kita harus punya rencana?
- Benar. - Itu benar sekali.
- Beri kami kamar royal suite. - Sebelah sini.
Halo.
Tolong sambungkan aku dengan Mercier. Ya, pedagang perhiasan.
Hal...Halo? Tidak, aku mau bicara langsung dengan tuan Mercier.
Ya.
Halo, tuan Mercier?
Ini Iranoff, anggota dewan perdagangan Rusia.
Ya, kami sampai pagi ini. Oh, terima kasih sangat, sangat banyak.
Ya, kami bawa semuanya di sini. Kalungnya juga.
Semuanya 14 buah di... Apa?
Tidak, tuan Mercier.
Perhiasan Adipati Agung Swana berjumlah 14 buah.
Kenapa kau tak mengeceknya?
Tentu saja, kami punya surat kuasa yang diperlukan.
Bisa kau layani kamar royal suite? Aku kembali 10 menit lagi.
- Baiklah, Rakonin. - Terima kasih banyak. Terima kasih.
- 8 rue de Chalon. - Ya, tuan.
- Halo, Leon. - Pagi, Swana sayang.
Sungguh pagi yang menyebalkan. Menyebalkan. Aku tak bisa buat diriku benar.
Aku ingin terlihat matang malah aku terlihat rapuh.
Wajahku tak tersusun dengan baik. Semuanya sia-sia.
Bagaimana mungkin aku buat diriku sendiri redup, Leon? Sarankan sesuatu.
Oh, aku bosan sekali wajah ini. Kuharap aku punya wajah lain.
Wajah siapa yang kau pilih jika kau punya pilihan?
Oh, kurasa seseorang punya wajah yang pantas dia dapatkan.
Ada keuntungan yang besar dalam tutur katamu, Swana.
Berapapun pertanyaan yang kau ajukan, kau tak pernah berharap adanya jawaban.
Kau temukan ketenangan itu?
- Selamat pagi, sayang. - Selamat pagi.
- Kenapa kau tak datang kemarin malam? - Sayang, aku sedang mengurus kepentinganmu.
Kau menang?
Kita bisa lupakan balap kuda, roulette, semuanya.
Kekhawatiran kita berakhir. Kau ingat jam platinum bernomor berlian itu?
- Kau ada dalam posisi menyerahkannya padaku sekarang. - Oh, sayang, kau baik sekali padaku.
Kita bisa kaya, jika kau pikir seperti itu. Aku makan malam dengan keluarga Guizot kemarin malam.
- Orang dari surat kabar yang hebat itu? - Kau akan terkejut...
- ada banyak orang hebat makan malam dengan keluarga Guizot. - Gruesome sanggup menggerakkan pers.
Aku jual ide tuan Guizot untuk memuat riwayat hidupmu...
- di Gazette Parisienne. - Apa?
Kehidupan dan percintaan Adipati Agung Swana.
Oh, Leon.
Tapi sayang. Kita tak perlu khawatirkan masa depan kita bila kau bersedia korbankan masa lalumu.
Masuk.
Pangeran Rakonin meminta hak untuk bicara, yang mulia.
- Rakonin? - Dia pelayan di Clarence, orang miskin.
- Kau mengenalnya. - Oh, ya.
Bilang padanya aku minta maaf tak bisa menemuinya setengah jam ke depan.
Pangeran bilang bila memungkinkan sesegera mungkin.
Waktu makan siang, dia di antara dua pilihan.
Baiklah, baiklah. Aku temui dia sebentar lagi.
- Aku tak bisa buat diriku benar hari ini... - Pangeran Rakonin di antara dua pilihan.
Volgaku, Boatman.
- Apa kabar, temanku? Silakan duduk. - Yang mulia.
- Yang mulia, maaf atas gangguan ini... - Ada apa kau kemari? Kau kehilangan pekerjaanmu?
Tidak, nyonya. Ada sesuatu yang amat penting.
- Ini menyangkut perhiasan anda. - Perhiasanku?
Aku ingat di hari ulang tahun yang mulia, Czar kita tercinta...
Aku dapat kehormatan mengawal di suatu istana.
Aku terus melihat anda membungkuk di hadapan yang mulia. Anda kenakan mahkota dan kalung.
- Untuk apa kau bicarakan hal itu di sini? - Mereka di sini. Perhiasan anda, di sini di Paris.
- Alexis, kau sadar yang kau ucapkan? - Pagi ini, tiga agen Soviet tiba.
Aku menguping percakapan teleponnya dengan Mercier, pedagang perhiasan.
- Yang mulia, mereka berniat menjualnya. - Aku dengar sesuatu tentang permata?
Rakonin barusan memberiku kabar yang mencengangkan.
Kau tahu pangeran d'Algout. Aku harus hubungi pengacaraku segera.
- Maafkan aku, yang mulia. Aku harus pergi. - Terima kasih, temanku sayang. Aku akan menghubungimu.
- Halo. Balzac, 2769. - Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Ini Adipati Agung Swana.
Aku mau bicara dengan tuan Cornillon. Sangat penting. Tolong panggil dia segera.
Halo, tuan Cornillon? Kejadian yang luar biasa terjadi. Perhiasanku ada di sini di Paris.
Tiga babi Bolshevik berniat menjualnya.
Ya. Ya.
Kita harus bertindak sekarang juga. Hubungi kepolisian, buat mereka ditahan.
Kalau begitu buatlah keputusan.
Tapi berbuatlah sesuatu, tuan Cornillon!
Tapi itu perhiasanku.
Pasti ada cara agar perhiasan itu kembali.
- Dia bilang apa? - Tapi bagaimana mungkin ada keraguan?
Kau pengacaraku atau mereka?
Tak apa. Ya, baiklah, aku hubungi kau nanti.
- Dia bilang apa? - Mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Mungkin ada sebuah kesempatan, itu saja.
Pemerintah Prancis mengenali mereka dari Soviet Rusia...
dia ragu mereka bersedia perang demi kepentinganku.
Dia mungkin bisa menindaklanjuti kejadian seperti ini, tapi itu memerlukan uang.
Uang, uang, itu saja mau mereka, para pengacara itu.
Sayang, tenang, tenang. Untuk apa kau butuh pengacara?
Tidakkah kau punya Volga boatmanmu ini?
Bagus sekali, istimewa, mewah.
Alangkah bodohnya menganggap rendah kualitas barang dagangan ini...
tapi ketentuan kalian itu mustahil. Penawaranku sudah maksimal.
Tapi tuan Mercier...
Tuan, aku biarkan kalian tahu sebuah rahasia.
Kami jalankan transaksi ini hanya karena menyangkut gengsi.
- Jujur saja, kami menduga akan menanggung kerugian. - Sistem kapitalistis.
Mereka kumpulkan berjuta-juta dengan menanggung kerugian demi kerugian.
Ini dengan Buljanoff, Iranoff, dan Kopalski.
Siapa? Pangeran d'Algout?
Bukan, pasti sebuah kekeliruan.
Tidak, kami tak bisa diganggu.
Aku bisa beritahukan bahwa tak ada yang bisa menemui mereka yang ada di kongsiku.
- Tidak dalam situasi ekonomi saat ini. - Kami bisa tunggu.
Apa kami memberi kesan orang yang memeras demi uang?
Ya.
Ayo, tuan-tuan. Mari kita bicara apa adanya.
Saat ini, ada pejabat Rusia di New York...
berniat menjual 15 lukisan Rembrandt.
Ada yang lain di London menggadaikan ladang minyak di Baku.
Kalian butuh uang, kalian butuh cepat.
Kupikir tawaranku sangat pantas, dan tak ada juga yang memanfaatkan keuntungan dari keadaan kalian.
Sebentar.
- Sekarang, dengar... - Kita hanya punya sebentar.
- Semua perhiasan itu telah terdaftar. - Aku tahu. Terima kasih banyak.
- Dia buat kita tak berkutik. - Apa yang bisa kita lakukan? Kita harus menerima.
Kamerad, kamerad, jangan diserahkan begitu cepat.
Bagaimanapun juga kita harus junjung tinggi martabat Rusia.
Baiklah, kita junjung tinggi sampai 10 menit ke depan.
Ya.
- Kami tak ingin diganggu. - Namaku d'Algout. Aku yang menelepon.
Bila kau ingin bertemu kami, kau datanglah nanti.
- Aku hanya ingin bicara dengan tuan Mercier. - Kau tak boleh masuk kemari.
Tuan Mercier, bisa aku perkenalkan diriku? Aku Leon d'Algout.
Kupikir aku dapat kepuasan bertemu denganmu di tokomu.
Aku mendambakan jam platinum bernomor berlian.
- Ya, tentu saja. - Kau ingat, aku...
Oh. istimewa.
- Tidak, tuan. Kau tak punya hak. - Aku tidak ijinkan kau masuk.
Sebentar. Kuharap kau tak menyepakati transaksi ini tuan Mercier.
- Bisa jerumuskanmu dalam masalah yang serius. - Kau siapa dan apa maumu?
Perhiasan itu milik Adipati Agung Swana dan dimiliki pemerintah Soviet secara tidak sah.
Aku bekerja untuk yang mulia. Ini surat kuasa pengacaraku.
Kau tahu, tuan Mercier, ini tak masuk akal.
Mungkin saja itu perhiasan Adipati Agung Swana...
No comments yet. Be the first to leave one.