The first 200 lines.
Kita bepergian cukup jauh juga, ya.
Masa?
Memangnya besok kau sibuk?
Tak juga.
Kalau begitu, jalan-jalannya agak jauhan lagi, ya.
Ada tempat bagus buat lihat pemandangan cahaya kota, lo.
Sabuk ini buat apa?
Oi, oi.
Jangan bilang kalau kau baru pertama kali naik mobil, nih.
Eh, kau itu apa-apaan, sih?
Tampaknya organ dalamku terluka parah.
Tubuh ini sebentar lagi mati.
Bagaimana keadaan si lelakinya?
Begitu, ya.
Jadi, itu kegunaan sabuknya.
Mau tak mau, aku harus segera bertranslokasi ke tubuhnya.
Terutama bagian kepalanya dulu.
Baik lelaki maupun perempuan, kalau hal menggerakan tubuh, pasti tidaklah berbeda.
Putuskan kepalanya,
sambungkan, lalu beregenerasi.
Semua harus kulakukan sesingkat mungkin.
Ada apa?
Bergeraklah.
Bergeraklah.
Bergeraklah.
you guys do not notice that we are gifted just by being humans
kalian tak sadar bahwa sebagai manusia, kita diberi banyak berkah
we are absolute predators
kita adalah predator alami
we do not even have any enemies
kita pun tak mempunyai musuh
maybe there are other animals watching us
mungkin ada hewan lain yang memerhatikan kita
and thinking that someday "we will beat them down"
dan suatu saat berpikir, "kita akan kalahkan mereka"
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
oh, we have the brains to think hard
oh, kita punya otak 'tuk berpikir keras
Sang Bidal
Parasit
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
ZainuddinAri
ZainuddinAri
mempersembahkan
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
wear our favorite clothes
dengan berpakaian sesuka kita
we are at no doubt human beings
tak ada lagi keraguan menjadi manusia
many small lives
akan banyaknya kehidupan kecil
they were born with the fate of dying for someone
takdir mereka saat lahir adalah mati untuk orang lain
a human baby
bayi manusia
when will they find out
kapankah mereka 'kan mengetahui
that at the point they were born, we are
di saat semuanya dilahirkan, maka kitalah
winners of earth
sang penguasa bumi?
aa hitori naiteita
ah, diriku menangis seorang diri
tonari no kimi ga tooikakeru
karena dirimu di sampingku, terasa begitu jauh
dakara bokura yorisoi ikiru
maka dari itu, kujalani hidup ini
kirameku made
segemerlap mungkin
for what have I been living for?
untuk apa aku hidup selama ini?
when will I find out the answer?
kapan 'kan kutemukan jawabannya?
an answer that is only for you
jawaban yang hanya untukmu
what will myself and (the) first scenery I saw
akan jadi apa diriku di lingkungan sekitarku kelak
Orang Asing
Wah, gawat!
Aku telat!
Kenapa kau tak membangunkanku, sih?
Alasanmu terus terlelap,
karena tubuhmu masih ingin beristirahat, 'kan?
Tidur itu penting.
Ya, ya.
Kalau kau jaga kondisimu, maka kondisiku pun terjaga.
Kau, meski hanya sedikit, tetap saja bukan lagi manusia normal.
Yang dia bilang waktu itu, maksudnya apa, ya?
Fisikku ini terhubung dengan otakmu melalui jaringan saraf dan cairan tubuh.
Kemungkinan, itulah yang dia maksud.
Eh?
Berarti, bisa dibilang, otakmu itu sedang dalam masa perubahan.
Ryouko Tamiya pasti menyadari itu,
dan rasakan aura nonmanusia di dalam tubuhmu.
Nonmanusia?
Selain tangan kananku, sisanya tetap manusia biasa, 'kan?
Entahlah.
Setidaknya, bukan hal aneh lagi kalau nyatanya ada perubahan
pada mental psikologismu.
Aku lelah. Mau tidur dulu.
He, tunggu dulu!
Tak lagi normal?
Menarik juga.
Sepertinya, harus kuurungkan niatku untuk membunuhmu.
Tidak, aku ini manusia biasa.
Rasanya... Rasanya, ada yang berubah darimu.
Belakangan ini, kau agak berubah, ya?
Tidak!
Mana mungkin aku punya niatan membunuh dan memangsa manusia!
Oi, bangun kau!
Kenapa? Oi!
Nagai?
Jangan begitu, dong!
Siapa kau?
Dia teman sekelasku.
Izumi?
Hanya itu alasannya?
Memang aku tak tahu awalnya,
tapi bukankah ini sudah kelewatan, ya?
Sudah paham, Bocah Mata Empat?
Atau mau coba sekali lagi?
Sudahlah. Kasihan dianya, dong.
Temanmu itu, lagi ada urusan sama kami.
Salah satu kata hati yang paling sulit dipahami dari manusia itu,
adalah altruisme.
Berarti, seseorang lebih mementingkan orang lain,
ketimbang dirinya sendiri.
Sampai sekarang, aku sama sekali tak tahu alasannya.
Kata hati manusia?
Oi, buruan bangun.
Benar juga!
Manusia itu berbeda dari parasit!
Ba-Barusan kubilang, "hentikan", bukan?
Kalau mau berantem, jangan keroyokan begitu, dong.
Kau ini. Serius bilang begitu?
Te-Tentu.
Sebentar, kutarik lagi ucapanku.
No comments yet. Be the first to leave one.