The first 163 lines.
Apa kau sudah mau pulang?
Padahal kupikir Sekretaris Kim sudah berhasil membujukmu.
Kenapa kau peduli pada sekretarisku?
-Bukan apa-apa. -Jangan coba-coba mendekatinya.
Bos? Kenapa wajahmu?
Kurasa aku memasuki era pemuda nakalku.
Masuklah ke dalam. Mari kita bersihkan lukamu.
Ahhh!
Bukankah tadi kau menyuruhku masuk?
(Aku melihat seekor kecoak. Aku akan menyingkirkannya.)
(Tapi dia selalu salah paham terhadap semua ucapan dan perbuatanku.)
Kau sudah berusaha berbaikan dengan adikmu.
(Akan kumasakkan makanan yang selalu dibuatkan kakakku untukku)
- Maafkan aku. -Apa rasanya enak?
-Aku minta maaf soal itu. -Aku akan membuatkanmu teh.
Kenapa bonekamu terbalik?
Jangan!
(Tetaplah di sini. Mulai sekarang aku akan mencintaimu.)
Itu...
Bukankah itu dialog favoritmu dari buku yang sedang kau baca?
-Itu... -Itu...
-Itu... -
Apa kau juga membaca bukunya Morpheus?
Aku harus pergi.
Terima kasih
karena sudah merawatku.
Jangan sungkan, Bos. Terima kasih juga.
Hati-hati di jalan, Bos.
Baik.
Dia membiarkanmu masuk ke rumahnya?
Masuk ke dalam rumahnya?
Bukan aku, tapi sepupuku.
Kita sedang membahas sepupuku.
Dia meneleponku untuk minta nasihat.
Siapa... Ini sepupu yang mana?
Kau tak mengenalnya.
Kau membiarkan dia masuk?
Kla, dia sedang terluka.
Dia habis berkelahi dengan kakak laki-lakinya.
Kenapa dia mendatangimu? Apa kau seorang perawat?
Mungkin dia merasa menyesal dan butuh teman bicara.
Kenapa? Apa kau seorang konselor?
Mungkin dia sudah terbiasa selalu bicara denganku.
Ya ampun. Apa dia tak punya teman lain untuk didatangi?
Dia punya.
Tapi kaulah orangnya yang ingin sekali dia ajak bicara.
Ya ampun.
Seharusnya kau menyuruh dia pulang setelah mengobatinya.
Apa lagi yang dia perbuat?
Dia memiliki masalah.
Dia terlibat perkelahian.
Di sebuah bar.
Setelah itu
gadis itu merawatnya.
Lalu,
dia memasak untuknya.
Gadis itu memasak untukmu?
Kubilang ini sepupuku, bukan aku.
Sepupumu yang tak kukenal.
Begini...
Dia lapar, jadi aku membuatkannya makanan kesukaan kita.
Roti lapis mi Pancit Canton?
Itu hanya untuk kita, Kim.
-Begini... -Itu resep rahasiaku!
Kau bilang berbagi itu indah.
Jadi, kubagi dengannya.
Siapa pun sepupu yang tak kukenal itu,
sampaikan ucapan selamatku padanya.
Saat seorang wanita merawatmu, memasak untukmu,
bahkan mengobati lukamu, semuanya sudah jelas.
Dia sudah punya perasaan padamu.
Dia sudah menyukaimu. Maksudku, dia menyukainya.
Dia mencintainya, Kawan.
Cinta?
Ya. Jatuh cinta.
Apa kau jatuh cinta pada bosmu?
Ayolah, Kla. Tentu saja tidak.
-Aku tidak mencintainya. -Benarkah?
Aku hanya mengkhawatirkannya karena
-Omong kosong. -setelah sembilan tahun,
kami punya momen berarti bersama.
Walau aku mengundurkan diri, hal itu tak akan menghapusnya.
Coba katakan itu lagi tanpa tersipu malu.
- Hei. -
-Aku bukan tersipu, Kla. -Lalu, apa?
Apa maksud ucapanmu, Kla?
Aku hanya senang hubunganku dan bosku baik-baik saja.
Itu saja. Selain itu...
- -Jangan khawatirkan aku.
Aku bisa menjaga diriku. Minum saja kopimu
supaya kau tak tertidur selama bepergian...
Kenapa lesung pipimu makin dalam?
Bahkan lubang hidungmu makin besar. Aku sangat mengenalmu.
-Kla, hentikan. -Kim, aku mengenalmu...
Ya ampun, kau membuatku gila.
Kau sangat menyebalkan.
Biar kulihat.
-Lihat, 'kan? - Kla.
Kau tak bisa menahan tawamu. Sudah kuduga!
- -Ya ampun.
Kenapa kami yang harus membersihkannya?
Memangnya siapa lagi? Aku?
Lalu, apa gunanya punya ART?
Tidak.
Ini kekacauan kalian, jadi kalian harus bersihkan sendiri.
Kenapa aku sampai dilibatkan?
Kalau begitu, apa kita harus berpisah?
Sejujurnya,
-itu darah Brandon. -Oh.
Jadi, kotorannya punya label nama?
Apa kau mau aku memeriksa setiap jengkal kotoran di sini
dan masing-masing kuberi label nama?
-Ibu. -
Biarkan Ayah pergi.
-Aku akan mengurusnya. -Tidak.
Baiklah.
Mari kita bersihkan bersama.
Oh.
Lutut Ayah sakit.
Biar aku saja. Tidak apa-apa.
Sebentar. Ayah pasti bisa.
Halo, Bos? Selamat pagi.
-(Ayo.) -
Maaf? Tapi jadwal rapatmu masih nanti.
Apa?
Aku akan mengantarmu bekerja.
HANYA MAU MENGINGATKANMU TENTANG RAPAT NANTI, BOS.
AKU SUDAH DATANG. AYO.
JANGAN TERLIHAT SEKAGET ITU.
Ya ampun. Maafkan aku, Bos. Aku tak tahu...
Itu...
Tunggu.
Baik, Bos.
Awas kepalamu.
Ada apa, Bos?
Sebaiknya kau membeli baju baru.
Orang mungkin mengira itu seragam Prime Alpha.
Selain itu, kau perpanjangan dari diriku.
Aku tak akan pakai baju dua kali dalam dua pekan.
Dua kali dalam dua pekan?
Ya.
Kau memakai pakaian yang sama dengan Selasa pekan lalu,
juga Kamis sepekan sebelumnya.
Kenapa?
Aku tak tahu kalau...
Kalau?
Apa?
Kau pikir aku tak memperhatikanmu?
Aku memperhatikan segalanya dan semua orang.
Kau tahu itu.
Apa kau sudah sarapan?
Apa?
Aku sarapan di kantor saja.
Kudengar ini resto terenak untuk sarapan bawa.
Silakan dicicipi.
Ya.
Enak sekali.
Omong-omong, ingatlah kalau kita punya insentif.
Jadi, belilah beberapa baju baru.
Kau pantas mendapatkannya.
Kenapa kita tak menelepon jasa kebersihan saja?
Ibu tidak mau.
Kau alihkan perhatiannya sementara jasa kebersihan bekerja.
No comments yet. Be the first to leave one.