The first 165 lines.
Yamada? Kamu kenapa?
Rambutmu kena mataku...
Masa? Maaf!
Kamu enggak apa-apa? Ada yang masuk ke matamu?
Coba lihat. Mata yang mana?
Aku baik-baik saja.
Maaf, Yamada! Kamu juga minta maaf, Runa!
Aku...
minta maaf...
Aku mau merapikan rambut dulu.
Eng, aku mau pulang dulu.
Eh?
Aku lupa bawa peralatan buat memperbaikinya.
Tapi...
Aku segera kembali.
Jadi bolak-balik, dong?
Aku jadi enggak enak...
Enggak apa-apa.
Rumahku dekat.
BODOH
JELEK
Meskipun dirundung, aku enggak apa-apa.
Yang penting ada Akito.
Saat sudah dewasa, kita akan terus bersama, ya?
Aku enggak yakin soal itu.
Selamat datang.
Mau memakai kantong plastik?
Iya.
Kamu selalu membeli ini, ya?
Karena teh dari merek ini memang enak, ya?
Ah, iya.
Aku juga menyukai ini.
Terima kasih banyak!
Eng...
Ka-Kalau enggak keberatan, boleh aku menanyakan namamu?
Melihat dari seragammu, kamu dari Akademi Tosei, ya?
Aku lulusan dari sana.
Dari dulu aku selalu ingin mengajakmu berbicara.
Maaf, aku sedang buru-buru.
Benar juga.
Kenapa ekspresinya begitu?
Aku sedang buru-buru,
tapi kenapa malah mengobrol sama pelayan minimarket?
Kamu selalu saja begitu.
Aku enggak mengerti.
Bikin bingung.
Lebih baik aku enggak usah dekat-dekat dengannya.
Aku kembali.
Enggak ada orang?
Mereka tertidur dengan damai.
Akan kuperbaiki dengan tenang.
Hampir saja.
Maaf, aku rapikan dulu.
Yamada?
Kenapa kamu bisa ada di sini?
Kok bisa?
Aku pernah melihat dia.
Kenapa ada di sini?
Yah, banyak hal yang terjadi.
Banyak hal soal apa? Coba jelaskan lebih detail!
Malas.
Jangan bilang kamu sama Akane...
Perkenalkan, dia pacar baruku...
Bukan.
Ah, mana mungkin. Kalau dipikir-pikir lagi,
itu cuma sandiwara Akane saja.
Dia itu gampang dibaca.
Selain itu, aku selalu mengecek semua media sosialmu!
Semuanya normal! Enggak ada cewek! Masih seperti biasa!
Aku enggak salah paham, kok, jadi kamu tenang saja.
Oh, iya, sebenarnya aku mau mengembalikan sesuatu...
Kami susah ketemu di kampus.
Aku juga enggak tahu cara menghubunginya.
Kotak bekal yang selalu dia isi makanan untukku atau piring,
aku lupa mengembalikannya,
jadi malah menumpuk di rumah.
Kotak bekalnya saja ada lima.
Enggak enak kalau enggak dikembalikan.
Apa enggak kebanyakan?
Yah, aku tahu dia enggak mau melihat wajahku lagi,
tapi setelah melihat kotak ini menumpuk, aku jadi kepikiran tentang dia.
Aku membuatkanmu bekal!
Apakah dia baik-baik saja?
Itu membuatku khawatir.
Kalau melihat wajahnya yang ceria, aku bisa merasa lega.
Mungkin dia baik-baik saja.
Kamu ingin melihatnya?
Kamu ingin merasa lega setelah melihatnya?
Aku...
akan pulang.
Maaf kalau terlalu seenaknya.
Tolong jangan beri tahu kedatanganku pada Akane.
Bilang saja kotak bekalnya tiba-tiba muncul,
jadi mohon bantuannya, ya?
Aku akan mendukung pertandinganmu selanjutnya!
Eng...
Sejak kapan dia di situ?
Eng, kotak bekalnya...
tiba-tiba muncul.
Mana ada sesuatu yang tiba-tiba muncul.
Lucu banget pas kamu bilang itu dengan wajah datar.
Terima kasih sudah bantu terima tamu.
Eng, aku mau mengembalikan ini.
Eh? Sejak kapan jepitannya lepas?
Iya, aku yang mengambilnya.
Eh?
Aku yang mengambilnya waktu kamu tidur.
Begitu, ya?
Iya, maaf.
Kenapa?
Entah...
Aku hanya ingin mengambilnya.
Kenapa, ya?
Ka-Kamu ini bilang apa, sih?
Dari Eita.
Halo.
Iya.
Boleh kukatakan komponen yang kurangnya?
Ah, tunggu dulu. Mau aku tulis.
Eng...
Dia kenapa?
Ada preferensi jam kerja?
Selain jadwal kuliah, aku senggang.
Wah, baguslah.
Karena dekat dari kampus, jadi enak buat bolak-balik.
Iya!
Toko ini lumayan sibuk,
jadi kuharap kamu selalu siap untuk bekerja, apakah kamu keberatan?
Iya, aku akan berusaha!
Kamu melamar kerja di minimarket?
Untuk sementara waktu saja. Tempatnya dekat dari kampus.
Tempatnya yang ada di sepanjang jalan dan manajernya berambut panjang.
Oh, di situ.
Kasih tahu aku kalau sudah dapat jam kerjanya.
Aku mau ke sana.
Datanglah!
Tapi kenapa kerja sambilan?
Bukannya komputermu yang rusak sudah diperbaiki?
Iya, tapi Eita...
Komponen yang kudapat dari anggota guild,
harganya lumayan juga kalau harus beli.
Aku enggak bisa menerima sepenuhnya dengan gratis.
Hari ini aku mau menanyakannya saat main gim.
Malah repot-repot menanyakannya di dalam gim.
Iya.
Yah, kamu memang harus berterima kasih pada orang yang menolongmu.
Momo!
Ah, aku dipanggil.
Aku lagi kencan buta, jadi duluan, ya!
Nanti kita mengobrol lagi.
Iya!
Kamu lama banget di toilet.
Para cowok lagi menunggumu, tuh.
Maaf, ada telepon dari teman.
Teman?
Katanya Akane mulai kerja sambilan.
Oh, Kinoshita.
Belakangan ini dia jarang ikutan kencan buta, ya?
Saat ini dia lagi sibuk main gim online, jadi biarkan dulu saja.
Oke! Hari ini aku harus menemukan pangeran!
Walah.
Cowok idealnya belum muncul juga.
Memangnya menemukan cowok ideal di pertemuan pertama itu
memungkinkan di dunia nyata?
Wah!
No comments yet. Be the first to leave one.