The first 200 lines.
Sobat Film adalah komunitas discord Indonesia yang membahas seputar segala macam jenis tontonan mulai dari film, series, anime, drakor, dan lain-lain.
Hei, Benji. Ini aku. Baru saja keluar apartemenku.
Ingat, kita harus tiba sekitar 3 jam lebih awal.
Hubungi aku ketika kau dengar ini.
Hei, Benji. Kuharap kau sudah pergi karena aku terjebak macet di BQE.
Jika bisa, kau harus menghindarinya. Hubungi saja aku ketika kau dengar ini.
Hei, Benji, lalu lintasnya kembali lancar. Kau tak perlu khawatir soal macetnya.
Mungkin tidak. Hubungi saja aku kalau kau mendengar ini.
Hei, Benji. Maaf soal pesan suara yang begitu banyak.
Maaf, kau boleh mengabaikan semuanya karena kita akan bertemu di sana dan...
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu, dan ini pesan suara yang terakhir. Dadah.
Hei, Benji. Baru tiba di bandara.
Kuharap kau sudah berangkat, paling tidak dalam perjalanan.
Pokoknya, hubungi saja aku kalau kau mendengar ini.
- Ya Tuhan. Kau di sini. - Apa kabar, sepupu?
Ya ampun, kemarilah. Aku menghubungimu berkali-kali.
Mundur, kawan. Biarkan aku melihatmu.
Senang melihatmu.
- Oke. - Berputarlah.
- Aku ingin melihat seluruh tubuhmu. - Serius?
- Berputarlah. - Oke, oke.
- Baiklah. - Ya, kawan, lihat dirimu.
Sehat, kaya, dan bijaksana. Kau terlihat baik.
Kurasa kita harus check in.
- Aku pesan tiket secara online. - Tidak perlu.
- Sudah kulakukan barusan. - Benarkah?
-Ya. -Maaf, kapan kau tiba?
Beberapa jam yang lalu.
- Sungguh? - Ya.
- Penerbangannya masih lama. - Ya, tapi bandaranya dibuka cukup awal.
- Kau bisa datang dan duduk-duduk. - Wow. Baiklah.
- Kau akan bertemu banyak orang di sini. - Apa kau sudah makan?
- Ya. Kurasa. - Oke. Kita perlu makan sebelum berangkat.
Jangan khawatir. Aku membelikanmu yogurt ini, masih sedikit hangat.
- Hangat? - Di sakuku.
Sial, lupa membawakanmu sendok. Tidak masalah. Kau tinggal memeras dan menyeruputnya.
- Kau beli ini untukku? - Tentu, kawan.
- Semua beres? - Ya.
- Kau tahu apa? -Apa?
Aku juga punya barang bagus saat kita mendarat. Benar-benar bagus.
- Kau tidak bawa ganja ke Polandia, kan, Benji? - Tenang, mereka tidak peduli soal itu, kawan.
- Menurutku mereka sangat peduli soal itu. - Yang benar saja?
Mereka akan menangkap dua Yahudi di Polandia hanya karena sedikit ganja?
- Itu akan bagus untuk orang-orang Polandia. - Oke. Baiklah. Tenanglah saja, oke?
Cukup jangan katakan "mariyuana".
- Rentangkan lengan. - Tunggu, benarkah?
Maaf. Biasanya... Terima kasih.
Yang ini? Si kecil ini?
- Ini hadiah dari ayahku. - Oh.
- Ayahmu? - Ya.
- Tentu saja. - Kau punya yang seperti ini?
- Tidak. - Ya.
Aku tidak...
Oke, sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Silakan.
- Dia sangat bodoh. - Oke. Angkat tangan.
- Siapa? - Agen TSA.
Ayahnya melakukan keamanan untuk Knicks.
Kau mau ini? Priya yang membuatkannya untukku.
- Ya, benar. - Eh, tidak. Aku... oke.
- Ya. - Ya?
Apa ini? Kacang Brazil?
Jadi, bagaimana kabarmu, kawan?
- Sejujurnya? - Ya.
Aku... baik-baik saja.
- Ya, sangat baik. - Oh.
- Mau lihat rencana tur kita? - Oke.
- Bisa pegang sebentar? - Ya, tentu saja.
- Makanlah semaumu. - Ya?
Menurutmu akan menyenangkan untuk berkunjung ke kampung halaman Nenek?
- Seperti di mana beliau tinggal? - Aku tidak mau membacanya.
Aku hanya akan mengikuti saja ke manapun kau pergi.
Tentu.
Hai.
- Kursi mana? - 24 A.
Punyaku 24 B. Tengah dan jendela.
- Ya. - Hei, kawan.
Mau duduk di tengah?
- Merasa nyaman, kawan? - Agak sempit, sih.
- Kau masih mencari pekerjaan? - Tidak.
- Kau harus sambil bekerja selama perjalanan? - Tidak juga. Anggap saja aku libur minggu ini.
- Aku ingin ikut. - Bagus.
- Aku ingin menikmati tur ini. - Bagus sekali, kawan.
Kau masih menjual barang secara online?
Bukan seperti menjual baju bekas di eBay. Lebih seperti penjualan iklan digital.
- Ya. - Oke.
- Jadi, pernah lihat spanduk iklan online? - Ya, astaga, aku benci melihatnya.
Hei, ayolah.
- Maksudku semua orang memang membencinya. - Benarkah?
- Begitulah pekerjaanku. - Itu keren, kawan.
- Itu keren, kawan. - Oke.
Kau membuat internet jadi menyebalkan, tapi bukan itu salahmu.
Kau hanya melakukan pekerjaanmu.
Tanpa iklan, sebagian website gratis tidak bisa kau kunjungi. Itulah sumber pendapatan mereka.
- Hei, kawan. - Ya.
- Kurasa kita harus menyimak. - Aku cuma ingin menyelesaikan ucapanku.
Jangan begitu, tidak sopan namanya.
- Kau serius? - Ya. Mereka cuma sedang bekerja.
Ini adalah sebuah pengumuman keamanan. Harap jaga barang bawaan setiap saat.
- Kau baik-baik saja? - Entahlah.
Itu orang kita. Yo. Bung.
- Ini kami. - Hai.
Kaplan.
- Kau lihat apa? - Entahlah, ini bodoh, aku...
Sepertinya aku ingin pulang. Entahlah. Hanya saja, Abe.
Sekarang dia seperti terobsesi oleh gedung. Dia ingin mengukur tinggi semua pencakar langit.
Seperti ingin tahu semuanya.
- Oke. - Ya.
- Boleh kulihat? - Tentu saja.
Itu benar.
- Berapa lantai di Empire State Building? - 103.
- Oke. Berapa lantai di 30 Hudson Yards? - 112. Tapi balkonnya ada di lantai 100.
Ya!
- Berapa lantai di Empire State Building? - 103.
- Berapa lantai di 30 Hudson Yards? - 112.
- Kau bawa piyama? - Ya.
- Dua pasang. - Benarkah?
- Maksudmu, keseluruhannya... - Mau pinjam?
...seperti gaun tidur bergaya Victoria dengan sandal dan topi?
Tidak, kawan. Aku tak punya yang begitu.
Hai. Dzien Dobry. Selamat datang di Hotel Sentral Warsawa.
Terima kasih banyak. Kami mau check-in. Kami bersama Tur Warisan.
Benjamin dan David Kaplan. Ini paspor kami.
- Ya, tentu saja. Selamat datang. - Terima kasih.
Kalian yang terakhir sampai, dan kurasa aku punya paket untukmu.
- Sudah di sini selama beberapa hari. - Sebenarnya itu untukku.
- Oke. - Terima kasih.
- Ini dia. - Terima kasih.
Kalian di lantai 5, dan pertemuan grup diadakan 30 menit lagi.
- Terima kasih banyak. - Terima kasih.
Lantai 5? Terima kasih.
Apa itu?
Ganja, seperti yang kubilang, barang bagus. Dapat dari Todd, tukang cukur di Ithaca.
- Tunggu. Kau mempaketkan ganja untukmu? - Tidak, kawan. Untuk kita.
Kau serius? Kukira kau mau membawanya naik pesawat.
- Sungguh? - Ya, sungguh.
Aku tadi sangat gugup.
Aku juga gugup. Kukira kau yang membawanya.
- Senang di sini denganmu sekarang. - Aku juga.
Ya Tuhan.
Baiklah. Kita punya waktu 30 menit. Aku harus mandi.
Ide bagus.
Lemari yang bagus.
Kawan, aku benar-benar lupa kalau kau punya kaki yang bagus.
- Benarkah? - Ya, semakin tua semakin bagus.
- Jari-jari kaki yang lurus. Itu bagus. - Baiklah. Terima kasih.
Tidak ada buku-buku jari kaki yang aneh atau bulu-bulu yang kusut. Sangat berkelas.
Sungguh?
- Ya. - Itu menarik.
- Kurasa aku tidak pernah memerhatikannya. - Tidak pernah memerhatikan kakimu sendiri?
- Tidak - Ayo, kawan. Kakimu sungguh bagus.
Mengingatkanku pada kaki Nenek.
- Kau ingat kaki Nenek? - Tentu saja aku ingat.
Dia selalu memakai sandal plastik merah muda dari Target.
- Dia selalu memamerkannya pada orang-orang. - Sungguh?
- Kau mengingatkanku pada Nenek. - Ya?
- Aku seperti wanita tua Yahudi? - Bukan, maksudku kau bijaksana.
Dan itu indah.
- Sungguh? - Ya.
Terima kasih. Baiklah.
- Aku akan mandi, oke? - Bagus.
- Ya. - Boleh aku duluan?
- Tentu boleh. - Boleh pinjam ponselmu?
- Tentu saja. Untuk apa? - Aku suka mandi sambil mendengarkan musik.
- Kau tidak punya ponsel? - Punya, tapi tidak ada musiknya.
Ini, pinjamlah.
- Bagus. - Ya.
Waktunya mandi.
- Hai. Maaf. - Hai.
- Biar kutebak. David dan Benjamin? - Benar. Kau James?
- Ya, aku James. Hai. - Apa kabar?
- Hai. Benji. - Ya.
- Kau Benji? Hai. - Benji. Benar.
Bukan bermaksud untuk menyapa kalian.
Aku hanya berpikir untuk membantu jika kalian tidak tahu harus ke mana.
- Terima kasih. - Ini grup yang baik.
- Pasti ramah. - Bagus.
Halo, semuanya.
- Hai. - Ini David dan Benji.
- Hai. - Hai.
- Hai. - Hai.
- Selamat datang. - Silakan duduk.
Terima kasih banyak.
Aku tidak mau banyak bicara, tapi aku akan memperkenalkan diri.
Mudah-mudahan, kalian tidak akan bosan denganku pada akhir minggu ini.
Seperti yang kalian tahu, namaku James.
Aku akan memandu kalian selama di Polandia. Aku adalah sarjana studi Eropa Timur di Oxford.
Aku bukan Yahudi, tapi aku terobsesi dengan semua bagian dari dunia ini,
dan khususnya semua tentang Yahudi, yang menurutku menarik, kompleks, bahkan tragis,
tapi secara keseluruhan aku suka Yahudi. Cukup dariku, sekian, aku James.
- Siapa berikutnya? - Oke, aku akan memperkenalkan diri.
Namaku Marcia Kramer. Aku berasal dari Brooklyn,
lalu menghabiskan dua dekade di Los Angeles sebelum pindah ke New York setelah bercerai.
Maaf kalau ini berlebihan, tapi aku merasa kalau aku berubah menjadi seorang...
...wanita yang tidak kusukai.
Seperti halnya wanita pada umumnya, kalian tahu?
Ibuku selamat dari kamp konsentrasi, dan dia tidak pernah membicarakannya sama sekali.
Jadi, aku di sini untuk menghormatinya. Oke, sekian dariku.
- Siapa selanjutnya? - Baiklah, hai. Diane dan Mark Binder.
No comments yet. Be the first to leave one.