The first 163 lines.
Ayah?
Ayah terlalu mengebut.
Saat ini, tak ada yang namanya "mengebut".
Paham? Jadi, bersyukur saja aku menjemputmu
pukul 01.00 karena bantal bodoh. Paham?
Modal recehan jadi jutawan! Visi Misi Foya Foya, cuma di RECEH88
Bisa kita putar balik dan kembali?
Ke tur sekolah? Aku berubah pikiran.
Kau sudah kabur dari tur sekolah.
Kau tak bisa langsung kembali ke tur sekolah.
Kau mau terus kabur dari tur sekolah?
Astaga, tidak.
Koran hari ini akan jadi bungkus ikan besok.
-Apa istilahnya? -Tak tahu.
Maksudku, orang akan lupa.
Tadi kau ikut tur sekolah, sekarang tidak.
Begini, saat aku sadar tak membawa bantalku,
aku terus memikirkan tidur dengan bantal orang lain.
Aku keluar cari udara.
Lalu, anak ini bernama Jacob bilang ke guru aku panik.
-Padahal tidak? -Aku tidak panik.
Kularang mereka telepon.
Kau hanya perlu ingat untuk membawa bantalmu.
Atau belajar tidur tanpanya. Itu hanya bantal.
Aku tahu.
Aku juga tahu itu hanya bantal.
Tidak, aku tahu.
Masuk.
Hei. Ada apa, Luke?
Aku lelah, Bu. Bisa bicara besok?
Tentu.
Tunggu. Kau mau ke mana?
Aku minum tiga kopi pom bensin
dan aku sangat lelah.
Aku mau menyetir.
Ke mana?
Keliling saja.
Aku perlu menenangkan diri. Maaf.
Jadi, kau istirahat dari menyetir dengan menyetir lagi?
Ya.
Hei.
Ibumu di jalan. Dia meneleponmu dari tadi.
Apa yang ingin dia bicarakan?
Entah kabar buruk atau baik. Aku tak bisa atasi itu saat ini.
Benar. Aku mau mandi.
Paul?
Ke mana kau semalam?
Hanya berkeliling.
Baiklah.
Ibu lebih awal. Hai, Alex.
-Kami bawa sarapan. -Ya.
Hebat.
Tak ada panekuk untuk Leah.
-Tak ada panekuk. -Terima kasih, Alex.
Kadang, kami pakai bahasa Jerman. Entah kenapa.
Itu membuat kami terhibur.
Tak suka panekuk?
Aku suka. Aku tak makan itu karena nanti bisa gemuk.
Kau tidak gemuk. Aku yang gemuk.
Makan sepotong keik keju dan bobotku langsung naik.
Omong-omong...
Sebelum mulai makan...
Aku jarang bertemu kalian belakangan karena tak bisa jauh
dari pria luar biasa ini.
Aku tak akan bilang "luar biasa", tetapi kau boleh bilang itu.
Kami sudah cukup lama berkencan dan...
Orang seusia kami harus mengambil peluang.
Jadi, intinya...
-Aku melamar Leah. -Dan aku menerimanya.
-Aku pesan tempat. -Aku beli bajuku.
Aku bayar bulan madu.
Itu mendadak sekali.
-Itu hebat, Nek. -Selamat.
Ya, tentu. Kami turut bahagia.
Jadi, bagaimana panekuknya?
-Siapa mau kopi? -Ya.
Kau tak apa?
Ya.
Apa kita tak apa?
Dia ibumu. Menikah itu hal besar.
Bukan, aku mencium orang lain itu hal besar.
Ini tak bisa hilang begitu saja. Kita tak bisa mengabaikan itu.
Kita bukan keluarga raja.
Aku agak lelah. Kita bahas ini nanti.
Aku ingin beri tahu sesuatu.
Luke mengatakan hal buruk dan kubilang tak akan mengadu.
Sudah terlambat.
Luke. Hei.
Ava bilang kau tak mau ke sekolah besok.
Dasar pengadu.
Kawan?
Ayah bilang aku selalu kabur dari tur sekolah.
Aku langsung menarik ucapanku.
-Tidak, Luke. Tak ada yang peduli. -Tidak!
Ibu tahu itu. Aku tak mau sekolah lagi.
-Tak bisa. -Tak akan ada yang tahu soal bantalmu.
Jacob tahu.
Aku sayang kalian, aku tak mau sekolah.
Baik, dia akan sekolah.
Kau akan sekolah.
Kau tak akan diam di rumah hanya karena bantal.
Mengerti?
Aku mengerti.
Kenapa hidup tak bisa tenang?
Aku butuh itu.
Kau masih ingin bersamaku?
Tentu saja.
Setelah sekian lama, kau tak tahu aku mencintaimu?
Kau mencium orang lain.
Jadi, walau tahu, kini aku tak yakin.
-Tak bisa terus dihindari. -Kita bahas ini.
Kau ingin berhenti, jadi, kau cium orang.
Ini lebih dari itu.
Aku merasa seperti ternak, Paul. Kau bukan ternak.
Kau bisa keluarkan bayi dari ranjang kematian bak Charlie Chaplin.
Aku merasa lelah...
dan jelek.
Aku berusaha berpikir aku bukan ternak,
seharusnya tidak.
Namun, kini harus aku hadapi.
Aku akan keluar.
Sudah malam. Kau perampok?
-Aku tak bisa tidur. -Kau belum coba.
-Ayo. Kita berangkat pukul lima. -Maaf, Ayah. Aku tak berangkat.
Tidak, Kawan. Kau harus sekolah. Pakai seragammu.
...juga ditutup karena diduga ada perbaikan.
Astaga.
-Bangun. -Ada apa?
Cepat bangun, Luke. Sumpah.
-Kau akan kuseret. -Jangan.
-Aku serius. -Tolonglah. Kita cari cara.
Naiklah saja dengan Ava.
-Hei. -Ya.
-Aku izin sakit, temani dia. -Ini konyol.
Aku akan telepon sekolah dan jelaskan.
Ini gila, Ally.
Sial! Kenapa kita biarkan anak kita bolos sekolah?
Kenapa kita jadi lemah begini?
-Mentalnya sedang tertekan. -Aku juga.
Jika aku bolos tiap tertekan, aku akan... Entahlah.
Keliling London semalam?
-Carl. -Paul, apa kabar?
Kabarku sangat amat baik, Carl. Kau?
Ya, lumayan.
Benar.
Dia mengemudi semalaman seperti Robert De Niro.
Film apa?
Taxi Driver , Bodoh. Pikirmu apa?
Meet The Fockers atau Big Granddad atau apalah?
Nanti kutelepon lagi, Kee.
Besok, aku tak bisa di rumah, jadi, kuminta
Nenek dan Kakek datang.
-Aku bisa sendiri. -Tidak.
-Hai. -Hai.
-Apa kabar Grace? -Baik.
Kau bilang terima kasih?
Bu, ini aku. Aku selalu bilang terima kasih.
Di mana Ayah?
Belum pulang.
Luke, bisa bantu PR-ku?
-Benarkah? -Ya.
-Maaf soal bantal itu. -Tak apa. Tertawa saja.
Tidak, aku serius.
No comments yet. Be the first to leave one.