The first 150 lines.
Berhasil.
Nyaris saja.
Ternyata dia pulang untuk ganti baju, ya.
Apartemen nomor 905...
Lo, Reika.
Ibu?
Kebetulan, ya.
Ibu habis belanja, kamu sedang apa?
Apa urusanmu sudah selesai?
Eh, sebentar lagi...
Kalau begitu, mau pulang bareng?
Duh...
Atau kamu sedang janjian dengan orang lain?
Intuisinya tajam sekali.
Aku janjian dengan teman kuliahku.
Soalnya aku sudah absen seminggu.
Apa temanmu cowok?
Bukan...
Kalau begitu, aku akan menyapanya juga.
Itu malah akan membuatku malu!
Sudah, Ibu pulang sendiri saja!
Aku sudah berbuat apa sampai membuatmu malu?
Ada satu kamera pengawas.
Halo.
Ah, ini aku.
Barusan aku kebetulan bertemu Reika di depan stasiun.
Kami sebentar lagi mau pulang.
Ayah,
kamu juga harus cepat pulang, ya.
Iya.
Nanti kita makan malam bersama, ya.
Aku harus mengirim pesan dan menolak ketemuannya.
Iya.
903... 904...
905.
Aku pasti akan pulang.
Meski harus mengorbankan segalanya.
Ayo mulai, Teknik Memutar Kawat.
Teknik Memutar Kawat adalah...
salah satu teknik yang digunakan untuk membobol pintu.
Masukkan kawatnya ke dalam celah pintu,
lalu putar kawatnya dari luar,
dan terbuka.
Mudah dilakukan melalui kotak surat atau celah pintu.
Tapi harus hati-hati karena terkadang bagian pintunya bisa rusak.
Tidak kusangka aku mempelajari tindak kriminal seperti ini dari film.
Saat barusan menaiki tangga,
aku sudah memastikan informasi soal apartemen ini di internet.
Dilihat dari foto pintu depannya,
aku bisa memperkirakan posisi dan bentuk celah pintunya.
Kawatnya berhasil masuk.
Begini, lalu begini. Setelah itu, begini...
Lalu begini... dan begini...
Coba sekali lagi.
Putar ke arah sini, lalu...
Putar ke sini...
Sudah terasa tapi masih menyangkut.
Sudah lebih dari 10 menit.
Tidak bisa dicabut.
Saatnya ubah rencana.
Apartemen Kyoichi ada di lantai 9 dari gedung 10 lantai.
Cara selain masuk lewat pintu adalah...
menyusup dari atap.
Tentu saja di sini pun dikunci.
Bisa dibuka.
Ukuran jendelanya cukup untuk kulewati,
tapi tidak ada pagar.
Apa tidak ada tempat untukku mengikatkan tali?
Tidak bisa.
Teknik Memutar Kawat gagal.
Meski bisa menyusup dari atap,
aku tidak punya cukup waktu dan alat.
Apa ini memang sudah buntu?
Tugasmu adalah melindungi kami.
Soalnya mereka keluargaku.
Dengar baik-baik, Tetsuo.
Kebenaran...
senantiasa ada di sisi kalian.
Baik, Ayah.
To-Tolong berhenti sebentar.
Sebentar, ya.
Aku akan segera kembali, tasnya kutinggal di sini.
Baik.
Apa terjadi sesuatu?
Maaf, hari ini aku ada perlu mendadak.
Kita agendakan ketemuannya lain kali.
Kenapa kamu terlihat sangat lelah?
Aku sudah mencoba berbagai cara untuk melepas borgol ini.
GPS-nya masih aktif.
Kamu tahu tidak ada gunanya kalau kamu lari, kan?
Yah, sudahlah.
Nobuto menghilang setelah datang ke apartemen ini,
dan tidak ada saksi mata.
Berarti, bagaimana dengan kemungkinan dia tidak pernah meninggalkan apartemen ini?
Kemungkinan kalau Nobuto mati di kamar ini...
Kita akan cari jejaknya pakai lampu ini.
Lampu ALS.
Sering muncul di film kriminal.
Cahaya lampunya bereaksi pada bekas noda darah dan sidik jari.
Tentu saja, noda darahnya Nobuto pun...
bisa bereaksi.
Tidak ada reaksi.
Kemungkinan Nobuto terbunuh di sini...
telah hilang?
Tapi kenapa? Rasanya ada yang janggal.
Ini aku.
Lampu yang kuminta kamu belikan...
Jangan bilang kalau itu barang murahan, kan?
Itu harganya hampir 100.000 yen, lo.
Notanya pun sudah kumasukkan.
Kamu coba cek sendiri saja.
Oh, iya, Kyoichi.
Amplopnya pun sudah kumasukkan ke kotak surat.
Kamu kan mengirim surel padaku dan minta diantarkan ke rumahmu.
Tidak ada surel yang seperti itu.
Di riwayat pesan terkirim pun tidak ada.
Kalau begitu, bagaimana kalau kuteruskan surelnya?
Kyoichi, apa kamu membiarkan orang lain...
memakai laptopmu?
Surelnya akan kuteruskan.
Aku tidak mengirim surel seperti ini.
Tidak, itu mustahil.
GPS-nya tidak bergerak.
Aku pun sudah meneleponnya untuk memastikan.
Sialan.
Oh, iya,
apa hubunganmu dengan Takeda sedang buruk?
Kenapa membahas Takeda?
Tempo hari, aku minta tolong diantarkan oleh orang yang mengawasiku.
Saat itu, kami tidak sengaja membahas kalian.
Tidak penting.
Cuma orang bodoh yang mudah percaya rumor tak jelas.
Tapi, saat kami mengobrol, ada hal yang membuatku penasaran.
Kudengar Takeda mulai diam-diam menyelidikimu.
Dia curiga padamu.
Dia curiga kalau kamulah yang membunuh Nobuto.
Ka-Karena itu, aku merasa ini perbuatannya Takeda.
Surel lain yang bukan kamu kirim...
Sial, laptopnya sudah kembali ke set awal.
Ini cuma asumsiku saja.
Organisasi memberikan laptop itu padamu, kan?
Apa ada kemungkinan dari awal laptopnya dipasang aplikasi peretas?
Apa sebelum menerimanya kamu sudah memeriksanya dulu?
Lalu soal amplop yang dia antarkan ke rumahku itu apa?
Untuk apa dia memanfaatkanku dengan mengirim amplop itu?
Mungkin senjata... atau obat terlarang?
Itu mustahil.
Yang ada dia malah membuat dirinya terlibat dan bisa ditangkap.
Tidak ada untungnya dia melakukan itu.
Berarti...
No comments yet. Be the first to leave one.