The first 200 lines.
Diterjemahkan oleh: IDFL™ SubsCrews Kapten Kooky - tiyo46 - Zambronk
...dan sekarang kita simak pernyataan dari Yang Mulia Baginda Raja.
Selama beberapa kali cobaan terhadap tanah air kita,
Dihimbau kepada seluruh warga negara,
untuk menjaga lingkungan dengan cara berperilaku santun dan arif,
karena tindakan atau ucapan apapun yang bersifat negatif,
akan menerima konsekuensi serius.
Tuhan memberkati kita semua.
Tuhan memberkati Denmark.
Christian Rex, Amalienborg.
9 April 1940
Pasukan Jerman melintasi perbatasan Denmark ketika dini hari.
Denmark kalah jumlah menghadapi kekuatan militer terkuat di Eropa.
Pertempuran paling berat terjadi di Jutland Selatan.
Letnan memintaku mengantar Anda langsung ke tempat pelatihan.
Suasana di barak sangat tegang.
Mereka berkomunikasi dengan Copenhagen. Tapi tak seorangpun membicarakannya.
Aku hanya tahu sedikit sama sepertimu, Sersan.
8 April 1940. Søgård, 12 km dari perbatasan.
Dia tak menjawab, kemudian aku bersandar padanya.
Kau tahu yang dia katakan? / Tidak.
Dia tak menginginkan seorang prajurit.
Percepat langkahnya. Kita sedang terburu-buru.
Apa pekerjaanmu? / Aku ikut kerja pada Ayahku.
Sudah lama aku tak melihat Inggrid.
Kau akan segera melihatnya.
Bagaimana denganmu, Gram? / Denganku?
Ya, apa pekerjaanmu? / Kau takkan mau tahu.
Karena kau pasti mengejekku.
Kau selalu berpikiran buruk tentangku. / Memang.
Ayolah Gram, beritahu kami.
Jika, kalian ingin tahu,
Aku hanya tinggal di rumah, mencuci pakaianku.
Membaca buku.
Terkadang aku sedih melihatmu, Gram.
Gram?
Menurutmu, kenapa surat cutiku tiba-tiba dicabut?
Kau punya jawaban yang sama. Ini hanya latihan kewaspadaan.
Ini hanya latihan.
Letnan Dua. / Siap, Letnan.
Kita ada di sini lagi. Seseorang membunyikan tanda bahaya.
Kupikir ini serius, bukan latihan.
Kami menerima laporan dari inteljen, ada pergerakan perangkat militer di Kiel.
Sebuah kereta api penuh tentara menuju utara ke arah perbatasan.
Kedengarannya tak bagus.
Jangan terlalu khawatir, seluruh izin cuti sudah dicabut.
Mereka mengirim pasukan sepeda motor untuk membantu kita.
Dipimpin Sersan Bundgaard.
225 dengan yang lain, melapor.
Kalian terlambat. Letakkan tasnya, ambil senjata dan ikuti latihan menembak.
Tiga prajurit itu. Beri hukuman pekerjaan dapur seminggu.
Siap, Letnan. Layanan dapur selama seminggu.
Bagus.
221, tembak!
Tembakan bagus.
212, tembak!
Ulangi.
212, konsentrasilah. Ini latihan serius.
Aku tak tahu siapa yang ditakuti. Lassen atau Jerman.
Tembakanku pasti meleset jika kau mentertawaiku. / Kau pasti meleset terus.
Pak, ingin minum apa?
Tolong buatkan kopi. / Cognac.
Sepertinya Jerman sedang menuju Denmark.
Mereka mengincar perairan Norwegia. Denmark tak punya strategi bagus.
Tetangga kita di selatan itu sejak awal tak bisa diprediksi.
Terima kasih.
Kau pasti lelah. Jam berapa kau bangun?
Jam tiga pagi.
Kucoba menyelinap pergi, tapi malah membangunkan keluargaku.
Semoga istrimu tak khawatir.
Aku tak bilang apa-apa, tapi istriku tahu siapa aku.
Ini bukan pertama kalinya Jerman coba melanggar perbatasan.
Kita lihat saja nanti. / Selesaikan latihan menembaknya. Keluarkan pelurunya.
Latihan berikutnya dengan sepeda. Ayo! Berbaris!
Pagi, Gram. / Senang melihatmu.
Ada kemajuan dengan bidikanmu? / Cepat, menuju sepeda!
Siap, Sersan. / Siap, Sersan.
Baiklah! Latihan pertama. Ganti ban depan. Dua menit, laksanakan!
Sudah kau lepas? / Ya.
Bantu aku, ayolah.
Berikan bannya. / Lebih cepat. Ayo.
Pegang. / Segera pasang kembali!
Tunggu. Angkat. / Kencangkan bautnya.
Siap, Sersan. / Siap, Sersan.
Terima kasih.
Letnan. / Ulangi lagi.
Kali ini sebelum 90 detik. / 90 detik? Siap, laksanakan.
Baiklah. Kita lakukan lagi. Kali ini sebelum 90 detik.
Apa yang kalian tunggu?
Ayo, Lassen. Lebih cepat.
90 detik! / Dia pasti sudah gila.
Kolding, apa rotimu mau kau makan?
Ya, Justesen. Mau kumakan. / Masih lapar, Justesen?
Tenang saja. Kau takkan pulang menggelinding.
Kalian orang kota kalau sudah berkumpul pasti berisik.
Tapi saat sendirian...
...tak kudengar suara apapun.
Berapa lama kita terus seperti ini, Gram?
Sampai kita berhasil melakukannya di bawah 90 detik.
Kita sudah berusaha. Tapi tak berhasil.
Letnan Dua itu hanya ingin kita berkeringat.
Istrinya mungkin tak membuatnya nyaman seperti yang dia harapkan.
Dia perwira atasanmu. / Ya.
Dia takkan dengar.
Kecuali kau melapor padanya, Tn. Petugas Barak.
Letnan, aku punya pesan penting dari Pak Letkol.
Hentikan latihan dan kembali ke barak.
Selesai makan, mereka semua harus tidur mengenakan seragam.
Apa yang terjadi? / Ada berita baru dari intelijen.
Pasukan Jerman,
sudah bergerak menuju perbatasan. Hanya beberapa kilometer lagi.
Pak Letkol tak ingin ada kepanikan,
itu sebabnya ini disebut latihan.
Klostergaard, hentikan acara makannya! Kita harus segera ke barak.
Kau dengar perintah Letnan! Bangun! Menuju sepeda!
Hadap depan!
Kalian akan menerima masing-masing 40 peluru dan kotak P3K.
Kemudian berbaris masuk kamar dan tidur memakai seragam.
Kalian harus mengenakan seragam dan sepatu. Peralatan komplit.
Mulai sekarang kalian harus kalungkan tag di leher sepanjang waktu.
Hadap kanan!
Maju!
Masing-masing 40 butir peluru?
Kau masih berpikir ini latihan, Gram?
Mereka ingin tahu apa yang terjadi.
Ya. Tapi kita tak punya hak memberitahu mereka, Letnan Dua.
Pos Perbatasan 3 di sini. Ada aktivitas besar di luar perbatasan.
Diulangi. Aktifitas besar di dekat perbatasan Jerman.
Di mengerti. Jerman sudah melanggar perbatasan?
Mereka belum melintasi perbatasan, tapi kami dengar aktivitas besar-besaran.
Berapa kekuatan mereka? / Berapa kekuatan mereka?
Sulit memastikan. Kami tak bisa melihat. Hanya mendengar.
Apa perintah selanjutnya?
Tetap siaga dan tunggu perintah selanjutnya.
Pos Perbatasan 3, tetap di tempat. Tunggu perintah selanjutnya.
Siap, Pak, laksanakan! / Padborg, Kruså dan sekarang Rens.
Sudah tak bisa di pungkiri lagi, dengan apa yang mereka lakukan.
Hubungi lagi Komandan Divisi Jutland.
Haderslev dan Sønderborg tetap siaga.
Mereka menunggu izin meninggalkan barak.
Mereka 50 kilometer dari sini. Untuk pertama kalinya kita sendiri.
Pak Letkol... Ini dari Komandan Divisi Jutland.
Matikan pengeras suaranya.
Ya, Pak Mayjen. Pos 3 melaporkan adanya peningkatkan aktivitas pasukan Jerman.
Saya meminta izin mengirim pasukan ke perbatasan...
...dan memerintahkan mereka dalam posisi bertahan.
Saya mengerti Pak Mayjen. Tapi kami hanya 10 km dari perbatasan.
Jika menunggu perbatasan diterobos, kami tak ada waktu mengambil posisi.
Apa para Staf Jenderal sudah meminta pendapat Perdana Menteri?
Mengenai pertimbangan eskalasi terbaru?
Ya siap, Pak Mayjen.
Kami akan usahakan yang terbaik.
Sejauh ini tak ada yang baru. Kita tetap siaga hingga pemberitahuan selanjutnya.
Perdana Menteri berpikir bahwa setiap mobilisasi di Denmark...
...bisa dilihat sebagai bentuk konfrontasi.
Strategi pertahanan dianggap konfrontasi? Dan mobilisasi Jerman tidak?
Simpan saja opinimu itu sendiri. / Siap, Pak Letkol. Mohon maaf.
Tuan-tuan. Pastikan seluruh pasukan siap di berangkatkan.
Siap, laksanakan.
Sersan Klostergaard. / Siap, Pak.
Kita periksa asrama. / Siap, Pak.
Tidakkah seharusnya kita membuat posisi pertahanan?
Ya, benar. Kau bisa "berterima kasih" pada Perdana Menteri karena situasi ini.
Boleh kulihat?
Boleh kuminta kembali? / Ya, tenang saja.
Tak banyak yang bisa dikerjakan.
Tak semua bisa menembak dengan tepat. Ayo kita ke sana.
Hai Lassen. Tak bisa tidur?
Tak terlalu.
Kau gugup, Lassen? / Ya.
Tak setiap hari bisa dapat amunisi sebanyak ini.
40 butir tidaklah banyak. / Tidak, memang tak banyak.
Boleh kami minta beberapa butir?
Bukan untukku. Aku kan pegang senapan mesin. Ini untuk Lundgren.
Aku tak yakin diizinkan melakukannya, Andersen.
Lassen, kau bukanlah penembak terbaik di sini, kan?
Tapi Lundgren... Kita semua tahu yang dia lakukan dengan senapan.
Cuma setengahnya saja. / Benar, 20 butir peluru.
Ini demi kita semua.
Oke. / Bagus.
Lassen, jangan. Jangan lakukan itu.
Kita masing-masing punya 40 butir. Tak seorang pun punya lebih atau kurang.
Kalian berdua segera ke tempat tidur. / Baik, Tn. Petugas Barak.
Lassen, aku serius. / Gram, tak apa-apa.
Aku tidak keberatan. / Ya, lalu apa masalahnya?
Bukan kau yang memutuskan, dan kau tahu itu.
Gram, kau ingin kalah perang? / Tentu saja aku ingin menang.
Kau orang Jerman, kan? Mungkin kau tak tertarik dengan kemenangan.
Aku bangga menyebut diriku orang Denmark.
Tapi kau bukan. / Aku berkata benar.
Ayahmu Jerman, kan? / Ya.
Kalau begitu, kau orang Jerman. / Kau lebih bodoh dari dugaanku.
Ini bukan permainan.
Simpan saja untuk besok, oke?
Tidurlah kembali. / Sulit tidur jika kalian terus ribut.
Tak ada yang bicara denganmu, Justesen.
Aku serius, Andersen. Sekarang, tidurlah!
Kalau tidak, kenapa? / Pergilah tidur.
Ada apa di sini? / Perhatian!
Kalian harus tidur berseragam!
No comments yet. Be the first to leave one.