Death at a Funeral

Death at a Funeral

Download Indonesian Subtitle

Release info

Death At A Funeral 2010 1080p BluRay x264 AC3-ETRG
A Commentary by LeftLifted
.

Tags

BluRay
x264
AC3
1080
Published on: 2018-06-29
Downloads: 139
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Diterjemahkan oleh LeftLifted

LeftLifted

Kau ingin melihatnya sebelum...

Ya.

Brian, siapa ini?

Aku menanyakan hal yang sama ketika ayahku meninggal.

Aku berkata, "Siapa orang ini?"

Tidak, Brian. Siapa dalam peti ini?

- Ini bukan ayahku. - Kau yakin?

Kau menanyakan apa aku yakin mengenali wajah ayahku?

Terkadang kita khilaf ketika berduka, Aaron.

Lihat jenazahnya.

Oh, sial.

- Isinya Jackie Chan! - Baik, dengar...

Kau kenal ayahku, Brian.

Kami kewalahan hari ini. Hal seperti ini jarang terjadi.

- Jarang terjadi? - Aku bilang begitu?

Ini bukan Burger King. Seenaknya antar pesanan.

Kumohon, tenanglah. Kurasa aku tahu di mana dia.

Kau rasa?

Jika ayahku tidak dalam peti ini, kau yang gantikan tempatnya.

Jangan khawatir. Aku akan membawanya.

Dia tertukar di rumah lain. Kurasa di rumah kedua.

Teman-teman, ayo kemas. Tutup petinya.

Ayo kita pergi.

Tunggu, sebelum berangkat. Apa aku memberimu kunciku?

Tidak, ada di mobil. Kuncinya ketinggalan di mobil.

Ayo. Kurasa mobilnya masih hidup.

Jika kau cemas berada di sini, kenapa ikut?

- Kau sudah tahu. - Aku benci pemakaman.

Semuanya tentang kematian.

Kurasa pemakaman dibuat bukan untuk disukai, Norman.

Tentu.

Aku tak mau pemakaman biasa saat ajalku tiba.

Aku ingin diriku terkenal.

Seperti Anna Nicole Smith, Richard Nixon, orang besar dan berkuasa.

Aku ingin kematianku jadi hari tersedih.

Pasar saham jatuh, pabrik-pabrik ditutup,...

...gadis-gadis menangis di jalanan.

Semacam itu. Hari berkabung boleh juga.

- Ayolah. - Apa?

Kau masih merokok setelah semua peringatan yang ada?

Hentikan, Norman. Kau dulu merokok.

Kita dulu merokok bersama.

Dulu aku sering ngompol, kemudian aku berhenti.

Aku punya masalah yang kupikirkan tanpa harus peduli kau merokok.

Ayolah, Norman. Apa masalahmu?

- Sudah kubilang! Bintik merah! - Pakai kondom, papa.

- Di tanganku. - Kau harus pakai kondom, Norman.

Itu pertahanan pertama.

Yang ini tidak normal. Lihatlah.

- Astaga. Itu bukan bintik merah. - Menurutmu apa ini?

Entah, tapi penuh bercak.

Bercak? Aku benci bercak. Habislah aku, aku akan mati!

- Tidak. - Aku masih muda!

Mereka salah bawa jenazah.

Sayang, kau dengar? Mereka salah bawa jenazah.

Astaga, mereka tahu jenazahnya ada di mana?

Katanya.

Sudah kubilang, jangan gunakan jasa Marshalls,...

...tapi, kau tetap percayakan teman-temanmu.

Jangan permasalahkan itu. Aku sudah banyak pikiran.

Ayah ingin acara pemakamannya digelar di rumah, aku harus menurutinya.

Kematian di sana-sini.

Tidak, sayang.

Mama tak berhenti menangis.

- Ryan tidak membantu. - Dia tak pernah membantu.

Ditambah, aku harus memikirkan pidato kematian ini.

Aku yakin itu akan menjadi pidato terbaik.

Tak penting.

Semua orang bakal berpikiran, "Kenapa bukan Ryan berpidato?

"Minggir, biarkan sang penulis yang berbicara."

Akupun akan berpikiran begitu.

Kenapa tidak suruh dia saja, kalau begitu?

Jadi, kau ingin Ryan berpidato?

Tidak. Maksudku...

Maksudmu kau ingin mendengar pidato Ryan.

Tidak. Kau lebih tua, jadi...

Jadi, aku harus melakukan ini hanya karena aku lebih tua.

Aaron, tenanglah.

Aku rasa kau penulis hebat sama seperti adikmu.

Kau hanya perlu membiarkan seseorang membaca bukumu.

Bukunya belum rampung.

Baiklah. Tapi jangan lupa, kita pindah rumah pekan depan.

- Aku tahu. - Aku sayang ibumu,...

...tapi aku sudah siap untuk pindah.

Aku tahu, tapi kita harus menyelesaikan urusan hari ini, ya?

Benar.

Aku tahu ini berat.

Tapi ini hari terakhir siklusku.

Dan aku sudah 37 tahun, jadi kita perlu mencoba...

Kita harus melakukannya. Setidaknya hari ini, ya?

- Sayang. - Ya?

Kau harus tahan siklusmu itu, untuk saat ini. Hari ini saja.

Paling tidak temukan jenazahnya dulu?

- Kau baik saja? - Ya, tentu.

Aku sedikit gugup.

Kenapa, karena kau akan bertemu ayahku lagi?

Aku tak pernah dibenci oleh seseorang sebelumnya.

Bahkan seniorku tidak segalak itu.

Aku rasa dia lebih kuatir soal kematian kakaknya ketimbang...

- Sayang. - Maaf, Sayang. Macet.

Saat aku memberitahunya kita akan menikah,...

...dia harus menerimamu. Aku...

- Astaga! Kau baik saja? - Ya ampun.

- Brengsek! - Sialan kau.

Ya, coba saja. Kau lihat ada kemacetan?

Kau terluka, ayahmu akan membunuhku.

- Oscar, Sayang. - Ya.

- Lihat aku. - Baik.

- Tenang. Ya? - Baik.

Semuanya baik-baik saja. Tarik nafas.

Baik.

- Mendingan? - Baikan.

Bagus. Tak apa.

Sialan kau!

Kurasa segala sesuatunya sudah pada tempatnya.

Jadi, kini kau sok profesional.

Kau pegang kuncimu, BlackBerry-mu?

Karena setelah dikubur, kita takkan menggalinya kembali...

...supaya kau bisa nge-tweet.

Aku berusaha, paham?

Bagaimana keadaan ibumu, Aaron?

Dia baik saja. Dia sehat.

- Urusan kita selesai. - Bagus.

Bagaimana dengan Paman Russell? Dia kurang sehat.

- Bagaimana kabarnya? - Dah.

Aku cuma bertanya. Sekadar ngobrol.

Aku padamu, kau tahu itu. Terima kasih atas segalanya.

- Michelle, kemari. - Dah, Brian.

Tak perlu repot-repot.

Aku hanya bilang, semua orang tahu Kolonel mencuri resep ayam goreng...

...dari seorang budak bernama Jubalai.

Aku memujinya untuk salad kol, itu saja.

Hei, teman! Apa kabar?

Aku butuh bantuanmu. Tolong jemput Paman Russell.

Ya, aku tahu itu ribet, tapi kau yang terdekat.

- Dia selalu emosian. - Bilang saja kau bisa. Kita jemput.

Dia tidak emosian, sudah dari sananya. Begitulah pembawaannya. Kau bisa?

Baiklah, akan kujemput.

Bagaimana keadaan Mama?

Masih banyak hal yang ingin kami lakukan.

Bepergian. Kami mau ke Australia dan Cina.

Ayahmu ingin pergi ke Thailand.

Mama takkan terbang selama 25 jam.

Bukan itu masalahnya. Mama belum merasa baikan.

Entah sampai kapan Mama sanggup hidup tanpa ayahmu?

Mungkin lain cerita apabila Mama punya cucu...

...yang mungkin bisa menutupi kesedihanku, tapi...

- Sudahlah. - Cynthia, kami sudah berusaha.

Aku tahu yang kau lakukan, Michelle. Siang dan malam, berusaha.

Tapi nampaknya tidak berhasil, bukan begitu?

- Mana Ryan? Sudah hubungi dia? - Sebentar lagi tiba.

Melihat wajahnya saja akan membuatku merasa baikan.

Aku sangat merindukannya. Anak kesayanganku.

Kau butuh sesuatu, Cynthia?

Singkirkan tanganmu dari peti suamiku.

Kau mengotorinya.

Dia mengacungkan jarinya? Atau melambaikannya?

- Bagus sekali, Nyonya! - Terima kasih!

- Itu dia. - Apa?

- Dia baik saja. - Dia butuh asisten?

Dia sedikit bawel.

Kau harus tahu cara menanganinya.

Dia sepertinya ramah.

- Hai, Paman Russell! - Hai, Paman Russell!

Paman ingat aku? Aku Norman.

Aku datang menjemput Paman ke pemakaman.

Darimana saja kau, Gendut tolol? Kau telat sedikit lagi, aku bisa mati juga!

Untung kau tahu cara menanganinya.

Paman mau duduk di depan?

Sudahi dulu game-nya.

...terima rudal ini.

- Dengar. - Ya, pilnya. Sudah ada.

Bagus. Boleh aku datang mengambilnya?

- Aku ada acara pemakaman. - Terserah. Aku akan mampir.

- Sial. - Kau mencobanya?

Tidak, aku takkan mencobanya. Aku membuatnya.

Barangnya bagus, 'kan? Pilnya bagus?

Aku harus pergi. Jangan teler pake barang jualanmu.

Barang ini nampol punya, aku jamin.

Kau pasti suka. Aku harus pergi.

Kau selalu buka pintu setengah bugil?

Cepat, Jeff. Kita bakal telat.

Aku tinggal pakai celana saja.

Dan ini rumahku, jadi... Kau baik saja?

Tak apa. Dia cuma panik.

- Kami hampir ditabrak, dan aku teriak. - Orang itu mengambil jalur kami.

- Aku tidak lihat dia. - Dia langsung menyerempet.

- Aku minta maaf, Sayang. - Tak apa, Sayang.

Bagaimana menurutmu?

- Bagus, tidak? - Tidak.

- Pakai celanamu. - Baik.

Dan pastikan warnanya hitam, Jeffrey!

Baik, Mama.

- Aku lapar sekali. - Jantungku berdebar.

Entah ada apa denganku.

Minum ini. Membuatmu tenang. Jeff takkan keberatan.

Apa maksudmu? Apa itu?

Itu Valium. Dulu aku pakai. Akan membuatmu baikan, aku jamin.

More Indonesian subtitles for Death at a Funeral

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left