The first 200 lines.
SEMUA TOKOH, ORGANISASI, TEMPAT, DAN KEJADIAN ADALAH FIKSI.
Ayo!
Terima kasih, Na-gyeong.
Aku takkan melupakan...
perbuatanmu untuk Jae-min.
Han-mo, kita akan memulai kembali, 'kan?
Kaki tangan pengebom itu masih ada di Gedung Biru.
Aku diberi wewenang menginvestigasi
dan aku butuh bantuanmu.
Aku tak dapat...
menempatkan keluargaku...
dalam bahaya lagi.
Maaf.
Jae-min!
Sepertinya Pak Jeong takkan bergabung dengan Agen Han.
Na-gyeong mestinya di balik jeruji, bukan bebas berkeliaran.
Presiden interim kita ini tidak peduli tentang mengganggu
hukum dan peraturan negara ini.
Pak Cha dan aku bertaruh.
Dia memintaku ikut kampanye Anda jika tingkat kepuasan Anda
melampaui Menteri Oh.
Kau akan melakukannya?
Kudengar Anda akan membahas
RUU Diskriminasi di rapat Kabinet.
Begitu RUU itu dibawa ke Majelis Nasional,
keinginan Anda akan terwujud,
tetapi tingkat kepuasan Anda
akan terus merosot.
Kemarin, mereka yang menentang RUU itu
sudah berpaling dari Anda.
Besok,
mereka yang menganggap Anda mengabaikan opini mereka
akan meninggalkan Anda.
Apa Anda begitu ceroboh
hingga tak menyadari
betapa pentingnya survei untuk pilpres,
atau Anda hanya arogan?
Apa RUU ini
keinginan dan semangat Anda,
atau Anda keras kepala?
Apa pun itu,
takkan ada skenario di mana aku...
ikut kampanye Anda.
Pak Kim akan membutuhkan salinan ekstra, bukan?
- Ya. - Baik.
Aku kaget.
Aku tak menyangka
kau akan menyetujui keinginan Presiden Park mengesahkan
RUU Diskriminasi.
Kukira yang penting bagimu hanyalah opini pemilih.
Pak Cha bukan pria berdarah dingin yang hanya ingin menang.
Dia sebenarnya berhati lembut, dan payah bermain basket.
Sial.
Momen-momen mengharukan juga membuatnya lemah.
Pidato humanitarianismeku membekas di hatimu.
Serius?
Aku tak menyetujui apa pun.
Presiden Park
sepertinya melupakan posisinya sebagai calon presiden,
aku bisa apa?
Dia harus mengalami sendiri
betapa sulitnya menaikkan tingkat kepuasan
yang sudah anjlok.
Jangan-jangan...
Kau berusaha menjinakkannya, ya?
Kita belum memulai kampanye yang benar.
Masih ada waktu untuk memperbaiki ini.
Kutarik kata-kataku. Dia berdarah dingin.
Ini terjadi sesuai keinginanmu.
RUU Diskriminasi
akan dibahas di rapat Kabinet hari ini.
Presiden Park
belum memiliki pola pikir politis.
KIM'S TAILOR
Aku harus menemui VIP.
Pak Kim!
Kau sudah lupa, Jenderal Kim?
Kau sudah berjanji sejak awal.
"Jangan cari tahu identitas satu sama lain.
Menemui VIP
hanya akan terjadi saat VIP memintanya."
- Tetapi... - Kau tahu alasannya.
Demi memastikan keamananmu dan kita semua.
"Kita semua"?
Itu mengindikasikan adanya kaki tangan selain Jenderal Eun.
Masih ada berapa orang?
Kita bisa menyimpulkan bahwa Pak Kim penghubungnya.
Na-gyeong,
mungkinkah Pak Kim itu Tae-ik?
Bagaimana analisis tulisan itu?
Hasilnya segera keluar.
Pak Kim.
Aku tahu lebih dari dugaanmu.
Ini bukan toko jahit biasa.
Kau, mantan mata-mata Korsel di Korut,
tak menyeterika pakaian di tempat ini
karena bakat yang terlambat ditemukan.
Orang yang cukup kaya
untuk membeli jas di tempat seperti ini...
Ini tempat untuk menemui
mereka yang bergabung di operasi itu
tanpa membuat mereka dicurigai oleh siapa pun.
Kami tidak perlu saling bertemu di operasi itu,
dan kau mengendalikan kami
dengan menyampaikan pesan VIP kepada kami.
Seperti seorang penjahit menyimpan informasi kliennya,
kau juga punya informasi kami.
Itulah satu-satunya tujuan keberadaan toko jahit ini.
Untuk seseorang yang tahu itu,
kau sepertinya...
- bersikeras menemui VIP. - Jangan salah.
Kau bukan VIP.
Aku ingin mendengar langsung dari VIP,
apa aku bisa dilindungi atau tidak.
Akan kusampaikan itu,
tetapi seperti biasa,
keputusannya di tangan VIP.
Aku percaya.
Asal tahu saja, tentara cukup naif.
Mereka hanya perlu menuruti perintah
demi melindungi negara mereka.
Tolong sampaikan itu
kepada VIP juga.
Baik.
KIM'S TAILOR
Aku sudah mendapatkan analisis tulisannya.
Setelah membandingkan
pesan kematian Myung Hae-jun dengan keterangan tertulisnya...
Bukan Tae-ik.
Tae-ik...
Itu lebih mirip "L" daripada "K".
Tae-il.
Bukan Tae-ik,
tetapi Tae-il?
KIM'S TAILOR
HASIL EPISODE 14
Pak Presiden, waktunya pergi
ke rapat Kabinet.
RUU DISKRIMINASI
Aku tampak rapi?
Ya.
Kulihat Anda ingin membahas RUU Diskriminasi.
Aku mendengar pidatomu yang memintaku menarik usulanku.
Anda percaya publik
akan tulus mendukung RUU Diskriminasi?
Apa maksudmu?
Karena latar belakang etnis, disabilitas, kebangsaan, afiliasi,
ras, agama,
bahkan kepercayaan...
Dalam segala cara,
masyarakat mencari cara untuk mendiskriminasi.
Itu cara agar seseorang bisa unggul
di dunia yang kejam ini.
Itu naluri dasar.
- Manusia... - Karena manusia,
kita takkan pernah mengakuinya dengan terbuka.
Tak seorang pun berani mengatakan mereka mendukung diskriminasi.
Karena itulah
orang menjadikan homoseksualitas alasan untuk keberatan
dengan bersembunyi di balik pembenaran agama dan tradisi.
Di balik topeng, kita makhluk egois
pendukung diskriminasi, penolak kesetaraan.
Itulah wajah buruk
dari kekuasaan
yang membuat dunia berputar.
Kau sungguh meyakini itu?
Besok,
aku akan mengumumkan pencalonanku.
Aku akan berlomba.
Meskipun kau memimpikan
sebuah negara
yang mendukung diskriminasi dan menentang kesetaraan?
Pemilih
cenderung memilih orang yang mewakili mereka.
Anda tidak tahu?
Pak Presiden,
Anda takkan pernah bisa mengalahkan aku.
Hai, Menteri Oh.
Presiden Park tiba.
MENTERI PERTAHANAN NASIONAL
WALI KOTA SEOUL
AGENDA RAPAT KABINET
Pak Cha,
kau masih berpikiran sama?
Kau berpikir bahwa masyarakat Korea
menentang RUU Diskriminasi, dan itu
takkan membantu tingkat kepuasanku?
Ya.
Tanyakan 100 kali kalau mau. Jawabanku tetap sama.
Itu fakta.
Ini merugikan Anda di pilpres.
Aku...
tidak setuju.
Kita mulai rapat Kabinet keempat.
WALI KOTA SEOUL
RUU DISKRIMINASI
Agenda berikutnya
adalah RUU Diskriminasi.
WALI KOTA SEOUL
MENTERI PERTAHANAN NASIONAL
No comments yet. Be the first to leave one.