The first 200 lines.
Movie, West-Series, K-Drama, Anime, Music, Software, Subtitle and Many More
Nak, kau menggoda semua gadis di sekelilingmu.
O ayah yang punya anak perempuan, berhati-hatilah! Putraku sudah dewasa.
Hanya memakan kacang dan kismis, dia tumbuh sangat tampan.
Nak, aku akan segera menikahkanmu.
Oh tidak ayah! Aku belum mau nikah cepat.
"Ayah, cool... cool... cool..."
"Anakku fool... fool... fool..."
"Ayah, cool... cool... cool..."
"Anakku a fool... fool... fool..."
"Ayah cool it... Oh cool it... cool it..."
"Hei anak kesayanganku, Akan kucari seorang gadis manis untukmu."
"Aku ini ayahmu, nanti kau berjalan ke pelaminan dengan gagah."
"Menikah hanyalah masalah, untuk semua yang kukatakan."
"Mendingan aku gantung diri daripada bergantung pada wanita." - Stop.
"Daddy, cool... cool... cool... - My son's a fool... fool... fool..."
"My son's a fool... fool... fool..."
"Daddy, cool... cool... cool..."
"Daddy cool it... Oh cool it... cool it..."
"Kalau kau menggantung dirimu, nanti kupotong talinya."
"Kalau kau potong talinya, nanti aku manjat ke atas gedung."
"Kalau kau manjat ke atas gedung, nanti kutelepon pemadam kebakaran."
"Kalau kau telepon pemadam kebakaran, nanti kulompat dari atas gedung."
"Kalau kau lompat dari atas gedung, nanti kau jatuh akan sangat menyakitkan."
"Kalau kau lompat dari atas gedung, nanti kau jatuh akan sangat menyakitkan."
"Kalau aku sakit seburuk itu, tentu kakiku akan patah"
"Tentu kakiku akan patah"
"Tentu kakiku akan patah"
"Nanti kubawakan tongkat tapi kau harus turuti keinginanku."
"Lebih baik aku gantung diri daripada bergantung pada wanita."
"Aku ini ayahmu, nanti kau akan berjalan ke pelaminan dengan gagah."
Berhenti.
"Daddy, cool... cool... cool..."
"My son's a fool... fool... fool..."
"My son's a fool... fool... fool..."
"Daddy, cool... cool... cool..."
"Daddy cool it... Oh cool it... cool it..."
"Akan kudandani kau seperti pengantin, dan mengantarmu ke pelaminan."
"Kalau kau antar aku ke pelaminan, aku akan menjerit lalu teriak."
"Kalau kau menjerit dan teriak, nanti aku lakban mulutmu."
"Kalau kau lakban mulutku, nanti penghulunya kuusir."
"Masa bodoh dengan penghulu, biar aku saja yang jadi penghulu.
"Kalau kau penghulunya, aku akan copot sepatu lalu kabur"
"Akan kukumpulkan para tamu dan mengejarmu, anakku"
"Kalau kau mengejar-ngejar aku, aku akan naik pesawat, aman dan selamat."
"Oh ya, aku akan naik pesawat, aman dan selamat."
"Oh ya, aku akan naik pesawat, aman dan selamat."
"Aku akan sewa pesawat itu dan menikahkanmu dalam perjalanan."
"Mendingan aku gantung diri daripada bergantung pada wanita."
"Aku ini ayahmu, nanti kau akan berjalan ke pelaminan dengan gagah."
Berhenti.
Wow, ini luarbiasa! Empat puluh dolar!
Dengan menambah 40 dolar, sekarang aku sudah dapat Rs. 6200 milikmu.
Bukan aku tapi anakku yang luarbiasa.
Seorang turis Eropa tergila-gila dengan anakku.
Dia bahkan memberinya foto dan beberapa dolar.
Dia membawa anakmu ke hotel dan kau membiarkannya saja?!
Bukan ke hotel. Sini telingamu.
Bukan tanganmu, telingamu. Dolar woi dolar.
Kenapa kau bicara tidak jelas?
Halo paman./ Halo nak.
Apa kau pesan makanan padang?/ Ya. Aku sudah suruh anaknya Nathu.
Nanti dia antar makanannya ke rumah./ Siapa yang akan tidur di rumah?
Bukan siapa2 paman. Sini telingamu./ Bukan tangan, paman.
Sini.../ Telingamu, sini kubisik.
Dia akan mengantarnya, paham!/ Oh, mengantarnya!
Tapi Shambhu, sampai kapan kau terus-terusan jajan di luar?
Semenjak kehilangan istrimu, kau jadikan warung makan rumahmu.
Kenapa kau tidak nikahkan anakmu?
Kau betul sekali, Shankar.
Sini telingamu. Bukan tangan!
Dia budeg tapi yang dia katakan betul sekali.
Apanya yang betul?/ Kini aku akan menikahkan anakku.
Bis! Ada apa dengan bis? Siapa yang menyetir?
Tepat sekali!/ Tapi ada satu hal.
Hati-hatilah ketika anakmu sudah menikah.
Karena, jika menantumu membawanya ke Bombay seperti yang menantuku lakukan...
..kau akan makan di warung seumur hidup.
Akan kunikahkan anakku dengan mewah dan adat istiadat.
Kau lihat saja, Shankar
Batu? Di daun sirih-ku?
Aku sangat setuju sama Shankar./ Dia bilang apa tadi?
Kau harus menikah./ Halah nggak! aku nggak mau nikah.
Kau belum ngerti. Sangat penting sekali ada perempuan di rumah.
Terdengar bagus 'kan ketika dia tanya "kapan kau pulang" pada malam hari?
Yah, sudah lama bukan kau dengar kata-kata itu?
Kata-kata apa?/ "Kapan kau pulang?"
Benar sekali! Sangat lama./ Percayalah, carilah wanita untuk di rumah.
Aku...? Kau gila?/ Kenapa?
Apa kata orang-orang?/ Oh bagus.
Pratap Singh nikah pas dia sudah tua./ Aku beda dengan dia.
Setidaknya dengarkan aku!
Yah, jangan malu. Dengar.../ Tapi Pratap Singh tak punya anak.
Lelaki menikah untuk punya anak, jadi dia bisa melanjutkan keturunan.
Aku punya kau./ Tapi aku sendiri!
Kau sendiri cukup./ Tidak cukup. Bayangkan jika aku punya...
Ngapain ikut-ikut?/ Biarkan aku berdiskusi denganmu.
Baik, bicaralah./ Jika aku punya saudara kandung...
kita bisa punya orkes kita sendiri./ Orkes apa?
Sebuah band . Bayangkan. Shambhu Singh Rathod And Sons.
Akan betapa tenarnya nama Rathod di seluruh Rajasthan.
Kedengarannya bagus, tapi.../ Tidak ada tapi-tapian. Aku akan bicara...
..dengan paman Shankar besok./ Shankar yang mana? Yang budeg?
Bukan. Yang jual sirih. Orang yang bicara tentang pernikahanku denganmu.
Baik. Kau akan bicara apa?/ Aku akan minta...
..carikan istri yang cocok untukmu./ Baiklah.
Istri yang melayani kita dan memberiku 4 sampai 5 adik.
Dan yang memasak makanan lezat buatku.
Dan yang membuatkan teh setiap pagi dan menyiapkan makanan untukku.
Yang memijat kepala kita dan mengancingkan kemeja kita.
Dan ketika aku mandi, dia yang menggosok punggungku.
Dan sebelum tidur, dia yang memijat kakiku.
Dia akan begitu./ Baiklah. Kau bicaralah dengan Shankar.
Orang yang budeg?/ Bukan, yang penjual sirih.
Aku tahu. Orang yang bicara tentang pernikahanku.
Bilang padanya aku setuju tapi calonnya harus yang muda.
Yang lebih muda! Ibu!
Ibu!/ Kau mau beri tahu Parvati?
Siapa tadi? Yang lebih muda?
Ibu, ibu dengar yang ayah rencanakan?
Dialah yang menghasutku./ Tidak ada yang menghasut.
Aku hanya memeriksa hatinya. Semenjak engkau meninggal...
..dia telah lupa semuanya. Cintamu, jasamu...
Ini, minum air.
Pria tua ngimpikan istri muda./ Diam.
Tenanglah. Minum airnya.
Dia batuk berdarah. Dia harus dirujuk ke kota untuk pengobatan.
Baiklah. Akan kubawa dia.
Dokternya tidak waras. Aku tak mau ke Bombay.
Ayah, lewat sini./ Aku tak mau ke Bombay.
Kau harus ke Bombay./ Tidak mungkin.
Kau tak dengar kata pak dokter?/ Apa?
Batuk berdarah adalah pertanda buruk.
Harus berobat ke spesialis./ Aku ke sini karena permintaanmu.
Kini aku menolak pergi jauh-jauh./ Apa masalahmu?
Ada masalah dalam perjalanan ke Bombay.
Pamanmu, adikku Raghuveer pernah juga ke sana.
Belum pernah balik. Justru yang datang selembar kertas yang tertulis...
..mayat tak dikenal ditemukan di jalanan Bombay.
Kau tahu mayat siapa itu? Mayat adikku, pamanmu.
Bombay itu bagai hutan belantara yang nyawa tidak ada harganya.
Hutan pemisah antar individu. Yang akan memisahkan kita juga.
Hal ini akan merampasmu dariku.
Aku menolak pergi ke Bombay.
Baiklah kalau gitu. Batuklah terus sepanjang hidup seperti itu.
Kini, jangan bilang yang kulakukan adalah salah.
Sekarang kau lihat suamimu, 'kan?
Lihat. Dia batuk sembunyi2 dan meludahkan darah.
Lalu dia tetap tidak mau pergi ke Bombay.
Dia menolak periksa ke dokter dan jalani pengobatan sendiri.
Dia seorang ayah. Andai dia seorang anak, sudah kubawa dia ke Bombay...
jalani pengobatan terbaik dan menyembuhkannya dalam beberapa hari.
Tapi, apakah ada yang mau mendengar aku?
Terus untuk apa aku masih di sini?
Makanya, aku pergi.
Sekarang kau saja yang mengurusnya. Aku pergi..
Biar kubawa peralatanku./ Kau mau pergi kemana?
Ke neraka!
Kau tak di sana ketika aku membakar mayat ibu, 'kan?
Aku tidak mau melihatmu mati. Aku tak ingin mengabu mayatmu.
Karena itu, aku pergi./ Hanya kau yang akan mengabu mayatku;
dan mengafaniku.
Apakah kita seperti ayah dan anak?
Bukan. Kita seperti teman.
Layaknya tiupan dan seruling. Bisakah kau memisahkan mereka?
Apa kau mau mengantar untuk pengobatanku?
Baik, antar aku. Aku pergi bersamamu.
Tapi, apa aku boleh mencari gadis muda?
Kau akan berjumpa banyak yang seperti itu.
Bukan untukku, bodoh. Aku bicara tentangmu.
Tapi, jangan pernah berniat meninggalkanku lagi.
Ke mana aku pergi? Aku hanya akting.
Tapi kau setengah mati menakutiku.
Akankah kau pergi meninggalkanku?/ Tidak, tak akan.
Aku ikut denganmu ke Bombay. Aku akan berobat.
Shambhu Rathod, Aku menjamin..
..Anda akan bisa bernyanyi seperti sedia kala.
Tapi ada satu syarat./ Syarat apa?
Anda berhenti menyulut tembakau.
Dokter bicara apa? Tanpa tembakau, mana bisa aku menyanyi dengan merdu?
Jika Anda mengunyah daun sirih, tenggorokan Anda harus dioperasi.
Apa maksudmu?/ Jangan menentang. Dengarkan saja.
Katakan padanya kau melakukannya hanya setelah pengobatan.
Sudah kubilang jangan membawaku ke Bombay, kan?
Parvati, kau dengar itu? Kau mati dan dia ingin membunuhku juga.
Ayah, semua akan baik-baik saja. Ikut denganku.
Mari masuk, kita lihat ruanganmu.
Shambhu, ini ruanganmu dan itu ranjangmu.
Dengarkanlah mereka!/ Mereka teman barumu.
Selamat datang, Pak. Saya Bashir./ Halo.
Hai, Saya Charsi./ Ayah, kemari rebahan pelan-pelan.
Aku akan mencari Chandu dan mencari kerja untukku.
Dengar..
Baik, aku duduk di sini.
Oke, lanjutkan.
"Selamat ulang tahun Reshma sayang"
"Selamat ulang tahun"
Wauw! Ada danau di rumah!
Hei kau! Belum pernah lihat air?
Kau mau lompat ke sana?/ Kenapa lompat?
No comments yet. Be the first to leave one.