The first 200 lines.
Sampai rumah.
Astaga, ada perubahan besar di mansion.
Bao.
Coba lihat itu apa.
Bao, coba lihat.
Mirip tidak seperti yang kemarin Mama bilang?
Rumah kecil di dalam dongeng.
Harum sekali.
Bao. Ayo, kita pergi cuci tangan.
Kemarilah makan setelah cuci tangan.
Ini bagus.
Kau mengganti mejamu?
Bukankah kau bilang
rumah harus ada suasana rumah?
Makan bukan hanya mencerna makanan,
melainkan waktu bagi keluarga
untuk berinteraksi?
Meja bulat lebih mendekatkan kita
dibandingkan meja panjang.
Duduklah.
Tunggu.
Bao, coba lihat kursi-kursi ini.
Kau suka warna apa?
Cepat pilih satu.
Lalu, tempelkan stikermu.
Kuasai kursinya.
Itu...
meja ini baru aku...
Baru apa?
Tidak masalah.
Peralatan di rumah
disediakan bagi orang rumah.
Ayo.
Mari makan.
Kau suka makan apa?
Kutambahkan untukmu.
Makan sendiri.
Hadiah.
Kita bertiga makan bersama.
Ayo.
Apakah Nona Yang?
Benar.
Silakan ikut saya.
Silakan duduk, Nona Yang.
Terima kasih.
Asisten Manajer Wen.
Dokumen yang Anda mau
sudah saya kirimkan kemari.
Asisten Manajer Wen sangat berbakat.
Ini adalah dokumen yang kau mau.
Tidak usah buru-buru.
Permisi.
Silakan menikmati.
Daging sapi Jepang yang dipanggang dengan arang di restoran ini
sangat enak.
Cobalah.
Jangan pukul aku.
Arah jam tiga.
Orang yang memotret diam-diam
adalah orangmu kan?
Bagaimana mungkin? Jangan bercanda.
Kenapa aku harus berbuat begitu?
Tidak ada alasan.
Karena kau ingin mencari orang
untuk memotret kita berdua.
Dengan begini kau bisa memberi tahu Direktur Wen
kalau aku ini
adalah seorang
wanita yang berniat menggoda.
Direktur Wen
paling benci gadis di kantor
yang sengaja mendekatimu.
Jadi, dia akan memecatku.
Aku pergi dulu.
Sudah tak ada yang mengawasimu lagi.
Kenapa kau tidak merasa
kalau aku ini tulus?
Restoran, biola,
lalu apa ini...
daging sapi kelas atas.
Kakak, ini sudah zaman apa?
Hanya dengan ini
kau masih berani bilang tulus?
Kalau ingin menipu,
kusarankan padamu
beraktinglah lebih serius.
Kalau tidak, semuanya akan malu.
Karena Asisten Yang begitu percaya diri,
berani tidak bertaruh denganku?
Bertaruh apa?
Jika hatimu luluh padaku,
kau harus mengundurkan diri.
Kekanakan.
Kenapa ingin merebut pekerjaanku?
Bercanda.
Kalau tidak, aku beri tahu ayahku
kalau malam itu
kita berdua...
Baiklah.
Silakan kerahkan kemampuanmu.
Nikmatilah dengan baik
waktu-waktu indahmu
di Grup Wen.
Aku yakin,
tidak butuh waktu lama
kau pasti akan mengundurkan diri.
Apa-apaan ini?
Tetapi, aku punya satu syarat.
Kalau kau ingin hatiku luluh,
kau harus patuh pada ucapanku.
Tidak berani?
Kenapa tidak berani?
Sepakat.
Serbu.
Yiyue, Bao.
Bao.
Coba tebak
hadiah apa yang kubawakan untukmu?
Malu.
Tidak apa-apa, Mama bantu.
Apa ini?
Coba lihat, apa ini?
Ini, mau?
Ayo, Mama ajak kau main.
Orang ini.
Sejak kapan hubungannya
menjadi sedekat itu dengan Bao?
Lihat.
Coba tepuk sendiri.
Kau sudah datang?
Kupertimbangkan saranmu dengan serius
dan memutuskan untuk inspeksi lapangan.
Melihat apakah cocok untuk Bao.
Selamat datang, CEO He.
Mari kuajak berkeliling.
Itu tidak perlu.
Fasilitas yang ada
sudah kupelajari sebelumnya.
Yang terpenting adalah kemampuan gurunya.
Kurasa aku perlu
mengenal sedikit Guru Ning Fang.
Bao sudah tidak sabar main bola.
Ayo, Bao.
Kalian berdua minggir sedikit.
Tidak.
Ini acara orang tua dan anak,
kurasa aku perlu untuk
ikut serta di dalamnya.
Bao.
Mari kita lomba main basket.
Aku sendiri,
melawan tim Guru Ning Fang,
kau dan Mama.
Kalau kalian menang,
kau boleh sekolah di sini.
Oke?
Satu lawan dua?
Tentu saja.
Senior, semangat.
Papa memasukkan bola.
Masuk.
Papa memasukkan bola lagi.
Senior, semangat.
Dua lawan dua, seimbang.
Apakah aku harus masuk?
Aku pergi dulu.
Aku datang.
Hore.
Tanganku sakit.
CEO He.
Begini saja, aku mengalah padamu.
Kita lomba melakukan shoot.
Aku tidak mau kau mengalah.
Hore.
Masuk.
Boleh juga.
Lagi.
Sedikit lagi, tidak masalah.
Lagi.
Giliranmu.
Hore.
Masuk lagi.
Empat banding dua, waktunya habis.
Kami memang.
Bao, kita sudah bisa sekolah.
Sudah bisa sekolah.
Bao sedang tidak?
Sudah bisa sekolah.
Hore.
CEO He, harus tepati ucapanmu.
Lihat.
Pensil dan penghapus.
Aku menyiapkan banyak sekali untukmu.
Nantinya,
kalau ada teman yang tidak bawa,
harus pinjamkan pada mereka.
Uang jajan dan tisu.
Kuletakkan
di kantong samping sini.
Sapu tangan.
No comments yet. Be the first to leave one.